Cerita Dokter PTT

Our circumstation...

Since we haven’t got our SPMT [Surat Pelaksanaan Masa Tugas]. Main thing to do first is to make sure that DinKes write out this letter [very2 important!!], making a “salary draft”, send our Giro Pos Account number [the account that Depkes will send your salary and insentif] to DepKes.

*After you got your SPMT, u have to get Chief of Puskesmas’ signature and KaDinKes’ signature. After that collect in among your “dokter PTT colleagues”, with all SK [from MenKes n Province] n then send it to DepKes. Penting ya, demi menjamin kelancaran gaji kalian [walau tetap saja biasanya dibayar pada bulan ke3]*

Hari Senin kemaren untung ketemu Yance, perawat Pkm Kameri, sehingga kami bisa menitipkan SPMT tersebut untuk ditandatangani dan dicap pak Simson, Kapuskes Kameri, jadi kami tidak usah bolak-balik Numfor – Biak [berat di ongkos :P]. Semoga minggu depan segala berkas selesai dan bisa langsung dikirim. Dan!!!... semoga gaji turun lebih cepat [maklum, tabungan mulai menipis].

Sampai sekarang yang sudah turun ke Puskesmas baru yang Pkm Warsa [Betty n Shinta], Pkm Pasi [Arif n Nogi], Pkm Wundi [Gery]. Kami berlima di Numfor belum turun. Selain memperjelas masalah SPMT, juga menunggu kepastian transportasi.

Ada 2 opsi ketika kita hendak pergi ke Numfor, via pesawat Twin Otter [sekali jalan skr 150rb, 25 menit, max bagasi 20kg] atau naik kapal [sekitar 60rb-an, 10 jam perjalanan].

Ketika kami menemui Kadinkes dan menanyakan masalah transportasi ini, dijawab ma Kadinkes-nya kalau tidak ada anggaran untuk transportasi. Aku menyatakan keberatan “kalau disuruh bayar sendiri, terus terang saya berat pak”.

Dia bilang “ya, nanti kami usahakan”

But in fact?sampai sekarang kami masih terkatung2 dan belum jelas kapan mau berangkat. Kadinkes-nya ini emang aneh, cuek banget ma kita. Kalau dia niat nempatin dokter PTT, ya dia usahain transport dong buat kita, trus ngasih jadwal kapan kita mau berangkat, bukannya kita suruh inisiatif sendiri [yang butuh tu siapa sihhhh?]

Akhirnya kemarin kami menanyakan dr Edi tentang masalah transportasi ini. Beliau bilang “ya tunggu saja dananya. Kalau ada dana ya langsung berangkat, kalau nggak ada dana, ya tunggu saja sampai ada dana. Kalian gak usah khawatir”

Well… emang beda sih ya… perlakuan antara sesama TS [Teman Sejawat] dan non TS [Kadinkes Biak tuh bukan dokter, mungkin itu salah satu factor kenapa dia cuek ma dokter PTT-nya].

*Attention… terutama buat yang PTT di Biak ntar, jangan mau turun ke daerah sebelum jelas tentang masalah transportasi, rumah dinas dan insentif.

1. Transportasi ke Puskesmas. Yang harus nanggung ini jelas Pemda aka DinKes. Waktu kami menanyakan ini, Kadinkes bilang kalau transportasi mulai dari provinsi lulusan sampai ke Pkm harusnya ditanggung DepKes. Its Big No No…!!

Jelas2 dalam SK disebutkan bahwa DepKes Pusat hanya menanggung biaya transportasi dari provinsi lulusan sampai ke provinsi tujuan. Sedangkan Dinkes provinsi menanggung biaya transportasi dari provinsi tujuan ke kabupaten tujuan. Penempatan dokter PTT ke Puskesmas tempat ditugaskan, menjadi tanggung jawab kabupaten aka DinKes. Heran banget dia bisa ngomong begitu. Padahal periode kemarin kan dia juga menerima dokter PTT, dia harusnya sudah tahu dong gimana teknisnya… Well, mungkin memang ada mis-koordinasi dengan DepKes atau memang dia tidak mengetahui sosialisasi akan pelaksanaan teknis penempatan dokter PTT

I have story : Shinta dapat Puskesmas Warsa, sementara Pkm ini rumah dinasnya sedang di-rehab. So, solusinya dia tinggal di kota dan harus PP Biak Kota-Warsa [sehari habis 20-30rb]. Secara hitungan, sebulan paling nggak habis 500rb-600rb, sementara gaji resmi sebulan Cuma 1.730.000, hamper sepertiga gaji kan, belum termasuk makan dan kos. Shinta menjelaskan keadaanya kepada kadinkes, dan nanya “gimana nih pak?”

Tahu nggak, kadinkes-nya jawab apa…

“Tapi kalian nggak akan mati tho?” jawabnya sambil tersenyum

Aku rasa saat itu kami semua terperangah mendengar jawaban itu. Sangat-sangat diluar dugaan... Gimana nggak shocked…

Tapi memang nggak semuanya begitu. Kalau kamu nggak tinggal di dekat Pkm, bisa aja memakai mobil dinas Pkm, bahan bakar nanti dimasukin anggaran Pkm or di-antar jemput oleh petugas Pkm. Biasanya kalau gini malah jadwal ke Pkm paling 2-4 x per minggu, demi mengirit bahan bakar. So, pastikan dulu ya…

2. Rumah Dinas dokter PTT. Well, FYI dokter PTT itu mendapatkan rumah dinas didekat Puskesmas masing-masing. So… kalau dibilangin Rumah Dinasnya belum jadi, minta kejelasan kalian harus tinggal dimana, klo disuruh kontrak, siapa yang nanggung, serta gimana masalah transportasi ke tempat kerja [jangan mau kalau disuruh keluar biaya sendiri].

So, tegesin soal rumah dinas juga, minta dilengkapin dengan kasur dan peralatan rumah tangga [kompor, panci, etc]. Klo belum dilengkapin, jangan mau turun, repot sendiri ntar. Buang2 uang juga untuk membeli segala keperluan ini padahal ini adalah tanggungan DinKes.

3. Soal Insentif. Well.. memang kita ini pengabdian, tapi dengan kondisi yang kita hadapi, aku rasa sudah sewajarnya kita mendapat insentif dari Pemda. Karena gaji bersih kita sebagai dokter PTT dengan criteria ST tuh 1.730.000 dan criteria T tuh 1.530.000, deuuuu…harus ngirit banget deh buat memenuhi kebutuhan hidup kita, nggak bisa nabung. Masih untung untuk kriteria ST kita dapat insentif 5 juta, kalau kriteria T? ya mau gak mau harus cukup uang 1,5 juta itu untuk sebulan. Apalagi rata2 harga kebutuhan pokok di daerah terpencil tuh jauh lebih mahal daripada Jawa. So… aku rasa insentif itu wajar sebagai bentuk apresiasi kepada dokter PTT.

