Hows Life Goin On in Numfor?


Its me in front of my Puskesmas… Puskesmas-nya not bad kan…

Aku dan Bafith bertugas di Puskesmas Kameri, distrik Numfor Barat. Puskesmas ini ber-lokasi di desa Pomdori. Desa ini berada di tepi pantai. Jadi Puskesmas dan kompleks perumahan pegawai Puskesmas ini berada di tepi pantai. Jadi kalau malam, suara latar belakang saat kami tidur tuh suara ombak. Keren hehe

Ombak ditepi Pomdori ini tidak sampai ke pantai, karena ada reef barrier sekitar 200-500 meter ditepi pantai. Jadi, lumayan untuk mengurangi abrasi, dan menunda waktu tsunami [bisa nyelametin diri ke darat dulu hehe :P]

Aku dan Bafith tinggal bersama perawat di kompleks Puskesmas. Sebenarnya untuk kami sudah disediakan 2 rumah dinas [rumdin], tapi masih dalam proses rehab. Sehingga, untuk sementara aku tinggal bersama 2 perawat pendatang [mbak Rosa dan Eka]. Sementara Bafith tinggal di rumah persis didepan rumah aku bersama pasangan suami istri Aho-Rani.



[rumahku yang sebelah kiri]

Rumah itu luasnya kurang lebih 50 m2, dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi. Tapi sumur berada di luar. Ga ada pompa air maupun pipa, jadi tiap pagi dan sore aku harus olahraga, mengangkat air dari sumur ke rumah. Lumayan… jalan 10 meter sambil membawa 2 ember kanan-kiri hehehe

Secara teori, kami kerja mulai dari Senin-Sabtu, dengan jam kerja jam 08.00 WIT-14.00 WIT (kecuali Jumat dan Sabtu). Tapi pada kenyataannya, walaupun Pkm Kameri bukanlah Pkm DTP [Dengan Tempat perawatan], jam kerja bisa saja sampai kerja 7 hari seminggu, dan tetap harus siap-siap 24 jam. Karena pasien datang tidak tentu waktu

Tapi enak juga kalau tinggal didekat kompleks, tak perlu terburu-buru untuk berangkat kerja. Tinggal jalan 10 meter aja, udah nyampe Puskesmas. Kadang-kadang kalau sedang sepi pasien [paling rame cuma hari Senin], masih dalam jam kerja, kami pulang dulu, istirahat, nanti kalau ada pasien, baru dipanggil ma perawat..

Kadang-kadang juga kalau lagi nungguin pasien, kami duduk-duduk di depan Pkm, sambil menikmati pemandangan ke arah laut, diiringi angin sepoi-sepoi... menyenangkan sekali!

Kompeks-nya lumayan aman. Karena dikelilingi rumah penduduk desa Pomdori. Lagian Pak Kapuskes kami cukup disegani, jadi orang mau berbuat macam-macam dengan pegawai Puskesmas pun akan pikir-pikir.

Disini banyak sekali anjing!. Gila… jadi kalau habis makan n mau cuci piring di luar rumah. Dalam waktu sekejap, anjing-anjing akan merubung aku mengharapkan sisa makanan [apalagi kalau habis makan ikan]. Gimana nggak ngeri coba… Well, karena kami muslim, jadi yah lumayan “berhati-hati” dengan anjing-anjing itu.

Disini kan ga ada masjid, jadi ga ada adzan. Jadi kalau sholat, ngira-ngira sendiri waktunya. Yang lucu ya untuk nentuin waktu Maghrib, kami memakai patokan waktu listrik menyala. Jadi kalau listrik sudah menyala, well itulah saatnya Sholat Maghrib.

Makan… numpang sama perawat. Maksudnya, nebeng masak gitu… Aku sudah siapin beras di rumah sih, tapi sampai sekarang belum digunakan mbak Rosa [ :? ]. Karena aku tidak bisa masak [coba masak nasi kemarin pun gosong hehe], jadi ya ngikuuuuutttt aja… Tapi sepertinya kalau rumah dinas sudah jadi, dan aku tinggal sendiri, aku harus belajar masak sendiri deh… kan tidak ada warung makan disini…

Minum... kami memakai air kemasan [tak usah disebut merk-nya]. Tapi untuk masak, ya ngikut yang masak ya... pake air asli. Tapi sebenarnya lumayan kok, masih mendingan kalau dibandingkan air asli Purwodadi :)

Oh ya… karena sebentar lagi mau pindah rumdin sendiri, akhirnya aku beli peralatan-peralatan rumah tangga. Emang sih ada bekas peralatan-nya dokter periode kemarin, tapi sepertinya kurang, jadi ya belanja lagi deh.

Disini tidak ada pasar. Adanya cuma toko-toko kecil. Kalau perlu sesuatu, biasanya kami pergi ke Yemburwo, dimana ada toko-toko yang lumayan besar [untuk ukuran Numfor], yang menjual sembako, alat kelontong, peralatan rumah tangga sampai alat pertukangan. Rata-rata pedagangnya orang Makasar dan mereka sudah hafal dengan kami [orang baru di Numfor tuh ketauan deh… saking kecilnya…].

Tapi kami jarang belanja di Numfor. Kebanyakan bahan makanan kami beli di Biak, karena harga di Biak lebih murah dan persediaan barangnya lebih lengkap dan bervariasi. Jadi besok ketika kami kembali ke Numfor, bisa dipastikan bagasi kami banyak sekali. Karena itu ketika berada di Numfor, bisa dibilang pengeluaran kami tidak terlalu banyak.

Kami lumayan sering bepergian, naik motor [biar irit bensin, disini bensin 1liter = 7rb, mahal ], mengunjungi teman-teman dokter yang tinggal di Yemburwo, atau jalan-jalan mengitari Numfor. Numfor itu indah banget lhooo…

Ada beberapa spot-spot yang sudah kami tandai dan aku sudah bertekad untuk mengunjunginya lain waktu.



Didekat rumah kami pun ada sebuat tempat favorit untuk bermain. Jembatan. Jembatan ini menghubungkan desa Pomdori dan desa Yenmanu. Jembatan ini terletak diatas kali [tak tahu apa namanya, cuma disebut kali saja]. Kali ini sepertinya merupakan hulu dari sungai, jadi airnya merupakan campuran air laut dan air tawar, arusnya cukup kuat. Pemandangan di Jembatan ini sangat indah sekali. Anak-anak sering main disini, saling unjuk kebolehan berenang atau melompat dari jembatan. Aku pun sering main disitu, pemandangannya saat matahari terbenam sangat indah.

So far, hidup disini lumayan enak. Masih ada listrik, masih ada sinyal, dan lingkungannya enak :)

Pulau Numfor



Pulau Numfor ialah bagian dari kabupaten Biak Numfor. Rencananya, tahun 2009-an gitu, Numfor akan menjadi kabupaten yang berdiri sendiri terpisah dari Biak. Pulau ini terletak di sebelah Barat Laut pulau Biak.

Pulau Numfor dapat dijangkau dengan pesawat maupun dengan kapal. Dengan pesawat Twin Otter dari Biak, memerlukan waktu tempuh 25 menit saja. Pesawat akan mendarat di bandara Yemburwo. Bandara ini kecil sekali, dan cuma ramai saat ada pesawat. Pesawat cuma ada hari Senin dan Rabu, kadang-kadang pada momen khusus [seperti Natal, et], akan ada penerbangan ekstra. Tapi karena seat terbatas [Cuma 17 seat], so ya harus booking dulu semingu sebelumnya.




Sedangkan perjalanan laut bisa ditempuh baik dari Biak maupun Manokwari. Secara geografis, Numfor ini lebih dekat ke Manokwari daripada ke Biak, sehingga waktu tempuh dengan kapal besar Yapwairon Cuma sekitar 5 jam, bandingkan bila ke Biak, paling cepat 7 jam.

Dari Biak ke Numfor kita bisa naik kapal besar Yapwairon, Papua Lima maupun Papua Satu dengan waktu tempuh bervariasi [sekitar 7-9 jam jika laut teduh], tapi kapal-kapal ini jadwalnya tidak bisa dipastikan, karena Numfor hanya merupakan salah satu persinggahan.

Lain halnya dengan kapal tetap Cendrawasih, kapal ini cuma PP Biak-Numfor, tapi kapal ini kecil, dan somehow… waktu tempuhnya lama sekali dari Biak ke Numfor, bisa sampai 12 jam. Ada juga kapal Bintang 23, Bintang19 dan kapal-kapal ferry lainnya. Tapi… aduhhhh… seraaaammmmm…

Kalau naik kapal, tidak perlu booking dulu, jadi langsung bayar diatas kapal. Rata-rata sih 35rb-40rb, klo VIP ya 90rb [Yapwairon]. Tapi ya… crowded bangeeeetttt… Musti rela desak-desakan, kadang harus sampai duduk menggelar terpal atau tikar di lorong-lorong maupun di dek. Lumayan menantang juga kan? hehe

Yang lain? bisa naik Johnson, ini model perahu yang umum di Biak. Perahu kayu dengan panjang bervariasi 10-12 meter dengan kayu penyeimbang [semang] di salah satu sisi maupun kedua sisi perahu kemudian dimodifikasi dengan ditambah mesin, sehingga lajunya kencang. Bila lautan sedang teduh, Numfor-Biak dapat ditempuh dalam jangka 6 jam, namun bila cuaca sedang tidak bersahabat, bisa sampai 12 jam!! Yang ini sih lebih seru lagi hehehe…

Bila bandara Yemburwo berada di Yemburwo yang mana merupakan “kota-nya” Numfor [dari Kameri sekitar 15 menit-an], maka pelabuhan berada di Saribi, distrik Numfor Barat [wilayah kekuasaan saya hohoho :P, dari Kameri sekitar 30 menit].

Di Numfor terdapat 2 distrik, yakni distrik Numfor Timur dengan pusat di Yemburwo, dan distrik Numfor Barat dengan pusat di Kameri [Kabarnya bakal ada peresmian distrik baru di Saribi]

Di Numfor Timur ada 2 Pkm yakni Pkm Yemburwo [DTP] dan Pkm Mandori di ujung Numfor Timur. Sementara di distrik Numfor Barat terdapat Pkm Kameri [Pkm-ku niy…] yang berada di desa Pomdori [nearby Kameri]

Jadi, seperti yang kusebutkan sebelumnya, Pkm Kameri melayani 18 desa, mulai dari Pyefuri sampai ke Masyara, 4400 jiwa. Di Pkm Kameri ada 6 perawat, 1 bidan dan 2 dokter. Terus masih ada pustu [puskesmas pembantu] dengan perawatnya di beberapa tempat, serta ada pula bidan desa.

Penduduk disini rata-rata berasal dari suku Biak. Ada pula yang dari pulau Serui [kab Yapen-Waropen], ataupun Manokwari. [Pendatang rata-rata berasal dari Makassar, Toraja, Jawa]. Campuran… jadi bisa dibilang ada akulturasi juga…

Nama-nama penduduk disini keren-keren lho… Alexandrina, Sefter, Dexter, Rachel, etc.Seperti laiknya orang Manado, mereka punya nama fam [nama keluarga alias marga klo bagi orang Batak]. Desa-desa tertentu biasanya juga rata-rata dihuni oleh fam tertentu. Jadi kadang kita bisa menebak asal desa pasien dengan nama fam-nya. Seperti di Pomdori, bakal banyak ditemui fam Kapisa, begitu juga di Yenmanu, banyak ditemui fam Abidondifu. Lain-lain…

Dan… satu hal yang sering dilihat di Papua… tradisi makan pinang!! Iya deh, pasti bakal ngeliat orang makan pinang dimana-mana… dan of course… gigi mereka jadi merah kecoklatan, dan kita bakalan banyak nemuin bekas ludahan pinang dimana-mana… Aku lihat, orang-orang disini sudah mulau makan pinang sejak kecil. Mungkin pinang semacam adat ber-sosialisasi juga, dan bahkan punya sifat adiktif sepertinya hehe :P Habis… sampai pas upacara HKN kemarin tuh pak Bupati meninjau RSUD Biak Kota sambil mengunyah pinang hohoho…

Trus… bahasa Indonesia mereka bagus-bagus lho… mulai dari anak kecil sampai yang tua, bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Katanya sih bahasa yang diajarkan pertama kali itu bahasa Indonesia, nanti kalau sudah diatas usia 5 tahunan gitu, baru diajarin bicara bahasa Biak

Di Numfor ini, orang-orang suka menyapa!! [kurasa sih di seluruh Papua juga begini]. Kalau ketemu pagi hari ya bilang “selamat pagi”, ketemu malam ya bilang “selamat malam”, hampir pada setiap orang, bahkan pada orang yang belum dikenal. Tidak seperti di Jawa kan, paling kalau menyapa cuma dengan senyum atau anggukan saja. Jadi ya kalau pas jalan ya pasti capek menyapa orang yang ditemui dijalan hehe

Oh ya, mereka juga punya kebiasaan menyingkat kata. Jadi kata saya menjadi “sa”, punya menjadi “pu”, sudah menjadi “su”, kau menjadi “ko”, pergi jadi “pi”. Lucu juga pas denger mereka bicara, awal-awalnya ga “ngeh” apa maksudnya.

