Gagal Pulang Ke 4 x nya

Masih di Biak

Sudah ke 4 kalinya kami gagal pulang ke Numfor. Yang pertama, harusnya kami naik kapal feri Cendrawasih, tapi karena cuaca buruk, pelayaran dibatalkan [kami hepi sekali]. Pelayaran dijadwalkan Selasa minggu depannya

Kami masih mengandalkan Cendrawasih, tapi juga booking pesawat Twin Otter [cadangan], sementara info tentang kapal perintis lain belum ada. Selasa kemarin, kami sudah bersiap-siap, tapi kemudian Bafith datang, memberitahukan kalau Cendrawasih lagi-lagi membatalkan pelayaran. Ada bagian yang rusak, sementara suku cadangnya belum datang juga. Jadi walaupun keadaan cuaca saat itu sedag bagus, kami tetap tidak bisa berlayar [masih sedikit senang]

Hari Rabu, dr Ari kembali ke Numfor naik Twin Otter. Kami baru dapat booking untuk penerbangan tanggal 23. Terlalu lama... Kami berencana datang ke kantor Merpati langsung untuk menanyakan apakah ada penerbangan ekstra, atau setidaknya salah satu dari kami bisa berangkat tanggal 21.

Kami [aku, mela dan Mbak Heny] pergi ke kantor Merpati di bandara. Awalnya menemui frontliner, Ibu I, yang agak kurang ramah

"Maaf ibu, kami mau booking Twin Otter"
"Sudah penuh, baru ada nanti bulan baru" jawabnya dengan ketus. Kami bertiga slaing pandang, heran. Soalnya Bafith bilang, kami sudah booking untuk tanggal 23.

Kami terdiam, kemudian ada Pak B yang menanyakan pada kami "ada apa mbak?

"Begini pak, kami dokter dari Numfor, hendak kembali ke Numfor. dari kemarin kami batal pulang karena kapal tidak ada. Tapi kami baru dapat booking tanggal 23, sementara sekarang disana tidak ada dokter. Bisa nggak ada kepastian keberangkatan kami tanggal 23. Atau lebih baik lagi bila ada salah satu yang bisa berangkat tanggal 21"

"Sebentar saya lihat dulu" Kemudian Pak Bahar meminta buku Numfor dari Ibu I, dibukalah daftar calon penumpang didepan kami. Ya, kami tercatat dalam daftar penumpang untuk penerbangan tanggal 23.

"Ini pak, nama kami berempat. kalau bisa, kami harap salah satu dari kami bisa berangkat Senin depan"

"oke.. Sebentar saya usahakan", kemudian sambungnya lagi "Oh ya, kalau ada satu seat kosong hari ini, ada yang bersedia berangkat?"

Kami saling pandang, kami belum bersiap-siap. Akhirnya aku berkata "Oke, saya saja pak yang berangkat"

"Baik, silahkan tunggu, saya usahakan ya"

Kami duduk, kemudian berunding. "Gimana nih?aku yang berangkat atau Bafith ya?" tanyaku

"Tanya Bafith aja dulu"

Aku menelpon Bafith "Fith, aku di bandara nih, tadi ngomong ma pak Bahar, kemungkinan bisa ada 1 yang berangkat. Tapi belum pasti sih, so, yang berangkat aku pa kamu?"

"Bisa aja sih aku yang berangkat. Tapi siapa yang mau mengurusi obat [obat-obatan kami yang masih tertinggal di kapal Cendrawasih]. Kamu mau ngurusi obat di Mokmer?nelpon pak Jon Li n ngasi tahu Glaser juga?"

Aku berpikir, wah repot juga, aku nggak ada kendaraan juga "Aduh, aku ga ada kendaraan tuh, repot kalau ngurusin obat. yaudah deh aku aja yang siap-siap berangkat"

Akhirnya aku keluar dan langsung men-stop ojek untuk pulang mengambil barang. Tergesa-gesa aku kemabli lagi ke bandara, menemui teman-temanku yang menunggu disana. "Gimana?"

"Sedang diusahakan, kita disuruh menunggu" jawab Mela.

Kami duduk saja di kursi tamu didepan sales station. Kemudian ada petugas Merpati yang menganjurkan kami berbicara dengan Ibu I, katanya dia yang mengurusi penerbangan ke Numfor.

Kami bertanya lagi ke Ibu I, dia bilang "Untuk hari sudah penuh. Tidak bisa lagi", nadanya ketus. Akhirnya kami duduk kembali sambil menunggu kabar dari Pak Bahar.

Kemudian, tiba-tiba Oom Nano masuk, menyapa kami "gimana, dapat nggak?"

"Sedang nungguin Oom". Ibu I yang melihat kami berbincang akrab dengan Oom Nano, iba-tiba2 berkata "saya sudah bilang kalau pesawat sudah penuh, tapi mereka tidak mau dengar dan ..."

Haiyyyaa... membela diri...

Kemudian Pak Bahar datang "maaf ya, pesawat sudah penuh, load-nya tinggal 23 kg. Tadi sebenanya amsih bias, tapi ada bu camat yang hendak kembali ke Numfor, orangtuanya disana sedang sakit"

Yahhh... kami pulang dengan kecewa. Apalagi tidak ada penerbangan ekstra untuk minggu ini. Jadi kecuali ada kapal berangkat dalam minggu ini, kami baru bisa pulang ke Numfor paling cepat Senin depan.

Setelah gagal pulang ke 3 x nya, kami semua stress, kami sudah merasa sangat tidak enak berada di Biak terlalu lama. Kami semua sudah ingin pulang ke Numfor segera, naik apapun, kapal Bintang 23 yang kecil itu, bahkan naik Johnson pun kami rela.

