Pulang ke Biak juga akhirnya...



Sudah jatuh, tertimpa tangga, diinjak-injak pula!!
Well, mungkin itu lah kata2 yang tepat buat menggambarkan keadaan kami [Aku, Bafith, Pak John Lie n Pak Bukorsyom kemarin]

Mendekati Lebaran Haji dan Natal, kami ingin turun ke Biak. Aku ma Bafith pengen sholat Ied di Biak, sedangkan pak John Lie n Pak Bukorsyom ingin segera mengerjakan laporan tugas dinas n merayakan Natal di Biak

Kami sudah booking dan membayar tiket Merpati untuk penerbangan ke Biak tanggal 19 Des [hari Rabu]. Sebenarnya kami sudah ditawarin sama bu Merry untuk mengajukan penerbangan ke tanggal 17 Des [hari Senin], tapi karena tidak enak meninggalkan Puskesmas lebih awal, maka kami memutuskan tetap booking tanggal 19 saja, akhirnya 2 seat tanggal 17 itu diambil sama Mela dan Mbak Heny.



Hari Rabu siang, kami sudah siap-siap, trus pak Kapisa nelpon bandara, eh dapat info penerbangan di-cancel, diganti penerbangan hari Kamis berikutnya. Terus kami bersama-sama nge-cek langsung ke bandara, yap!penerbangan dibatalkan. So… pulanglah kami ke Kameri dengan kecewa…

Malam itu aku lewati dengan bad mood, dan… “feeling weird…” karena tak ada gema takbir sama sekali… Inilah pertama kali-nya Idul Adha tanpa mendengar gema takbir pada malam sebelumnya... Maklumlah… mayoritas Kristen Protestan, dan satu-satunya masjid di Numfor [masjid Al-Kautsar] berada di Yemburwo, sekitar 15 menit dari Kameri.

Pagi harinya, hujan deras sekali!!Sekitar jam 7, aku dan Bafith naik motor ke Yemburwo untuk mengikuti sholat Ied. Sampai di masjid, masih sepi… setelah menunggu setengah jam kemudian, barulah sholat Ied dimulai. Sholat Ied diikuti sekitar 50-60 orang dari seluruh penjuru Numfor. Aku nggak khusyuk… abisnya masih ngantuk dan lapaaaaarrrr bangettt… mana khotbah-nya luaaammaaa pula… n not interesting…

Udha selesai pun, kami tidak bisa langsung pulang. Kami baru bias keluar masjid jam 10-an, karena masih hujan. Trus ditengah jalan, hujan turun lagi, akhirnya kami menumpang berteduh didepan kios pak Marzuki. Eh kami diajak masuk, dan disuguhi makanan khas Makassar. Well… aku rasa inilah satu-satunya berkah di hari Idul Adha kemarin. Akhirnya kami bias menikmati opor ayam [how I miss them!!], buras dan bolu Makassar. Its great!!


Seusai itu, kami mampir ke tempat pak Lodik Merpati untuk menanyakan kejelasan pesawat. Pak Lodik bilang nggak tahu, soalnya kan jadi tidaknya penerbangan tergantung cuaca. Dengan cuaca seburuk itu [Laut kelihatan berkabut, hujan masih sangat deras!], maka penerbangan tidak bisa dipastikan. Sementara itu kami mendengar kabar kalau kapal Yapwairon akan mendarat di pelabuhan Saribi hari itu jam 2.

Sementara flight pesawat juga jam 2 [tapi belum pasti]. Saat itu sudah jam 11 siang, karena sudah yakin akan kedatangan Yapwairon, kami meng-cancel penerbangan kami dan meminta uang kami kembali.

Dan… mungkin karena BTS tersambar petir, tidak ada sinyal sama sekali!!Searching… Seluruh Numfor tanpa sinyal… tidak bisa dihubungi dan tidak bisa menghubungi. Isolated…

Pulang ke Kameri, ternyata pak John dan pak Bukorsyom juga sudah membatalkan penerbangan. So, akhirnya kami ke pelabuhan Saribi yang perjalanannya membutuhkan waktu 30 menit. Sesampainya disana, sudah banyak calon penumpang kapal, sangat-sangat padat

Jam 5 sore, ada kapal datang, tapi ternyata kapal Papua Satu dari Biak menuju ke Manokwari yang datang. Kemudian ada info kalau kapal Yapwairon baru keluar dari Manokwari jam 5 sore, so kira-kira… masuk ke Numfor jam 10-an. Akhirnya kami tetap tinggal di Saribi… Sementara kami kelaparan, akhirnya pak Kapisa berinisiatif pulang kembali ke Kameri, mengantar pak Yance, Pak Aho, mbak Eka dan mbak Rani sekalian memasakkan mie dan kopi buat kami [baiknya…]