Mungkin seperti gini “Sa pu anak su pi ke Biak kemarin”, jadi bingung kan, “apaan ini?”. Eh ternyata maksudnya tuh gini “Saya punya anak sudah pergi ke Biak kemarin”. Keqkeqkeq…

Hemmm… sekarang tentang infrastruktur. Sebenarnya bisa dibilang infrastruktur di Numfor bisa dibilang bagus. Saya pernah mengelilingi sebagian Numfor dengan motor bersama Bafith. Dengan rute Kameri-Yemburwo-Manggari-Masyara-Saribi-Namber-Kameri lagi dalam waktu sekitar 2 jam, menembus hutan [seruuuuuu…] dan kadang di tepi pantai. Sebagian besar jalannya ber-aspal, dan kalaupun belum, masih bisa dilalui oleh mobil. Cuma sayangnya… tidak ada transportasi umum, tidak ada bus maupun angkot.

Penduduk yang mempunyai kendaraan pribadi sangat sedikit, bahkan saya jarang melihat orang naik sepeda! Jadi kebanyakan orang kalau mau pergi harus jalan kaki atau naik ojek [bukan ojek seperti yang kita tahu, jadi kalau kita ngelihat ada orang naik motor, trus kita nebeng naik, kita bayar ma dia, ongkos bensin :P ]. So… this is the reason, kenapa frekuensi kunjungan ke Pkm ga terlalu banyak

Tapi hebatnya… bila pagi dan siang hari, pasti kita akan melihat banyak anak sekolah jalan kaki. Bila SD bisa ditemui dimana-mana, SMP pun tiap distrik ada, tapi khusus SMU, cuma ada di Kameri [SMU N 1 Numfor], dan SMK Kelautan di Numfor Timur [juauuhhhh], bisa dibayangkan dong gimana beratnya perjuangan untuk sekolah, harus jalan jauuuuuuuuhhhh sekali [berpuluh-puluh kilometer…]. Ada sih bus sekolah, tapi tidak mungkin bisa menjangkau seluruh anak sekolah

Listrik?ada dong… tapi terbatas, mulai dari jam 18.30 WIT sampai jam 22..30 WIT. , Cuma nyala 4 jam sih, tapi lumayan kan… Bisa charge hp, emergency lamp, nonton TV!! Walaupun belum semua desa di Numfor mendapatkan pelayanan listrik. Listrik ini merupakan program LisDes PLN, berasal dari BBM solar. Jadi ya… harus diirit-irit lah. Harga BBM di Numfor kan mahal sekali

Di Numfor bisa pake HP juga lho, walau cuma ada Telkomsel [Simpati dan AS, nggak promosi lho…]. BTS-nya hanya ada 1, di distrik Numfor Barat. Jangkauannya ya terbatas, paling ¼ pulau gitu. Tapi alhamdulillah Kameri masih dapat sinyal dengan bagus. Jadi komunikasi masih bisa jalan [walau saat ini BTS-nya masih rusak, kena sambar petir]

Sangat Terpencil?hehe, ya untuk sebagian desa. Tanpa listrik, tanpa sinyal. Untuk Kameri dan Yembuwo sih lumayan, jadi ga se-terpencil bagian Numfor lain. Cuma… akses untuk ke Numfor via kapal atau pesawat kan tidak tiap hari ada.

Rata-rata penduduk tinggal di desa-desa di tepi pantai. Bahkan Puskesmas tempat saya bekerja pun berada di tepi pantai. Lumayan keren juga, kalau pas senggang, duduk-duduk di depan Puskesmas sambil memandang lepas kearah pantai diiringi angina sepoi-sepoi… What a wonderful world… :D

Sebagian besar Numfor itu hutan, hutannya penuh dengan pepohonan tinggi dan bila kita melewati hutan, kita akan sering melihat burung-burung berwarna-warni terbang bebas [banyak kakatua juga!!very-very beautiful], katanya sih Numfor ini banyak ularnya [yup!! I watched it on my own…], kuskus [belum lihat…], binatang-binatang-binatang lain [saya pernah lihat kadal buesaaaarrrrrr di jalan, cari makan kali ya…], dan untungnya ga ada macamnya harimau gitu hehe :P

Rumah-rumah penduduk ini rata-rata sudah permanent, dari batako dengan atap seng [bangunan dengan atap genteng cuma pernah lihat di bangunan di pelabuhan Saribi], so… puanaaasss sekali… Tapi ada juga yang berupa rumah kayu [dari papan-papan].

Rumahnya kecil-kecil, tipe RSS gitu, dengan 2 kamar. Jaraaaaannnnnnggggg sekali aku melihat ada rumah besar atau rumah ”bagus”. Biasanya kamar mandi ada diluar [proyek Pemerintah gitu deh]. Ditiap-tiap rumah biasanya ada tandon air [bantuan juga] , untuk menampung air hujan untuk dipakai keperluan rumah tangga, tapi ada juga yang punya sumur sendiri.

Air sumur disini cukup bagus. Jernih!!dan walaupun dekat laut, tidak terasa asin. Karena rata-rata pemukiman dekat laut, maka sumur dengan kedalaman 5 meter saja sudah keluar air… [Jadi ga begitu capek kalo nimba hehe]

Mata pencaharian penduduk disini rata-rata nelayan dan petani. Tapi yang saya lihat disini tidak ada pertanian [sawah] disini!Yah… beras kan memang bukan makanan pokok orang asli sini [keladi, singkong…]. Yang ada hanya kebun-kebun yang kadang ditanami gandum, kacang hijai ataupun singkong, itupun scattered [tersebar], ditengah hutan.

Padahal saya lihat pulau Numfor ini sebenarnya subur, jauh lebih subur daripada pulau Biak [yang notabene merupakan pulau karang]. Ada pohon jeruk, kersen, kluwih, mangga, papaya. Cuma sayangnya… sepertinya kurang dimaksimalkan…

Di Numfor ini lumayan susah untuk mendapatkan sayur. Tidak ada yang menjual kentang, wortel, gitu. Paling banter kangkung, kacang panjang, daun katuk. Bayam, kobis, lombok ada, tapi terbatas…

Tapi ikan… wah… jangan tanya… murah sekaliii… fresh pula! Kami biasanya datang ke pelabuhan pada saat ada kapal, itulah saatnya para nelayan menjual hasil tangkapan mereka. Fresh from the sea!!

Atau kalau tidak, pada pagi hari sering ada nelayan lewat depan rumah sambil membawa ikan yang sudah di-renteng, kita tanya aja, dijual atau tidak… Atau kalau nggak, pesannnnnn…

Tidak seperti di Jawa, disini ikan dijual per-ikat bukan per kilo. Satu ikat bisa terdiri dari 6-7 ikan sedang, atau 2 ikan besar, atau kombinasi. Per ikat dihargai Rp 10.000. Murah sekali kan… ikan-nya segar-segar, dan lezat pula… Ikan yang sering dimakan ialah ikan samandar, ikan merah, ikan batu, ikan insamen, ikan kakatua dll. Banyak ikan yang sisiknya cantik-cantik!! [serasa makan ikan hias hehehe]

Di Numfor ini, terkenal sekali dengan kepiting kenari!!kepiting ini buesaaaarrrrr sekali. Saya belum pernah makan sih, karena belum musim. Biasanya kepiting ini turun ke darat untuk bertelur pada saat bulan purnama. Katanya sih uennnakkkkkk banget [belum pernah coba!]. Selain kepiting kenari, ada kepiting merah seperti yang biasa kita temui. Kalau sedang turun ke darat, maka kepiting-kepiting ini akan memenuhi jalan raya. Bila kendaraan mau lewat, tak ada jalan lain, selain menggilas mereka. Karena nggak mungkin untuk diusir [gimana coba ngusirnya?]

Kalau mau kepiting sih katanya harus ke Davy, desa di dekat Mandori, jauuuuhhhh sekali… Kalau di Kameri harus pesan sama seorag nelayan yang terkenal ahli menangkap kepiting kenari. Cuma sayangnya saat ini si bapak itu sedang berada di Manokwari, itulah sebabnya saya belum bisa menikmati kelezatan kepiting kenari…

Dari cerita penduduk sekitar, Numfor ini dulu pernah diduduki oleh tentara Sekutu dan tentara Jepang. World War II kan juga berlangsung di Timur Indonesia ini. Jadi masih banyak peninggalan-peninggalan tentara Sekutu dan Jepang. Konon, banyak bangkai kapal beserta dengan isinya di kedalaman laut dekat pulau Numfor. Masih banyak juga ditemukan mortir-mortir dan ranjau disini, sehingga tak jarang menyebabkan kecelakaan bagi penduduk Numfor



Di Saribi, saya pernah ditunjukkan goa-goa bekas tempat tinggal tentara Jepang. Bapak nelayan yang mengantar saya bilang ketika muda beliau sering main ke goa-goa ini. Dan pernah melihat ada tengkorak-tengkorak tentara Jepang yang tewas di goa-goa itu. Hiii… ngeri juga…

Pantai Asaibori yang indah di dekat Kameri [sekitar 3 km], juga merupakan bekas pangkalan tentara Sekutu. Kami pernah berjalan ke pantai Asaibori, terdapat jalanan ber-aspal [dari sejak jaman Perang Dunia II lho], yang katanya merupakan bagian dari landasan untuk pesawat perang tentara Sekutu.

Bahkan model jalanan di Numfor yang berlekuk-lekuk merupakan salah satu warisan perang Dunia II. Mereka sengaja membuat jalanan yang berkelok-kelok ditengah hutan. Karena diantara hutan-hutan, bila kita berbelok kan kita tidak dapat melihat langsung ada apa didepan kita, dan rupanya itulah “spot” yang tepat untuk menyergap tentara musuh.

Pertama kali datang ke Numfor, saya merasa ngeri dengan hutan-hutan di pinggir jalan. Pohonnya yang tinggi dan rapat-rapat serta gelap cukup memberikan rasa seram. Tapi lama kelamaan karena sering melewatinya, akhirnya saya terbiasa juga. Lama-lama saya menikmati juga kehidupan di Numfor. Bebas polusi, pemandangan yang indah, lingkungan yang bersahabat, dan tentu saja ikan-ikan yang segar… 

NB : Katanya, pulau Numfor ini aslinya bukan bernama Numfor, tapi pulau “Poiroi”. Sedangkan pulau Numfor yang asli merupakan sebuah pulau kecil di daerah Pakreki, distrik Numfor Barat.



Inilah pulau Numfor yang asli. Pulau Numfor sekarang [Poiroi, saya sebut Numfor I] yang sebelah kiri, dan pulau Numfor yang asli ada di sebelah kiri [Numfor II, terpisah dari pulau Numfor I. Bila anda belum pernah menginjak pulau ini, maka anda belum pernah ke Numfor . Pulau ini berada di pantai didesa Pakreki, berada dibawah gereja [ada gereja Bethany (?) diatas bukit ditepi pantai]. Pulau ini merupakan pulau karang berbentuk seperti kapal, pada saat laut sedang surut, dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari pulau Numfor I. Pemandangan disekitar sini sangat bagus sekali!

Semoga suatu saat anda dapat berkunjung ke pulau ini dan menikmati keindahan pulau Numfor ini 

Kameri in Numforia


3 minggu sudah kami di Kameri.

Kameri is okay!!
Pegawai Puskesmas cukup lengkap, pak Kapuskes-nya baik n bertanggung jawab!

Puskesmas Kameri ini berada di kecamatan Numfor Barat, melayani 18 desa dan sekitar 4400 jiwa. Jarak antar desa lumayan jauh, dan susah transport... Itu salah satu alasan kenapa pasien kadang malas berobat

Karena keterbatasan geografis dan tranportasi pula, maka jam kerja kami berubah. Yang seharusnya mulai jam 08.00-14.00 WIT, karena pasiennya datang nggak tentu waktu, kami bisa menerima pasien setiap saat.

