Hows Life Goin On in Numfor?


Its me in front of my Puskesmas… Puskesmas-nya not bad kan…

Aku dan Bafith bertugas di Puskesmas Kameri, distrik Numfor Barat. Puskesmas ini ber-lokasi di desa Pomdori. Desa ini berada di tepi pantai. Jadi Puskesmas dan kompleks perumahan pegawai Puskesmas ini berada di tepi pantai. Jadi kalau malam, suara latar belakang saat kami tidur tuh suara ombak. Keren hehe

Ombak ditepi Pomdori ini tidak sampai ke pantai, karena ada reef barrier sekitar 200-500 meter ditepi pantai. Jadi, lumayan untuk mengurangi abrasi, dan menunda waktu tsunami [bisa nyelametin diri ke darat dulu hehe :P]

Aku dan Bafith tinggal bersama perawat di kompleks Puskesmas. Sebenarnya untuk kami sudah disediakan 2 rumah dinas [rumdin], tapi masih dalam proses rehab. Sehingga, untuk sementara aku tinggal bersama 2 perawat pendatang [mbak Rosa dan Eka]. Sementara Bafith tinggal di rumah persis didepan rumah aku bersama pasangan suami istri Aho-Rani.



[rumahku yang sebelah kiri]

Rumah itu luasnya kurang lebih 50 m2, dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi. Tapi sumur berada di luar. Ga ada pompa air maupun pipa, jadi tiap pagi dan sore aku harus olahraga, mengangkat air dari sumur ke rumah. Lumayan… jalan 10 meter sambil membawa 2 ember kanan-kiri hehehe

Secara teori, kami kerja mulai dari Senin-Sabtu, dengan jam kerja jam 08.00 WIT-14.00 WIT (kecuali Jumat dan Sabtu). Tapi pada kenyataannya, walaupun Pkm Kameri bukanlah Pkm DTP [Dengan Tempat perawatan], jam kerja bisa saja sampai kerja 7 hari seminggu, dan tetap harus siap-siap 24 jam. Karena pasien datang tidak tentu waktu

Tapi enak juga kalau tinggal didekat kompleks, tak perlu terburu-buru untuk berangkat kerja. Tinggal jalan 10 meter aja, udah nyampe Puskesmas. Kadang-kadang kalau sedang sepi pasien [paling rame cuma hari Senin], masih dalam jam kerja, kami pulang dulu, istirahat, nanti kalau ada pasien, baru dipanggil ma perawat..

Kadang-kadang juga kalau lagi nungguin pasien, kami duduk-duduk di depan Pkm, sambil menikmati pemandangan ke arah laut, diiringi angin sepoi-sepoi... menyenangkan sekali!

Kompeks-nya lumayan aman. Karena dikelilingi rumah penduduk desa Pomdori. Lagian Pak Kapuskes kami cukup disegani, jadi orang mau berbuat macam-macam dengan pegawai Puskesmas pun akan pikir-pikir.

Disini banyak sekali anjing!. Gila… jadi kalau habis makan n mau cuci piring di luar rumah. Dalam waktu sekejap, anjing-anjing akan merubung aku mengharapkan sisa makanan [apalagi kalau habis makan ikan]. Gimana nggak ngeri coba… Well, karena kami muslim, jadi yah lumayan “berhati-hati” dengan anjing-anjing itu.

Disini kan ga ada masjid, jadi ga ada adzan. Jadi kalau sholat, ngira-ngira sendiri waktunya. Yang lucu ya untuk nentuin waktu Maghrib, kami memakai patokan waktu listrik menyala. Jadi kalau listrik sudah menyala, well itulah saatnya Sholat Maghrib.

Makan… numpang sama perawat. Maksudnya, nebeng masak gitu… Aku sudah siapin beras di rumah sih, tapi sampai sekarang belum digunakan mbak Rosa [ :? ]. Karena aku tidak bisa masak [coba masak nasi kemarin pun gosong hehe], jadi ya ngikuuuuutttt aja… Tapi sepertinya kalau rumah dinas sudah jadi, dan aku tinggal sendiri, aku harus belajar masak sendiri deh… kan tidak ada warung makan disini…

Minum... kami memakai air kemasan [tak usah disebut merk-nya]. Tapi untuk masak, ya ngikut yang masak ya... pake air asli. Tapi sebenarnya lumayan kok, masih mendingan kalau dibandingkan air asli Purwodadi :)

Oh ya… karena sebentar lagi mau pindah rumdin sendiri, akhirnya aku beli peralatan-peralatan rumah tangga. Emang sih ada bekas peralatan-nya dokter periode kemarin, tapi sepertinya kurang, jadi ya belanja lagi deh.

Disini tidak ada pasar. Adanya cuma toko-toko kecil. Kalau perlu sesuatu, biasanya kami pergi ke Yemburwo, dimana ada toko-toko yang lumayan besar [untuk ukuran Numfor], yang menjual sembako, alat kelontong, peralatan rumah tangga sampai alat pertukangan. Rata-rata pedagangnya orang Makasar dan mereka sudah hafal dengan kami [orang baru di Numfor tuh ketauan deh… saking kecilnya…].

Tapi kami jarang belanja di Numfor. Kebanyakan bahan makanan kami beli di Biak, karena harga di Biak lebih murah dan persediaan barangnya lebih lengkap dan bervariasi. Jadi besok ketika kami kembali ke Numfor, bisa dipastikan bagasi kami banyak sekali. Karena itu ketika berada di Numfor, bisa dibilang pengeluaran kami tidak terlalu banyak.

Kami lumayan sering bepergian, naik motor [biar irit bensin, disini bensin 1liter = 7rb, mahal ], mengunjungi teman-teman dokter yang tinggal di Yemburwo, atau jalan-jalan mengitari Numfor. Numfor itu indah banget lhooo…

Ada beberapa spot-spot yang sudah kami tandai dan aku sudah bertekad untuk mengunjunginya lain waktu.



Didekat rumah kami pun ada sebuat tempat favorit untuk bermain. Jembatan. Jembatan ini menghubungkan desa Pomdori dan desa Yenmanu. Jembatan ini terletak diatas kali [tak tahu apa namanya, cuma disebut kali saja]. Kali ini sepertinya merupakan hulu dari sungai, jadi airnya merupakan campuran air laut dan air tawar, arusnya cukup kuat. Pemandangan di Jembatan ini sangat indah sekali. Anak-anak sering main disini, saling unjuk kebolehan berenang atau melompat dari jembatan. Aku pun sering main disitu, pemandangannya saat matahari terbenam sangat indah.