Hari Kamis kemarin, sore hari tiba2 Pak Aho menelpon Bafith, memberitahu kalau kapal Bintang 23 akan berangkat ke Numfor jam 8 malam. Kami sepakat untuk berangkat naik kapal Bintang 23 akhirnya, yang penting kembali ke Numfor secepatnya.

Sore itu aku dan bafith bersama pak Aho dan mbak Rani berangkat ke Mokmer mengambil cairan infus dan obat di Cendrawasih. Kami sampai di pelabuhan tempat Bintang 23 bersandar sekitar jam 18.00 WIT.

Penumpang sudah cukup banyak, karena ini kapal perintis pertama yang berangkat ke Numfor bulan ini. Kapalnya sendiri kecil, tidak sebesar Yapwairon ataupun Papua Lima. Panjangnya sekitar 18 meter, dan di badan kapal ada tempat duduk seperti "amben" besi yang besar, sebagai tempat duduk dan tempat barang [tidak berupa kursi-kursi seperti kapal feri]. Tempat duduk ini cuma ditutupi terpal diatasnya. Kalau terkena hujan atau ombak besar, basah!

Ada pula kamar-kamar ABK yang disewakan, tapi harganya cukup mahal.

Kami memasukkan barang-barang kami [dibantu pak hans, Kapuskes Mandori], total ada 9 dus berisi cairan, dan barang-barang kami, begitu juga dengan jeriken berisi bensin dan minyak tanah [kata pak Simson, Kapuskes kami, bensin dan minyak tanah di Numfor "hampir punah"].

Dengan bantuan pak Hans, kami mendapat 1 kamar [entah bagaimana, tapi gratis]. Kamar itu sangat sempit. Hanya berukuran 2 x 1,5 meter dengan tempat tidur susun. Kami meletakkkan tas-tas disitu.

Kapal berangkat jam 20.20 WIT. Cuaca teduh. Menurut ABK, Bintang 23 akan sampai di Numfor besok paginya jam 7-8 WIT. Saat itu kami sudah senang, karena bisa kembali ke Numfor. Walaupun harus naik Bintang 23 yang sebelumnya sangat kami hindari [terus terang, sebenarnya sangat ngeri menaiki kapal ini ditengah Samudra Pasifik].

Banyak penumpang yang ikut, antara lain guru SMP 1 Kansai, keluarga Kapolsek Numfor Barat, dll. Pokoknya semua orang yang terpaksa terperangkap di Biak karena tidak ada kapal ke Numfor sebelumnya. Semua senasib.

1 jam pertama, semua lancar-lancar saja. Kapal berjalan sangat pelan, sehingga kami masih bisa mendapat sinyal walau ditengah laut, kerlap-kerlip lampu di pinggir pelabuhan pun masih nampak. Karena kapal kecil, mudah sekali oleng, rasanya seperti terayun-ayun dilaut [beda sekali dengan naik Yapwairon yang besaaaarrrr]

Kami bercanda, kalau kapal tenggelam, kami punya pelampung sendiri [iya, kami jaga-jaga dengan membawa pelampung sendiri]. Pak guru bilang, dia juga sudah siap dengan mebawa 2 jeriken [beliau juga khawatir, karena ini pengalaman pertama-nya naik Bintang 23]

Sekitar jam 11.10 WIT, tiba-tiba angin kencang... Wusss... Wusss... Wuussss... Aku yang saat itu berada di kamar, bisa merasakan ombak dan hujan deras yang menghantam kapal. Mela dan Mbak Heny sudah terdiam. Tiba-tiba Bafith datang ke kamar, "diluar hujan deras, basah"

Kami terdiam didalam kamar. Tiba-tiba ada orang berlari "Kapal kembali ke Biak!"

Kami saling pandang, mengira itu hanyalah candaan ABK. Tapi kemudian pak Kapolsek lewat dan juga meneriakkan hal sama. Akhirnya pada pukul 11.30 WIT, kapal berputar kembali. Saat kapal berputar, goyangan kapal sangat terasa, begitu pula ombak yang menghantam kapal. Kata Bafith, saat itu, orang-orang yang berada diatas dek berteriak, karena terkena ombak besar. Bintang 23 itu setinggi 6-7 meteran, bila ombak sampai mengenai dek ke 2, paling tidak, ombak itu setinggi 3-4 meter. Cukup mengerikan kan...

Ketika aku berjalan keluar kamar, kulihat penumpang yang bertampang ecewa sekaligus lega. Kecewa karena tidak segera dapat kembali ke Numfor, lega karena kapal tidak jadi mengarungi lautan yang cuacanya sedang ganas.

Diluar angin menderu-deru, hujan, dan sesekali kilat menyambar. Aku melihat ke tumpukan kardus-kardus kami, ada yang basah! rupanya tadi ombak sempat masuk ke kapal dan mengenai beberapa kardus kami.

Ketika kami mendapat sinyal lagi, aku langsung menghubungi pak Simson, memberi tahu bahwa kapal Bintang 23 kembali lagi ke Biak, jadi kami tidak bisa kembali ke Numfor.

Sesampainya di Pelabuhan Biak lagi, sudah ada pak Hans yang menunggu kami. Beliau membantu mengeluarkan barang-barang kami dan berjanji mengurus kardus-kardus obat dan sebagian barang kami untuk dinaikkan ke Papua Lima yang mempunyai jadwal berangkat Sabtu besok.