So... walaupun Puskesmas kami bukan Puskesmas DTP [Dengan Tempat Perawatan], pada akhirnya kami tetap melayani 24 jam, menerima perawatan sementara. Tapi karena keterbatasan alat pula [minor set ga lengkap, cairan infus yang terbatas, obat-obat yang kadang kadaluwarsa], akhirnya kami mengusahakan sebisa mungkin, dan kalau kasusnya susah untuk ditangani, maka kami rujuk ke Puskesmas Yemburwo yang DTP, atau sekalian ke RS Biak Kota maupun RS Manokwari

Hari pertama kami datang, kami sudah disambut pasien KLL. Sebetulnya kami bisa saja menolak pasien, akrena kami bukan Puskesmas DTP, tapi ya masak iya sih... Akhirnya dirawat semalam, kami berikan terapi seadanya [Pak Kapus belum anfrah obat-obat dan alkes dari Biak Kota].

Setiap harinya pasien datang 10-20 orang, ga tentu waktu, bisa datang sore hari, tengah malam ataupun pagi-pagi buta sudah menggedor pintu. Terutama luka2 karena jatuh, ataupun terkena senjata tajam, kecelakaan, malaria berat dll...

Walaupun pasien sehari-hari cuma sekitar 20 orang, tapi saat Puskesmas Keliling [pak Kapus sangat rajin!], naudzubillah banyaknya... 70-100 an orang

Salah satu hari yang berat pas 3perawat sedang turun ke kota, cuma ada 3 perawat. Aku dengan 3 perawat [termasuk pak Kapus] pergi puskel n vaksinasi di Pakreki. dr Bafith tinggal bersama bu Ocedi Puskesmas.

Setengah jam kemudian ada yang datang menjemput pak Kapisa [Pakreki lumayan jauh, 45 menit dari Kameri], ada kecelakaan parah!Guru SMU, pak Alextando mengalami KLL, terluka parah di bagian muka, sebagian tulang hidungnya hancur dan menusuk ke dalam sehingga perdarahaannya tidak berhenti-henti. Yang ada di Puskesmas cuman dr Bafith dan suster Oce. Pasien ini harus segera dibawa ke Biak, karena perdarahan hebat.

Pak Kapisa langsung balik menuju Kameri untuk mengantar ke Yemburwo. Sementara aku tinggal dengan 2 perawat untuk Puskel. Tebak pasien yang datang?... bila sebelumnya 80-an orang ditangani ber 2, kali ini aku bekerja sendirian menangani 110 orang dari pagi sampai sore. Tepar berat... Tapi aku lebih kasihan lagi sama mbak Rosa, dia yang bagian apotek, ga kelar-kelar juga, mana plastiknya habis, repot... Akhirnya merangkap juga dengan apotek... [Biasa... tugas dokter di daerah ST itu merangkap sebagai resepsionis dan juga apotek...]

Selesai udah hampir malam, tapi kami tidak juga dijemput. ang biasanya puskel kelar jam 4, kami baru dijemput pulang jam 7.30 malam. Masih repot dengan pak Alextando di Yemburwo. Di Yemburwo, pak Alex mendapatkan jahitan untuk menghentikan perdarahannya, trus langsung dicarikan Johnson [sejenis kapal kayu dnegan motor, karena kebetulan tidak ada kapal besar yang berlabuh di Numfor], untuk mengantarnya ke Biak. dr hendri yang mengantar ke Biak. perjalanan dari Numfor ke Biak yang harusnya cuman 6 jam, karena cuaca jelek molor jadi 12 jam!

Salut sama dr Hendri, dalam cuaca buruk, dan hanya naik Johnson [cuman sepanjang 7-8 meteran ajah], menyeberangi lautan Pasifik tengah malam. You know lah... banyak hiu didasarnya... Kata dr Hendri, seram sekali. Ombak menghantam tak henti-henti. Dia mencoba untuk tidur, tapi setiap kali membuka mata, yang dilihat hanya lautan dan gelap malam. Tak henti pula menguras air yang masuk kedalam Johnson. Haduuuhhh...siapa bilang itu bukan pengabdian? ALhamdulillah pagi harinya mereka sampai di Biak dnegan selamat dan pak Alextando langsung bisa dioperasi, sekarang dalam tahap pemulihan...

back to Pakreki...

Pasiennya rata-rata badan pegal2 [yang tidak sakit jadi sakit!], batuk beringus, cacingan, ulkus yang ga sembuh2 [semacam koreng menahun, sampai luka-luka dalam dan kadang sampai cacat], Tinea Imbrikata dan Tinea Corporis [penyakit kulit], dan tentu saja malaria!!

Gila... disini malaria-nya hebat...rata-rata penduduk Numfor ini anemis, mungkin karena malaria juga jadi kalau diperiksa Conjunctiva, akan CA (+). Diambil darah untuk periksa DDR Malaria pun darah yang keluar merah dan encer, tanda kalo kadar Hb-nya rendah. Kurasa itu juga lah banyak keluhan sering pusing dan pegal-pegal. Jika Hb rendah, konsumsi Oksigen pun rendah, lack of Oxygen can produce such symptoms...

Karena mungkin penduduknya sudah kebal dengan malaria. Tanda-tanda malaria disini sudah tidak khas lagi... Mana juga alat buat Rapid Test malaria juga susah... Akhirnya klo ada pasien dengan demam kurang dari 3 hari, kami cuma kasih obat ISPA dan penurun panas, terus di-edukasi kalau panas tidak turun dalam 2 hari, suruh bawa ke Puskesmas lagi, kasih obat malaria.

Sudah... kadang-kadang, gejalanya cuman demam-demam saja, lemas, kepala pusing atau bahkan diare-diare...

Kami juga nggak mau mengebom dengan sembarang obat-obat malaria, karena bisa menimbulkan resistensi. kalau sudah resisten, mau dikasih apa lagi?

Persediaan obat malaria cukup lengkap. Ada initial medicine-nya, Klorokuin dan Primakuin, ada Sulfadoksin Pirimetamin [SP], Kina tablet, injeksi Kinin Antipirin, injeksi Kinin Hcl, Artesdiaquin [gabungan Artemisin dan Amodiquin, salah satu regimen terbaru malaria], serta injeksi Artesunate [Artemisin]

Pasien datang dengan gejala malaria, dikasi Klorokuin dan Primakuin dulu [kalau bukan kotraindikasi], kalau masih tidak mempan, dikasih Suldox, kalau tidak mempan lagi, injeksi Kinin Antipirin atau kasih Kina Tablet [tergantung Keadaan Umum, kalau jelek banget ya langsung kasi drip Kina HCL atau injeksi Artemisin]

Sering... pasien itu malas datang ke Puskesmas, apalagi yang rumahnya jauh... akhirnya ketika berobat pun sudah terlambat... terlanjur buruk... Tapi ada juga yang sangat-sangat pemalas, sakitnya nggak berat, tapi minta dokter datang ke rumah, minta diobatin ke rumah, kami kira pasiennya parah, tapi ternyata... cuman malaria sedang [bisa lah... kalau cuma datang ke Puskesmas, ada kendaraan juga]

Aduhhh...

sering pula pintu diketok malam-malam, pasien aneh-aneh... dengan lokiometra [darah nifas tidak keluar setelah 2 hari pasca persalinan], ataupun partus tidak maju [Kala II Lama]. Hal-hal yang tidak bsia ditangani di Puskesmas... Kami hanya bisa memberi cairan, injeksi antibiotik dan analgesik... Pada akhirnya harus dirujuk ke kota... Bahkan rujuk ke Kota pun susah... susah transport, susah tenaga paramedis dan medis...

Kadang pasien datang dengan luka-luka yang harus diajhit, padahal peralatan tidak lengkap, kadang-kadang belum disterilkan pula, tidak ada listrik [listrik hanya ada 4 jam di Kameri, mulai pukul 18.30-22.30 WIT], otomatis kalau datang sore hari, harus menunggu listrik menyala. Sedangkan kalau datang tengah malam, harus bisa medikasi luka dan hechting dengan bantuan lampu senter

Worth it?
Yah... setidaknya kami tidak makan gaji buta :>

Oh ya, hebatnya lagi... semuanya gratis tis tis...!!Kalau di Jawa, pasien Puskesmas masih kena biaya administrasi 2rb-3rb. DI Pkm Kameri, all free!!Bahkan datang di luar jam kerja pun ga dihitung swasta. Sering pasien datang menyodorkan uang, tapi tidak kami terima, karena Pak Kapuskes sendiri tidak pernah meminta. Bahkan ada pasien yang memnita kunjungan rumah pun tidak ditarik biaya [ baik biaya tranport, obat maupun medis-paramedis], hebat kan...

Walaupun... sebenarnya lebih baik bila pasien datang diluar jam kerja dianggap ditarik biaya. Bukannya matre ato apa... [aduh, uang 10rb tuh ga bisa buat beli apa2 di Numfor], tapi setidaknya ada uang kas buat Puskesmas, sekaligus juga untuk edukasi pasien agar datang ke Puskesmas pada jam kerja. Dan benar-benar perawatan tanpa biaya inilah yang sering menghabiskan persediaan cairan dan infus set di Puskesmas.

Harusnya at least, kalau ada pasien yang perlu diinfus, dia harus mengganti harga abocath, dan cairan infus-nya. karena barang-barang sperti ini terbatas, dan pula kami berada di pulau... susah akses ke kota. Kalau ada uang kas, kan Puskesmas bisa membeli abocath dan cairan infus untuk persediaan bagi pasien lainnya.

karena, sebagai Puskesmas TTP [tanpa tempat Perawatan], kami dijatah cairan infus terbatas. Jadi kalau persediaan ciran habis, dan pasien itu harus direhidrasi atau untuk memasukkan obat, pasien harus dirujuk ke Yemburwo. Seperti yang kami alami sekarang. Baru seminggu lalau obat-obat an dan cairan datang. Tapi karena pasien yang perlu dirawat datang terus-terusan, dalam waktu kurang dari seminggu, cairan infus sudah habis...

Kalau ada pasien yang butuh?Yah... gimana lagi?dibawa ke Yemburwo... Itupun all free... tranport ditanggung Puskesmas

Oh ya, disini aku dipanggil BuDok [singkatan dari Bu Dokter], dan kadang-kadang Nona Dokter [hahaha]. dr Bafith dipanggil PaDok [Pak Dokter]. Kurang dari seminggu rasanya kami sudah dikenal di Numfor, maklum pulau kecil...

N im goin to work here till April :> I love this island... I love being in Puskesmas Kameri...

Workin here i learned lot of generousity...

Pulang ke Biak juga akhirnya...



Sudah jatuh, tertimpa tangga, diinjak-injak pula!!
Well, mungkin itu lah kata2 yang tepat buat menggambarkan keadaan kami [Aku, Bafith, Pak John Lie n Pak Bukorsyom kemarin]

Mendekati Lebaran Haji dan Natal, kami ingin turun ke Biak. Aku ma Bafith pengen sholat Ied di Biak, sedangkan pak John Lie n Pak Bukorsyom ingin segera mengerjakan laporan tugas dinas n merayakan Natal di Biak

Kami sudah booking dan membayar tiket Merpati untuk penerbangan ke Biak tanggal 19 Des [hari Rabu]. Sebenarnya kami sudah ditawarin sama bu Merry untuk mengajukan penerbangan ke tanggal 17 Des [hari Senin], tapi karena tidak enak meninggalkan Puskesmas lebih awal, maka kami memutuskan tetap booking tanggal 19 saja, akhirnya 2 seat tanggal 17 itu diambil sama Mela dan Mbak Heny.



Hari Rabu siang, kami sudah siap-siap, trus pak Kapisa nelpon bandara, eh dapat info penerbangan di-cancel, diganti penerbangan hari Kamis berikutnya. Terus kami bersama-sama nge-cek langsung ke bandara, yap!penerbangan dibatalkan. So… pulanglah kami ke Kameri dengan kecewa…

Malam itu aku lewati dengan bad mood, dan… “feeling weird…” karena tak ada gema takbir sama sekali… Inilah pertama kali-nya Idul Adha tanpa mendengar gema takbir pada malam sebelumnya... Maklumlah… mayoritas Kristen Protestan, dan satu-satunya masjid di Numfor [masjid Al-Kautsar] berada di Yemburwo, sekitar 15 menit dari Kameri.

Pagi harinya, hujan deras sekali!!Sekitar jam 7, aku dan Bafith naik motor ke Yemburwo untuk mengikuti sholat Ied. Sampai di masjid, masih sepi… setelah menunggu setengah jam kemudian, barulah sholat Ied dimulai. Sholat Ied diikuti sekitar 50-60 orang dari seluruh penjuru Numfor. Aku nggak khusyuk… abisnya masih ngantuk dan lapaaaaarrrr bangettt… mana khotbah-nya luaaammaaa pula… n not interesting…

Udha selesai pun, kami tidak bisa langsung pulang. Kami baru bias keluar masjid jam 10-an, karena masih hujan. Trus ditengah jalan, hujan turun lagi, akhirnya kami menumpang berteduh didepan kios pak Marzuki. Eh kami diajak masuk, dan disuguhi makanan khas Makassar. Well… aku rasa inilah satu-satunya berkah di hari Idul Adha kemarin. Akhirnya kami bias menikmati opor ayam [how I miss them!!], buras dan bolu Makassar. Its great!!