Tanya2 juga dengan periode sebelumnya. Kalau memang sudah dianggarkan, minta saja, itu kan hak kalian. Biak sendiri aku dapat info kalau 2 periode lalu, dokter PTT Biak masih mendapat insentif Pemda 2juta/bulan. Karena ada kesalahan anggaran, entah bagaimana, soal insentif ini menjadi tidak jelas. Ada yang bilang tidak mendapat insentif, ada juga yang bilang dapat insentif 750rb-950rb per bulan, Cuma belum diterimakan [mungkin menunggu anggaran 2008].

Dan jujur saja, kami pun mengharapkan hal yang sama, semoga ada insentif dari Pemda. Ketika kami menanyakan hal ini ke Kadinkes, jawabannya tidak jelas. Tapi pas HKN, ada pak Bupati, pak Kadinkes ini menyampaikan pertanyaan kami, apakah pemda Biak memberikan insentif kepada dokter PTT. Semoga di-respon… [dalam hal ini, pak Kadinkes ok!]

Well… yahh… gitu deh…

So far… kami keselnya karena sepertinya DinKes ini terkesan nyuekin kami, “nggak dianggap”. DinKes Biak yang meminta 12 dokter PTT criteria ST, dan 4 dokter PTT criteria T. Ketika terpenuhi, kenapa tidak memperlakukan dokter2 PTT ini [kami] dengan selayaknya. Bukankah mereka yang minta, butuh pengabdian kami, setidak2nya mbok yao diurusin dengan baik. Atau… kalau tidak mampu mengurusi sekian banyak dokter PTT, ga usahlah minta kuota dokter PTT sebanyak itu. Bu Menkes [atau pejabat DepKes kalau baca ini], tolong perhatikan kesejahteraan dokter PTT didaerah. DepKes sudah memperlakukan kami dengan bagus, tapi sayangnya ada beberapa DinKes kabupaten yang memperlakukan dokter PTT seenaknya [nyuekin]

Another attention, kalau ngurusin surat-surat or something else yang dikerjakan oleh pegawai DinKes harus ditegesin ya… Dibicarakan sejelas-jelasnya, di-follow up terus, kalau perlu ditungguin sampai selesai…

Hmm… segitu ajah…

Manual Guidance of PTT to Papua



Well, postingan ini ditujukan bagi dokter-dokter yang berkeinginan untuk mendaftar PTT ke Papua. Aku tidak mengulas secara lengkap, ini cuman gambaran umum tentang keadaan PTT di Papua

So, lets start…

Biasanya dalam setiap periode PTT, Papua buka banyak kuota PTT. Walaupun mungkin hanya setengah dari seluruh kabupaten yang ada di Papua

Contoh, periode November 2007 ini, Papua mempunyai kuota PTT hanya di kabupaten Biak- Numfor, Supiori, Nabire, Mimika, Yapen Waropen, Jayapura, Keerom, Asmat dan Jayapura. Sementara untuk kabupaten Pegunungan Bintang, Paniae, Tanah Merah, Merauke, Sarmi, Wamena nggak ada kuota, karena sudah terpenuhi pada periode PTT bulan September. So… kalau daerah yang kamu minati ga ada di periode awal, check pada 2 bulan sesudahnya [periode berikutnya]

Kuota tiap kabupaten pun berbeda. Tahun ini yang terbanyak Biak Numfor [12 ST, dan 4 T], Mimika [12 ST, dan 4 T], sementara paling sedikit kabupaten Asmat [2 ST, yang kebetulan didapat oleh Ritom n Owen]. Lain2nya rata2 buka 5-7.

So… kalau pengen dapet PTT ya… pilihlah kabupaten dengan kuota terbanyak… Abis saingannya lumayan juga…

Rata2 temenku yang ketrima PTT tuh sudah ke 3 kali nya ini daftar PTT [aku juga ke 3 kali ini daftar], bahkan ada yang sampai 5 kali daftar!, dan rata2 udah lulus setahun sebelumnya… [sumpah dokter pada tahun 2005-2006 an], special case buat anak USU ’01 yang bisa sumpah pada awal 2007

Selain liat kuota, lihat juga keadaan geografisnya [peta!!], dan rajin baca Koran untuk mengetahui keadaan umum daerah. Seperti Mimika yang katanya kaya dan kuotanya banyak, tapi sekarang dalam keadaan rusuh, jelas ketar-ketir dung…

Lebih bagus lagi klo punya kenalan yang udah PTT di Papua, mereka bisa ngasi gambaran sekilas tentang keadaan PTT disana mulai dari penempatan ke Pkm, insentif, fasilitas, transport, makanan, biaya hidup, barang2 yang perlu dibawa… etc, lebih baik lagi kalau tanya2 kepada teman/senior yang pernah/sedang berada di daerah [kabupaten] yang dituju.

Ada cerita, kemarin pas anak2 yang berangkat dari Jakarta nyampe di bandara Sentani. Kebetulan mereka bertemu dengan senior mereka yang periode kemaren dapet PTT di Asmat. Mereka bilang “kami barusan aja turun gunung, ngelakuin SC”. Haaa… dan pucat pasi-lah si Ritom dan Owen… [seram, seram… tapi disisi lain, begitu selesai PTT, kamu jadi skill-full banget lho hehehe]

Secara geografis, lebih disarankan untuk memilih daerah yang mempunyai pantai atau sungai [selain “liburan” ke pantai terus, juga menyangkut masalah transport kita]. Kebanyakan dokter PTT di Papua ditempatkan di Puskesmas [Pkm] yang ada di pinggir pantai atau pinggir sungai [transportasi lebih mudah lewat air daripada jalan darat]

Kalau milih di daerah dataran tengah Papua yang mayoritas pegunungan [Jayawijaya, Oksibil], lembah [Baliem], perjalanan untuk sampai ke Pkm berat, begitu juga untuk mencapai kampung satu ke kampung lainnya, bisa 1-2 hari perjalanan darat [sangat2 tidak disarankan bagi cewek!]

Soal keamanan, secara umum kabupaten yang paling aman di Papua ialah Biak – Numfor. Jarang kerusuhan, kultur masyarakatnya pun hamper seperti di Jawa.