So far, hidup disini lumayan enak. Masih ada listrik, masih ada sinyal, dan lingkungannya enak :)

Pulau Numfor



Pulau Numfor ialah bagian dari kabupaten Biak Numfor. Rencananya, tahun 2009-an gitu, Numfor akan menjadi kabupaten yang berdiri sendiri terpisah dari Biak. Pulau ini terletak di sebelah Barat Laut pulau Biak.

Pulau Numfor dapat dijangkau dengan pesawat maupun dengan kapal. Dengan pesawat Twin Otter dari Biak, memerlukan waktu tempuh 25 menit saja. Pesawat akan mendarat di bandara Yemburwo. Bandara ini kecil sekali, dan cuma ramai saat ada pesawat. Pesawat cuma ada hari Senin dan Rabu, kadang-kadang pada momen khusus [seperti Natal, et], akan ada penerbangan ekstra. Tapi karena seat terbatas [Cuma 17 seat], so ya harus booking dulu semingu sebelumnya.




Sedangkan perjalanan laut bisa ditempuh baik dari Biak maupun Manokwari. Secara geografis, Numfor ini lebih dekat ke Manokwari daripada ke Biak, sehingga waktu tempuh dengan kapal besar Yapwairon Cuma sekitar 5 jam, bandingkan bila ke Biak, paling cepat 7 jam.

Dari Biak ke Numfor kita bisa naik kapal besar Yapwairon, Papua Lima maupun Papua Satu dengan waktu tempuh bervariasi [sekitar 7-9 jam jika laut teduh], tapi kapal-kapal ini jadwalnya tidak bisa dipastikan, karena Numfor hanya merupakan salah satu persinggahan.

Lain halnya dengan kapal tetap Cendrawasih, kapal ini cuma PP Biak-Numfor, tapi kapal ini kecil, dan somehow… waktu tempuhnya lama sekali dari Biak ke Numfor, bisa sampai 12 jam. Ada juga kapal Bintang 23, Bintang19 dan kapal-kapal ferry lainnya. Tapi… aduhhhh… seraaaammmmm…

Kalau naik kapal, tidak perlu booking dulu, jadi langsung bayar diatas kapal. Rata-rata sih 35rb-40rb, klo VIP ya 90rb [Yapwairon]. Tapi ya… crowded bangeeeetttt… Musti rela desak-desakan, kadang harus sampai duduk menggelar terpal atau tikar di lorong-lorong maupun di dek. Lumayan menantang juga kan? hehe

Yang lain? bisa naik Johnson, ini model perahu yang umum di Biak. Perahu kayu dengan panjang bervariasi 10-12 meter dengan kayu penyeimbang [semang] di salah satu sisi maupun kedua sisi perahu kemudian dimodifikasi dengan ditambah mesin, sehingga lajunya kencang. Bila lautan sedang teduh, Numfor-Biak dapat ditempuh dalam jangka 6 jam, namun bila cuaca sedang tidak bersahabat, bisa sampai 12 jam!! Yang ini sih lebih seru lagi hehehe…

Bila bandara Yemburwo berada di Yemburwo yang mana merupakan “kota-nya” Numfor [dari Kameri sekitar 15 menit-an], maka pelabuhan berada di Saribi, distrik Numfor Barat [wilayah kekuasaan saya hohoho :P, dari Kameri sekitar 30 menit].

Di Numfor terdapat 2 distrik, yakni distrik Numfor Timur dengan pusat di Yemburwo, dan distrik Numfor Barat dengan pusat di Kameri [Kabarnya bakal ada peresmian distrik baru di Saribi]

Di Numfor Timur ada 2 Pkm yakni Pkm Yemburwo [DTP] dan Pkm Mandori di ujung Numfor Timur. Sementara di distrik Numfor Barat terdapat Pkm Kameri [Pkm-ku niy…] yang berada di desa Pomdori [nearby Kameri]

Jadi, seperti yang kusebutkan sebelumnya, Pkm Kameri melayani 18 desa, mulai dari Pyefuri sampai ke Masyara, 4400 jiwa. Di Pkm Kameri ada 6 perawat, 1 bidan dan 2 dokter. Terus masih ada pustu [puskesmas pembantu] dengan perawatnya di beberapa tempat, serta ada pula bidan desa.

Penduduk disini rata-rata berasal dari suku Biak. Ada pula yang dari pulau Serui [kab Yapen-Waropen], ataupun Manokwari. [Pendatang rata-rata berasal dari Makassar, Toraja, Jawa]. Campuran… jadi bisa dibilang ada akulturasi juga…

Nama-nama penduduk disini keren-keren lho… Alexandrina, Sefter, Dexter, Rachel, etc.Seperti laiknya orang Manado, mereka punya nama fam [nama keluarga alias marga klo bagi orang Batak]. Desa-desa tertentu biasanya juga rata-rata dihuni oleh fam tertentu. Jadi kadang kita bisa menebak asal desa pasien dengan nama fam-nya. Seperti di Pomdori, bakal banyak ditemui fam Kapisa, begitu juga di Yenmanu, banyak ditemui fam Abidondifu. Lain-lain…

Dan… satu hal yang sering dilihat di Papua… tradisi makan pinang!! Iya deh, pasti bakal ngeliat orang makan pinang dimana-mana… dan of course… gigi mereka jadi merah kecoklatan, dan kita bakalan banyak nemuin bekas ludahan pinang dimana-mana… Aku lihat, orang-orang disini sudah mulau makan pinang sejak kecil. Mungkin pinang semacam adat ber-sosialisasi juga, dan bahkan punya sifat adiktif sepertinya hehe :P Habis… sampai pas upacara HKN kemarin tuh pak Bupati meninjau RSUD Biak Kota sambil mengunyah pinang hohoho…

Trus… bahasa Indonesia mereka bagus-bagus lho… mulai dari anak kecil sampai yang tua, bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Katanya sih bahasa yang diajarkan pertama kali itu bahasa Indonesia, nanti kalau sudah diatas usia 5 tahunan gitu, baru diajarin bicara bahasa Biak

Di Numfor ini, orang-orang suka menyapa!! [kurasa sih di seluruh Papua juga begini]. Kalau ketemu pagi hari ya bilang “selamat pagi”, ketemu malam ya bilang “selamat malam”, hampir pada setiap orang, bahkan pada orang yang belum dikenal. Tidak seperti di Jawa kan, paling kalau menyapa cuma dengan senyum atau anggukan saja. Jadi ya kalau pas jalan ya pasti capek menyapa orang yang ditemui dijalan hehe

Oh ya, mereka juga punya kebiasaan menyingkat kata. Jadi kata saya menjadi “sa”, punya menjadi “pu”, sudah menjadi “su”, kau menjadi “ko”, pergi jadi “pi”. Lucu juga pas denger mereka bicara, awal-awalnya ga “ngeh” apa maksudnya.

