Cerita Dokter PTT

Our circumstation...

Since we haven’t got our SPMT [Surat Pelaksanaan Masa Tugas]. Main thing to do first is to make sure that DinKes write out this letter [very2 important!!], making a “salary draft”, send our Giro Pos Account number [the account that Depkes will send your salary and insentif] to DepKes.

*After you got your SPMT, u have to get Chief of Puskesmas’ signature and KaDinKes’ signature. After that collect in among your “dokter PTT colleagues”, with all SK [from MenKes n Province] n then send it to DepKes. Penting ya, demi menjamin kelancaran gaji kalian [walau tetap saja biasanya dibayar pada bulan ke3]*

Hari Senin kemaren untung ketemu Yance, perawat Pkm Kameri, sehingga kami bisa menitipkan SPMT tersebut untuk ditandatangani dan dicap pak Simson, Kapuskes Kameri, jadi kami tidak usah bolak-balik Numfor – Biak [berat di ongkos :P]. Semoga minggu depan segala berkas selesai dan bisa langsung dikirim. Dan!!!... semoga gaji turun lebih cepat [maklum, tabungan mulai menipis].

Sampai sekarang yang sudah turun ke Puskesmas baru yang Pkm Warsa [Betty n Shinta], Pkm Pasi [Arif n Nogi], Pkm Wundi [Gery]. Kami berlima di Numfor belum turun. Selain memperjelas masalah SPMT, juga menunggu kepastian transportasi.

Ada 2 opsi ketika kita hendak pergi ke Numfor, via pesawat Twin Otter [sekali jalan skr 150rb, 25 menit, max bagasi 20kg] atau naik kapal [sekitar 60rb-an, 10 jam perjalanan].

Ketika kami menemui Kadinkes dan menanyakan masalah transportasi ini, dijawab ma Kadinkes-nya kalau tidak ada anggaran untuk transportasi. Aku menyatakan keberatan “kalau disuruh bayar sendiri, terus terang saya berat pak”.

Dia bilang “ya, nanti kami usahakan”

But in fact?sampai sekarang kami masih terkatung2 dan belum jelas kapan mau berangkat. Kadinkes-nya ini emang aneh, cuek banget ma kita. Kalau dia niat nempatin dokter PTT, ya dia usahain transport dong buat kita, trus ngasih jadwal kapan kita mau berangkat, bukannya kita suruh inisiatif sendiri [yang butuh tu siapa sihhhh?]

Akhirnya kemarin kami menanyakan dr Edi tentang masalah transportasi ini. Beliau bilang “ya tunggu saja dananya. Kalau ada dana ya langsung berangkat, kalau nggak ada dana, ya tunggu saja sampai ada dana. Kalian gak usah khawatir”

Well… emang beda sih ya… perlakuan antara sesama TS [Teman Sejawat] dan non TS [Kadinkes Biak tuh bukan dokter, mungkin itu salah satu factor kenapa dia cuek ma dokter PTT-nya].

*Attention… terutama buat yang PTT di Biak ntar, jangan mau turun ke daerah sebelum jelas tentang masalah transportasi, rumah dinas dan insentif.

1. Transportasi ke Puskesmas. Yang harus nanggung ini jelas Pemda aka DinKes. Waktu kami menanyakan ini, Kadinkes bilang kalau transportasi mulai dari provinsi lulusan sampai ke Pkm harusnya ditanggung DepKes. Its Big No No…!!

Jelas2 dalam SK disebutkan bahwa DepKes Pusat hanya menanggung biaya transportasi dari provinsi lulusan sampai ke provinsi tujuan. Sedangkan Dinkes provinsi menanggung biaya transportasi dari provinsi tujuan ke kabupaten tujuan. Penempatan dokter PTT ke Puskesmas tempat ditugaskan, menjadi tanggung jawab kabupaten aka DinKes. Heran banget dia bisa ngomong begitu. Padahal periode kemarin kan dia juga menerima dokter PTT, dia harusnya sudah tahu dong gimana teknisnya… Well, mungkin memang ada mis-koordinasi dengan DepKes atau memang dia tidak mengetahui sosialisasi akan pelaksanaan teknis penempatan dokter PTT

I have story : Shinta dapat Puskesmas Warsa, sementara Pkm ini rumah dinasnya sedang di-rehab. So, solusinya dia tinggal di kota dan harus PP Biak Kota-Warsa [sehari habis 20-30rb]. Secara hitungan, sebulan paling nggak habis 500rb-600rb, sementara gaji resmi sebulan Cuma 1.730.000, hamper sepertiga gaji kan, belum termasuk makan dan kos. Shinta menjelaskan keadaanya kepada kadinkes, dan nanya “gimana nih pak?”