Sepertinya muka kami terlihat sangat memelas. Karena kami hanya diam saja begitu turun dari kapal. Campur aduk, sangat kesal karena tidak dapat pergi ke Numfor [tambah stress lagi], sebagian pula lega, karena kami terhindar dari ganasnya Samudra Pasifik.

Cuaca saat itu masih cukup cerah, walaupun masih ada sisa hujan. Sesaat setelah kami pulang ke kontrakan, tiba-tiba angin berhembus kencang, hujan turus sangat deras dan kilat menyambar. Kami lega, karena kami sudah berada di darat saat itu. Entah bagaimana nasib kami bila nakhoda tetap nekat mengarungi lautan dalam cuaca seprti itu [yah, mungkin hanya bisa banyak-banyak berdoa saja].

Gagal pulang 4 kali... well, ternyata aku mengalami kejadian yang lebih parah daripada pengalaman saat hendak kembali ke Biak. Kalau di Numfor dulu, kami menunggui Yapwairon yang batal berangkat selama 10 jam, tak ada sinyal pula. Tapi kali ini kami sudah 2 jam dalma perjalanan ditengah laut, tapi harus kembali lagi. Cukup seru... Inilah yang namanya PTT :>

Kami memeutuskan untuk ikut Papua Lima bila jadi berangkat Sabtu ini, dan pesawat sebagai cadangan ke 2. tapi tadi pagi, pak Lodik dari merpati Numfor mengabari kami kalau Sabtu pagi ada pesawat carteran yang hendak ke Numfor, beliau menawarkan untuk mengusahakan kami bsia pulang ke NUmfor dengan menumpang pesawat itu. Aku tadi menghubungi beliau lagi, tapi belum tahu kepastiannya.

yah... hanya bisa berharap, Sabtu ini kami bisa kembali, entah naik pesawat ataupun Papua Lima.

Doakan ya...

Stuck in Biak


Sudah cukup lama aku dan teman-temanku tertahan di Biak. Kami, dokter yang bertugas di pulau Numfor, tidak bisa kembali ke pulau Numfor segera. Karena tidak ada sarana transportasi menuju kesana.

Kapal Cendrawasih yang sedianya berangkat Selasa kemarin, membatalkan jadwalnya karena cuaca buruk. Ketika kami mencoba booking pesawat Twion Otter ke Bumfor. Its fully booked!!Antreannya gila-gilaan, sudah mencapai no 100, padahal seat-nya cuma 17...

Kapal perintis pun belum ada kabarnya. Ada rumor kalau besok Selasa, Papua Lima akan berangkat ke Numfor. tapi berita ini pun belum bisa dipastikan kebenarannya, harus dikonfirmasi tiap hari ke pelabuhan [yap, cek manual!]

Bisa dibayangkan... gimana nggak stress?? Aku sendiri sudah ingin kembali ke Numfor segera. Awalnya sih senang-senang saja... Tapi lama-lama... Bosan juga nggak ngapa-ngapain, i need to work, i need to do something.

Selain dokter Numfor, temanku yang bertugas ke pulau lainnya juga tidak bisa turun. Cuaca yang buruk, serta pasokan BBM yang tidak lancar... kombinasi buruk... Minyak tanah sulit didapat, padahal minyak tanah inilah bahan bakar Johnson. Minyak tanah langka, Johnson tidak bisa jalan, dokter pun tidak bisa ke pulau

:(

Semoga besok kami bisa segera berangkat ke tempat tugas masing-masing...

Sekilas Biak-Numfor


Biak Numfor, merupakan salah satu kabupaten kepulauan di provinsi Papua. Kabupaten Biak-Numfor ini terdiri atas pulau utama Biak, pulau Numfor dan sekitar 40-an pulau-pulau kecil di kepulauan Padaido.

Menurut situs resmi Pembak Biak-Numfor, awalnya daerah Biak-Numfor ini bernama kepulauan Schouten Eilanden hingga awal tahun 1960-an. Daerah ini berada di Teluk Cendrawasih, di bagian kepala burung dari Papua. Biak-Numfor mempunyai luas wilayah 21.672 Km2, 10 distrik dan jumlah penduduk 21.672 Km2 (data tahun 2003). Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik di sebelah utara dan timur, di sebelah selatan berbatasan dengan selat Yapen, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Supiori.

Karena letak geografinya yang dekat dengan garis katulistiwa dan dikelilingi oleh samudera Pasifik, maka pola iklim dipengaruhi oleh monsoon dan maritim. Sehingga, curah hujannya merata sepanjang tahun. Dan cuaca seringnya "unpredictable". Sering turun hujan dengan tiba-tiba, namun sesaat kemudian, cuaca menjadi cerah kembali.

Biak merupakan salah satu daerah yang maju di Papua. Jadi wajar saja kalau terdapat bandar udara disini, yakni bandar udara Frans Kaisiepo yang berada didekat daerah Mandala. Bandara ini terletak di pinggir pantai lho. Jadi begitu keluar dari bandara, kita bisa langsung melihat laut. Dari Biak, ada flight langsung ke Makassar, Jakarta atau Surabaya. Jadi, transportasi kesini "available" everytime [asalkan ada seat yang kosong aja].

