Batal Pulang Sesi Kedua



Pagi ini cerah sekaliiii...

Well, aku berharap cerahnya tuh pas kemarin sih... so aku bisa kembali ke Numfor...

get it?
Yap yap yap...
Aku ga jadi pulang ke Numfor kemarin. Sedianya, kami berempat [Aku, Bafith, Mela dan Mbak Heny] akan kembali ke Numfor naik kapal Cendrawasih. Well, itu satu-satunya kapal yang kita ketahui jadwal keberangkatannya, karena kapal perintis lain belum keluar jadwal layarnya, sementara itu cuaca juga sangat buruk sekali...

Untuk naik pesawat, pikir-pikir juga... pesawatnya kan kecil sekali, sementara angin sedang kencang-kencangnya, lagipula kami membawa ber dus-dus persediaan bahan makanan dan juga puluhan karton obat.

Yap... kemarin anfrah obat, tepatnya sih minta cairan infus, karena persediaan cairan di kameri sudah nihil... Karena dari awal kami berencana pulang naik kapal [tidak ada charge untuk overbaggage tho], maka kami berencana untuk sekalian membawa berdos-dos cairan itu... Eh ternyata, Gudang farmasi juga sekaligus nitipin obat-obat dan alkes, tidak hanya untuk pkm Kameri, tapi sekaligus nitip untuk PKm Yemburwo dan Mandori, total ada 25 dos, besar dan kecil.

Well, berat juga kan?

Sebenarnya sih tidak masalah kalau Cendrawasih jadi berangkat, kami berencana menyewa kamar, bahkan Bafith sudah membayar DP-nya ke Pak M. Waktu itu kami datang ke Pelabuhan Mokmer [tempat berlabuhnya kapal fery ASDP, kalau kapal perintis berlabuh di Pelabuhan Biak Kota], pak M tu meyakinkan kalau si Cendrawasih ini tetap berangkat tanggal 8 Januari, padahal mulai dari hari Senin tuh cuaca sudah ga bagus, really-really unpredictable

Hampir mirip dnegan kejadian yang kualami pada waktu Idul Adha. Hari Selasa, mulai dari dini hari, hujan tiada henti, sangat-sangat deras disertai angin kencang... sebenarnya sudah hopeless kalau kapal tetap akan berangkat. Sementara itu, awak kapal Cendrawasih tidak bisa dihubungi,sedang tidak ada sinyal di Mokmer [BTS di Bosnik sempat trouble].

Kami tetap bersiap-siap. Sampai sore masih hujan terus... Semangat kami sudah lenyap. Apalagi sebelumnya aku di-sms paman [Kapus-ku] : "Boleh ikut kapal feri tapi cuaca krg bgs angin smakin kencang tdk mau brhnti. Apa lg kplnya tdk cpt larinya. tlg timbang dulu oke?"

Waaa...sudah tentu tambah tidak berminat untuk pulang. Tapi berdos-dos obat itu sudah terlanjur diletakkan diatas kapal... Sudah keluar uang untuk DP dan ongkos angkut obat 250rb, sayang kalau ditinggal begitu saja, lagipula tidak ada kapal lain yang akan berangkat dalam waktu dekat.

Aku memang sebenarnya cepat ingin kembali ke Numfor. Soalnya pkm sedang kosong, dan terlalu lama kami libur [bukan sengaja, tapi memang tidak ada transportasi dan cuaca emmang tidak mendukung], kasihan juga ma pasien-pasien di Kameri.



So, akhirnya kami tetap berangkat ke Mokmer bersama barang-barang kami [hanya dengan 10% keyakinan kalau kapal tetap akan berangkat], kami lihat keluar, arus laut lumayan deras...

Sesampainya di pelabuhan, kami mencari Bafith dan Gery yang sudah lebih dahulu berada disana. Eh... ternyata "POSITIF TIDAK BERANGKAT". Ughhhhhh.... bete nggak tuw... ngeselin banget deh...

Bukan apa-apa, tidak enak juga sama Oom Nano yang sudah berbaik hati mengantarkan kami [lha wong jelas-jelas cuaca sedang buruk lho ya... hampir impossible kalau Cendrawasih bakal berangkat].

Haduuhhh... dan ternyata dari siang itu, sinyal udah bisa, tapi kenapa tidak ada pemberitahuan dari ABK-nya [terutama Pak M itu]. ABK yang lain bilang kalau sebenarnya dari hari Senin itu sudah santer kalau Cendrawasih tidak jadi berangkat, tapi si Pak M tetep meyakinkan kalau Cendrawasih tetap berangkat, bahkan minta DP pula...]

Kami bengong di-dermaga. Dont know what to do... Obat-obat sudah berada diatas kapal. Sayang untuk diturunkan. Tapi... ternyata jadwal Cendrawasih berangkat ke Numfor lagi itu tanggal 15 januari, seminggu lagi!

Wahhh... beraaatttt... sementara tidak ada info kapal perintis lain yang akan berangkat. Pilihannya ya tetap naik Cendrawasih atau naik pesawat Twin Otter. Ya suuu... Dua-duanya juag tidak bisa dijaga-in dalam kondisi seperti ini, semua tergantung cuaca. Ya akhirnya, aku, Mela, dan mbak Heny sepakat naik Twin Otter minggu depan. Oke lah kena charge over baggage, tapi yang penting sampai ke Numfor. Tidak enak juga meninggalkan pasien lama-lama

Soal obat?Haduuhhh... ini yang jadi masalah. Masih bingung juga, mau dikembalikan ke Gudang Farmasi atau tetap dibawa ke Numfor. Untuk Pkm Mandori dan Yemburwo aku nggak tau, tapi kemarin kami sudah menghubungi Kapuskes, sarannya cairan infus dan sirup multivitamin tetap dibawa ke Numfor, charge over baggage-nya nanti ditanggung Puskesmas [Kapus-ku oke kan...] karena tidak ada biaya distribusi obat dari Gudang Farmasi [aneh juga ya...]

So... sepertinya kami akan pulang ke Numfor naik Twin Otter dengan membawa segambreng dos cairan infus dan obat-obatan [belum lagi bawaan kami yang buanyaaakkk sekali itu]...



Yahhh... spend another day in Biak deh
Im already miss Numfor, miss Kameri, kangen kerja n puskel juga...

Semoga minggu depan kami bisa pulang ke Numfor.

0 Comments:

Post a Comment