Kabupaten2 yang “agak kota” n “agak maju” di Papua tuh kabupaten Biak Numfor, Jayapura, Merauke, Mimika

Tapi jangan salah… kita mikirnya Jayapura tuh ibu kota Provinsi Papua, so mikir daerah ST-nya pasti ga terpencil amat2… But… in fact, keadaanya bisa jauh lebih parah daripada daerah ST ditempat lain.

Ada 1 tempat ST yang sangat-sangat-sangat terpencil!! ? Pkm Airu, yang baru dibuka 7 bulan lalu. Pkm Airu ini terletak di pinggir sungai Mamberamo. Hanya bisa diakses lewat jalur air [sungai]. Dan sekali ditempatkan kesana, kamu akan tetap disana sampai 6 bulan [tiba waktu untuk pulang], karena… there’s no transportation… Jadi datang kesana diantar kepala Dinas, menetap disana sampai waktu dijemput kepala dinas lagi [speedboat-nya kepala dinas-lah satu2nya alat transportasi yang mengantarkan kembali ke peradaban].

So… it’s really2 tough life to do… No transportation, no signal, no electricity [mungkin ada genset juga?tapi kayaknya nggak deh, soalnya jelas ga ada transport buat solar-nya], n u are the only outsider between the natives![tapi sangat2 dihormati lho… ]. Bener2 PTT deh, pasti akan jadi pengalaman tak terlupakan dalam hidup :P [for me, no thank you!]

Kalau seperti Biak sendiri, infrastrukturnya bagus, jalan rata2 aspal-an, mudah mu kemana2. Pkm di Pulau Biak yang pelosok pun bisa di-PP dari Biak Kota [sekitar 1 jam-an ? Warsa dan Korem]. Ada sinyal HP [Telkomsel n Indosat]. Pkm-nya rata2 di pinggir pantai [terutama yang di pulau Numfor dan kepulauan Padaido]

Soal insentif daerah… masih ga jelas. Habisnya sering berubah2 antar periode sebelumnya dengan periode kini. Yang jelas Biak ga dapet insentif [katanya insentif-nya berupa kebebasan buat cuti,pulang elbih awal>, yeahhhh… :P]. Supiori periode ini dapet insentif 1,9 juta/bulan. Yapen sekitar 3-5 juta-an, Nabire gak ada [ga tau yak lo tahun depan sudah masuk anggaran daerah lagi], Mimika juga ga jelas. Kalau dari denger2 sih, kabupaten2 di Papua Barat ngasih insentif yang lumayan buat dokter PTT

Kalau milih PTT Papua, biar ga berangkat sendirian ke Jayapura seperti yang aku alamin, aku saranin barengan ma temen buat ngambil kabupaten yang sama, or at least provinsi yang sama. Trus, klo dah liat pengumuman ga ada temenmu yang ngambil provinsi yang sama, lebih baik berangkat lewat Jakarta, barengannya lebih banyak.

Aku nih termasuk ngenes banget. Coz berangkat dari Semarang ke Jayapura cuman berdua, n karena suatu hal, akhirnya malah aku berangkat sendirian ke Jayapura [huwaaaa…]

Trus… biasanya kan dapet jadwal kapan kumpul di DinKes Provinsi tujuan tuh… usahakan datang kesana sesuai jadwal. Emang sih ga bakal kena sanksi kalau telat sehari-2 hari, tapi ini menyangkut transportasi kamu ke kabupaten tujuan, ada temen barengannya untuk ke kabupaten. Seperti aku, yang tetep nekat berangkat sendiri agar isa sampai Jayapura tepat waktu, dan terbukti keputusanku nggak salah. Karena keesokan harinya tim Biak langsung terbang ke Biak. Seandainya aku delay, dan baru tiba keesokan harinya, pastilah “ngaplo…”, ngurusin apa2 sendirian [duhhh, nggak banget deh!]

Tiket perjalanan ditanggung Depkes, sesuai tiket pesawat yang dipesan .Info yang dulu2… dokter PTT periode2 sebelumnya dapet uang lumpsum plus uang tiket [dengan standart Garuda klas ekonomi] plus uang penginapan

Tapi… kenyataannya, dokternya pake flight dari maskapai yang lebih murah, agar ada uang sisa. N Depkesnya sendiri lagi mengetatkan “ikat pinggang” [denger2 buat nombokin AskesKin gitu deh], so ya finally, pengeluaran uang transport kita akhirnya dengan tiket termurah yang bsia didapatkan [langsung dalam bentuk Tiket perjalanan, untung buatku… karena kalau dengan jatah, aku musti nombokin tiket ke Jayapura!]. Depkes kerjasama dengan travel, dan mereka langsung nyariin flight ke bandara terdekat kota tujuan sesuai keinginan kita [maksudnya nyesuain dengan waktu yang kita inginkan].

Ini lebih ok buat kita, coz kita bisa minta connecting flight [palagi buat aku yang berangkat dari Smg, yang notabene musti via Jakarta or Surabaya dulu] sesuai keinginan kita. Oh ya, sebenernya waktu itu kita dikasi tahu klo kita cuman dikasi uang jalan 150rb untuk perjalanan dari Smg ke Jkt or Sby, tapi setelah complain, akhirnya tiket pesawat dari Smg ke Jkt or Sby dibayarin juga oleh Depkes [Alhamdulillah…]

Uang lumpsum bervariasi, tergantung provinsi tujuan. Ke Papua kita dapet 970 rb, ke Sultra, dapet 670rb, Maluku 670 rb, NTB 770 rb [cuman itu yang aku tahu]. Rata2 sih ya dapetnya 670 rb, untuk 2 hari perjalanan. Sedangkan untuk penginapan, kita dapet jatah 1 hari nginep di hotel. Katanya sih jatah per orang tuh 200 rb, diklaim ke orang Depkes yang udah ada di Provinsi tujuan [klaim!!jangan mau ditempatin di hotel yang buluk!palagi klo sekamar ber-2 or ber-3, coz… ada aja yang tega manfaatin keadaan dokter PTT. Tegesin, tegesin!!]

Orang Depkes ini ada di provinsi tujuan untuk 2hari, so kalau kamu nyampe provinsi tujuan, tapi mereka udah pulang, klaim-lah ke bagian bendahara Depkes [nanti dikasih SPPD – Surat Perintah Perjalanan Dinas; nanti disana ada alamat tempat berkas2 dikirimkan, kirim aja ke bendahara keuangan; receipt hotel plus copy halaman depan buku tabunganmu].