Selain bandara, ada juga pelabuhan untuk kapal. Setahuku ada 2 pelabuhan. Pelabuhan Utama, yang berada di dekat DinKes Kabupaten, tapi yang bersandar disini hanyalah kapal-kapal perintis [macam Papua Lima, Yapwairon, etc]. Sedangkan kapal feri [ASDP] bersandar di Pelabuhan Mokmer di daerah Bosnik

Secara umum kota Biak ini lumayan ramai. Hampir seperti di Jawa, jadi kadang-kadang tidak terasa kalau aku sedang berada di Papua. Penduduknya pun beragam, banyak pendatang juga, baik dari Jawa, Manado, Bugis, Batak etc. Pekerjaan bermacam-macam, mulai dari PNS, pedagang, nelayan, etc. Plural, dan karena Biak sendiri juga merupakan basis militer TNI AD dan TNI AL, so pasti... banyak tentara disini

Pusat dari Biak-Numfor berada di distrik Biak-Kota. Hampir seluruh kantor pemerintahan berada di distrik ini, begitu pula aktivitas perekonomian. Jalan protokol berada di jl Imam Bonjol, yang mana merupakan "pusat keramaian" kota Biak

Jl Imam Bonjol ini hanyalah seruas jalan pendek, sekitar 1 km. Banyak toko-supermarket-bank-hotel-restoran berada di jalan ini dan sekitarnya. Toko terbesar di Biak "Supermarket Hadi" berada diujung jalan ini. Well, inilah "mall"-nya Biak, walaupun kalau di Jawa, hanya masuk kategori swalayan biasa.

Di sekitar Imam Bonjol pun ramai, seperti jalan Selat Makassar, Selat Madura, etc. Banyak pula toko-toko disini. Entah kelontong, elektronik, dll. Namun sayangnya aku tak melihat ada toko buku di Biak

Ada 2 pasar utama di Biak. Yakni Pasar Inpres yang berada di dekat DinKes, seperti layaknya pasar kabupaten, menjual hampir semua bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Rata-rata pedagangnya pendatang, kebanyakan orang Bugis-Makassar. Sementara di jl Wolter Monginsidi, didekat bank Mandiri, ada Pasar Ikan. Kita bisa membeli berbagai macam hasil laut disini. Biasanya kita dapat membeli ikan, udang, cumi, dll dengan harga yang jauh lebih murah daripada di Jawa [mana fresh pula!]. Cuma... pada musim seperti ini [cuaca sedang buruk], hasil laut susah didapat, jadi harganya cukup melambung tinggi

Selain Pasar Ikan di kota, ada pula Pasar Ikan Bosnik yang berada di wilayah Bosnik [sekitar 30 menit dari kota]. Ikan-ikan dan hasil laut di pasar ini rata-rata disuplai dari nelayan di kepulauan Padaido. Tapi pasar ini hanya ada pada hari-hari tertentu, yakni hari Selasa-Kamis-Sabtu

Bila hendak bepergian, sarana tranportasi yang tersedia ialah taksi dan ojek. Taksi disini bukan seperti layaknya taksi yang kita kenal di Jawa. Lebih menyerupai angkot, namun dengan 7 tempat duduk, dengan kapasitas maksimal 8-9 orang. Ongkos taksi disini sangat murah, hanya Rp 2000, dan enaknya lagi, kita bisa diantar sampai depan rumah [asal sesuai trayek saja].

Kadang-kadang trayek taksi tidak tertulis di body taksi, tapi kita bisa melihat pada plang warna yang ada diatas taksi, plang itu menandakan tujuan taksi. Tapi gampangnya, kadang aku menghentikan taksi dan menyebutkan tujuanku. Kalau oke, ya tinggal naik saja. Dekat ditujuan, tinggal bilang "depan", langsung deh berhenti taksinya... asyik kan. Taksi ini ada mulai dari sekitar jam 6 pagi sampai jam 8 malam. Diatas jam itu, agak susah untuk mendapatkan taksi.

Selain taksi, ada alternatif lain, naik ojek! Banyak sekali terdapat pangkalan ojek di Biak. Bahkan tukang ojek ini sering lalu lalang dijalanan. Kita dapat mengenalinya dengan mudah, dengan penanda khusus "helm merah". Yap! bila ada orang menaiki motor dengan menggunakan helm merah, 90% bisa dipastikan dia tukang ojek. Tinggal hentikan, dan menyebutkan tujuan. Rata-rata sih ongkos ojek Rp 3000. Namun kalau malam hari atau dini hari, ongkosnya menjadi Rp 5000

***
Lucunya disini, kita susah mendapat koran yang up to date. Jadi koran-koran yang dijual itu biasanya terlambat sehari [kecuali koran dari pesawat terbang ya]. Majalah-majalah ataupun buku pun terbatas, biasanya bisa dibeli di Hadi, tapi ya gitu... not up to date

Tapi kita bisa mendapat informasi terbaru via TV [well, harus pakai parabola!], dan juga internet. Setahuku ada 3 warnet di Biak. Yakni Dibiak Com [didepan Sales office Garuda Biak], Wahyu Net [jl Imam Bonjol], dan Warnet Papua Makmur Computer [entahlah, tidka tertulis nama lengkapnya]. Yang terakhir ini juga berada di jl Imam Bonjol, di dekat hadi, dan rupanya 1 kompleks dengan semua properti Hadi. Warnet inilah yang sering kukunjungi, aksesnya lumayan cepat dan murah, tapi... ramainya minta ampun seusai waktu pulang sekolah, remaja bermain game-online! [well, sebelumnya tidak terbayangkan olehku kalau akan menemukan game CounterStrike di Biak :P ]

***
Potensi wisata di Biak sangatlah besar. Ada berbagai obyek wisata menarik di Biak. Selain pantai-pantainya yang cantik[Bosnik, Yendidori, Marau], juga terdapat Gua Jepang, Monumen Perang Dunia ke II[di desa Parai], ada Taman-taman anggrek, dan sebagainya.