Seusai itu, kami mampir ke tempat pak Lodik Merpati untuk menanyakan kejelasan pesawat. Pak Lodik bilang nggak tahu, soalnya kan jadi tidaknya penerbangan tergantung cuaca. Dengan cuaca seburuk itu [Laut kelihatan berkabut, hujan masih sangat deras!], maka penerbangan tidak bisa dipastikan. Sementara itu kami mendengar kabar kalau kapal Yapwairon akan mendarat di pelabuhan Saribi hari itu jam 2.

Sementara flight pesawat juga jam 2 [tapi belum pasti]. Saat itu sudah jam 11 siang, karena sudah yakin akan kedatangan Yapwairon, kami meng-cancel penerbangan kami dan meminta uang kami kembali.

Dan… mungkin karena BTS tersambar petir, tidak ada sinyal sama sekali!!Searching… Seluruh Numfor tanpa sinyal… tidak bisa dihubungi dan tidak bisa menghubungi. Isolated…

Pulang ke Kameri, ternyata pak John dan pak Bukorsyom juga sudah membatalkan penerbangan. So, akhirnya kami ke pelabuhan Saribi yang perjalanannya membutuhkan waktu 30 menit. Sesampainya disana, sudah banyak calon penumpang kapal, sangat-sangat padat

Jam 5 sore, ada kapal datang, tapi ternyata kapal Papua Satu dari Biak menuju ke Manokwari yang datang. Kemudian ada info kalau kapal Yapwairon baru keluar dari Manokwari jam 5 sore, so kira-kira… masuk ke Numfor jam 10-an. Akhirnya kami tetap tinggal di Saribi… Sementara kami kelaparan, akhirnya pak Kapisa berinisiatif pulang kembali ke Kameri, mengantar pak Yance, Pak Aho, mbak Eka dan mbak Rani sekalian memasakkan mie dan kopi buat kami [baiknya…]

Jam 9.30, pak Kapisa dating lagi sambil membawa makanan. Alhamdulillah… saat itu aku merasa itulah salah satu mie ternikmat sepanjang hidup :>

Tunggu punya tunggu… sampai jam 10 lebih tiada tanda-tanda kedatangan Yapwairon, separuh calon penumpang memilih pulang… [berat juga… Saribi kan jauh dari mana-mana, mana gak ada transportasi umum pula… mereka jalan kaki…]

Akhirnya… kecapekan… kami kembali lagi ke Kameri… Kelelahan dan sampai di Kameri listrik sudah padam, aku jatuh tertidur tanpa sempat mandi… Capek sekali…

Keesokan harinya, ada kabar tentang penerbangan extra. Kami semua pergi ke bandara untuk menanyakannya. Hanya ada pak Tamba, dan sayangnya pak Tamba pun gak punya info, karena telpon satelitnya tidak ber-pulsa, harus memakai jalur komunikasi SSB. Setelah pak Lodik datang dan mencoba mengoperasikan SSB memakai aki mobil Puskesmas, kami mulai mencoba komunikasi dengan Biak maupun Manokwari

Harap-harap cemas… Dan saat itu pulalah baru terasa keberadaan kami di daerah yang Sangat Terpencil. Terisolasi, tidak bisa menghubungi dan dihubungi dunia luar. Terbayang pula kawan-kawan di Biak yang mengkhawatirkan keadaan kami, keluarga dirumah yang tidak bisa menghubungi kami, dan juga terputus informasi tentang transportasi dari dan ke Numfor.

Akhirnya… ada info kalau Yapwairon telah berangkat dari manokwari sekitar jam 10 pagi. Kami berangkat ke Saribi jam 2 an… Pelabuhan mulai penuh… banyak babi-babi dalam kandang, banyak pula anggrek2 yang hendak dibawa ke Biak. Natal!!saatnya orang-orang mudik…

Jam 3.30 sore… dari kejauhan terlihat kapal besar Yapwairon… tak terkira leganya kami… akhirnya bisa pulang ke Biak… Cuma… penumpangnya full banget… Agak cemas juga kalau tidak mendapat seat…




Jam 4 kami naik ke atas kapal, mulanya kelas VIP penuh [kata penumpang-nya], akhirnya cari petugas in-charge… dapet 4 seat di VIP, it cost Rp 90 rb per orang… Lumayan… bisa santai diruangan ber-AC, reclining seat pula…

Jam 5 kapal berangkat meninggalkan Numfor. Aku dan Bafith mulai keliling kapal dan berniat untuk menjelajahi ruangan atas, mengambil foto!! Dengan menggunakan status dokter [iya lho, sangat berguna :>], kami diizinkan ke ruang kemudi, dan dari ruang kemudia kami keluar dan naik ke atap ruang kemudi, dan bias mengambil foto dengan latar yang indah sekali… Benar-benar pengalaman berharga dan tak terlupakan…



Mungkin muka kami sudah dikenal penduduk Numfor, ada saja yang nyapa [ga cuman nyapa BuDok ajah, tapi dengan nama “dokter Lulu”], wah… senang sekali…
Setelah menikmati perjalanan di dekat ruang kemudi, akhirnya kami turun kembali ke ruang VIP dan beristirahat…




Karena sinyal tidak ada, maka kami tidak bisa menghubungi teman-teman di Biak untuk menjemput kami… Sekitar 1 jam sebelum sampai Biak, barulah ada sinyal HP, tak terkira senangnya… Bisa kontak dengan teman-teman dan keluarga…

Jam 1 tengah malam, kapal sudah mulai mendekati pelabuhan Biak, Cuma ada sedikit trouble sehingga kapal baru bsia merapat sekitar jam 1.30

Kami keluar kapal dengan lega… Akhirnya sampai juga di Biak… dipelabuhan kami berpisah dengan pak John Lie dan pak Bukorsyom. Aku dan Bafith memutuskan untuk ke Suci [Rumah kontrakanku dengan teman-temanku] dengan naik ojek

Gelap dan sepi sekali… tapi akhirnya aku sampai rumah… :> Langsung disambut oleh teman-teman dan cerita tentang kekhawatiran mereka akan keadaan kami…

Tak terkira bahagianya kembali ke Biak setelah proses untuk pulang yang melelahkan… Benar-benar pengalaman bertugas di daerah ST… Idul Adha tak terlupakan :>

Satu bulan tepat!!



View di dermaga...

Hari ini, tepat sudah 1 bulan kami berada di Biak
Dan... sampai hari ini kami ber 5 [Numfor's people] belum turun juga ke Puskesmas...

Si Bafith udah ditelponin pak Kapisa [kapuskes-nya Kameri], ga enak juga sih... tapi yah... kemaren mu naek kapal ke Numfor, kapalnya parah banget!!kapal kayu, gak terlalu gede, mana kotor pula... dan malam sebelumnya badai-nya kenceng banget... So we decide to postpone it... dan akhirnya memilih untuk ke Numfor naek twin Otter

1 bulan, nothing to do... nganggur aja dirumah. Makan, tidur, maen gem, nonton, baca... untung aja disuplai koran n majalah dari tetangga sebelah [Oom Nano], dan akhir2 ini kami sering diajakin masak oleh beliau. Bukan masalah makanannya sih... tapi sepertinya beliau seneng rame2nya...

Kemarin kami sudah bertemu dengan komunitas IDI Biak. Lumayan... curhat dan tukar info... kami curhat tentang keadaan kami disini. Yang kayake kok "disio-sio", dicuekin gitu...

Yah... mereka juga menceritakan keadaan tenaga medis di Biak sendiri... bagaimana acuhnya DinKes, acuhnya Kadinkes-nya, hampir samalah seperti yang kami alami... Dokter tidak diperhatikan!

Betul... kalau aku bilang nih tentang masalah2 kami disini [tranportasi penempatan, rumah tinggal sementara, perlengkapan rumah,etc] si Kadinkes ini manajemennya kurang bagus!

Well, udah tahu lagi program rehab rumah dinas, ya tolong sediakan mess buat dokter dong, dan selama mess belum jadi, harus dipikirkan dokter PTT ini mau tinggal dimana. Dikontrakin kek, dipinjamin rumah kek... eh ini malah dilepasin aja, suruh bayar sendiri pula... Begitu juga masalah transportasi... ga ada biaya katanya!!Padahal you know... Biak ini menerima dana Otsus 59 M!!alokasi dana buat kesehatan pasti besar... But... lihatlah... kami sebagai dokter serasa tidak dihargai...

Tidak hanya itu... banyak-banyak-banyak sekali masalah...

Ada yang rumah dinasnya belum jadi... harus PP 2 jam, 22 rb bolak-balik. Sebulan rata2 isa habis 500rb, belum lagi uang buat kontrak... Berat...

Yang lain... rumah dinas ada, tapi kosongan, belum diisi...

Yang lainnya?

Ada yang udah mau pindahan ke Puskesmas [Ampunbukor], udah membawa segala macam perlengkapan rumah tangga, udah nyewa taksi 175rb. Eh, begitu sampe disana, Puskesmas dipalang!!

Ya!!mereka ga boleh masuk, bahkan untuk sekedar menempatkan barang abwaan... "dokter pulang saja, bawa semua barang"

Wuihhh... ngeselin!!ternyata ada sengketa tanah... dan akhirnya Puskesmas dipalang, gak bisa dipakai... cuman bete-nya pas balik lagi ke Biak Kota, mereka kena charge lagi 175 rb. So buang uang 350rb cuman buat PP Ampumbukor dengan sia-sia...

Ada yang dapet di pulau... yang mana desa2nya tersebar di pulau2 sekitarnya, jadi kalau puskel [puskesmas keliling] harus naek perahu lagi... Mana paramedisnya gak ada!! so dia musti kerja sendiri. Dokter merangkap sebagai eprawat, apoteker, Tata Usaha... Paramedis muncul hanya pada saat gajian or "bagi-bagi uang"...

Trus kami... masalah transportasi dan kelengkapan...

Yah... begitulah...

Banyak cobaan :P

kalau dilihat dari sisi positifnya... [buat aku yah...], masa kerjaku udah berkurang 1 bulan :> jadi tinggal 4 bulan lagi!! [April 2008 udah mule siap2 mau pulang...]

Yah... lama2 sih... betah juga...
Apalagi Biak Kota ini kayak Jawa aja... gak seperti bayangan kita akan Papua [yang kayak Denias itu lhooo... Wamena yang indah tapi medannya berat...]

Cuman... pengeluaran besar juga... udah habis 2,5 juta dalam 1 bulan... Yaa... emang sih, kalau mu PTT tuh emang musti sedia dana sekitar 5 juta-an untuk biaya hidup 2-3 bulan pertama. Karena... gaji PTT sering telat turunnya...

Yah... akhirnya ya kembali pada diri sendiri... waktu yang tersisa 4-5 bulan ini mu dilihat kayak gimana... Tinggal menghitung mundur untuk pulang kah? atau... kesempatan untuk melayani sesama?mendapat ilmu juga... selain ilmu kedokteran juga mungkin secara relasi antar manusia

Penting!
ga hanya komunikasi yang baik antar dokter ke pasien, tapi juga antar sesama TS [sesama dokter], dan juga dengan lingkungan sekitar.

Mulanya aku ga bisa yang namanya wishy washiness... ga bisa basa-basi. But then i realized... U have to! Ya mau tak mau... berusaha...

Aku rasa pada akhir PTT ini aku banyak mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga...

Nggak rugi kok PTT :>

Cerita Dokter PTT

Our circumstation...

Since we haven’t got our SPMT [Surat Pelaksanaan Masa Tugas]. Main thing to do first is to make sure that DinKes write out this letter [very2 important!!], making a “salary draft”, send our Giro Pos Account number [the account that Depkes will send your salary and insentif] to DepKes.

*After you got your SPMT, u have to get Chief of Puskesmas’ signature and KaDinKes’ signature. After that collect in among your “dokter PTT colleagues”, with all SK [from MenKes n Province] n then send it to DepKes. Penting ya, demi menjamin kelancaran gaji kalian [walau tetap saja biasanya dibayar pada bulan ke3]*

Hari Senin kemaren untung ketemu Yance, perawat Pkm Kameri, sehingga kami bisa menitipkan SPMT tersebut untuk ditandatangani dan dicap pak Simson, Kapuskes Kameri, jadi kami tidak usah bolak-balik Numfor – Biak [berat di ongkos :P]. Semoga minggu depan segala berkas selesai dan bisa langsung dikirim. Dan!!!... semoga gaji turun lebih cepat [maklum, tabungan mulai menipis].