Mungkin seperti gini “Sa pu anak su pi ke Biak kemarin”, jadi bingung kan, “apaan ini?”. Eh ternyata maksudnya tuh gini “Saya punya anak sudah pergi ke Biak kemarin”. Keqkeqkeq…

Hemmm… sekarang tentang infrastruktur. Sebenarnya bisa dibilang infrastruktur di Numfor bisa dibilang bagus. Saya pernah mengelilingi sebagian Numfor dengan motor bersama Bafith. Dengan rute Kameri-Yemburwo-Manggari-Masyara-Saribi-Namber-Kameri lagi dalam waktu sekitar 2 jam, menembus hutan [seruuuuuu…] dan kadang di tepi pantai. Sebagian besar jalannya ber-aspal, dan kalaupun belum, masih bisa dilalui oleh mobil. Cuma sayangnya… tidak ada transportasi umum, tidak ada bus maupun angkot.

Penduduk yang mempunyai kendaraan pribadi sangat sedikit, bahkan saya jarang melihat orang naik sepeda! Jadi kebanyakan orang kalau mau pergi harus jalan kaki atau naik ojek [bukan ojek seperti yang kita tahu, jadi kalau kita ngelihat ada orang naik motor, trus kita nebeng naik, kita bayar ma dia, ongkos bensin :P ]. So… this is the reason, kenapa frekuensi kunjungan ke Pkm ga terlalu banyak

Tapi hebatnya… bila pagi dan siang hari, pasti kita akan melihat banyak anak sekolah jalan kaki. Bila SD bisa ditemui dimana-mana, SMP pun tiap distrik ada, tapi khusus SMU, cuma ada di Kameri [SMU N 1 Numfor], dan SMK Kelautan di Numfor Timur [juauuhhhh], bisa dibayangkan dong gimana beratnya perjuangan untuk sekolah, harus jalan jauuuuuuuuhhhh sekali [berpuluh-puluh kilometer…]. Ada sih bus sekolah, tapi tidak mungkin bisa menjangkau seluruh anak sekolah

Listrik?ada dong… tapi terbatas, mulai dari jam 18.30 WIT sampai jam 22..30 WIT. , Cuma nyala 4 jam sih, tapi lumayan kan… Bisa charge hp, emergency lamp, nonton TV!! Walaupun belum semua desa di Numfor mendapatkan pelayanan listrik. Listrik ini merupakan program LisDes PLN, berasal dari BBM solar. Jadi ya… harus diirit-irit lah. Harga BBM di Numfor kan mahal sekali

Di Numfor bisa pake HP juga lho, walau cuma ada Telkomsel [Simpati dan AS, nggak promosi lho…]. BTS-nya hanya ada 1, di distrik Numfor Barat. Jangkauannya ya terbatas, paling ¼ pulau gitu. Tapi alhamdulillah Kameri masih dapat sinyal dengan bagus. Jadi komunikasi masih bisa jalan [walau saat ini BTS-nya masih rusak, kena sambar petir]

Sangat Terpencil?hehe, ya untuk sebagian desa. Tanpa listrik, tanpa sinyal. Untuk Kameri dan Yembuwo sih lumayan, jadi ga se-terpencil bagian Numfor lain. Cuma… akses untuk ke Numfor via kapal atau pesawat kan tidak tiap hari ada.

Rata-rata penduduk tinggal di desa-desa di tepi pantai. Bahkan Puskesmas tempat saya bekerja pun berada di tepi pantai. Lumayan keren juga, kalau pas senggang, duduk-duduk di depan Puskesmas sambil memandang lepas kearah pantai diiringi angina sepoi-sepoi… What a wonderful world… :D

Sebagian besar Numfor itu hutan, hutannya penuh dengan pepohonan tinggi dan bila kita melewati hutan, kita akan sering melihat burung-burung berwarna-warni terbang bebas [banyak kakatua juga!!very-very beautiful], katanya sih Numfor ini banyak ularnya [yup!! I watched it on my own…], kuskus [belum lihat…], binatang-binatang-binatang lain [saya pernah lihat kadal buesaaaarrrrrr di jalan, cari makan kali ya…], dan untungnya ga ada macamnya harimau gitu hehe :P

Rumah-rumah penduduk ini rata-rata sudah permanent, dari batako dengan atap seng [bangunan dengan atap genteng cuma pernah lihat di bangunan di pelabuhan Saribi], so… puanaaasss sekali… Tapi ada juga yang berupa rumah kayu [dari papan-papan].

Rumahnya kecil-kecil, tipe RSS gitu, dengan 2 kamar. Jaraaaaannnnnnggggg sekali aku melihat ada rumah besar atau rumah ”bagus”. Biasanya kamar mandi ada diluar [proyek Pemerintah gitu deh]. Ditiap-tiap rumah biasanya ada tandon air [bantuan juga] , untuk menampung air hujan untuk dipakai keperluan rumah tangga, tapi ada juga yang punya sumur sendiri.

Air sumur disini cukup bagus. Jernih!!dan walaupun dekat laut, tidak terasa asin. Karena rata-rata pemukiman dekat laut, maka sumur dengan kedalaman 5 meter saja sudah keluar air… [Jadi ga begitu capek kalo nimba hehe]

Mata pencaharian penduduk disini rata-rata nelayan dan petani. Tapi yang saya lihat disini tidak ada pertanian [sawah] disini!Yah… beras kan memang bukan makanan pokok orang asli sini [keladi, singkong…]. Yang ada hanya kebun-kebun yang kadang ditanami gandum, kacang hijai ataupun singkong, itupun scattered [tersebar], ditengah hutan.