Tahu nggak, kadinkes-nya jawab apa…

“Tapi kalian nggak akan mati tho?” jawabnya sambil tersenyum

Aku rasa saat itu kami semua terperangah mendengar jawaban itu. Sangat-sangat diluar dugaan... Gimana nggak shocked…

Tapi memang nggak semuanya begitu. Kalau kamu nggak tinggal di dekat Pkm, bisa aja memakai mobil dinas Pkm, bahan bakar nanti dimasukin anggaran Pkm or di-antar jemput oleh petugas Pkm. Biasanya kalau gini malah jadwal ke Pkm paling 2-4 x per minggu, demi mengirit bahan bakar. So, pastikan dulu ya…

2. Rumah Dinas dokter PTT. Well, FYI dokter PTT itu mendapatkan rumah dinas didekat Puskesmas masing-masing. So… kalau dibilangin Rumah Dinasnya belum jadi, minta kejelasan kalian harus tinggal dimana, klo disuruh kontrak, siapa yang nanggung, serta gimana masalah transportasi ke tempat kerja [jangan mau kalau disuruh keluar biaya sendiri].

So, tegesin soal rumah dinas juga, minta dilengkapin dengan kasur dan peralatan rumah tangga [kompor, panci, etc]. Klo belum dilengkapin, jangan mau turun, repot sendiri ntar. Buang2 uang juga untuk membeli segala keperluan ini padahal ini adalah tanggungan DinKes.

3. Soal Insentif. Well.. memang kita ini pengabdian, tapi dengan kondisi yang kita hadapi, aku rasa sudah sewajarnya kita mendapat insentif dari Pemda. Karena gaji bersih kita sebagai dokter PTT dengan criteria ST tuh 1.730.000 dan criteria T tuh 1.530.000, deuuuu…harus ngirit banget deh buat memenuhi kebutuhan hidup kita, nggak bisa nabung. Masih untung untuk kriteria ST kita dapat insentif 5 juta, kalau kriteria T? ya mau gak mau harus cukup uang 1,5 juta itu untuk sebulan. Apalagi rata2 harga kebutuhan pokok di daerah terpencil tuh jauh lebih mahal daripada Jawa. So… aku rasa insentif itu wajar sebagai bentuk apresiasi kepada dokter PTT.

Tanya2 juga dengan periode sebelumnya. Kalau memang sudah dianggarkan, minta saja, itu kan hak kalian. Biak sendiri aku dapat info kalau 2 periode lalu, dokter PTT Biak masih mendapat insentif Pemda 2juta/bulan. Karena ada kesalahan anggaran, entah bagaimana, soal insentif ini menjadi tidak jelas. Ada yang bilang tidak mendapat insentif, ada juga yang bilang dapat insentif 750rb-950rb per bulan, Cuma belum diterimakan [mungkin menunggu anggaran 2008].

Dan jujur saja, kami pun mengharapkan hal yang sama, semoga ada insentif dari Pemda. Ketika kami menanyakan hal ini ke Kadinkes, jawabannya tidak jelas. Tapi pas HKN, ada pak Bupati, pak Kadinkes ini menyampaikan pertanyaan kami, apakah pemda Biak memberikan insentif kepada dokter PTT. Semoga di-respon… [dalam hal ini, pak Kadinkes ok!]

Well… yahh… gitu deh…

So far… kami keselnya karena sepertinya DinKes ini terkesan nyuekin kami, “nggak dianggap”. DinKes Biak yang meminta 12 dokter PTT criteria ST, dan 4 dokter PTT criteria T. Ketika terpenuhi, kenapa tidak memperlakukan dokter2 PTT ini [kami] dengan selayaknya. Bukankah mereka yang minta, butuh pengabdian kami, setidak2nya mbok yao diurusin dengan baik. Atau… kalau tidak mampu mengurusi sekian banyak dokter PTT, ga usahlah minta kuota dokter PTT sebanyak itu. Bu Menkes [atau pejabat DepKes kalau baca ini], tolong perhatikan kesejahteraan dokter PTT didaerah. DepKes sudah memperlakukan kami dengan bagus, tapi sayangnya ada beberapa DinKes kabupaten yang memperlakukan dokter PTT seenaknya [nyuekin]

Another attention, kalau ngurusin surat-surat or something else yang dikerjakan oleh pegawai DinKes harus ditegesin ya… Dibicarakan sejelas-jelasnya, di-follow up terus, kalau perlu ditungguin sampai selesai…

Hmm… segitu ajah…

4 Comments:

  1. dr_dwi said...
    wah... cukup menarik pengalamannya dok, btw saya dwi, rekan sejawat yang baru lulus, kalau misalnya ada info lowongan PTT di Papua atau daerah ST lainnya , mohon bagi2 infonya ke dr_dwimu@yahoo.co.id, trimakasih sblmnya
    Luluch The Cinnamon said...
    alo..
    sering-sering cek ke ropeg-depkes.or.id aja...

    Mungkin nanti April-Mei ada bukaan PTT Pusat lagi, biasanaya bukaan Papua banyak...
    Luluch The Cinnamon said...
    alo..
    sering-sering cek ke ropeg-depkes.or.id aja...

    Mungkin nanti April-Mei ada bukaan PTT Pusat lagi, biasanaya bukaan Papua banyak...
    pikasa said...
    dok, kalo boleh ijin share ke note fb saya ya, nanti tetap saya posting link ke sumber aslinya(blog ini)

Post a Comment