Di Jayapura, kemarin kita nginep di Hotel Permata. Ni hotel termasuk mahal n jauh dari Dinkes provinsinya [not recommended, mahal di biaya transport]. So, kalau mau ngirit, bisa nginep di asrama haji, or gedung BKKBN yang dekat dengan DInkes Provinsi Papua [murah kok, 25rb/malam, 1 kamar bisa 4 org, tapi ya fasilitas seadanya gitu…]

Oh ya, transport di Jayapura lumayan mahal. Dari bandara sebenarnya ada pilihan mu naek angkot, or naik taksi bandara [yang Avanza]. Kalau naik angkot sih sekitar 5-10rb an kayaknya buat nyampe ke kota, tapi aku juga ga tahu trayek-nya kemana aja. Kalau ada barengannya, lebih baik naik taksi bandara aja, mahal sih [200rb-an, di-nego yah!], cepat, nyaman dan langsung dianter ke tempat tujuan. Jangan lupa nanya no hp pengemudi taksi-nya, in case u need it [buat nganterin ke bandara lagi]

Kata temenku, yang periode kemarin tuw nungguin SK dari provinsi-nya lama [2 hari- 1minggu gitu], tapi Alhamdulillah, kemaren tuh begitu kita datang, SK langsung dibagiin, so esoknya kita bisa langsung berangkat ke kabupaten

Dari Jayapura, untuk ke Biak, Mimika, Merauke, Yapen bisa ditempuh dengan pesawat langsung. Sedangkan untuk beberapa kabupaten lainnya, harus naek lagi pesawat perintis. Seperti ke Asmat yang harus terbang ke Merauke dulu, baru kemudian dari Merauke harus naek pesawat perintis ke Asmat. Paniae juga gitu, terbang berkali-kali. Sedang untuk kabupaten lain yang ada pantai-nya, lebih mudah naik kapal [seperti Nabire, Sarmi], dan ada juga yang via darat [such as Keerom]

Untuk transport dari provinsi ke Kabupaten tuh ntar pake uang pribadi dulu, ntar diganti oleh Dinkes Provinsi langsung ke rekening kita [ntar kita disuruh ngisi daftar isinya no hp n no rekening kita]

So ya… siapin uang lebih. FYI, harga tiket pesawat ke Biak [Merpati] sekitar 650rb, klo Garuda 750rb. Harga tiket pesawat ke Mimika juga sama… Kalau emang waktunya sela dan memungkinkan, ke Biak bisa ditempuh dengan naik kapal, biayanya lebih murah, tapi jarak tempuhnya juga lebih lama [don’t worry, uang perjalanannya sama kok dengan yang naek pesawat, karena tiketnya diitung berdasar standart harga pesawat].
Oh ya biaya makan di Jayapura lumayan mahal, sekitar 11.000-15.000 sekali makan. Harga2 barang juga tentu saja lebih mahal daripada Jawa…

Bagasi… rata2 kita dapet bagasi gratis 20-25 kg. Klo packingnya bagus, bisa cuman bawa 2 tas ajah [like me, cuman tas dorong ma backpack]. Klo mu sekalian bawa bagasi banyak, sekalian ajah bawa peralatan masak [soalnya belum tentu didaerah udah tersedia peralatan masak]. Sekali lagi, packing yang bagus, biar ga ribet bawanya… kalau mau, bawa barang secukupnya, trus ntar barang2 lainnya dipaketin aja begitu nyampe kabupaten [mehel siyyyy… ]

Please, jangan bawa barang2 yang ga perlu [such as ; BAWA 6 GALON AIR!! ==> ada tuh yang bawa 6 galon air dari Jkt ke Biak, wakakakaka... or... BAWA LAMPU TEPLOK ==> ada di Papua kok... apalagi Biak... Dan juga ga usah bawa RINSO 5 kg!! --> FYI, ini beneran lhoh... aneh2 aja...]

Secara umum, apa2 yang lo butuhin tuh ada di Papua, cuman ya emang harganya jatuhnya lebih mahal... Tapi klo sampai bawa barang2 seperti diatas, aduhh... enggak banget dehhh... Papua ga sampe segitunya kok...

Kalau mu berangkat, minumlah anti malaria sebelumnya buat preventif ya...
Barang2 yang disarankan bwt dibawa:
1. Mosquitos repellent yang buanyakkk… jelaslah… malaria-nya ganas2… sekalinya kamu ke Papua, berarti udah nempatin parasit malaria ke tubuh
2. Senter plus batre cadangan, disarankan beli batere recharge-able, abis batere sekali pakai tuw mahal banget disini [untuk daerah yang tanpa listrik, maaf ya…]
3. Buku!!protap2 tuh lumayan berguna. Kapita Selekta juga boleh… E-Book juga ok...
4. Minor set [klo di Biak siy ga usah… ada di Pkm kok], handschoen yang banyak [ingat2! Papua tuh endemis HIV/AIDS], antiseptic cair
5. Tisu basah, didaerah yang susah air, tisu basah tuh sangat2 berguna… [gantinya mandi!]
6. Sun block… Papua tuh panas banget
7. Payung or jas hujan [terutama pada bulan2 begini… penting!]
8. Kamera… wuahh… Papua niy cantik banget… rugi klo ndak diabadikan
9. Mp4 player or Ipod, berguna!! Laptop juga boleh [klo ada listrik ya…]
10. Barang2 elektronik, macem setrika, rice cooker kecil. Abis mahal2 klo di Papua…
11. Vitamin2, suplemen, or obat2an gitu… sekali lagi, itu barang mahal di Papua…
12. Boleh juga bawa pemanas air elektrik yang batangan/spiral itu, sangat2 berguna!! [klo di Biak sih di Hadi juga jual]
13. Bawa termos, yang kecil aja cukup... barang gini mahal di Papua...

Oh ya... klo bawa hp yang udah ada JAVA or midp2 nya... aku saranin, aktifin koneksi internetnya... Di Papua ada GPRS kok [Di Jayapura n Biak sih], tinggal download Operamini 4 ma aplikasi instant messenger. Sangat2 berguna n murah sekali... tetep dapetin berita yang up to date [koran mahal disini!], dan tentu aja biaya komunikasi via chating kan lebih murah daripada sms. Telkomsel maupun Indosat bisa...

Hemmm.. rata2 provider yang ok disini tuh Telkomsel [halo, Simpati, AS] ama Indosat [Mentari, Im3], ada juga Flexi...

What else lah… yah segitu aja cukup deh buat sekarang hehehe ...