Sampai sekarang yang sudah turun ke Puskesmas baru yang Pkm Warsa [Betty n Shinta], Pkm Pasi [Arif n Nogi], Pkm Wundi [Gery]. Kami berlima di Numfor belum turun. Selain memperjelas masalah SPMT, juga menunggu kepastian transportasi.

Ada 2 opsi ketika kita hendak pergi ke Numfor, via pesawat Twin Otter [sekali jalan skr 150rb, 25 menit, max bagasi 20kg] atau naik kapal [sekitar 60rb-an, 10 jam perjalanan].

Ketika kami menemui Kadinkes dan menanyakan masalah transportasi ini, dijawab ma Kadinkes-nya kalau tidak ada anggaran untuk transportasi. Aku menyatakan keberatan “kalau disuruh bayar sendiri, terus terang saya berat pak”.

Dia bilang “ya, nanti kami usahakan”

But in fact?sampai sekarang kami masih terkatung2 dan belum jelas kapan mau berangkat. Kadinkes-nya ini emang aneh, cuek banget ma kita. Kalau dia niat nempatin dokter PTT, ya dia usahain transport dong buat kita, trus ngasih jadwal kapan kita mau berangkat, bukannya kita suruh inisiatif sendiri [yang butuh tu siapa sihhhh?]

Akhirnya kemarin kami menanyakan dr Edi tentang masalah transportasi ini. Beliau bilang “ya tunggu saja dananya. Kalau ada dana ya langsung berangkat, kalau nggak ada dana, ya tunggu saja sampai ada dana. Kalian gak usah khawatir”

Well… emang beda sih ya… perlakuan antara sesama TS [Teman Sejawat] dan non TS [Kadinkes Biak tuh bukan dokter, mungkin itu salah satu factor kenapa dia cuek ma dokter PTT-nya].

*Attention… terutama buat yang PTT di Biak ntar, jangan mau turun ke daerah sebelum jelas tentang masalah transportasi, rumah dinas dan insentif.

1. Transportasi ke Puskesmas. Yang harus nanggung ini jelas Pemda aka DinKes. Waktu kami menanyakan ini, Kadinkes bilang kalau transportasi mulai dari provinsi lulusan sampai ke Pkm harusnya ditanggung DepKes. Its Big No No…!!

Jelas2 dalam SK disebutkan bahwa DepKes Pusat hanya menanggung biaya transportasi dari provinsi lulusan sampai ke provinsi tujuan. Sedangkan Dinkes provinsi menanggung biaya transportasi dari provinsi tujuan ke kabupaten tujuan. Penempatan dokter PTT ke Puskesmas tempat ditugaskan, menjadi tanggung jawab kabupaten aka DinKes. Heran banget dia bisa ngomong begitu. Padahal periode kemarin kan dia juga menerima dokter PTT, dia harusnya sudah tahu dong gimana teknisnya… Well, mungkin memang ada mis-koordinasi dengan DepKes atau memang dia tidak mengetahui sosialisasi akan pelaksanaan teknis penempatan dokter PTT

I have story : Shinta dapat Puskesmas Warsa, sementara Pkm ini rumah dinasnya sedang di-rehab. So, solusinya dia tinggal di kota dan harus PP Biak Kota-Warsa [sehari habis 20-30rb]. Secara hitungan, sebulan paling nggak habis 500rb-600rb, sementara gaji resmi sebulan Cuma 1.730.000, hamper sepertiga gaji kan, belum termasuk makan dan kos. Shinta menjelaskan keadaanya kepada kadinkes, dan nanya “gimana nih pak?”

Tahu nggak, kadinkes-nya jawab apa…

“Tapi kalian nggak akan mati tho?” jawabnya sambil tersenyum

Aku rasa saat itu kami semua terperangah mendengar jawaban itu. Sangat-sangat diluar dugaan... Gimana nggak shocked…

Tapi memang nggak semuanya begitu. Kalau kamu nggak tinggal di dekat Pkm, bisa aja memakai mobil dinas Pkm, bahan bakar nanti dimasukin anggaran Pkm or di-antar jemput oleh petugas Pkm. Biasanya kalau gini malah jadwal ke Pkm paling 2-4 x per minggu, demi mengirit bahan bakar. So, pastikan dulu ya…

2. Rumah Dinas dokter PTT. Well, FYI dokter PTT itu mendapatkan rumah dinas didekat Puskesmas masing-masing. So… kalau dibilangin Rumah Dinasnya belum jadi, minta kejelasan kalian harus tinggal dimana, klo disuruh kontrak, siapa yang nanggung, serta gimana masalah transportasi ke tempat kerja [jangan mau kalau disuruh keluar biaya sendiri].

So, tegesin soal rumah dinas juga, minta dilengkapin dengan kasur dan peralatan rumah tangga [kompor, panci, etc]. Klo belum dilengkapin, jangan mau turun, repot sendiri ntar. Buang2 uang juga untuk membeli segala keperluan ini padahal ini adalah tanggungan DinKes.

3. Soal Insentif. Well.. memang kita ini pengabdian, tapi dengan kondisi yang kita hadapi, aku rasa sudah sewajarnya kita mendapat insentif dari Pemda. Karena gaji bersih kita sebagai dokter PTT dengan criteria ST tuh 1.730.000 dan criteria T tuh 1.530.000, deuuuu…harus ngirit banget deh buat memenuhi kebutuhan hidup kita, nggak bisa nabung. Masih untung untuk kriteria ST kita dapat insentif 5 juta, kalau kriteria T? ya mau gak mau harus cukup uang 1,5 juta itu untuk sebulan. Apalagi rata2 harga kebutuhan pokok di daerah terpencil tuh jauh lebih mahal daripada Jawa. So… aku rasa insentif itu wajar sebagai bentuk apresiasi kepada dokter PTT.

Tanya2 juga dengan periode sebelumnya. Kalau memang sudah dianggarkan, minta saja, itu kan hak kalian. Biak sendiri aku dapat info kalau 2 periode lalu, dokter PTT Biak masih mendapat insentif Pemda 2juta/bulan. Karena ada kesalahan anggaran, entah bagaimana, soal insentif ini menjadi tidak jelas. Ada yang bilang tidak mendapat insentif, ada juga yang bilang dapat insentif 750rb-950rb per bulan, Cuma belum diterimakan [mungkin menunggu anggaran 2008].

Dan jujur saja, kami pun mengharapkan hal yang sama, semoga ada insentif dari Pemda. Ketika kami menanyakan hal ini ke Kadinkes, jawabannya tidak jelas. Tapi pas HKN, ada pak Bupati, pak Kadinkes ini menyampaikan pertanyaan kami, apakah pemda Biak memberikan insentif kepada dokter PTT. Semoga di-respon… [dalam hal ini, pak Kadinkes ok!]

Well… yahh… gitu deh…

So far… kami keselnya karena sepertinya DinKes ini terkesan nyuekin kami, “nggak dianggap”. DinKes Biak yang meminta 12 dokter PTT criteria ST, dan 4 dokter PTT criteria T. Ketika terpenuhi, kenapa tidak memperlakukan dokter2 PTT ini [kami] dengan selayaknya. Bukankah mereka yang minta, butuh pengabdian kami, setidak2nya mbok yao diurusin dengan baik. Atau… kalau tidak mampu mengurusi sekian banyak dokter PTT, ga usahlah minta kuota dokter PTT sebanyak itu. Bu Menkes [atau pejabat DepKes kalau baca ini], tolong perhatikan kesejahteraan dokter PTT didaerah. DepKes sudah memperlakukan kami dengan bagus, tapi sayangnya ada beberapa DinKes kabupaten yang memperlakukan dokter PTT seenaknya [nyuekin]

Another attention, kalau ngurusin surat-surat or something else yang dikerjakan oleh pegawai DinKes harus ditegesin ya… Dibicarakan sejelas-jelasnya, di-follow up terus, kalau perlu ditungguin sampai selesai…

Hmm… segitu ajah…

Manual Guidance of PTT to Papua



Well, postingan ini ditujukan bagi dokter-dokter yang berkeinginan untuk mendaftar PTT ke Papua. Aku tidak mengulas secara lengkap, ini cuman gambaran umum tentang keadaan PTT di Papua

So, lets start…

Biasanya dalam setiap periode PTT, Papua buka banyak kuota PTT. Walaupun mungkin hanya setengah dari seluruh kabupaten yang ada di Papua

Contoh, periode November 2007 ini, Papua mempunyai kuota PTT hanya di kabupaten Biak- Numfor, Supiori, Nabire, Mimika, Yapen Waropen, Jayapura, Keerom, Asmat dan Jayapura. Sementara untuk kabupaten Pegunungan Bintang, Paniae, Tanah Merah, Merauke, Sarmi, Wamena nggak ada kuota, karena sudah terpenuhi pada periode PTT bulan September. So… kalau daerah yang kamu minati ga ada di periode awal, check pada 2 bulan sesudahnya [periode berikutnya]

Kuota tiap kabupaten pun berbeda. Tahun ini yang terbanyak Biak Numfor [12 ST, dan 4 T], Mimika [12 ST, dan 4 T], sementara paling sedikit kabupaten Asmat [2 ST, yang kebetulan didapat oleh Ritom n Owen]. Lain2nya rata2 buka 5-7.

So… kalau pengen dapet PTT ya… pilihlah kabupaten dengan kuota terbanyak… Abis saingannya lumayan juga…

Rata2 temenku yang ketrima PTT tuh sudah ke 3 kali nya ini daftar PTT [aku juga ke 3 kali ini daftar], bahkan ada yang sampai 5 kali daftar!, dan rata2 udah lulus setahun sebelumnya… [sumpah dokter pada tahun 2005-2006 an], special case buat anak USU ’01 yang bisa sumpah pada awal 2007

Selain liat kuota, lihat juga keadaan geografisnya [peta!!], dan rajin baca Koran untuk mengetahui keadaan umum daerah. Seperti Mimika yang katanya kaya dan kuotanya banyak, tapi sekarang dalam keadaan rusuh, jelas ketar-ketir dung…

Lebih bagus lagi klo punya kenalan yang udah PTT di Papua, mereka bisa ngasi gambaran sekilas tentang keadaan PTT disana mulai dari penempatan ke Pkm, insentif, fasilitas, transport, makanan, biaya hidup, barang2 yang perlu dibawa… etc, lebih baik lagi kalau tanya2 kepada teman/senior yang pernah/sedang berada di daerah [kabupaten] yang dituju.

Ada cerita, kemarin pas anak2 yang berangkat dari Jakarta nyampe di bandara Sentani. Kebetulan mereka bertemu dengan senior mereka yang periode kemaren dapet PTT di Asmat. Mereka bilang “kami barusan aja turun gunung, ngelakuin SC”. Haaa… dan pucat pasi-lah si Ritom dan Owen… [seram, seram… tapi disisi lain, begitu selesai PTT, kamu jadi skill-full banget lho hehehe]

Secara geografis, lebih disarankan untuk memilih daerah yang mempunyai pantai atau sungai [selain “liburan” ke pantai terus, juga menyangkut masalah transport kita]. Kebanyakan dokter PTT di Papua ditempatkan di Puskesmas [Pkm] yang ada di pinggir pantai atau pinggir sungai [transportasi lebih mudah lewat air daripada jalan darat]

Kalau milih di daerah dataran tengah Papua yang mayoritas pegunungan [Jayawijaya, Oksibil], lembah [Baliem], perjalanan untuk sampai ke Pkm berat, begitu juga untuk mencapai kampung satu ke kampung lainnya, bisa 1-2 hari perjalanan darat [sangat2 tidak disarankan bagi cewek!]

Soal keamanan, secara umum kabupaten yang paling aman di Papua ialah Biak – Numfor. Jarang kerusuhan, kultur masyarakatnya pun hamper seperti di Jawa.

Kabupaten2 yang “agak kota” n “agak maju” di Papua tuh kabupaten Biak Numfor, Jayapura, Merauke, Mimika

Tapi jangan salah… kita mikirnya Jayapura tuh ibu kota Provinsi Papua, so mikir daerah ST-nya pasti ga terpencil amat2… But… in fact, keadaanya bisa jauh lebih parah daripada daerah ST ditempat lain.