Padahal saya lihat pulau Numfor ini sebenarnya subur, jauh lebih subur daripada pulau Biak [yang notabene merupakan pulau karang]. Ada pohon jeruk, kersen, kluwih, mangga, papaya. Cuma sayangnya… sepertinya kurang dimaksimalkan…

Di Numfor ini lumayan susah untuk mendapatkan sayur. Tidak ada yang menjual kentang, wortel, gitu. Paling banter kangkung, kacang panjang, daun katuk. Bayam, kobis, lombok ada, tapi terbatas…

Tapi ikan… wah… jangan tanya… murah sekaliii… fresh pula! Kami biasanya datang ke pelabuhan pada saat ada kapal, itulah saatnya para nelayan menjual hasil tangkapan mereka. Fresh from the sea!!

Atau kalau tidak, pada pagi hari sering ada nelayan lewat depan rumah sambil membawa ikan yang sudah di-renteng, kita tanya aja, dijual atau tidak… Atau kalau nggak, pesannnnnn…

Tidak seperti di Jawa, disini ikan dijual per-ikat bukan per kilo. Satu ikat bisa terdiri dari 6-7 ikan sedang, atau 2 ikan besar, atau kombinasi. Per ikat dihargai Rp 10.000. Murah sekali kan… ikan-nya segar-segar, dan lezat pula… Ikan yang sering dimakan ialah ikan samandar, ikan merah, ikan batu, ikan insamen, ikan kakatua dll. Banyak ikan yang sisiknya cantik-cantik!! [serasa makan ikan hias hehehe]

Di Numfor ini, terkenal sekali dengan kepiting kenari!!kepiting ini buesaaaarrrrr sekali. Saya belum pernah makan sih, karena belum musim. Biasanya kepiting ini turun ke darat untuk bertelur pada saat bulan purnama. Katanya sih uennnakkkkkk banget [belum pernah coba!]. Selain kepiting kenari, ada kepiting merah seperti yang biasa kita temui. Kalau sedang turun ke darat, maka kepiting-kepiting ini akan memenuhi jalan raya. Bila kendaraan mau lewat, tak ada jalan lain, selain menggilas mereka. Karena nggak mungkin untuk diusir [gimana coba ngusirnya?]

Kalau mau kepiting sih katanya harus ke Davy, desa di dekat Mandori, jauuuuhhhh sekali… Kalau di Kameri harus pesan sama seorag nelayan yang terkenal ahli menangkap kepiting kenari. Cuma sayangnya saat ini si bapak itu sedang berada di Manokwari, itulah sebabnya saya belum bisa menikmati kelezatan kepiting kenari…

Dari cerita penduduk sekitar, Numfor ini dulu pernah diduduki oleh tentara Sekutu dan tentara Jepang. World War II kan juga berlangsung di Timur Indonesia ini. Jadi masih banyak peninggalan-peninggalan tentara Sekutu dan Jepang. Konon, banyak bangkai kapal beserta dengan isinya di kedalaman laut dekat pulau Numfor. Masih banyak juga ditemukan mortir-mortir dan ranjau disini, sehingga tak jarang menyebabkan kecelakaan bagi penduduk Numfor



Di Saribi, saya pernah ditunjukkan goa-goa bekas tempat tinggal tentara Jepang. Bapak nelayan yang mengantar saya bilang ketika muda beliau sering main ke goa-goa ini. Dan pernah melihat ada tengkorak-tengkorak tentara Jepang yang tewas di goa-goa itu. Hiii… ngeri juga…

Pantai Asaibori yang indah di dekat Kameri [sekitar 3 km], juga merupakan bekas pangkalan tentara Sekutu. Kami pernah berjalan ke pantai Asaibori, terdapat jalanan ber-aspal [dari sejak jaman Perang Dunia II lho], yang katanya merupakan bagian dari landasan untuk pesawat perang tentara Sekutu.

Bahkan model jalanan di Numfor yang berlekuk-lekuk merupakan salah satu warisan perang Dunia II. Mereka sengaja membuat jalanan yang berkelok-kelok ditengah hutan. Karena diantara hutan-hutan, bila kita berbelok kan kita tidak dapat melihat langsung ada apa didepan kita, dan rupanya itulah “spot” yang tepat untuk menyergap tentara musuh.

Pertama kali datang ke Numfor, saya merasa ngeri dengan hutan-hutan di pinggir jalan. Pohonnya yang tinggi dan rapat-rapat serta gelap cukup memberikan rasa seram. Tapi lama kelamaan karena sering melewatinya, akhirnya saya terbiasa juga. Lama-lama saya menikmati juga kehidupan di Numfor. Bebas polusi, pemandangan yang indah, lingkungan yang bersahabat, dan tentu saja ikan-ikan yang segar… 

NB : Katanya, pulau Numfor ini aslinya bukan bernama Numfor, tapi pulau “Poiroi”. Sedangkan pulau Numfor yang asli merupakan sebuah pulau kecil di daerah Pakreki, distrik Numfor Barat.



Inilah pulau Numfor yang asli. Pulau Numfor sekarang [Poiroi, saya sebut Numfor I] yang sebelah kiri, dan pulau Numfor yang asli ada di sebelah kiri [Numfor II, terpisah dari pulau Numfor I. Bila anda belum pernah menginjak pulau ini, maka anda belum pernah ke Numfor . Pulau ini berada di pantai didesa Pakreki, berada dibawah gereja [ada gereja Bethany (?) diatas bukit ditepi pantai]. Pulau ini merupakan pulau karang berbentuk seperti kapal, pada saat laut sedang surut, dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari pulau Numfor I. Pemandangan disekitar sini sangat bagus sekali!

Semoga suatu saat anda dapat berkunjung ke pulau ini dan menikmati keindahan pulau Numfor ini 

Kameri in Numforia


3 minggu sudah kami di Kameri.

Kameri is okay!!
Pegawai Puskesmas cukup lengkap, pak Kapuskes-nya baik n bertanggung jawab!

Puskesmas Kameri ini berada di kecamatan Numfor Barat, melayani 18 desa dan sekitar 4400 jiwa. Jarak antar desa lumayan jauh, dan susah transport... Itu salah satu alasan kenapa pasien kadang malas berobat

Karena keterbatasan geografis dan tranportasi pula, maka jam kerja kami berubah. Yang seharusnya mulai jam 08.00-14.00 WIT, karena pasiennya datang nggak tentu waktu, kami bisa menerima pasien setiap saat.