Intinya… siap2lah dengan perbedaan kultur disini, perbedaan kemajuan yang jauh sekali dengan Jawa, siap2 ga ada sinyal, siap2 ga ada listrik, siap2 susah transportasi [nggak semuanya se”mengenas” kan itu sih… but ya… tabahkan hati lah… :P ]

Yah begitulah gambaran singkat tentang Papua, ntar aku bikin lagi Manual Guidance of PTT Biak Numfor hehehe. Jangan pikir semua PTT di Papua tuh "horor" ya... tidak tidak... [kami yang di Biak ini serasa di Jawa aja... anggap aja liburan 6 bulan :P ]

Ok deh. Gud Luck, semoga berguna. Kalau butuh info lebih lanjut, kontak aku aja di imel-ku hehehe...

Goin to OWI island, Padaido, Biak



Goin to Owi island...

***

datangnya rejeki memang tidak bisa diduga...

Minggu pagi, mbak Shinta n Mela mu menjemur pakaian di depan kontrakan sebelah [kontrakannya Oom Nano, kepala Garuda di Biak], eh tiba2 Oom Nano keluar n ngejakinmaen ke pulau, naek speedboat barengan ma kru Garuda

Setelah berunding sejenak, kami kembali lagi ke Oom Nano, "ber-tujuh boleh Oom"

"Boleh aja, masih muat kok"

"Ok deh!!kami ikut oom"

"Ya, jam 12 siap ya"

kembali dari rumah Oom Nano masih dibawain oleh2 mangga pula!! [buah mahal di Biak lho...!! Alhamdulillah banget...] --> menjemur baju pun ada rejekinya lho!! hehehe

So ok deh, we called the boys n told them to came at our house at 12.00 WITA

jam 12.30, kami ber 6 [tanpa Mbak Shinta] plus OOm Nano pergi menuju Intsia Beach Hotel di pantai Intsia. Ternya disinilah para kru Garuda menginap. Kami dikenalkan dengan 4 pramugari, pilot Bambang [yang ternya keponakan drg Tini, alias sepupunya Muki '02], kopilotnya, serta ajudan bupati Supiori.

Let me explain bout Intsia Beach Hotel. Hotel ini terletak persis dipinggir pantai, dekat dengan dermaga. Punya view langsung ke pantai, dan daratan pulau Serui juga isa keliatan dari pulau ini. Ditengah2 hotel ada taman plus gazebo yang isa dipake buat Gathering. So... for short hotel ini lumayan ok!!

Jam 13.20 WIT, kami mulai berangkat. Kami berangkat ber-20, para kru Garuda, kami, serta penduduk asli yang menjadi navigator. Rencananya kami akan menuju Pulau Arbus [salah satu pulau dari Gugusan Kepulauan Padaido yang cantik, pulau Arbus sendiri tidak berpenghuni, dan merupakan salah satu dari 5 pulau yang dilarang dihuni untuk kepentingan pariwisata, kinda like private beach...]

But sayangnya, hujan turun deras sekali di tengah perjalanan... jarak pandang hanya sekitar 50-100 meter saja. Para pramugari mulai berteriak2 ngeri dan minta kembali ke Intsia [oh NO!!!]

Tapi kemudian diputuskan, merubah tujuan ke pulau terdekat, yakni pulau Owi. Ditengah2 hujan kami mendarat, dan turun. Sementara yang lainnya tetap di speedboat dan mencari tempat menepi yang lebih nyaman.

Walaupun ditengah rintik hujan, its awesome... cantik sekaliiii... terlihat pulau2 kecil didepan kami... Dan hanya kami yang ada di pantai [serasa pulau pribadi!!]




Air lautnya terasa hangat sekali, banyak kulit kerang, pecahan kerang bertebaran dipantai. dan juga banyak umang2, n of coz... nyamuk anopheles!!

Spot tempat kami turun rupanya kurang nyaman untuk berenang dan menyelam, terlalu banyak karang dibibir pantainya. AKhirnya kami menyusuri pantai sekitar 500 m ke barat, menuju tempat speedboat pemda Supiori bersandar.

Ternyata sudah banyak yang turun. Ada yang berenang, menyelam, ada pula yang memancing dan bahkan memasak air panas [for coffee...]. Kami dipanggil mbak Titik, salah satu pramugari Garuda, diajak makan. Yah... siang itu kami makan dengan bekal Garuda, masakannya enak banget!! nyam nyammm... [ dan yang paling bahagia, tentu saja Steven, liburan gratis, makan gratis pula!]




Selesai makan, aku dan Mela naik ke haluan kapal. Awalnya sih foto2 doang [Gaya!!sok bergaya rich&famous' girl gitu hahaha :p], ga ada niat buat turun [aku kan ndak isa renang...]. Trus iseng2 nyobain make pelampung. Eh disuruh turun ama bang Gearson [si ajudan bupati Supiori] "ayo turun aja"

"enggak ah, aku nggak bsia berenang"
"lho kan udah pakai pelampung"
"nggak!"
"nggak papa, terjun tegak aja, nanti langsung ngambang sendiri, kan pakai pelampung"

Akhirnya... terjun juga...
Byurrr... blup blup blup... eh beneran, naik dnegan sendirinya ke permukaan, ngambang!! [ya terang aja, pakai pelampung!!]

Waaaa... bahagia banget... akhirnya aku isa maen aer... trus aku diajarin bang Gearson renang, diajarin gaya katak gitu, trus diajarin ngambang n how to keep stabil in the water...




Fun!!

Akhirnya mule berani ngelepas pelampung, masih glagepan n belum berani ke tempat yang dalem... [harus bisa renang!!rugi dong klo nggak...]

Jam 17.00 WIT, kami memutuskan untuk pulang... Dan... berkahirlah sore itu dnegan hati yang sangat gembira...

Im totally happy, n not just me... my friends also said the same thing. This is one of best thing u can get in Biak

"Ga kayak PTT ya? kayak liburan ajah"
"He'eh serasa ga PTT"
"Iya, menyenangkan sekali bisa menikmati liburan ala orang kaya gini" [secaranya... naek speedboat gratis, di pulau yang masih bersih n sepiiiiii banget, serasa pulau pribadi gitu...]
"yah, inilah berkah PTT... walo ga dapet isentif daerah, tapi isa vacation gratis" [menghibur diri hehehe :P]

N then we left this beautiful island... The beautiful Owi island...



Perjalanan pulang kami, dalam suasana yang sangat cerah. Ada juga burung camar yang menukik mencari ikan dilaut lho...

Menyenangkan sekali...