Ada 1 tempat ST yang sangat-sangat-sangat terpencil!! ? Pkm Airu, yang baru dibuka 7 bulan lalu. Pkm Airu ini terletak di pinggir sungai Mamberamo. Hanya bisa diakses lewat jalur air [sungai]. Dan sekali ditempatkan kesana, kamu akan tetap disana sampai 6 bulan [tiba waktu untuk pulang], karena… there’s no transportation… Jadi datang kesana diantar kepala Dinas, menetap disana sampai waktu dijemput kepala dinas lagi [speedboat-nya kepala dinas-lah satu2nya alat transportasi yang mengantarkan kembali ke peradaban].

So… it’s really2 tough life to do… No transportation, no signal, no electricity [mungkin ada genset juga?tapi kayaknya nggak deh, soalnya jelas ga ada transport buat solar-nya], n u are the only outsider between the natives![tapi sangat2 dihormati lho… ]. Bener2 PTT deh, pasti akan jadi pengalaman tak terlupakan dalam hidup :P [for me, no thank you!]

Kalau seperti Biak sendiri, infrastrukturnya bagus, jalan rata2 aspal-an, mudah mu kemana2. Pkm di Pulau Biak yang pelosok pun bisa di-PP dari Biak Kota [sekitar 1 jam-an ? Warsa dan Korem]. Ada sinyal HP [Telkomsel n Indosat]. Pkm-nya rata2 di pinggir pantai [terutama yang di pulau Numfor dan kepulauan Padaido]

Soal insentif daerah… masih ga jelas. Habisnya sering berubah2 antar periode sebelumnya dengan periode kini. Yang jelas Biak ga dapet insentif [katanya insentif-nya berupa kebebasan buat cuti,pulang elbih awal>, yeahhhh… :P]. Supiori periode ini dapet insentif 1,9 juta/bulan. Yapen sekitar 3-5 juta-an, Nabire gak ada [ga tau yak lo tahun depan sudah masuk anggaran daerah lagi], Mimika juga ga jelas. Kalau dari denger2 sih, kabupaten2 di Papua Barat ngasih insentif yang lumayan buat dokter PTT

Kalau milih PTT Papua, biar ga berangkat sendirian ke Jayapura seperti yang aku alamin, aku saranin barengan ma temen buat ngambil kabupaten yang sama, or at least provinsi yang sama. Trus, klo dah liat pengumuman ga ada temenmu yang ngambil provinsi yang sama, lebih baik berangkat lewat Jakarta, barengannya lebih banyak.

Aku nih termasuk ngenes banget. Coz berangkat dari Semarang ke Jayapura cuman berdua, n karena suatu hal, akhirnya malah aku berangkat sendirian ke Jayapura [huwaaaa…]

Trus… biasanya kan dapet jadwal kapan kumpul di DinKes Provinsi tujuan tuh… usahakan datang kesana sesuai jadwal. Emang sih ga bakal kena sanksi kalau telat sehari-2 hari, tapi ini menyangkut transportasi kamu ke kabupaten tujuan, ada temen barengannya untuk ke kabupaten. Seperti aku, yang tetep nekat berangkat sendiri agar isa sampai Jayapura tepat waktu, dan terbukti keputusanku nggak salah. Karena keesokan harinya tim Biak langsung terbang ke Biak. Seandainya aku delay, dan baru tiba keesokan harinya, pastilah “ngaplo…”, ngurusin apa2 sendirian [duhhh, nggak banget deh!]

Tiket perjalanan ditanggung Depkes, sesuai tiket pesawat yang dipesan .Info yang dulu2… dokter PTT periode2 sebelumnya dapet uang lumpsum plus uang tiket [dengan standart Garuda klas ekonomi] plus uang penginapan

Tapi… kenyataannya, dokternya pake flight dari maskapai yang lebih murah, agar ada uang sisa. N Depkesnya sendiri lagi mengetatkan “ikat pinggang” [denger2 buat nombokin AskesKin gitu deh], so ya finally, pengeluaran uang transport kita akhirnya dengan tiket termurah yang bsia didapatkan [langsung dalam bentuk Tiket perjalanan, untung buatku… karena kalau dengan jatah, aku musti nombokin tiket ke Jayapura!]. Depkes kerjasama dengan travel, dan mereka langsung nyariin flight ke bandara terdekat kota tujuan sesuai keinginan kita [maksudnya nyesuain dengan waktu yang kita inginkan].

Ini lebih ok buat kita, coz kita bisa minta connecting flight [palagi buat aku yang berangkat dari Smg, yang notabene musti via Jakarta or Surabaya dulu] sesuai keinginan kita. Oh ya, sebenernya waktu itu kita dikasi tahu klo kita cuman dikasi uang jalan 150rb untuk perjalanan dari Smg ke Jkt or Sby, tapi setelah complain, akhirnya tiket pesawat dari Smg ke Jkt or Sby dibayarin juga oleh Depkes [Alhamdulillah…]

Uang lumpsum bervariasi, tergantung provinsi tujuan. Ke Papua kita dapet 970 rb, ke Sultra, dapet 670rb, Maluku 670 rb, NTB 770 rb [cuman itu yang aku tahu]. Rata2 sih ya dapetnya 670 rb, untuk 2 hari perjalanan. Sedangkan untuk penginapan, kita dapet jatah 1 hari nginep di hotel. Katanya sih jatah per orang tuh 200 rb, diklaim ke orang Depkes yang udah ada di Provinsi tujuan [klaim!!jangan mau ditempatin di hotel yang buluk!palagi klo sekamar ber-2 or ber-3, coz… ada aja yang tega manfaatin keadaan dokter PTT. Tegesin, tegesin!!]

Orang Depkes ini ada di provinsi tujuan untuk 2hari, so kalau kamu nyampe provinsi tujuan, tapi mereka udah pulang, klaim-lah ke bagian bendahara Depkes [nanti dikasih SPPD – Surat Perintah Perjalanan Dinas; nanti disana ada alamat tempat berkas2 dikirimkan, kirim aja ke bendahara keuangan; receipt hotel plus copy halaman depan buku tabunganmu].

Di Jayapura, kemarin kita nginep di Hotel Permata. Ni hotel termasuk mahal n jauh dari Dinkes provinsinya [not recommended, mahal di biaya transport]. So, kalau mau ngirit, bisa nginep di asrama haji, or gedung BKKBN yang dekat dengan DInkes Provinsi Papua [murah kok, 25rb/malam, 1 kamar bisa 4 org, tapi ya fasilitas seadanya gitu…]

Oh ya, transport di Jayapura lumayan mahal. Dari bandara sebenarnya ada pilihan mu naek angkot, or naik taksi bandara [yang Avanza]. Kalau naik angkot sih sekitar 5-10rb an kayaknya buat nyampe ke kota, tapi aku juga ga tahu trayek-nya kemana aja. Kalau ada barengannya, lebih baik naik taksi bandara aja, mahal sih [200rb-an, di-nego yah!], cepat, nyaman dan langsung dianter ke tempat tujuan. Jangan lupa nanya no hp pengemudi taksi-nya, in case u need it [buat nganterin ke bandara lagi]

Kata temenku, yang periode kemarin tuw nungguin SK dari provinsi-nya lama [2 hari- 1minggu gitu], tapi Alhamdulillah, kemaren tuh begitu kita datang, SK langsung dibagiin, so esoknya kita bisa langsung berangkat ke kabupaten

Dari Jayapura, untuk ke Biak, Mimika, Merauke, Yapen bisa ditempuh dengan pesawat langsung. Sedangkan untuk beberapa kabupaten lainnya, harus naek lagi pesawat perintis. Seperti ke Asmat yang harus terbang ke Merauke dulu, baru kemudian dari Merauke harus naek pesawat perintis ke Asmat. Paniae juga gitu, terbang berkali-kali. Sedang untuk kabupaten lain yang ada pantai-nya, lebih mudah naik kapal [seperti Nabire, Sarmi], dan ada juga yang via darat [such as Keerom]

Untuk transport dari provinsi ke Kabupaten tuh ntar pake uang pribadi dulu, ntar diganti oleh Dinkes Provinsi langsung ke rekening kita [ntar kita disuruh ngisi daftar isinya no hp n no rekening kita]

So ya… siapin uang lebih. FYI, harga tiket pesawat ke Biak [Merpati] sekitar 650rb, klo Garuda 750rb. Harga tiket pesawat ke Mimika juga sama… Kalau emang waktunya sela dan memungkinkan, ke Biak bisa ditempuh dengan naik kapal, biayanya lebih murah, tapi jarak tempuhnya juga lebih lama [don’t worry, uang perjalanannya sama kok dengan yang naek pesawat, karena tiketnya diitung berdasar standart harga pesawat].
Oh ya biaya makan di Jayapura lumayan mahal, sekitar 11.000-15.000 sekali makan. Harga2 barang juga tentu saja lebih mahal daripada Jawa…

Bagasi… rata2 kita dapet bagasi gratis 20-25 kg. Klo packingnya bagus, bisa cuman bawa 2 tas ajah [like me, cuman tas dorong ma backpack]. Klo mu sekalian bawa bagasi banyak, sekalian ajah bawa peralatan masak [soalnya belum tentu didaerah udah tersedia peralatan masak]. Sekali lagi, packing yang bagus, biar ga ribet bawanya… kalau mau, bawa barang secukupnya, trus ntar barang2 lainnya dipaketin aja begitu nyampe kabupaten [mehel siyyyy… ]

Please, jangan bawa barang2 yang ga perlu [such as ; BAWA 6 GALON AIR!! ==> ada tuh yang bawa 6 galon air dari Jkt ke Biak, wakakakaka... or... BAWA LAMPU TEPLOK ==> ada di Papua kok... apalagi Biak... Dan juga ga usah bawa RINSO 5 kg!! --> FYI, ini beneran lhoh... aneh2 aja...]

Secara umum, apa2 yang lo butuhin tuh ada di Papua, cuman ya emang harganya jatuhnya lebih mahal... Tapi klo sampai bawa barang2 seperti diatas, aduhh... enggak banget dehhh... Papua ga sampe segitunya kok...

Kalau mu berangkat, minumlah anti malaria sebelumnya buat preventif ya...
Barang2 yang disarankan bwt dibawa:
1. Mosquitos repellent yang buanyakkk… jelaslah… malaria-nya ganas2… sekalinya kamu ke Papua, berarti udah nempatin parasit malaria ke tubuh
2. Senter plus batre cadangan, disarankan beli batere recharge-able, abis batere sekali pakai tuw mahal banget disini [untuk daerah yang tanpa listrik, maaf ya…]
3. Buku!!protap2 tuh lumayan berguna. Kapita Selekta juga boleh… E-Book juga ok...
4. Minor set [klo di Biak siy ga usah… ada di Pkm kok], handschoen yang banyak [ingat2! Papua tuh endemis HIV/AIDS], antiseptic cair
5. Tisu basah, didaerah yang susah air, tisu basah tuh sangat2 berguna… [gantinya mandi!]
6. Sun block… Papua tuh panas banget
7. Payung or jas hujan [terutama pada bulan2 begini… penting!]
8. Kamera… wuahh… Papua niy cantik banget… rugi klo ndak diabadikan
9. Mp4 player or Ipod, berguna!! Laptop juga boleh [klo ada listrik ya…]
10. Barang2 elektronik, macem setrika, rice cooker kecil. Abis mahal2 klo di Papua…
11. Vitamin2, suplemen, or obat2an gitu… sekali lagi, itu barang mahal di Papua…
12. Boleh juga bawa pemanas air elektrik yang batangan/spiral itu, sangat2 berguna!! [klo di Biak sih di Hadi juga jual]
13. Bawa termos, yang kecil aja cukup... barang gini mahal di Papua...

Oh ya... klo bawa hp yang udah ada JAVA or midp2 nya... aku saranin, aktifin koneksi internetnya... Di Papua ada GPRS kok [Di Jayapura n Biak sih], tinggal download Operamini 4 ma aplikasi instant messenger. Sangat2 berguna n murah sekali... tetep dapetin berita yang up to date [koran mahal disini!], dan tentu aja biaya komunikasi via chating kan lebih murah daripada sms. Telkomsel maupun Indosat bisa...

Hemmm.. rata2 provider yang ok disini tuh Telkomsel [halo, Simpati, AS] ama Indosat [Mentari, Im3], ada juga Flexi...

What else lah… yah segitu aja cukup deh buat sekarang hehehe ...

Intinya… siap2lah dengan perbedaan kultur disini, perbedaan kemajuan yang jauh sekali dengan Jawa, siap2 ga ada sinyal, siap2 ga ada listrik, siap2 susah transportasi [nggak semuanya se”mengenas” kan itu sih… but ya… tabahkan hati lah… :P ]

Yah begitulah gambaran singkat tentang Papua, ntar aku bikin lagi Manual Guidance of PTT Biak Numfor hehehe. Jangan pikir semua PTT di Papua tuh "horor" ya... tidak tidak... [kami yang di Biak ini serasa di Jawa aja... anggap aja liburan 6 bulan :P ]

Ok deh. Gud Luck, semoga berguna. Kalau butuh info lebih lanjut, kontak aku aja di imel-ku hehehe...