Aku iseng-iseng browsing di internet, ada beberapa yang menyebutkan kalau Biak mempunyai keindahan bawah laut kelas dunia, salah satu spot menarik untuk diving dan snorkeling. Well, sayangnya aku belum pernah mencobanya.

Tapi aku pernah mengunjungi pantai-pantai di Biak, Numfor maupun disalah satu pulau di kepulauan Padaido. Dan benar, Biak memang sangat cantik. Pantai-pantainya masih bersih, pasir putih, dan enak sebagai tempat berenang. Selain itu lautnya sangat jernih, sehingga bila kita berada di dermaga, bila kita melihat kebawah, serasa berada di akuarium, kita dapat melihat jelas hewan-hewan laut berkeliaran kesana kemari. Menyenangkan sekali. Jauh sekali dengan pantai-pantai di Jawa

Kita bisa bepergian ke pulau-pulau di kepulauan Padaido dengan naik speedboat [Perahu kayu bermesin dengan semang [cadik kayu]]? seram? well ya... you will be exposed to Pacific Ocean [katanya sih banyak hiunya hehehe], pantas bila takut, tapi... sepertinya seru juga kan??

Come on here and try it!

Batal Pulang Sesi Kedua



Pagi ini cerah sekaliiii...

Well, aku berharap cerahnya tuh pas kemarin sih... so aku bisa kembali ke Numfor...

get it?
Yap yap yap...
Aku ga jadi pulang ke Numfor kemarin. Sedianya, kami berempat [Aku, Bafith, Mela dan Mbak Heny] akan kembali ke Numfor naik kapal Cendrawasih. Well, itu satu-satunya kapal yang kita ketahui jadwal keberangkatannya, karena kapal perintis lain belum keluar jadwal layarnya, sementara itu cuaca juga sangat buruk sekali...

Untuk naik pesawat, pikir-pikir juga... pesawatnya kan kecil sekali, sementara angin sedang kencang-kencangnya, lagipula kami membawa ber dus-dus persediaan bahan makanan dan juga puluhan karton obat.

Yap... kemarin anfrah obat, tepatnya sih minta cairan infus, karena persediaan cairan di kameri sudah nihil... Karena dari awal kami berencana pulang naik kapal [tidak ada charge untuk overbaggage tho], maka kami berencana untuk sekalian membawa berdos-dos cairan itu... Eh ternyata, Gudang farmasi juga sekaligus nitipin obat-obat dan alkes, tidak hanya untuk pkm Kameri, tapi sekaligus nitip untuk PKm Yemburwo dan Mandori, total ada 25 dos, besar dan kecil.

Well, berat juga kan?

Sebenarnya sih tidak masalah kalau Cendrawasih jadi berangkat, kami berencana menyewa kamar, bahkan Bafith sudah membayar DP-nya ke Pak M. Waktu itu kami datang ke Pelabuhan Mokmer [tempat berlabuhnya kapal fery ASDP, kalau kapal perintis berlabuh di Pelabuhan Biak Kota], pak M tu meyakinkan kalau si Cendrawasih ini tetap berangkat tanggal 8 Januari, padahal mulai dari hari Senin tuh cuaca sudah ga bagus, really-really unpredictable

Hampir mirip dnegan kejadian yang kualami pada waktu Idul Adha. Hari Selasa, mulai dari dini hari, hujan tiada henti, sangat-sangat deras disertai angin kencang... sebenarnya sudah hopeless kalau kapal tetap akan berangkat. Sementara itu, awak kapal Cendrawasih tidak bisa dihubungi,sedang tidak ada sinyal di Mokmer [BTS di Bosnik sempat trouble].

Kami tetap bersiap-siap. Sampai sore masih hujan terus... Semangat kami sudah lenyap. Apalagi sebelumnya aku di-sms paman [Kapus-ku] : "Boleh ikut kapal feri tapi cuaca krg bgs angin smakin kencang tdk mau brhnti. Apa lg kplnya tdk cpt larinya. tlg timbang dulu oke?"

Waaa...sudah tentu tambah tidak berminat untuk pulang. Tapi berdos-dos obat itu sudah terlanjur diletakkan diatas kapal... Sudah keluar uang untuk DP dan ongkos angkut obat 250rb, sayang kalau ditinggal begitu saja, lagipula tidak ada kapal lain yang akan berangkat dalam waktu dekat.

Aku memang sebenarnya cepat ingin kembali ke Numfor. Soalnya pkm sedang kosong, dan terlalu lama kami libur [bukan sengaja, tapi memang tidak ada transportasi dan cuaca emmang tidak mendukung], kasihan juga ma pasien-pasien di Kameri.



So, akhirnya kami tetap berangkat ke Mokmer bersama barang-barang kami [hanya dengan 10% keyakinan kalau kapal tetap akan berangkat], kami lihat keluar, arus laut lumayan deras...

Sesampainya di pelabuhan, kami mencari Bafith dan Gery yang sudah lebih dahulu berada disana. Eh... ternyata "POSITIF TIDAK BERANGKAT". Ughhhhhh.... bete nggak tuw... ngeselin banget deh...

Bukan apa-apa, tidak enak juga sama Oom Nano yang sudah berbaik hati mengantarkan kami [lha wong jelas-jelas cuaca sedang buruk lho ya... hampir impossible kalau Cendrawasih bakal berangkat].

Haduuhhh... dan ternyata dari siang itu, sinyal udah bisa, tapi kenapa tidak ada pemberitahuan dari ABK-nya [terutama Pak M itu]. ABK yang lain bilang kalau sebenarnya dari hari Senin itu sudah santer kalau Cendrawasih tidak jadi berangkat, tapi si Pak M tetep meyakinkan kalau Cendrawasih tetap berangkat, bahkan minta DP pula...]