Full-Full-Full... [serasa abis full charge gitu...]

pulau Owi yang cantik, Biak yang cantik... dan aku mempunyai niatan, ingin mengunjungi lebih banyak pulau lainnya lagi di kepulauan Padaido [hope so!!]

:>

Yendidori - Bosnik Adventure




There's nuthing to do...

So we decide to go to the beach. People we asked recommend to go to Adoki beach. But after we were asking the taxi driver, he suggested us to go to Yendidori beach. I knew Yendidori, 2 days before we were going there to had an orientation about our job and situation in Public Health Service [Puskesmas]

So, after negotiation about the price of taxi to take us there [ 60 rb untuk PP].Its not so far from Biak Kota, Yendidori is in West Biak District, it took about 15 minutes by taxi.

Pertama heran, kok masuk ke perkampungan... trus kami diturunkan di gereja tua. Di depan gereja itu ada undak2an untuk turun kebawah. So we climbed down...



And Subhanallah... Its very pretty indeed... Dibawah, ada pantai kecil, ada monumen pula... cantik bangettt... serasa private beach deh... Cuman sayangnya, kami nggak bisa berenang disana, karena pantainya bukan pasir, tapi full karang, ga enak buat belajar berenang [for me hehehe]. So then we decide to go to Bosnik again!!

We called the taxi driver [suggestion ask n keep the taxi driver's mobile number, its important!]. Then we asked him to take us to Bosnik. It charged us another 60rb, coz Bosnik is in East Biak, its about 40 minutes to get there...

We were passing "pasar ikan Bosnik" [Bosnik Fish Market], that sell fresh sea fish, fresh crab n so on. N please... go to there only in Tuesday, Thursday n Saturday... okay...






Near that market, there is Segara Indah Bosnik Beach!! The lovely beach... That day, the beach is not so crowded [not like that we had in Sunday]. I love it!! I learned to swim... I drank lot of sea water, very2 salty!!







After got tired, we drank "kelapa muda", its just 3rb for each [very cheap!]]. Too bad there was no bakwan malang that day, coz its seem that the bakwan malang only exist in sunday

N then... after 3 hours in the beach... we decide to goin home... But our weekend not ended just like that... That night, we were invited by Ibu Ang [our neighboor], to go to her house to have her birthday party, sea fish!! all you can eat... [Steven is the happiest person for free food :P]

N yahh... we were passing saturday with happiness :>

^_^

Bunny Skaleee...

Ah ya... ketinggalan!!

foto konyol Steve di Bosnik heueheuheu... dia dengan rela hati dikubur di pasir [look!!kocak kaleee... lengkap dengan BD n genital nya keqkeqkeqk...]














N... this is view from Bosnik Beach in afternoon... Cantiiiiiiikkkkkk kaaaaaannnn...














Dan ini... foto kita waktu orientasi di Puskesmas Yendidori dengan para paramedis-nya...
















Look at me!! i cut my hair very2 short!! yeahhh... demi alasan kepraktisan n hemat shampoo hehehehe :P Tapi sama aja ding, lha wong potong rambut di Biak meheellll... 25 rb!! mendingan potong di Jawa deh, udah ditreatment macem2 :D

Goin' to Bosnik Beach!! Lets VAcation!

Coz... seminggu ini ga ada kerjaan... So ya... have fun muluw heheh...

Hari sabtu kemaren, atas kemurahan hati pak Ula - BNI, kami ber 7 [tim Jakarta], ikut diundang untuk makan malam di Sorido Club - Hotel Nirwana.

Well.. senanglahhh... makan gratis :P







N we were have funnn...
Masakannya enak... nyam2...



Trus... seusai makan... live music!! tamu harus menyumbang nyanyian!!pada mulanya trio Steven-Gery-Irfan yang menyanyi. Trus... meja 2 [meja kami], disuruh menyanyi pula... N yah... finally, aku, Mela n Steven maju kedepan n started to sing... keqkeqkeq... Katanya pak Ula sih, aku atraktif, menikmati menyanyi gitu hehehe :P






We were totally have fun that night... Capek tapi seru sihhh...

Trus... keesokan harinya... kami pergi ke pantai Bosnik!!

Dari Biak Kota ke Bosnik sekitar 45 menit. Kami naik taksi yang kami minta antar-jemput, dengan biaya 120rb [murah kan]. Dan begitu sampai Bosnik, waaa... pantainya indah!! n lumayan rame pulaaa [maklum hari Minggu]








Ki-ka :
Kak sari [UISU 91], Mas Sotja [Trisakti 87], Sonny [Unibraw 98], Steven [Atmajaya '00], aku, Gery [Yarsi 99], Mela [USU '01], Mbak Henny [UPN 98]

Senng bangettt!!!






Gw sempet naek kapal... well, bukan kapal ding, perahu mini!!hehehe abis... sempit bangeeetttt... kita naek b 3 [aku, Mela n gery], perahunya sempet oleng!!akhirnya balik lagi ke pantai, n naeknya one by one biar "aman" hehehe :P





Tapi asyik banget dehhhh!!!!
Aku belajar "mengambang" disana, coz aku ga isa berenang hehehe :P dikasi tahu cara "ngambang" ma mas Ari, trus cipak-cipik dikit gitu dehhh... bisa ngambang!! Yaa... katanya lebih mudah belajar berenang di laut, coz perbedaan berat jenis... [Yah, ntar di Kameri juga Puskesmasku langsung berhadapan ma laut, belajar renang!]

N yahhh... kami menikmati Biak

dan masih merencanakan berkunjung ke pantai2 lain di Biak dan sekitarnya... [Pasi!!]

Lets come to Biak n have vacation here!!

:)

First Week in Biak

Well...

Dan mulailah kehidupan kami di Biak...

So far so good...

Inilah kami, 13 dokter PTT yang ditempatkan di Biak [dengan latar belakang kantor Dinkes Kabupaten yang buluk :P]











5 dari kami [ aku, Bafith, Mela, mb Henny n mz Ari] ditempatkan di pulau Numfor. Di Numfor ada 3 Puskesmas yakni, Yemburuo [ada ra-nap nya], serta Mandori dan Kameri. Aku ditempatkan di kameri bersama Albafith [anak UNPAD 2000]

Ini foto kami ber 5 [anak Numfor], dari ki-ka ; Luluch, mas Ari, Mela, mbak Henny, mbak Shinta [dia ditempatkan di Warsa-pulau Biak], dan Albafith [belakang sendiri]










Nih liat, ada peta kab Biak Numfor











Ada pulau Biak yang bergandengan dengan pulau Supiori [Supiori skr berdiri menjadi kabupaten sendiri], sementara pulau Numfor ada di sebelah Barat Laut, dan kepulauan Padaido disebelah Tenggara Biak [termasuk 2 Puskesmas ST di Pulau Wundi n Pulau Pasi]

Dan ini peta Numfor... Pkm Yemburuo dekat dengan Pkm Kameri [sekitar 5-10 menitan naek mobil].