So... walaupun Puskesmas kami bukan Puskesmas DTP [Dengan Tempat Perawatan], pada akhirnya kami tetap melayani 24 jam, menerima perawatan sementara. Tapi karena keterbatasan alat pula [minor set ga lengkap, cairan infus yang terbatas, obat-obat yang kadang kadaluwarsa], akhirnya kami mengusahakan sebisa mungkin, dan kalau kasusnya susah untuk ditangani, maka kami rujuk ke Puskesmas Yemburwo yang DTP, atau sekalian ke RS Biak Kota maupun RS Manokwari

Hari pertama kami datang, kami sudah disambut pasien KLL. Sebetulnya kami bisa saja menolak pasien, akrena kami bukan Puskesmas DTP, tapi ya masak iya sih... Akhirnya dirawat semalam, kami berikan terapi seadanya [Pak Kapus belum anfrah obat-obat dan alkes dari Biak Kota].

Setiap harinya pasien datang 10-20 orang, ga tentu waktu, bisa datang sore hari, tengah malam ataupun pagi-pagi buta sudah menggedor pintu. Terutama luka2 karena jatuh, ataupun terkena senjata tajam, kecelakaan, malaria berat dll...

Walaupun pasien sehari-hari cuma sekitar 20 orang, tapi saat Puskesmas Keliling [pak Kapus sangat rajin!], naudzubillah banyaknya... 70-100 an orang

Salah satu hari yang berat pas 3perawat sedang turun ke kota, cuma ada 3 perawat. Aku dengan 3 perawat [termasuk pak Kapus] pergi puskel n vaksinasi di Pakreki. dr Bafith tinggal bersama bu Ocedi Puskesmas.

Setengah jam kemudian ada yang datang menjemput pak Kapisa [Pakreki lumayan jauh, 45 menit dari Kameri], ada kecelakaan parah!Guru SMU, pak Alextando mengalami KLL, terluka parah di bagian muka, sebagian tulang hidungnya hancur dan menusuk ke dalam sehingga perdarahaannya tidak berhenti-henti. Yang ada di Puskesmas cuman dr Bafith dan suster Oce. Pasien ini harus segera dibawa ke Biak, karena perdarahan hebat.

Pak Kapisa langsung balik menuju Kameri untuk mengantar ke Yemburwo. Sementara aku tinggal dengan 2 perawat untuk Puskel. Tebak pasien yang datang?... bila sebelumnya 80-an orang ditangani ber 2, kali ini aku bekerja sendirian menangani 110 orang dari pagi sampai sore. Tepar berat... Tapi aku lebih kasihan lagi sama mbak Rosa, dia yang bagian apotek, ga kelar-kelar juga, mana plastiknya habis, repot... Akhirnya merangkap juga dengan apotek... [Biasa... tugas dokter di daerah ST itu merangkap sebagai resepsionis dan juga apotek...]

Selesai udah hampir malam, tapi kami tidak juga dijemput. ang biasanya puskel kelar jam 4, kami baru dijemput pulang jam 7.30 malam. Masih repot dengan pak Alextando di Yemburwo. Di Yemburwo, pak Alex mendapatkan jahitan untuk menghentikan perdarahannya, trus langsung dicarikan Johnson [sejenis kapal kayu dnegan motor, karena kebetulan tidak ada kapal besar yang berlabuh di Numfor], untuk mengantarnya ke Biak. dr hendri yang mengantar ke Biak. perjalanan dari Numfor ke Biak yang harusnya cuman 6 jam, karena cuaca jelek molor jadi 12 jam!

Salut sama dr Hendri, dalam cuaca buruk, dan hanya naik Johnson [cuman sepanjang 7-8 meteran ajah], menyeberangi lautan Pasifik tengah malam. You know lah... banyak hiu didasarnya... Kata dr Hendri, seram sekali. Ombak menghantam tak henti-henti. Dia mencoba untuk tidur, tapi setiap kali membuka mata, yang dilihat hanya lautan dan gelap malam. Tak henti pula menguras air yang masuk kedalam Johnson. Haduuuhhh...siapa bilang itu bukan pengabdian? ALhamdulillah pagi harinya mereka sampai di Biak dnegan selamat dan pak Alextando langsung bisa dioperasi, sekarang dalam tahap pemulihan...

back to Pakreki...

Pasiennya rata-rata badan pegal2 [yang tidak sakit jadi sakit!], batuk beringus, cacingan, ulkus yang ga sembuh2 [semacam koreng menahun, sampai luka-luka dalam dan kadang sampai cacat], Tinea Imbrikata dan Tinea Corporis [penyakit kulit], dan tentu saja malaria!!

Gila... disini malaria-nya hebat...rata-rata penduduk Numfor ini anemis, mungkin karena malaria juga jadi kalau diperiksa Conjunctiva, akan CA (+). Diambil darah untuk periksa DDR Malaria pun darah yang keluar merah dan encer, tanda kalo kadar Hb-nya rendah. Kurasa itu juga lah banyak keluhan sering pusing dan pegal-pegal. Jika Hb rendah, konsumsi Oksigen pun rendah, lack of Oxygen can produce such symptoms...

Karena mungkin penduduknya sudah kebal dengan malaria. Tanda-tanda malaria disini sudah tidak khas lagi... Mana juga alat buat Rapid Test malaria juga susah... Akhirnya klo ada pasien dengan demam kurang dari 3 hari, kami cuma kasih obat ISPA dan penurun panas, terus di-edukasi kalau panas tidak turun dalam 2 hari, suruh bawa ke Puskesmas lagi, kasih obat malaria.

Sudah... kadang-kadang, gejalanya cuman demam-demam saja, lemas, kepala pusing atau bahkan diare-diare...

Kami juga nggak mau mengebom dengan sembarang obat-obat malaria, karena bisa menimbulkan resistensi. kalau sudah resisten, mau dikasih apa lagi?

