Kameri in Numforia


3 minggu sudah kami di Kameri.

Kameri is okay!!
Pegawai Puskesmas cukup lengkap, pak Kapuskes-nya baik n bertanggung jawab!

Puskesmas Kameri ini berada di kecamatan Numfor Barat, melayani 18 desa dan sekitar 4400 jiwa. Jarak antar desa lumayan jauh, dan susah transport... Itu salah satu alasan kenapa pasien kadang malas berobat

Karena keterbatasan geografis dan tranportasi pula, maka jam kerja kami berubah. Yang seharusnya mulai jam 08.00-14.00 WIT, karena pasiennya datang nggak tentu waktu, kami bisa menerima pasien setiap saat.

So... walaupun Puskesmas kami bukan Puskesmas DTP [Dengan Tempat Perawatan], pada akhirnya kami tetap melayani 24 jam, menerima perawatan sementara. Tapi karena keterbatasan alat pula [minor set ga lengkap, cairan infus yang terbatas, obat-obat yang kadang kadaluwarsa], akhirnya kami mengusahakan sebisa mungkin, dan kalau kasusnya susah untuk ditangani, maka kami rujuk ke Puskesmas Yemburwo yang DTP, atau sekalian ke RS Biak Kota maupun RS Manokwari

Hari pertama kami datang, kami sudah disambut pasien KLL. Sebetulnya kami bisa saja menolak pasien, akrena kami bukan Puskesmas DTP, tapi ya masak iya sih... Akhirnya dirawat semalam, kami berikan terapi seadanya [Pak Kapus belum anfrah obat-obat dan alkes dari Biak Kota].

Setiap harinya pasien datang 10-20 orang, ga tentu waktu, bisa datang sore hari, tengah malam ataupun pagi-pagi buta sudah menggedor pintu. Terutama luka2 karena jatuh, ataupun terkena senjata tajam, kecelakaan, malaria berat dll...

Walaupun pasien sehari-hari cuma sekitar 20 orang, tapi saat Puskesmas Keliling [pak Kapus sangat rajin!], naudzubillah banyaknya... 70-100 an orang

Salah satu hari yang berat pas 3perawat sedang turun ke kota, cuma ada 3 perawat. Aku dengan 3 perawat [termasuk pak Kapus] pergi puskel n vaksinasi di Pakreki. dr Bafith tinggal bersama bu Ocedi Puskesmas.

Setengah jam kemudian ada yang datang menjemput pak Kapisa [Pakreki lumayan jauh, 45 menit dari Kameri], ada kecelakaan parah!Guru SMU, pak Alextando mengalami KLL, terluka parah di bagian muka, sebagian tulang hidungnya hancur dan menusuk ke dalam sehingga perdarahaannya tidak berhenti-henti. Yang ada di Puskesmas cuman dr Bafith dan suster Oce. Pasien ini harus segera dibawa ke Biak, karena perdarahan hebat.

Pak Kapisa langsung balik menuju Kameri untuk mengantar ke Yemburwo. Sementara aku tinggal dengan 2 perawat untuk Puskel. Tebak pasien yang datang?... bila sebelumnya 80-an orang ditangani ber 2, kali ini aku bekerja sendirian menangani 110 orang dari pagi sampai sore. Tepar berat... Tapi aku lebih kasihan lagi sama mbak Rosa, dia yang bagian apotek, ga kelar-kelar juga, mana plastiknya habis, repot... Akhirnya merangkap juga dengan apotek... [Biasa... tugas dokter di daerah ST itu merangkap sebagai resepsionis dan juga apotek...]

Selesai udah hampir malam, tapi kami tidak juga dijemput. ang biasanya puskel kelar jam 4, kami baru dijemput pulang jam 7.30 malam. Masih repot dengan pak Alextando di Yemburwo. Di Yemburwo, pak Alex mendapatkan jahitan untuk menghentikan perdarahannya, trus langsung dicarikan Johnson [sejenis kapal kayu dnegan motor, karena kebetulan tidak ada kapal besar yang berlabuh di Numfor], untuk mengantarnya ke Biak. dr hendri yang mengantar ke Biak. perjalanan dari Numfor ke Biak yang harusnya cuman 6 jam, karena cuaca jelek molor jadi 12 jam!