So aku ada 2 pilihan, tinggal bersama perawat disana atau tinggal bersama Mela n Mbak Henny di rumah dinas drg di Yemburuo

Buat aku sendiri sih elbih enak barengan di Yemburuo, toh bisa pake mobil puskesmas-nya n jaraknya cukup dekat untuk di-setirin sendiri. But yahh... liat dulu ntar keadaannya...

Sebenernya diawal2 kami datang, kami cukup bete. Karena tidak disediakan mess, tidak ditanggung makan, serta tidak mendapat insentif! Apalagi pas denger kalau biaya transport ke Pkm gak diganti, wuaahhhh... aku marah2 mulu hahaha. Abisnya klo mu ke Numfor tuh ada 2 pilihan, mu naek kapal [Pelni, 10 jam, 60 rb-an], or pesawat [Merpati Twin Outer, 2 x seminggu, 125 rb sekali jalan]...

Tapi sampai sekarang pun belum ada kejelasan tentang keberangkatan kami. Apalagai buat anak2 yang dapet di kepulauan Padaido, soalnya cuaca sedang tidak bershabat [mereka kudu naek Johnson, sejenis perahu kayu bermotor, or speedboat]. So yahh... lontang lantung gitu dehhh [anggap saja liburaaannnnn]

yah.. so far sih masih menyenangkan, coz Biak masih kerasa mayan rame ya... tapi ga tau deh ntar... Apalagi klo dha di Numfor hehe... sama aja ga ada kerjaan. Pkm buka jam 8, jam 9-10 udah pulang, coz pasiennya dikiiiiiittttt... makan gaji buta euy...

:P

Katany di Numfor banyak kepiting [I love it!], udah janjian ma anak2, pesta kepiting rame2 ntar hehehehe...

Mauuuuu????

PTT Biak Numfor - The Journey part Two



PTT seri ke2

Di DinKes Jayapura, udah berkumpul temen2 dokter PTT ke Papua. Mayan banyak… 67-an klo gak salah… Sementara yang ke Biak sendiri ada 13 orang [uakeeehhh]. Disana kenalan ama Tim Biak Jakarta [yang berangkat dari Jakarta ; Mz Ari-UMY 94, Mb Heny-UPN Jakarta 98, Mb Shinta – Trisakti 99, Mela – USU 2001, Gery – Yarsi 99, Steven – Atmajaya 2000], dan 6 lainnya berasal dari Bandung

Alhamdulillah banget deh ketemu ma mereka n barengannya cukup banyak. Ngeri juga kan klo berangkat ke Biak dhewean…

Akhirnya aku join tim Jakarta n barengan nginep ma mereka di Hotel Permata [bagus! Tp not recommended klo pas ke Jayapura, jauh dari DinKes Prov-nya]. Tarifnya mayan mahal, kita berempat [me, Shinta, Heny n Mela] pake kamar superior dengan double bed, bayar 430rb. Tapi aku gratis sihhh… coz masih dapat jatah nginep semalam dari Depkes senilai 200rb… Mayan… Abis apa2 disini mahallll… bwt transport aja juga mahalnya amit2 dehhh…Sekali makan di Jayapura sekitar 10-15rb gitu. Trus karena kita rame2 kita naek taksi [jangan salah, sini naeknya Avanza!]

Keesokan harinya… kami ber-7 plus temen2 PTT Supiori [Sonny – Unibraw 98, Kak sari – UISU, mas Sotja – Trisakti 87] berangkat ke Biak via Merpati. Muahalllllll… tiket pesawatnya seharga 650rb!! [bisa bwt PP Smg-Jkt tuww…]. Berangkat jam 8 pagi, nyampe Biak jam 9 pagi










Penerbangannya singkat… dan kayaknya terbangnya ga begitu tinggi deh. Dari atas masih isa keliatan laut n pulau2 kecil dibawahnya. Very2 pretty indeed…









Dan, jam 09.00 WIT, sampailah kita di bandara frans Kaisiepo Biak. Not so big... tapi lumayanlah... Trus... kita berpisah dengan rombongan Supiori, mereka langsung dijemput ma orang DinKes n menuju ke rumah Kadinkes di jl Suci- Biak, sementara kita langsung menuju ke DinKes Biak di Biak Kota

Kesan tentang Biak. Lumayan. Not so big... tapi jalannya aspal-an semua, muluss... mayan rama [kayak Purwodadi gitu deh], transportasi gampang. Kami bertujuh [Tim jakarta + me], dari bandara kaisiepo naek taksi bandara [seperti di Jayapura, its Avanza!!]. Mayan mahal sih, sampai ke Dinkes 100rb [tapi di-bagi b7].

Selain taksi "Avanza". ada juga "taksi" lain. Well, klo di Jawa ya macem angkot gitu. tapi... asyiknya... ga pake trayek, jadi tinggal bilang mu kemana gitu, dianterin sampe depan rumah juga isa!! N cuman bayar 2rb klo tujuannya masih dalam kota. Murah kan!! Tapi batasnya ampe jam 8 malem

Jalan Besar nya di Imam Bonjol. Disini terdapat Supermarket terbesar di Biak, yakni Supermarket Hadi dan Indah [tinggal sebut Hadi or Indah aja, taksi pasti langsung nganterin ksini]. Di jalan ini pula terdapat warnet [Wahyu-net, 7rb/jam], ada hotel Basana Inn ma hotel Maju, Bank BNI [plus ATM-nya] n Bank Mandiri [plus Atm juga]

Well, yah Biak mayan lengkap kok... cari makanan mayan gampang [tapi mahall!!n banyakan klo siang/sore hari]. makan rata 10rb-an gitu deh... Murahan pake ikan draipada pake ayam-daging-ikan tawar [sekitar 20-30rb an]. Kita nemu makanan enak disini di depan YAPIS, dekat kompleks TNI AU, masakannya enak, murah pula... Selain itu didekat hotel Arumbai juga lumayann...