Persediaan obat malaria cukup lengkap. Ada initial medicine-nya, Klorokuin dan Primakuin, ada Sulfadoksin Pirimetamin [SP], Kina tablet, injeksi Kinin Antipirin, injeksi Kinin Hcl, Artesdiaquin [gabungan Artemisin dan Amodiquin, salah satu regimen terbaru malaria], serta injeksi Artesunate [Artemisin]

Pasien datang dengan gejala malaria, dikasi Klorokuin dan Primakuin dulu [kalau bukan kotraindikasi], kalau masih tidak mempan, dikasih Suldox, kalau tidak mempan lagi, injeksi Kinin Antipirin atau kasih Kina Tablet [tergantung Keadaan Umum, kalau jelek banget ya langsung kasi drip Kina HCL atau injeksi Artemisin]

Sering... pasien itu malas datang ke Puskesmas, apalagi yang rumahnya jauh... akhirnya ketika berobat pun sudah terlambat... terlanjur buruk... Tapi ada juga yang sangat-sangat pemalas, sakitnya nggak berat, tapi minta dokter datang ke rumah, minta diobatin ke rumah, kami kira pasiennya parah, tapi ternyata... cuman malaria sedang [bisa lah... kalau cuma datang ke Puskesmas, ada kendaraan juga]

Aduhhh...

sering pula pintu diketok malam-malam, pasien aneh-aneh... dengan lokiometra [darah nifas tidak keluar setelah 2 hari pasca persalinan], ataupun partus tidak maju [Kala II Lama]. Hal-hal yang tidak bsia ditangani di Puskesmas... Kami hanya bisa memberi cairan, injeksi antibiotik dan analgesik... Pada akhirnya harus dirujuk ke kota... Bahkan rujuk ke Kota pun susah... susah transport, susah tenaga paramedis dan medis...

Kadang pasien datang dengan luka-luka yang harus diajhit, padahal peralatan tidak lengkap, kadang-kadang belum disterilkan pula, tidak ada listrik [listrik hanya ada 4 jam di Kameri, mulai pukul 18.30-22.30 WIT], otomatis kalau datang sore hari, harus menunggu listrik menyala. Sedangkan kalau datang tengah malam, harus bisa medikasi luka dan hechting dengan bantuan lampu senter

Worth it?
Yah... setidaknya kami tidak makan gaji buta :>

Oh ya, hebatnya lagi... semuanya gratis tis tis...!!Kalau di Jawa, pasien Puskesmas masih kena biaya administrasi 2rb-3rb. DI Pkm Kameri, all free!!Bahkan datang di luar jam kerja pun ga dihitung swasta. Sering pasien datang menyodorkan uang, tapi tidak kami terima, karena Pak Kapuskes sendiri tidak pernah meminta. Bahkan ada pasien yang memnita kunjungan rumah pun tidak ditarik biaya [ baik biaya tranport, obat maupun medis-paramedis], hebat kan...

Walaupun... sebenarnya lebih baik bila pasien datang diluar jam kerja dianggap ditarik biaya. Bukannya matre ato apa... [aduh, uang 10rb tuh ga bisa buat beli apa2 di Numfor], tapi setidaknya ada uang kas buat Puskesmas, sekaligus juga untuk edukasi pasien agar datang ke Puskesmas pada jam kerja. Dan benar-benar perawatan tanpa biaya inilah yang sering menghabiskan persediaan cairan dan infus set di Puskesmas.

Harusnya at least, kalau ada pasien yang perlu diinfus, dia harus mengganti harga abocath, dan cairan infus-nya. karena barang-barang sperti ini terbatas, dan pula kami berada di pulau... susah akses ke kota. Kalau ada uang kas, kan Puskesmas bisa membeli abocath dan cairan infus untuk persediaan bagi pasien lainnya.

karena, sebagai Puskesmas TTP [tanpa tempat Perawatan], kami dijatah cairan infus terbatas. Jadi kalau persediaan ciran habis, dan pasien itu harus direhidrasi atau untuk memasukkan obat, pasien harus dirujuk ke Yemburwo. Seperti yang kami alami sekarang. Baru seminggu lalau obat-obat an dan cairan datang. Tapi karena pasien yang perlu dirawat datang terus-terusan, dalam waktu kurang dari seminggu, cairan infus sudah habis...

Kalau ada pasien yang butuh?Yah... gimana lagi?dibawa ke Yemburwo... Itupun all free... tranport ditanggung Puskesmas

Oh ya, disini aku dipanggil BuDok [singkatan dari Bu Dokter], dan kadang-kadang Nona Dokter [hahaha]. dr Bafith dipanggil PaDok [Pak Dokter]. Kurang dari seminggu rasanya kami sudah dikenal di Numfor, maklum pulau kecil...

N im goin to work here till April :> I love this island... I love being in Puskesmas Kameri...

Workin here i learned lot of generousity...

Pulang ke Biak juga akhirnya...



Sudah jatuh, tertimpa tangga, diinjak-injak pula!!
Well, mungkin itu lah kata2 yang tepat buat menggambarkan keadaan kami [Aku, Bafith, Pak John Lie n Pak Bukorsyom kemarin]

Mendekati Lebaran Haji dan Natal, kami ingin turun ke Biak. Aku ma Bafith pengen sholat Ied di Biak, sedangkan pak John Lie n Pak Bukorsyom ingin segera mengerjakan laporan tugas dinas n merayakan Natal di Biak

Kami sudah booking dan membayar tiket Merpati untuk penerbangan ke Biak tanggal 19 Des [hari Rabu]. Sebenarnya kami sudah ditawarin sama bu Merry untuk mengajukan penerbangan ke tanggal 17 Des [hari Senin], tapi karena tidak enak meninggalkan Puskesmas lebih awal, maka kami memutuskan tetap booking tanggal 19 saja, akhirnya 2 seat tanggal 17 itu diambil sama Mela dan Mbak Heny.



Hari Rabu siang, kami sudah siap-siap, trus pak Kapisa nelpon bandara, eh dapat info penerbangan di-cancel, diganti penerbangan hari Kamis berikutnya. Terus kami bersama-sama nge-cek langsung ke bandara, yap!penerbangan dibatalkan. So… pulanglah kami ke Kameri dengan kecewa…

Malam itu aku lewati dengan bad mood, dan… “feeling weird…” karena tak ada gema takbir sama sekali… Inilah pertama kali-nya Idul Adha tanpa mendengar gema takbir pada malam sebelumnya... Maklumlah… mayoritas Kristen Protestan, dan satu-satunya masjid di Numfor [masjid Al-Kautsar] berada di Yemburwo, sekitar 15 menit dari Kameri.