Kami bengong di-dermaga. Dont know what to do... Obat-obat sudah berada diatas kapal. Sayang untuk diturunkan. Tapi... ternyata jadwal Cendrawasih berangkat ke Numfor lagi itu tanggal 15 januari, seminggu lagi!

Wahhh... beraaatttt... sementara tidak ada info kapal perintis lain yang akan berangkat. Pilihannya ya tetap naik Cendrawasih atau naik pesawat Twin Otter. Ya suuu... Dua-duanya juag tidak bisa dijaga-in dalam kondisi seperti ini, semua tergantung cuaca. Ya akhirnya, aku, Mela, dan mbak Heny sepakat naik Twin Otter minggu depan. Oke lah kena charge over baggage, tapi yang penting sampai ke Numfor. Tidak enak juga meninggalkan pasien lama-lama

Soal obat?Haduuhhh... ini yang jadi masalah. Masih bingung juga, mau dikembalikan ke Gudang Farmasi atau tetap dibawa ke Numfor. Untuk Pkm Mandori dan Yemburwo aku nggak tau, tapi kemarin kami sudah menghubungi Kapuskes, sarannya cairan infus dan sirup multivitamin tetap dibawa ke Numfor, charge over baggage-nya nanti ditanggung Puskesmas [Kapus-ku oke kan...] karena tidak ada biaya distribusi obat dari Gudang Farmasi [aneh juga ya...]

So... sepertinya kami akan pulang ke Numfor naik Twin Otter dengan membawa segambreng dos cairan infus dan obat-obatan [belum lagi bawaan kami yang buanyaaakkk sekali itu]...



Yahhh... spend another day in Biak deh
Im already miss Numfor, miss Kameri, kangen kerja n puskel juga...

Semoga minggu depan kami bisa pulang ke Numfor.

Present and Later



Tak terasa tahun 2007 sudah dijalani dengan cepat
:)

Apa yang sudah terjadi padaku?

Banyak hal... the expected one and also the unexpected...
Tapi apapun itu, semuanya patut disyukuri, karena kronologis dari hal-hal itulah yang membuatku berada disini [secara harfiah dan juga non harfiah]. And it makes me become "the present Luluch"

Well, setelah 2 kali gagal PTT, aku tidak berharap banyak. Tak pernah juga terbayangkan kalau aku bisa menginjak tanah Papua.

Tapi, pada hari ini, aku bisa merasakan nikmatnya "live your life to the fullest"

I do it

Bisa PTT, mendapat kesempatan pergi ke Papua, tinggal di Numfor dan di Biak. Bepergian mengunjungi tempat-tempat yang baru dan eksotik, mendapat kesempatan menjalani hidup dan bekerja di tempat yang berbeda kultur dan kondisinya dnegan Jawa. Wowww... I really-really appreciate it well. So Thanks God...

Its so beyond expectation... Bila segala sesuatu terjadi melebihi perkiraan atau harapan, it boosts up my spirit, membuatku percaya diri akan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

So... Whats next?Harapan dan keinginan di tahun 2008?

Oke...
1. tetap beruntung dan sukses disegala hal :)
2. Selesai PTT di bulan April
3. Kerja di Perusahaan dengan gaji guedeee buat modal skul n buat usaha, n bantu2 ortu
4. Ikutan Kursus ATLS, EKG, tes TOEFL
5. Isa masuk PPDS Interna or Cardio Unair tahun ini
6. N of course... Married :)

Amiiiiiiinnnnn...

Doain ya... semoga semuanya kesampaian

Wish u all gud luck too...

Saribi Harbour



Saribi ialah satu-satunya pelabuhan di pulau Numfor. Pelabuhan [dermaga] Saribi ini berada di dekat desa Saribi, dulunya termasuk dalam wilayah distrik Numfor Barat, sekarang mungkin sudah masuk ke dalam wilayah distrik yang baru diresmikan, Distrik Saribi.

Saribi dapat ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam dari Kameri dengan kendaraan bermotor. Jalan menuju ke Saribi bagus, beraspal namun berkelok-kelok melewati perkampungan dan hutan-hutan. Saribi berada didekat bukit, sehingga pemandangan saat kita akan turun ke dermaga yang panjangnya sekitar 100 meter ini sangatlah indah.

Pelabuhan ini merupakan tempat berlabuh kapal-kapal dari Manokwari maupun dari Biak. Merupakan salah satu tempat akses keluar dan masuk Numfor via kapal. Tapi pelabuhan ini sehari-harinya sepi. Walaupun ada 2 bangunan yang cukup megah disini, tapi bangunan ini sepi, tidak tampak aktivitas kantor [yang mengelola kan harusnya DinHub?]

Jadwal kapal rata-rata tidak pasti. Setahuku jadwal kapal yang pasti [sudah ada jadwal sebulan, untuk Biak-Numfor-Biak] hanyalah kapal Cendrawasih. Untuk kapal-kapal perintis seperti kapal besar Yapwairon [paling terbaru dan terbesar], Papua Lima dan Papua Satu tidak pasti. Kita harus menghubungi Biak atau Manokwari dulu untuk mengetahui kapan kapal tersebut merapat ke Numfor.

Dengan kondisi transportasi di Numfor yang lumayan susah, agak sulit juga bagi penduduk untuk datang ke pelabuhan Bila tidak punya kendaraan pribadi, harus jalan kaki dari desa mereka tinggal, kalau cukup beruntung, bisa mendapat tumpangan di tepi jalan.