Jam 9.30, pak Kapisa dating lagi sambil membawa makanan. Alhamdulillah… saat itu aku merasa itulah salah satu mie ternikmat sepanjang hidup :>

Tunggu punya tunggu… sampai jam 10 lebih tiada tanda-tanda kedatangan Yapwairon, separuh calon penumpang memilih pulang… [berat juga… Saribi kan jauh dari mana-mana, mana gak ada transportasi umum pula… mereka jalan kaki…]

Akhirnya… kecapekan… kami kembali lagi ke Kameri… Kelelahan dan sampai di Kameri listrik sudah padam, aku jatuh tertidur tanpa sempat mandi… Capek sekali…

Keesokan harinya, ada kabar tentang penerbangan extra. Kami semua pergi ke bandara untuk menanyakannya. Hanya ada pak Tamba, dan sayangnya pak Tamba pun gak punya info, karena telpon satelitnya tidak ber-pulsa, harus memakai jalur komunikasi SSB. Setelah pak Lodik datang dan mencoba mengoperasikan SSB memakai aki mobil Puskesmas, kami mulai mencoba komunikasi dengan Biak maupun Manokwari

Harap-harap cemas… Dan saat itu pulalah baru terasa keberadaan kami di daerah yang Sangat Terpencil. Terisolasi, tidak bisa menghubungi dan dihubungi dunia luar. Terbayang pula kawan-kawan di Biak yang mengkhawatirkan keadaan kami, keluarga dirumah yang tidak bisa menghubungi kami, dan juga terputus informasi tentang transportasi dari dan ke Numfor.

Akhirnya… ada info kalau Yapwairon telah berangkat dari manokwari sekitar jam 10 pagi. Kami berangkat ke Saribi jam 2 an… Pelabuhan mulai penuh… banyak babi-babi dalam kandang, banyak pula anggrek2 yang hendak dibawa ke Biak. Natal!!saatnya orang-orang mudik…

Jam 3.30 sore… dari kejauhan terlihat kapal besar Yapwairon… tak terkira leganya kami… akhirnya bisa pulang ke Biak… Cuma… penumpangnya full banget… Agak cemas juga kalau tidak mendapat seat…




Jam 4 kami naik ke atas kapal, mulanya kelas VIP penuh [kata penumpang-nya], akhirnya cari petugas in-charge… dapet 4 seat di VIP, it cost Rp 90 rb per orang… Lumayan… bisa santai diruangan ber-AC, reclining seat pula…

Jam 5 kapal berangkat meninggalkan Numfor. Aku dan Bafith mulai keliling kapal dan berniat untuk menjelajahi ruangan atas, mengambil foto!! Dengan menggunakan status dokter [iya lho, sangat berguna :>], kami diizinkan ke ruang kemudi, dan dari ruang kemudia kami keluar dan naik ke atap ruang kemudi, dan bias mengambil foto dengan latar yang indah sekali… Benar-benar pengalaman berharga dan tak terlupakan…



Mungkin muka kami sudah dikenal penduduk Numfor, ada saja yang nyapa [ga cuman nyapa BuDok ajah, tapi dengan nama “dokter Lulu”], wah… senang sekali…
Setelah menikmati perjalanan di dekat ruang kemudi, akhirnya kami turun kembali ke ruang VIP dan beristirahat…




Karena sinyal tidak ada, maka kami tidak bisa menghubungi teman-teman di Biak untuk menjemput kami… Sekitar 1 jam sebelum sampai Biak, barulah ada sinyal HP, tak terkira senangnya… Bisa kontak dengan teman-teman dan keluarga…

Jam 1 tengah malam, kapal sudah mulai mendekati pelabuhan Biak, Cuma ada sedikit trouble sehingga kapal baru bsia merapat sekitar jam 1.30

Kami keluar kapal dengan lega… Akhirnya sampai juga di Biak… dipelabuhan kami berpisah dengan pak John Lie dan pak Bukorsyom. Aku dan Bafith memutuskan untuk ke Suci [Rumah kontrakanku dengan teman-temanku] dengan naik ojek

Gelap dan sepi sekali… tapi akhirnya aku sampai rumah… :> Langsung disambut oleh teman-teman dan cerita tentang kekhawatiran mereka akan keadaan kami…

Tak terkira bahagianya kembali ke Biak setelah proses untuk pulang yang melelahkan… Benar-benar pengalaman bertugas di daerah ST… Idul Adha tak terlupakan :>

0 Comments:

Post a Comment