Pagi harinya, hujan deras sekali!!Sekitar jam 7, aku dan Bafith naik motor ke Yemburwo untuk mengikuti sholat Ied. Sampai di masjid, masih sepi… setelah menunggu setengah jam kemudian, barulah sholat Ied dimulai. Sholat Ied diikuti sekitar 50-60 orang dari seluruh penjuru Numfor. Aku nggak khusyuk… abisnya masih ngantuk dan lapaaaaarrrr bangettt… mana khotbah-nya luaaammaaa pula… n not interesting…

Udha selesai pun, kami tidak bisa langsung pulang. Kami baru bias keluar masjid jam 10-an, karena masih hujan. Trus ditengah jalan, hujan turun lagi, akhirnya kami menumpang berteduh didepan kios pak Marzuki. Eh kami diajak masuk, dan disuguhi makanan khas Makassar. Well… aku rasa inilah satu-satunya berkah di hari Idul Adha kemarin. Akhirnya kami bias menikmati opor ayam [how I miss them!!], buras dan bolu Makassar. Its great!!


Seusai itu, kami mampir ke tempat pak Lodik Merpati untuk menanyakan kejelasan pesawat. Pak Lodik bilang nggak tahu, soalnya kan jadi tidaknya penerbangan tergantung cuaca. Dengan cuaca seburuk itu [Laut kelihatan berkabut, hujan masih sangat deras!], maka penerbangan tidak bisa dipastikan. Sementara itu kami mendengar kabar kalau kapal Yapwairon akan mendarat di pelabuhan Saribi hari itu jam 2.

Sementara flight pesawat juga jam 2 [tapi belum pasti]. Saat itu sudah jam 11 siang, karena sudah yakin akan kedatangan Yapwairon, kami meng-cancel penerbangan kami dan meminta uang kami kembali.

Dan… mungkin karena BTS tersambar petir, tidak ada sinyal sama sekali!!Searching… Seluruh Numfor tanpa sinyal… tidak bisa dihubungi dan tidak bisa menghubungi. Isolated…

Pulang ke Kameri, ternyata pak John dan pak Bukorsyom juga sudah membatalkan penerbangan. So, akhirnya kami ke pelabuhan Saribi yang perjalanannya membutuhkan waktu 30 menit. Sesampainya disana, sudah banyak calon penumpang kapal, sangat-sangat padat

Jam 5 sore, ada kapal datang, tapi ternyata kapal Papua Satu dari Biak menuju ke Manokwari yang datang. Kemudian ada info kalau kapal Yapwairon baru keluar dari Manokwari jam 5 sore, so kira-kira… masuk ke Numfor jam 10-an. Akhirnya kami tetap tinggal di Saribi… Sementara kami kelaparan, akhirnya pak Kapisa berinisiatif pulang kembali ke Kameri, mengantar pak Yance, Pak Aho, mbak Eka dan mbak Rani sekalian memasakkan mie dan kopi buat kami [baiknya…]

Jam 9.30, pak Kapisa dating lagi sambil membawa makanan. Alhamdulillah… saat itu aku merasa itulah salah satu mie ternikmat sepanjang hidup :>

Tunggu punya tunggu… sampai jam 10 lebih tiada tanda-tanda kedatangan Yapwairon, separuh calon penumpang memilih pulang… [berat juga… Saribi kan jauh dari mana-mana, mana gak ada transportasi umum pula… mereka jalan kaki…]

Akhirnya… kecapekan… kami kembali lagi ke Kameri… Kelelahan dan sampai di Kameri listrik sudah padam, aku jatuh tertidur tanpa sempat mandi… Capek sekali…

Keesokan harinya, ada kabar tentang penerbangan extra. Kami semua pergi ke bandara untuk menanyakannya. Hanya ada pak Tamba, dan sayangnya pak Tamba pun gak punya info, karena telpon satelitnya tidak ber-pulsa, harus memakai jalur komunikasi SSB. Setelah pak Lodik datang dan mencoba mengoperasikan SSB memakai aki mobil Puskesmas, kami mulai mencoba komunikasi dengan Biak maupun Manokwari

Harap-harap cemas… Dan saat itu pulalah baru terasa keberadaan kami di daerah yang Sangat Terpencil. Terisolasi, tidak bisa menghubungi dan dihubungi dunia luar. Terbayang pula kawan-kawan di Biak yang mengkhawatirkan keadaan kami, keluarga dirumah yang tidak bisa menghubungi kami, dan juga terputus informasi tentang transportasi dari dan ke Numfor.

Akhirnya… ada info kalau Yapwairon telah berangkat dari manokwari sekitar jam 10 pagi. Kami berangkat ke Saribi jam 2 an… Pelabuhan mulai penuh… banyak babi-babi dalam kandang, banyak pula anggrek2 yang hendak dibawa ke Biak. Natal!!saatnya orang-orang mudik…

Jam 3.30 sore… dari kejauhan terlihat kapal besar Yapwairon… tak terkira leganya kami… akhirnya bisa pulang ke Biak… Cuma… penumpangnya full banget… Agak cemas juga kalau tidak mendapat seat…




Jam 4 kami naik ke atas kapal, mulanya kelas VIP penuh [kata penumpang-nya], akhirnya cari petugas in-charge… dapet 4 seat di VIP, it cost Rp 90 rb per orang… Lumayan… bisa santai diruangan ber-AC, reclining seat pula…

Jam 5 kapal berangkat meninggalkan Numfor. Aku dan Bafith mulai keliling kapal dan berniat untuk menjelajahi ruangan atas, mengambil foto!! Dengan menggunakan status dokter [iya lho, sangat berguna :>], kami diizinkan ke ruang kemudi, dan dari ruang kemudia kami keluar dan naik ke atap ruang kemudi, dan bias mengambil foto dengan latar yang indah sekali… Benar-benar pengalaman berharga dan tak terlupakan…



Mungkin muka kami sudah dikenal penduduk Numfor, ada saja yang nyapa [ga cuman nyapa BuDok ajah, tapi dengan nama “dokter Lulu”], wah… senang sekali…
Setelah menikmati perjalanan di dekat ruang kemudi, akhirnya kami turun kembali ke ruang VIP dan beristirahat…