Begitu ada kabar kapal datang, mereka akan berbondong-bondong datang ke pelabuhan. Dan bukan hanya penduduk yang hendak bepergian ke kota. Tapi juga para nelayan dan mama-mama yang hendak berjualan. Akan nampak aktivitas ekonomi di pelabuhan ini pada saat itu.

Para nelayan akan melaut sejak pagi hari. Begitu kapal datang, mereka akan segera pergi ke darat dengan membawa ikan-ikan segar hasil tangkapan mereka [kadang juga gurita dan lobster], kemudian dijajakan di pinggir dermaga. Cara berjualan mereka sangatlah sederhana. Ikan-ikan itu dikelompokkan dalam ikatan-ikatan [1 ikatan terdiri dari 5-7 ikan ukuran sedang, atau 2 ikan ukuran besar, atau campuran], per ikat dijual seharga 10.000 Rp, pas! Tidak boleh ditawar.

Harga ikan itu murah! Karena di Biak, ikan dijual dengan hitungan per-ekor atau per kilogram, dan harganya jauh lebih mahal daripada di Numfor. Ikannya segar-segar, fresh from the sea, menyenangkan untuk dipandang [apalagi jenis ikan kakatua yang berwarna-warni], dan juga sangatlah sedap bisa dimasak [favoritku ialah ikan samandar, dagingnya sangat kenyal dan lezat].

Selain membawa ikan, kadang-kadang nelayan ini membawa bunga-bunga anggrek yang ditemukan di pinggir pantai. Anggrek-anggrek liar ini dapat ditemukan hampir diseluruh Numfor, terutama di hutan-hutannya. Semuanya indah-indah, macamnya ialah anggrek kuning, anggrek macan, anggrek daun bulat, anggrek daun kelinci. Cantik-cantik!

Sedangkan mama-mama berjualan berbagai jenis makanan, minuman dan tentu saja… pinang!. Mereka menggelar meja-meja dengan dagangan mereka. Rata-rata berjualan 1 paket ketupat-ikan.



Apa sih paket ketupat-ikan?? Well, “paket makan” ini terdiri dari 3 ketupat [ketupat nasi kuning] dengan lauk ikan bakar atau ikan goreng, kadang ada pula yang menjual ketupat + sayur daun papaya, atau ketupat + masakan gurita, atau ketupat + masakan bia-bia [kerang]. Sama dengan harga ikan, untuk menikmati 1 paket ketupat ini kita harus merogoh kocek sebesar 10.000 rupiah. Sangat murah dan mengenyangkan!

Aku sudah pernah mencoba, walau tentu saja 3 ketupat itu terlalu banyak bila dimakan sendiri. Ikannya sangat enak, sepertinya dimasak dengan bumbu yang cukup banyak. Lumayan deh buat pengganjal perut saat menunggu di kapal maupun dalam perjalanan di kapal. Tapi soal kebersihan, waduh… tanggung sendiri ya  U should try this…



Pemandangan di dermaga Saribi sendiri sangatlah indah. Ada gradasi warna air laut mulai dari hijau, tosca, biru terang sampai biru yang sangaaaaattttt biru. Terus disekitarnya banyak terdapat pulau-pulau karang kecil. Sangat cantik dan eksotis.

Dari Saribi kita dapat memandang pulau-pulau dikejauhan. Pulau Meosnum dan kawan-kawan yang masuk daerah kabupaten Yapen-Waropen. Very pretty!!

Trus ada daerah tak berpenduduk disebelah kanan dermaga Saribi. Tapi ada semacam tempat landasan untuk menurunkan muatan drum-drum aspal atau peralatan berat. Katanya ini dulu merupakan bekas pangkalan tentara Jepang. Banyak sekali terdapat goa-goa karang disekitarnya. Aku sempat menyusuri pantai yang ga, sebelah sin. Seru sekali, naik perahu ber-semang 1 [cadik], yang sangat keciiiilllll, cukup bikin deg-deg an deh.

Air lautnya sangat jernih sekali, sehingga kita dapat langsung melihat ke dasar laut, melihat terumbu karang yang cantik-cantik, berbagai jenis ikan, mulai dari yang besar sampai yang kecil, bintang laut, dll. Puas dehhh… Terus menyusuri pinggiran Saribi ini, yang masih berupa hutan-hutan dan goa-goa karang. Katanya dulu tentara-tentara Jepang ini banyak yang bersembunyi di goa-goa ini. Dan ketika diserbu Sekutu, mereka meninggal dalam goa-goa ini dan sampai sekarang pun sisa-sisa jasadnya masih ada disana. Suasananya cukup menyeramkan…



Oh ya. Sebagai dermaga, tentu saja paling tidak kedalaman airnya cukup memungkinkan sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal besar, at least 20-30 meteran. Woww… Bila kita berdiri di dermaga dan melihat kebawah, akan banyak melihat ikan-ikan berseliweran. Karena itu, Saribi juga terkenal sebagai tempat untuk memancing. Wuihhh… Cuma berbekal gulungan benang [Cuma diikat dibekas botol minuman], dengan mata kail plus umpan, udah deh… bisa mancing sepuasnya!!

Orang-orang pun sering main di Saribi untuk sekedar mandi-mandi dan berenang. Karena memang tempatnya sangat asyik dan nyaman. Aku sih belum berani mandi-mandi. Secaranya… Saribi kan cukup dalam, sementara skill berenangku cukup mengkhawatirkan. Jadi ya… nunggu pelampung dulu hehehe

Jadi, kalau mau main ke Numfor... main juga ke Saribi... terlalu menarik untuk dilewatkan :)

Flickr - Photo From Biak - Numfor

See my flickr here...

flickr

Happy new year!Welcome Lucks-Lucks-Lucks!!