Goin to OWI island, Padaido, Biak



Goin to Owi island...

***

datangnya rejeki memang tidak bisa diduga...

Minggu pagi, mbak Shinta n Mela mu menjemur pakaian di depan kontrakan sebelah [kontrakannya Oom Nano, kepala Garuda di Biak], eh tiba2 Oom Nano keluar n ngejakinmaen ke pulau, naek speedboat barengan ma kru Garuda

Setelah berunding sejenak, kami kembali lagi ke Oom Nano, "ber-tujuh boleh Oom"

"Boleh aja, masih muat kok"

"Ok deh!!kami ikut oom"

"Ya, jam 12 siap ya"

kembali dari rumah Oom Nano masih dibawain oleh2 mangga pula!! [buah mahal di Biak lho...!! Alhamdulillah banget...] --> menjemur baju pun ada rejekinya lho!! hehehe

So ok deh, we called the boys n told them to came at our house at 12.00 WITA

jam 12.30, kami ber 6 [tanpa Mbak Shinta] plus OOm Nano pergi menuju Intsia Beach Hotel di pantai Intsia. Ternya disinilah para kru Garuda menginap. Kami dikenalkan dengan 4 pramugari, pilot Bambang [yang ternya keponakan drg Tini, alias sepupunya Muki '02], kopilotnya, serta ajudan bupati Supiori.

Let me explain bout Intsia Beach Hotel. Hotel ini terletak persis dipinggir pantai, dekat dengan dermaga. Punya view langsung ke pantai, dan daratan pulau Serui juga isa keliatan dari pulau ini. Ditengah2 hotel ada taman plus gazebo yang isa dipake buat Gathering. So... for short hotel ini lumayan ok!!

Jam 13.20 WIT, kami mulai berangkat. Kami berangkat ber-20, para kru Garuda, kami, serta penduduk asli yang menjadi navigator. Rencananya kami akan menuju Pulau Arbus [salah satu pulau dari Gugusan Kepulauan Padaido yang cantik, pulau Arbus sendiri tidak berpenghuni, dan merupakan salah satu dari 5 pulau yang dilarang dihuni untuk kepentingan pariwisata, kinda like private beach...]

But sayangnya, hujan turun deras sekali di tengah perjalanan... jarak pandang hanya sekitar 50-100 meter saja. Para pramugari mulai berteriak2 ngeri dan minta kembali ke Intsia [oh NO!!!]

Tapi kemudian diputuskan, merubah tujuan ke pulau terdekat, yakni pulau Owi. Ditengah2 hujan kami mendarat, dan turun. Sementara yang lainnya tetap di speedboat dan mencari tempat menepi yang lebih nyaman.

Walaupun ditengah rintik hujan, its awesome... cantik sekaliiii... terlihat pulau2 kecil didepan kami... Dan hanya kami yang ada di pantai [serasa pulau pribadi!!]




Air lautnya terasa hangat sekali, banyak kulit kerang, pecahan kerang bertebaran dipantai. dan juga banyak umang2, n of coz... nyamuk anopheles!!

Spot tempat kami turun rupanya kurang nyaman untuk berenang dan menyelam, terlalu banyak karang dibibir pantainya. AKhirnya kami menyusuri pantai sekitar 500 m ke barat, menuju tempat speedboat pemda Supiori bersandar.

Ternyata sudah banyak yang turun. Ada yang berenang, menyelam, ada pula yang memancing dan bahkan memasak air panas [for coffee...]. Kami dipanggil mbak Titik, salah satu pramugari Garuda, diajak makan. Yah... siang itu kami makan dengan bekal Garuda, masakannya enak banget!! nyam nyammm... [ dan yang paling bahagia, tentu saja Steven, liburan gratis, makan gratis pula!]




Selesai makan, aku dan Mela naik ke haluan kapal. Awalnya sih foto2 doang [Gaya!!sok bergaya rich&famous' girl gitu hahaha :p], ga ada niat buat turun [aku kan ndak isa renang...]. Trus iseng2 nyobain make pelampung. Eh disuruh turun ama bang Gearson [si ajudan bupati Supiori] "ayo turun aja"

"enggak ah, aku nggak bsia berenang"
"lho kan udah pakai pelampung"
"nggak!"
"nggak papa, terjun tegak aja, nanti langsung ngambang sendiri, kan pakai pelampung"

Akhirnya... terjun juga...
Byurrr... blup blup blup... eh beneran, naik dnegan sendirinya ke permukaan, ngambang!! [ya terang aja, pakai pelampung!!]

Waaaa... bahagia banget... akhirnya aku isa maen aer... trus aku diajarin bang Gearson renang, diajarin gaya katak gitu, trus diajarin ngambang n how to keep stabil in the water...




Fun!!

Akhirnya mule berani ngelepas pelampung, masih glagepan n belum berani ke tempat yang dalem... [harus bisa renang!!rugi dong klo nggak...]

Jam 17.00 WIT, kami memutuskan untuk pulang... Dan... berkahirlah sore itu dnegan hati yang sangat gembira...

Im totally happy, n not just me... my friends also said the same thing. This is one of best thing u can get in Biak

"Ga kayak PTT ya? kayak liburan ajah"
"He'eh serasa ga PTT"
"Iya, menyenangkan sekali bisa menikmati liburan ala orang kaya gini" [secaranya... naek speedboat gratis, di pulau yang masih bersih n sepiiiiii banget, serasa pulau pribadi gitu...]
"yah, inilah berkah PTT... walo ga dapet isentif daerah, tapi isa vacation gratis" [menghibur diri hehehe :P]

N then we left this beautiful island... The beautiful Owi island...



Perjalanan pulang kami, dalam suasana yang sangat cerah. Ada juga burung camar yang menukik mencari ikan dilaut lho...

Menyenangkan sekali...

Full-Full-Full... [serasa abis full charge gitu...]

pulau Owi yang cantik, Biak yang cantik... dan aku mempunyai niatan, ingin mengunjungi lebih banyak pulau lainnya lagi di kepulauan Padaido [hope so!!]

:>

Yendidori - Bosnik Adventure




There's nuthing to do...

So we decide to go to the beach. People we asked recommend to go to Adoki beach. But after we were asking the taxi driver, he suggested us to go to Yendidori beach. I knew Yendidori, 2 days before we were going there to had an orientation about our job and situation in Public Health Service [Puskesmas]

So, after negotiation about the price of taxi to take us there [ 60 rb untuk PP].Its not so far from Biak Kota, Yendidori is in West Biak District, it took about 15 minutes by taxi.

Pertama heran, kok masuk ke perkampungan... trus kami diturunkan di gereja tua. Di depan gereja itu ada undak2an untuk turun kebawah. So we climbed down...



And Subhanallah... Its very pretty indeed... Dibawah, ada pantai kecil, ada monumen pula... cantik bangettt... serasa private beach deh... Cuman sayangnya, kami nggak bisa berenang disana, karena pantainya bukan pasir, tapi full karang, ga enak buat belajar berenang [for me hehehe]. So then we decide to go to Bosnik again!!

We called the taxi driver [suggestion ask n keep the taxi driver's mobile number, its important!]. Then we asked him to take us to Bosnik. It charged us another 60rb, coz Bosnik is in East Biak, its about 40 minutes to get there...

We were passing "pasar ikan Bosnik" [Bosnik Fish Market], that sell fresh sea fish, fresh crab n so on. N please... go to there only in Tuesday, Thursday n Saturday... okay...






Near that market, there is Segara Indah Bosnik Beach!! The lovely beach... That day, the beach is not so crowded [not like that we had in Sunday]. I love it!! I learned to swim... I drank lot of sea water, very2 salty!!







After got tired, we drank "kelapa muda", its just 3rb for each [very cheap!]]. Too bad there was no bakwan malang that day, coz its seem that the bakwan malang only exist in sunday

N then... after 3 hours in the beach... we decide to goin home... But our weekend not ended just like that... That night, we were invited by Ibu Ang [our neighboor], to go to her house to have her birthday party, sea fish!! all you can eat... [Steven is the happiest person for free food :P]

N yahh... we were passing saturday with happiness :>

^_^

Bunny Skaleee...

Ah ya... ketinggalan!!

foto konyol Steve di Bosnik heueheuheu... dia dengan rela hati dikubur di pasir [look!!kocak kaleee... lengkap dengan BD n genital nya keqkeqkeqk...]














N... this is view from Bosnik Beach in afternoon... Cantiiiiiiikkkkkk kaaaaaannnn...














Dan ini... foto kita waktu orientasi di Puskesmas Yendidori dengan para paramedis-nya...
















Look at me!! i cut my hair very2 short!! yeahhh... demi alasan kepraktisan n hemat shampoo hehehehe :P Tapi sama aja ding, lha wong potong rambut di Biak meheellll... 25 rb!! mendingan potong di Jawa deh, udah ditreatment macem2 :D

Goin' to Bosnik Beach!! Lets VAcation!

Coz... seminggu ini ga ada kerjaan... So ya... have fun muluw heheh...

Hari sabtu kemaren, atas kemurahan hati pak Ula - BNI, kami ber 7 [tim Jakarta], ikut diundang untuk makan malam di Sorido Club - Hotel Nirwana.

Well.. senanglahhh... makan gratis :P







N we were have funnn...
Masakannya enak... nyam2...



Trus... seusai makan... live music!! tamu harus menyumbang nyanyian!!pada mulanya trio Steven-Gery-Irfan yang menyanyi. Trus... meja 2 [meja kami], disuruh menyanyi pula... N yah... finally, aku, Mela n Steven maju kedepan n started to sing... keqkeqkeq... Katanya pak Ula sih, aku atraktif, menikmati menyanyi gitu hehehe :P






We were totally have fun that night... Capek tapi seru sihhh...

Trus... keesokan harinya... kami pergi ke pantai Bosnik!!

Dari Biak Kota ke Bosnik sekitar 45 menit. Kami naik taksi yang kami minta antar-jemput, dengan biaya 120rb [murah kan]. Dan begitu sampai Bosnik, waaa... pantainya indah!! n lumayan rame pulaaa [maklum hari Minggu]








Ki-ka :
Kak sari [UISU 91], Mas Sotja [Trisakti 87], Sonny [Unibraw 98], Steven [Atmajaya '00], aku, Gery [Yarsi 99], Mela [USU '01], Mbak Henny [UPN 98]

Senng bangettt!!!






Gw sempet naek kapal... well, bukan kapal ding, perahu mini!!hehehe abis... sempit bangeeetttt... kita naek b 3 [aku, Mela n gery], perahunya sempet oleng!!akhirnya balik lagi ke pantai, n naeknya one by one biar "aman" hehehe :P





Tapi asyik banget dehhhh!!!!
Aku belajar "mengambang" disana, coz aku ga isa berenang hehehe :P dikasi tahu cara "ngambang" ma mas Ari, trus cipak-cipik dikit gitu dehhh... bisa ngambang!! Yaa... katanya lebih mudah belajar berenang di laut, coz perbedaan berat jenis... [Yah, ntar di Kameri juga Puskesmasku langsung berhadapan ma laut, belajar renang!]

N yahhh... kami menikmati Biak

dan masih merencanakan berkunjung ke pantai2 lain di Biak dan sekitarnya... [Pasi!!]

Lets come to Biak n have vacation here!!

:)

First Week in Biak

Well...

Dan mulailah kehidupan kami di Biak...

So far so good...

Inilah kami, 13 dokter PTT yang ditempatkan di Biak [dengan latar belakang kantor Dinkes Kabupaten yang buluk :P]











5 dari kami [ aku, Bafith, Mela, mb Henny n mz Ari] ditempatkan di pulau Numfor. Di Numfor ada 3 Puskesmas yakni, Yemburuo [ada ra-nap nya], serta Mandori dan Kameri. Aku ditempatkan di kameri bersama Albafith [anak UNPAD 2000]

Ini foto kami ber 5 [anak Numfor], dari ki-ka ; Luluch, mas Ari, Mela, mbak Henny, mbak Shinta [dia ditempatkan di Warsa-pulau Biak], dan Albafith [belakang sendiri]










Nih liat, ada peta kab Biak Numfor











Ada pulau Biak yang bergandengan dengan pulau Supiori [Supiori skr berdiri menjadi kabupaten sendiri], sementara pulau Numfor ada di sebelah Barat Laut, dan kepulauan Padaido disebelah Tenggara Biak [termasuk 2 Puskesmas ST di Pulau Wundi n Pulau Pasi]

Dan ini peta Numfor... Pkm Yemburuo dekat dengan Pkm Kameri [sekitar 5-10 menitan naek mobil].