Salut sama dr Hendri, dalam cuaca buruk, dan hanya naik Johnson [cuman sepanjang 7-8 meteran ajah], menyeberangi lautan Pasifik tengah malam. You know lah... banyak hiu didasarnya... Kata dr Hendri, seram sekali. Ombak menghantam tak henti-henti. Dia mencoba untuk tidur, tapi setiap kali membuka mata, yang dilihat hanya lautan dan gelap malam. Tak henti pula menguras air yang masuk kedalam Johnson. Haduuuhhh...siapa bilang itu bukan pengabdian? ALhamdulillah pagi harinya mereka sampai di Biak dnegan selamat dan pak Alextando langsung bisa dioperasi, sekarang dalam tahap pemulihan...

back to Pakreki...

Pasiennya rata-rata badan pegal2 [yang tidak sakit jadi sakit!], batuk beringus, cacingan, ulkus yang ga sembuh2 [semacam koreng menahun, sampai luka-luka dalam dan kadang sampai cacat], Tinea Imbrikata dan Tinea Corporis [penyakit kulit], dan tentu saja malaria!!

Gila... disini malaria-nya hebat...rata-rata penduduk Numfor ini anemis, mungkin karena malaria juga jadi kalau diperiksa Conjunctiva, akan CA (+). Diambil darah untuk periksa DDR Malaria pun darah yang keluar merah dan encer, tanda kalo kadar Hb-nya rendah. Kurasa itu juga lah banyak keluhan sering pusing dan pegal-pegal. Jika Hb rendah, konsumsi Oksigen pun rendah, lack of Oxygen can produce such symptoms...

Karena mungkin penduduknya sudah kebal dengan malaria. Tanda-tanda malaria disini sudah tidak khas lagi... Mana juga alat buat Rapid Test malaria juga susah... Akhirnya klo ada pasien dengan demam kurang dari 3 hari, kami cuma kasih obat ISPA dan penurun panas, terus di-edukasi kalau panas tidak turun dalam 2 hari, suruh bawa ke Puskesmas lagi, kasih obat malaria.

Sudah... kadang-kadang, gejalanya cuman demam-demam saja, lemas, kepala pusing atau bahkan diare-diare...

Kami juga nggak mau mengebom dengan sembarang obat-obat malaria, karena bisa menimbulkan resistensi. kalau sudah resisten, mau dikasih apa lagi?

Persediaan obat malaria cukup lengkap. Ada initial medicine-nya, Klorokuin dan Primakuin, ada Sulfadoksin Pirimetamin [SP], Kina tablet, injeksi Kinin Antipirin, injeksi Kinin Hcl, Artesdiaquin [gabungan Artemisin dan Amodiquin, salah satu regimen terbaru malaria], serta injeksi Artesunate [Artemisin]

Pasien datang dengan gejala malaria, dikasi Klorokuin dan Primakuin dulu [kalau bukan kotraindikasi], kalau masih tidak mempan, dikasih Suldox, kalau tidak mempan lagi, injeksi Kinin Antipirin atau kasih Kina Tablet [tergantung Keadaan Umum, kalau jelek banget ya langsung kasi drip Kina HCL atau injeksi Artemisin]

Sering... pasien itu malas datang ke Puskesmas, apalagi yang rumahnya jauh... akhirnya ketika berobat pun sudah terlambat... terlanjur buruk... Tapi ada juga yang sangat-sangat pemalas, sakitnya nggak berat, tapi minta dokter datang ke rumah, minta diobatin ke rumah, kami kira pasiennya parah, tapi ternyata... cuman malaria sedang [bisa lah... kalau cuma datang ke Puskesmas, ada kendaraan juga]