Ini Steven, Mbak heny, aku, n Mela, trus yang didepan tuh Oom Nano [menggendong Rayhan, cucunya], bersama istrinya, Tante Atik

Selamat Tahun Baru 2008!!

Wewww... ini untuk pertama kalinya aku merayakan Tahun Baru di luar Jawa. Tapi tak dinyana, its so exciting!

Dan sepertinya di tahun 2008 ini aku akan sangat beruntung [hope so :D pake metode "Secret" hehehe -->Rhonda Byrne's Book], karena... aku mengawali tahun 2008 dengan keberuntungan-keberuntungan :)

Kami memang sengaja turun ke Biak untuk merayakan Tahun Baru. Semula bingung acaranya mau gimana, ke pantai kah?bakar-bakar ikan gitu... or jalan muter saja...

Tapi, ternyata Oom Nano mengajak kami ber 6 [aku, Mela, Mbak Henny, Betty,Gery dan Steven] untuk ikut acara Tahun Baru-an Garuda di hotel Intsia. Well, tentu saja kami langsung bilang oke!

Jam 20.30 WIT, kami sudah siap-siap dan berangkat ke Intsia. Masih sepi... Kemudian Betty dan Kak Pur [dr Purnama] datang seusai acara Kebaktian. Dan tamu-tamu lainnya mulai berdatangan setelah jam 21.30 WIT, kebanyakan kan non muslim, jadi rupanya mereka mengikuti acara kebaktian dulu...



[ki-ka ; Betty, Kak Pur, Luluch, Mela, Mbak Henny]

Acara dimulai jam 22.30 WIT, yah... ada berbagai macam sambutan n nyanyi-nyanyi gitu deh... Trus ada acara tukar kado. Walaupun diundi, lucunya ada beberapa dari kami mendapat kado kami sendiri hehe... :P Aku sendiri dapet jam beker [lumayaaannn...]

Trus... ada acara kuis, nyebutin siapa nama GM Garuda Biak. Wah... langsung deh aku angkat tangan!! Jawabanku benar!! Dapat hadiah lagi dehhh... [isinya tas wanita hehe]

Si Mela juga ikutan kuis tuh... dia juga dapat hadiah!hmmm, agak berat... kira-kira apa ya isinya... Eh setelah dibuka, dapat setrika!!! Lumayan kan...

Ada juga game... Aku, Mela, Gery n Betty ikutan game "mumi tisu". Aku jadi probandus mumi, jadi dililitin tisu gulung gitu deh... Banyak-banyakan gulungan... Tapi ga mudah, habisnya tisunya gampang robek... Akhirnya tim satunya yang menang, tapi kami tetap mendapat hadiah... [kali ini aku mendapat ikat pinggang hohoho]

Oh ya diawal-awal datang, kami diminta mengisi buku tamu. Kata Oom Nano ada grand door prize tiket Garuda Biak-Jkt PP, n tiket Biak-Jyp PP, serta voucher menginap di hotel Irian. Wah... udah sibuk berdo'a gitu... Pengen pulang!!Muga-muga dapet Tiket Biak-Jkt, kan lumayan tuhh... minimal kan 3,2 juta tuh nilainya... Asyik kan pulang gratissss... Anak-anak juga pada sibuk ngributin klo mereka yang bakal dapet doorprize-nya [hihihihi :D]

Menjelang detik-detik pergantian Tahun... Door prize diundi. Door prize yang pertama kali ekluar tuh tiket Garuda Biak-Jyp PP. nama yang keluar tuh Bp Suprawoto, Pemcab-nya Mandiri Biak, karena beliau sudah pulang, so batal dong... Trus diundi lagi, kali ini yang ngambil undian Oom Nano... Tebak siapa yang dapat????

Yap Yap Yap... No undian 04!! dr Luluch!!

Fufufufu... Im so happy... [yah, kecewa dikit siiihhh... kan pengennya yang tiket Biak-Jkt PP hehehe]. Wah... sungguh-sungguh sangat senang sekaliii... jadi waktu disuruh naik ke panggung dan berjalan bak peragawati ya oke-oke aja hehehe...

Rupanya yang hoki-nya sedang gede tuh aku sama Mela, Mela pun dapat door prize voucher menginap di Hotel Irian. Yippie...!!Asyik-asyik-asyik... [tapi ga enak juga, dokter mulu yang sering tampil ke depan hehehe]

Yang beruntung mendapatkan tiket Biak-Jkt PP tuh Bp Suhartoto. Waktu aku minta tukar [ntar kutambahin gitu], eh beliau tidak mau "saya mau minta cuti, mau main sekalian dok"

Walah...

eh, tiba-tiba terompet dibagi... Langsung deh... pada toet-toet-toeeetttttt... kenceng...

Jeleger-jeleger petasan sudah terdengar... Kami lantas keluar, wow... dilangit indah sekali... pesta kembang api tak henti-henti... sampai udara berbau khas petasan...

Woww!!benar-benar Tahun Baru yang menyenangkan :)

Kami pulang ke rumah jam 01.30 WIT

capek sekali... tapi sangat gembira, kami pulang dengan tersenyum ceria dan tentu saja sambil membawa banyak hadiah

Wonderful day!!

Semoga Tahun Baru ini membawa kebahagian bagi semua...

Sekali lagi, Happy New Year, Wish you all the best in your life...