So aku ada 2 pilihan, tinggal bersama perawat disana atau tinggal bersama Mela n Mbak Henny di rumah dinas drg di Yemburuo

Buat aku sendiri sih elbih enak barengan di Yemburuo, toh bisa pake mobil puskesmas-nya n jaraknya cukup dekat untuk di-setirin sendiri. But yahh... liat dulu ntar keadaannya...

Sebenernya diawal2 kami datang, kami cukup bete. Karena tidak disediakan mess, tidak ditanggung makan, serta tidak mendapat insentif! Apalagi pas denger kalau biaya transport ke Pkm gak diganti, wuaahhhh... aku marah2 mulu hahaha. Abisnya klo mu ke Numfor tuh ada 2 pilihan, mu naek kapal [Pelni, 10 jam, 60 rb-an], or pesawat [Merpati Twin Outer, 2 x seminggu, 125 rb sekali jalan]...

Tapi sampai sekarang pun belum ada kejelasan tentang keberangkatan kami. Apalagai buat anak2 yang dapet di kepulauan Padaido, soalnya cuaca sedang tidak bershabat [mereka kudu naek Johnson, sejenis perahu kayu bermotor, or speedboat]. So yahh... lontang lantung gitu dehhh [anggap saja liburaaannnnn]

yah.. so far sih masih menyenangkan, coz Biak masih kerasa mayan rame ya... tapi ga tau deh ntar... Apalagi klo dha di Numfor hehe... sama aja ga ada kerjaan. Pkm buka jam 8, jam 9-10 udah pulang, coz pasiennya dikiiiiiittttt... makan gaji buta euy...

:P

Katany di Numfor banyak kepiting [I love it!], udah janjian ma anak2, pesta kepiting rame2 ntar hehehehe...

Mauuuuu????

PTT Biak Numfor - The Journey part Two



PTT seri ke2

Di DinKes Jayapura, udah berkumpul temen2 dokter PTT ke Papua. Mayan banyak… 67-an klo gak salah… Sementara yang ke Biak sendiri ada 13 orang [uakeeehhh]. Disana kenalan ama Tim Biak Jakarta [yang berangkat dari Jakarta ; Mz Ari-UMY 94, Mb Heny-UPN Jakarta 98, Mb Shinta – Trisakti 99, Mela – USU 2001, Gery – Yarsi 99, Steven – Atmajaya 2000], dan 6 lainnya berasal dari Bandung

Alhamdulillah banget deh ketemu ma mereka n barengannya cukup banyak. Ngeri juga kan klo berangkat ke Biak dhewean…

Akhirnya aku join tim Jakarta n barengan nginep ma mereka di Hotel Permata [bagus! Tp not recommended klo pas ke Jayapura, jauh dari DinKes Prov-nya]. Tarifnya mayan mahal, kita berempat [me, Shinta, Heny n Mela] pake kamar superior dengan double bed, bayar 430rb. Tapi aku gratis sihhh… coz masih dapat jatah nginep semalam dari Depkes senilai 200rb… Mayan… Abis apa2 disini mahallll… bwt transport aja juga mahalnya amit2 dehhh…Sekali makan di Jayapura sekitar 10-15rb gitu. Trus karena kita rame2 kita naek taksi [jangan salah, sini naeknya Avanza!]

Keesokan harinya… kami ber-7 plus temen2 PTT Supiori [Sonny – Unibraw 98, Kak sari – UISU, mas Sotja – Trisakti 87] berangkat ke Biak via Merpati. Muahalllllll… tiket pesawatnya seharga 650rb!! [bisa bwt PP Smg-Jkt tuww…]. Berangkat jam 8 pagi, nyampe Biak jam 9 pagi










Penerbangannya singkat… dan kayaknya terbangnya ga begitu tinggi deh. Dari atas masih isa keliatan laut n pulau2 kecil dibawahnya. Very2 pretty indeed…









Dan, jam 09.00 WIT, sampailah kita di bandara frans Kaisiepo Biak. Not so big... tapi lumayanlah... Trus... kita berpisah dengan rombongan Supiori, mereka langsung dijemput ma orang DinKes n menuju ke rumah Kadinkes di jl Suci- Biak, sementara kita langsung menuju ke DinKes Biak di Biak Kota

Kesan tentang Biak. Lumayan. Not so big... tapi jalannya aspal-an semua, muluss... mayan rama [kayak Purwodadi gitu deh], transportasi gampang. Kami bertujuh [Tim jakarta + me], dari bandara kaisiepo naek taksi bandara [seperti di Jayapura, its Avanza!!]. Mayan mahal sih, sampai ke Dinkes 100rb [tapi di-bagi b7].

Selain taksi "Avanza". ada juga "taksi" lain. Well, klo di Jawa ya macem angkot gitu. tapi... asyiknya... ga pake trayek, jadi tinggal bilang mu kemana gitu, dianterin sampe depan rumah juga isa!! N cuman bayar 2rb klo tujuannya masih dalam kota. Murah kan!! Tapi batasnya ampe jam 8 malem

Jalan Besar nya di Imam Bonjol. Disini terdapat Supermarket terbesar di Biak, yakni Supermarket Hadi dan Indah [tinggal sebut Hadi or Indah aja, taksi pasti langsung nganterin ksini]. Di jalan ini pula terdapat warnet [Wahyu-net, 7rb/jam], ada hotel Basana Inn ma hotel Maju, Bank BNI [plus ATM-nya] n Bank Mandiri [plus Atm juga]

Well, yah Biak mayan lengkap kok... cari makanan mayan gampang [tapi mahall!!n banyakan klo siang/sore hari]. makan rata 10rb-an gitu deh... Murahan pake ikan draipada pake ayam-daging-ikan tawar [sekitar 20-30rb an]. Kita nemu makanan enak disini di depan YAPIS, dekat kompleks TNI AU, masakannya enak, murah pula... Selain itu didekat hotel Arumbai juga lumayann...








Ini nih yang namanya nasi campur ikan. Porsinya buesaaarrrrrrr... [emang kayaknya orang sini makannya banyak2...], tapi rugi dong klo ga habis... so ya... walopun itu dobelnya porsi makan di Jawa... ya habis... hehehe :P

karena kita "diabaikan" dan "ditelantarkan" Dinkesnya, kita akhirnya nginep di hotel Maju semalam [nih hotel parah banget!! tapi muyaaaahhh...] trus cari kontrakan di daerah Dolog, jl Suci dengan bantuan bapak2 dari BNI [kebetulan bokapnya Mela kerja di BNI]. Kontrakan isi kamar 2, cukup bersih, tapi kosongan, dengan harga 550rb sebulan. yah lumayanlahhh... draipada hidup di hotel, lebih mahal tentuu...

Tapi... akrena sekitar kita itu masy Bugis, kita ga bisa serumah bertujuh, akhirnya kami berempat - anak cewek, tinggal disana, dan yang anak cowok menginap di tempat Pak Ula - Wapemcab BNI [makasih banget buat pak Ula-pak Lut-Pak Udin n mz Irfan]

*kita ga dikasi mess/penginapan, musti BS, begitu pula dengan konsumsi, ga ditanggung!! -->tidak disarankan bagi anda2 untuk memilih Biak bila ingin terjamin n insentif Pemda [oke!klo kriteria ST, bolehlah... masih dapet insentif Pusat]*

Dan yahhh... mulailah kami mencoba hidup di Biak...

PTT Biak Numfor - Journey Part One



31 Oktober 2007...

I was starting my journey to Papua... 12.00 o'clock i've arrived Ahmad Yani airport Semarang... Mu connecting flight dari Smg-Jakarta-Makassar-Jayapura via Lion Air [kehabisan tiket Merpati!]

Di jadwal sih harusnya berangkat jam 3 sore dari Jakarta, trus ntar ke Jayapura jam 22.20 WIB dari Jakarta...

But then... there is announcement that the flight to Jakarta will be delayed. Yahh!!setelah nunggu se-jam, akhirnya boarding juga. Udah mu take off tuw... eh tiba2 ada pengumuman lagi, flight-nya ditunda, ada gangguan teknis. Kita disuruh turun n nunggu lagi.

Orang2 lain sih langsung pada minta pindah penerbangan dengan Adam Air or Mandala. Awalnya aku nyante2 aja, selain karena flight ke Jayapura masih jam 10-an malem, aku juga ada temen ke Jakarta 4 orang [ Mz Lutfi-Papua; Mz Aji-Fathoni-Mz Sutiono ke Kendari]

But then, jam 6, ada pengumuman lagi, flight ke Jakarta dibatalkan!! Langsung deh ke counter in; "Pokoknya saya harus berangkat ke Jayapura malam ini mbak!" [maksa gitu dehhh hehehe :P

Finally... gw bisa berangkat ke jakarta juga via Mandala. Cuman sayangnya... karena mz Lutfi agak telat ngurusin tiketnya, aku berangkat ke Jakarta alone... n it means... aku berangkat ke Jayapura sendirian!! coz yang berangkat ke Papua dari Semarang cuman 2 orang!!

Uhh!!! bete dah... musti be-pergian all alone... single fighter gitu...

Finally... nyampe Cengkareng jam 8 malem. begitu ambil bagasi, langsung deh aku cari counter check-in nya Lion Air. Masya Allah jauuuuhhhhhhh bangettttttt!!Mana bawaanku segambreng!! [mayan dikit sih klo dibandingin anak2 lainnya, aku cuman bawa 1 tas jinjing, tas punggung ama tas cangklong] Tapi tetep... repotttt...

Akhirnya seusai lapor ke transfer desk, aku naik ke waiting room. Pesawatnya ditunda lagi!! Ngobrol2 deh ma bapak2 disana.. salah satunya Pak DJoni Djuarsa [baru tau namanya kemudian]. beliau konsultan hidrologi tapi dulu pernah kuliah di kedokteran selama 3 tahun, so obrolannya nyambeung gitu deh...

Akhirnya berangkat ke Jayapura jam 11 malem gitu... transit di Makassar jam 02.00 WITA, trsu berangkat lagi ke Jayapura jam 04.00 WITA

Di pesawat aku tepar berat!!langsung deh bubu... bangun2, aku ngeliat keluar langsung silau!!kaget, perasaan tidur cuman bentar kok udah terang, kulihat jam baru jam 05.00 WIB. Trus... ingat2, Oh ya... ini kan udah ikut WIT, berarti udah jam 07.00 WIT di Papua...




Dilihat dari atas, Papua is so pretty!!ijooooooo smuaaaaa... banyak pulau2 kecil yang cantik. Lihat niiiihhhhh...



Seneng sih duah mu nyampe Jayapura, tapi juga bingung... setauku bandara Sentani kan mayan jauh dari kota jayapura-nya [45 menitan]. Just confuse... "how to get there?"

Kata temenku sih naek taksi [Avanza gitu, tapi bayarnya 200 rebu ke kota!! muahaaaaallll], trus aku berdo'a gitu deh... "Ya Allah, tolong berilah kemudahan padaku untuk sampai Jayapura"

:)

Jam 08.00 WIT, kami landing di Sentani. Pas turun, ketemu ama pak Djoni lagi. Aku tanya pada beliau "pak, gimana ya cara sampai Jayapura?"
"Wah, saya kurang tahu. Selama ini saya dijemput"
"Oooo... pakai taksi kali ya pak"

Trus... ambil bagasi [tas-ku jebot di Sentani!!bete deh!!]. Trus pak Djoni tiba2 dateng n bilang "Eh, mau ikut sekalian ke kota?"

"ha?" pasang muka bengong gitu deh
"Iya, seklian aja ke kota, saya dijemput kok, sendirian"
"bener nih pak?gak papa?"
"Iya, sekalian aja"
"Boleh deh. Iya pak"

Yihaa!!!dapet tumpangan gratis ke kota hehehe :P padahal waktu itu aku belum tahu nama beliau lhoo... Baru nanya nama beliau pas ditengah perjalanan wahahahaha...

Pas aku critain ke nyokap ma temen2, pada komentar "kamu nih gimana?kok mau aja?ko kamu diculik gimana!!"

yahhh... tau deh... tapi mang aku juga heran kok langsung percaya aja :P [klo kupikir2 lagi, ini seperti perwujudan Hukum Gravitasi di Buku "SECRET"]

dan yah... dengan bantuan tumpangan pak DJoni [terimakasih banget pak], akhirnya aku sampailah di Dinkes Prov Papua dengan selamattt...

Alhamdulillah...