Ini nih yang namanya nasi campur ikan. Porsinya buesaaarrrrrrr... [emang kayaknya orang sini makannya banyak2...], tapi rugi dong klo ga habis... so ya... walopun itu dobelnya porsi makan di Jawa... ya habis... hehehe :P

karena kita "diabaikan" dan "ditelantarkan" Dinkesnya, kita akhirnya nginep di hotel Maju semalam [nih hotel parah banget!! tapi muyaaaahhh...] trus cari kontrakan di daerah Dolog, jl Suci dengan bantuan bapak2 dari BNI [kebetulan bokapnya Mela kerja di BNI]. Kontrakan isi kamar 2, cukup bersih, tapi kosongan, dengan harga 550rb sebulan. yah lumayanlahhh... draipada hidup di hotel, lebih mahal tentuu...

Tapi... akrena sekitar kita itu masy Bugis, kita ga bisa serumah bertujuh, akhirnya kami berempat - anak cewek, tinggal disana, dan yang anak cowok menginap di tempat Pak Ula - Wapemcab BNI [makasih banget buat pak Ula-pak Lut-Pak Udin n mz Irfan]

*kita ga dikasi mess/penginapan, musti BS, begitu pula dengan konsumsi, ga ditanggung!! -->tidak disarankan bagi anda2 untuk memilih Biak bila ingin terjamin n insentif Pemda [oke!klo kriteria ST, bolehlah... masih dapet insentif Pusat]*

Dan yahhh... mulailah kami mencoba hidup di Biak...

PTT Biak Numfor - Journey Part One



31 Oktober 2007...

I was starting my journey to Papua... 12.00 o'clock i've arrived Ahmad Yani airport Semarang... Mu connecting flight dari Smg-Jakarta-Makassar-Jayapura via Lion Air [kehabisan tiket Merpati!]

Di jadwal sih harusnya berangkat jam 3 sore dari Jakarta, trus ntar ke Jayapura jam 22.20 WIB dari Jakarta...

But then... there is announcement that the flight to Jakarta will be delayed. Yahh!!setelah nunggu se-jam, akhirnya boarding juga. Udah mu take off tuw... eh tiba2 ada pengumuman lagi, flight-nya ditunda, ada gangguan teknis. Kita disuruh turun n nunggu lagi.

Orang2 lain sih langsung pada minta pindah penerbangan dengan Adam Air or Mandala. Awalnya aku nyante2 aja, selain karena flight ke Jayapura masih jam 10-an malem, aku juga ada temen ke Jakarta 4 orang [ Mz Lutfi-Papua; Mz Aji-Fathoni-Mz Sutiono ke Kendari]

But then, jam 6, ada pengumuman lagi, flight ke Jakarta dibatalkan!! Langsung deh ke counter in; "Pokoknya saya harus berangkat ke Jayapura malam ini mbak!" [maksa gitu dehhh hehehe :P

Finally... gw bisa berangkat ke jakarta juga via Mandala. Cuman sayangnya... karena mz Lutfi agak telat ngurusin tiketnya, aku berangkat ke Jakarta alone... n it means... aku berangkat ke Jayapura sendirian!! coz yang berangkat ke Papua dari Semarang cuman 2 orang!!

Uhh!!! bete dah... musti be-pergian all alone... single fighter gitu...

Finally... nyampe Cengkareng jam 8 malem. begitu ambil bagasi, langsung deh aku cari counter check-in nya Lion Air. Masya Allah jauuuuhhhhhhh bangettttttt!!Mana bawaanku segambreng!! [mayan dikit sih klo dibandingin anak2 lainnya, aku cuman bawa 1 tas jinjing, tas punggung ama tas cangklong] Tapi tetep... repotttt...

Akhirnya seusai lapor ke transfer desk, aku naik ke waiting room. Pesawatnya ditunda lagi!! Ngobrol2 deh ma bapak2 disana.. salah satunya Pak DJoni Djuarsa [baru tau namanya kemudian]. beliau konsultan hidrologi tapi dulu pernah kuliah di kedokteran selama 3 tahun, so obrolannya nyambeung gitu deh...

Akhirnya berangkat ke Jayapura jam 11 malem gitu... transit di Makassar jam 02.00 WITA, trsu berangkat lagi ke Jayapura jam 04.00 WITA

Di pesawat aku tepar berat!!langsung deh bubu... bangun2, aku ngeliat keluar langsung silau!!kaget, perasaan tidur cuman bentar kok udah terang, kulihat jam baru jam 05.00 WIB. Trus... ingat2, Oh ya... ini kan udah ikut WIT, berarti udah jam 07.00 WIT di Papua...




Dilihat dari atas, Papua is so pretty!!ijooooooo smuaaaaa... banyak pulau2 kecil yang cantik. Lihat niiiihhhhh...



Seneng sih duah mu nyampe Jayapura, tapi juga bingung... setauku bandara Sentani kan mayan jauh dari kota jayapura-nya [45 menitan]. Just confuse... "how to get there?"

Kata temenku sih naek taksi [Avanza gitu, tapi bayarnya 200 rebu ke kota!! muahaaaaallll], trus aku berdo'a gitu deh... "Ya Allah, tolong berilah kemudahan padaku untuk sampai Jayapura"

:)

Jam 08.00 WIT, kami landing di Sentani. Pas turun, ketemu ama pak Djoni lagi. Aku tanya pada beliau "pak, gimana ya cara sampai Jayapura?"
"Wah, saya kurang tahu. Selama ini saya dijemput"
"Oooo... pakai taksi kali ya pak"

Trus... ambil bagasi [tas-ku jebot di Sentani!!bete deh!!]. Trus pak Djoni tiba2 dateng n bilang "Eh, mau ikut sekalian ke kota?"

"ha?" pasang muka bengong gitu deh
"Iya, seklian aja ke kota, saya dijemput kok, sendirian"
"bener nih pak?gak papa?"
"Iya, sekalian aja"
"Boleh deh. Iya pak"

Yihaa!!!dapet tumpangan gratis ke kota hehehe :P padahal waktu itu aku belum tahu nama beliau lhoo... Baru nanya nama beliau pas ditengah perjalanan wahahahaha...

Pas aku critain ke nyokap ma temen2, pada komentar "kamu nih gimana?kok mau aja?ko kamu diculik gimana!!"

yahhh... tau deh... tapi mang aku juga heran kok langsung percaya aja :P [klo kupikir2 lagi, ini seperti perwujudan Hukum Gravitasi di Buku "SECRET"]

dan yah... dengan bantuan tumpangan pak DJoni [terimakasih banget pak], akhirnya aku sampailah di Dinkes Prov Papua dengan selamattt...

Alhamdulillah...