Aduhhh...

sering pula pintu diketok malam-malam, pasien aneh-aneh... dengan lokiometra [darah nifas tidak keluar setelah 2 hari pasca persalinan], ataupun partus tidak maju [Kala II Lama]. Hal-hal yang tidak bsia ditangani di Puskesmas... Kami hanya bisa memberi cairan, injeksi antibiotik dan analgesik... Pada akhirnya harus dirujuk ke kota... Bahkan rujuk ke Kota pun susah... susah transport, susah tenaga paramedis dan medis...

Kadang pasien datang dengan luka-luka yang harus diajhit, padahal peralatan tidak lengkap, kadang-kadang belum disterilkan pula, tidak ada listrik [listrik hanya ada 4 jam di Kameri, mulai pukul 18.30-22.30 WIT], otomatis kalau datang sore hari, harus menunggu listrik menyala. Sedangkan kalau datang tengah malam, harus bisa medikasi luka dan hechting dengan bantuan lampu senter

Worth it?
Yah... setidaknya kami tidak makan gaji buta :>

Oh ya, hebatnya lagi... semuanya gratis tis tis...!!Kalau di Jawa, pasien Puskesmas masih kena biaya administrasi 2rb-3rb. DI Pkm Kameri, all free!!Bahkan datang di luar jam kerja pun ga dihitung swasta. Sering pasien datang menyodorkan uang, tapi tidak kami terima, karena Pak Kapuskes sendiri tidak pernah meminta. Bahkan ada pasien yang memnita kunjungan rumah pun tidak ditarik biaya [ baik biaya tranport, obat maupun medis-paramedis], hebat kan...

Walaupun... sebenarnya lebih baik bila pasien datang diluar jam kerja dianggap ditarik biaya. Bukannya matre ato apa... [aduh, uang 10rb tuh ga bisa buat beli apa2 di Numfor], tapi setidaknya ada uang kas buat Puskesmas, sekaligus juga untuk edukasi pasien agar datang ke Puskesmas pada jam kerja. Dan benar-benar perawatan tanpa biaya inilah yang sering menghabiskan persediaan cairan dan infus set di Puskesmas.

Harusnya at least, kalau ada pasien yang perlu diinfus, dia harus mengganti harga abocath, dan cairan infus-nya. karena barang-barang sperti ini terbatas, dan pula kami berada di pulau... susah akses ke kota. Kalau ada uang kas, kan Puskesmas bisa membeli abocath dan cairan infus untuk persediaan bagi pasien lainnya.

karena, sebagai Puskesmas TTP [tanpa tempat Perawatan], kami dijatah cairan infus terbatas. Jadi kalau persediaan ciran habis, dan pasien itu harus direhidrasi atau untuk memasukkan obat, pasien harus dirujuk ke Yemburwo. Seperti yang kami alami sekarang. Baru seminggu lalau obat-obat an dan cairan datang. Tapi karena pasien yang perlu dirawat datang terus-terusan, dalam waktu kurang dari seminggu, cairan infus sudah habis...

Kalau ada pasien yang butuh?Yah... gimana lagi?dibawa ke Yemburwo... Itupun all free... tranport ditanggung Puskesmas

Oh ya, disini aku dipanggil BuDok [singkatan dari Bu Dokter], dan kadang-kadang Nona Dokter [hahaha]. dr Bafith dipanggil PaDok [Pak Dokter]. Kurang dari seminggu rasanya kami sudah dikenal di Numfor, maklum pulau kecil...

N im goin to work here till April :> I love this island... I love being in Puskesmas Kameri...

Workin here i learned lot of generousity...

1 Comment:

  1. megaLulu said...
    boleh minta info gak tentang perbedaan infus kina 10% dengan infus glukosa kirim ke ice_buble@yahoo.com
    cz aku baru belajar tentang itu arigato gozaimatsu

Post a Comment