Karena sinyal tidak ada, maka kami tidak bisa menghubungi teman-teman di Biak untuk menjemput kami… Sekitar 1 jam sebelum sampai Biak, barulah ada sinyal HP, tak terkira senangnya… Bisa kontak dengan teman-teman dan keluarga…

Jam 1 tengah malam, kapal sudah mulai mendekati pelabuhan Biak, Cuma ada sedikit trouble sehingga kapal baru bsia merapat sekitar jam 1.30

Kami keluar kapal dengan lega… Akhirnya sampai juga di Biak… dipelabuhan kami berpisah dengan pak John Lie dan pak Bukorsyom. Aku dan Bafith memutuskan untuk ke Suci [Rumah kontrakanku dengan teman-temanku] dengan naik ojek

Gelap dan sepi sekali… tapi akhirnya aku sampai rumah… :> Langsung disambut oleh teman-teman dan cerita tentang kekhawatiran mereka akan keadaan kami…

Tak terkira bahagianya kembali ke Biak setelah proses untuk pulang yang melelahkan… Benar-benar pengalaman bertugas di daerah ST… Idul Adha tak terlupakan :>

Satu bulan tepat!!



View di dermaga...

Hari ini, tepat sudah 1 bulan kami berada di Biak
Dan... sampai hari ini kami ber 5 [Numfor's people] belum turun juga ke Puskesmas...

Si Bafith udah ditelponin pak Kapisa [kapuskes-nya Kameri], ga enak juga sih... tapi yah... kemaren mu naek kapal ke Numfor, kapalnya parah banget!!kapal kayu, gak terlalu gede, mana kotor pula... dan malam sebelumnya badai-nya kenceng banget... So we decide to postpone it... dan akhirnya memilih untuk ke Numfor naek twin Otter

1 bulan, nothing to do... nganggur aja dirumah. Makan, tidur, maen gem, nonton, baca... untung aja disuplai koran n majalah dari tetangga sebelah [Oom Nano], dan akhir2 ini kami sering diajakin masak oleh beliau. Bukan masalah makanannya sih... tapi sepertinya beliau seneng rame2nya...

Kemarin kami sudah bertemu dengan komunitas IDI Biak. Lumayan... curhat dan tukar info... kami curhat tentang keadaan kami disini. Yang kayake kok "disio-sio", dicuekin gitu...

Yah... mereka juga menceritakan keadaan tenaga medis di Biak sendiri... bagaimana acuhnya DinKes, acuhnya Kadinkes-nya, hampir samalah seperti yang kami alami... Dokter tidak diperhatikan!

Betul... kalau aku bilang nih tentang masalah2 kami disini [tranportasi penempatan, rumah tinggal sementara, perlengkapan rumah,etc] si Kadinkes ini manajemennya kurang bagus!

Well, udah tahu lagi program rehab rumah dinas, ya tolong sediakan mess buat dokter dong, dan selama mess belum jadi, harus dipikirkan dokter PTT ini mau tinggal dimana. Dikontrakin kek, dipinjamin rumah kek... eh ini malah dilepasin aja, suruh bayar sendiri pula... Begitu juga masalah transportasi... ga ada biaya katanya!!Padahal you know... Biak ini menerima dana Otsus 59 M!!alokasi dana buat kesehatan pasti besar... But... lihatlah... kami sebagai dokter serasa tidak dihargai...

Tidak hanya itu... banyak-banyak-banyak sekali masalah...

Ada yang rumah dinasnya belum jadi... harus PP 2 jam, 22 rb bolak-balik. Sebulan rata2 isa habis 500rb, belum lagi uang buat kontrak... Berat...

Yang lain... rumah dinas ada, tapi kosongan, belum diisi...

Yang lainnya?

Ada yang udah mau pindahan ke Puskesmas [Ampunbukor], udah membawa segala macam perlengkapan rumah tangga, udah nyewa taksi 175rb. Eh, begitu sampe disana, Puskesmas dipalang!!

Ya!!mereka ga boleh masuk, bahkan untuk sekedar menempatkan barang abwaan... "dokter pulang saja, bawa semua barang"

Wuihhh... ngeselin!!ternyata ada sengketa tanah... dan akhirnya Puskesmas dipalang, gak bisa dipakai... cuman bete-nya pas balik lagi ke Biak Kota, mereka kena charge lagi 175 rb. So buang uang 350rb cuman buat PP Ampumbukor dengan sia-sia...

Ada yang dapet di pulau... yang mana desa2nya tersebar di pulau2 sekitarnya, jadi kalau puskel [puskesmas keliling] harus naek perahu lagi... Mana paramedisnya gak ada!! so dia musti kerja sendiri. Dokter merangkap sebagai eprawat, apoteker, Tata Usaha... Paramedis muncul hanya pada saat gajian or "bagi-bagi uang"...

Trus kami... masalah transportasi dan kelengkapan...

Yah... begitulah...

Banyak cobaan :P

kalau dilihat dari sisi positifnya... [buat aku yah...], masa kerjaku udah berkurang 1 bulan :> jadi tinggal 4 bulan lagi!! [April 2008 udah mule siap2 mau pulang...]

Yah... lama2 sih... betah juga...
Apalagi Biak Kota ini kayak Jawa aja... gak seperti bayangan kita akan Papua [yang kayak Denias itu lhooo... Wamena yang indah tapi medannya berat...]

Cuman... pengeluaran besar juga... udah habis 2,5 juta dalam 1 bulan... Yaa... emang sih, kalau mu PTT tuh emang musti sedia dana sekitar 5 juta-an untuk biaya hidup 2-3 bulan pertama. Karena... gaji PTT sering telat turunnya...

Yah... akhirnya ya kembali pada diri sendiri... waktu yang tersisa 4-5 bulan ini mu dilihat kayak gimana... Tinggal menghitung mundur untuk pulang kah? atau... kesempatan untuk melayani sesama?mendapat ilmu juga... selain ilmu kedokteran juga mungkin secara relasi antar manusia

Penting!
ga hanya komunikasi yang baik antar dokter ke pasien, tapi juga antar sesama TS [sesama dokter], dan juga dengan lingkungan sekitar.

Mulanya aku ga bisa yang namanya wishy washiness... ga bisa basa-basi. But then i realized... U have to! Ya mau tak mau... berusaha...

Aku rasa pada akhir PTT ini aku banyak mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga...

Nggak rugi kok PTT :>