Gagal Pulang Ke 4 x nya

Masih di Biak

Sudah ke 4 kalinya kami gagal pulang ke Numfor. Yang pertama, harusnya kami naik kapal feri Cendrawasih, tapi karena cuaca buruk, pelayaran dibatalkan [kami hepi sekali]. Pelayaran dijadwalkan Selasa minggu depannya

Kami masih mengandalkan Cendrawasih, tapi juga booking pesawat Twin Otter [cadangan], sementara info tentang kapal perintis lain belum ada. Selasa kemarin, kami sudah bersiap-siap, tapi kemudian Bafith datang, memberitahukan kalau Cendrawasih lagi-lagi membatalkan pelayaran. Ada bagian yang rusak, sementara suku cadangnya belum datang juga. Jadi walaupun keadaan cuaca saat itu sedag bagus, kami tetap tidak bisa berlayar [masih sedikit senang]

Hari Rabu, dr Ari kembali ke Numfor naik Twin Otter. Kami baru dapat booking untuk penerbangan tanggal 23. Terlalu lama... Kami berencana datang ke kantor Merpati langsung untuk menanyakan apakah ada penerbangan ekstra, atau setidaknya salah satu dari kami bisa berangkat tanggal 21.

Kami [aku, mela dan Mbak Heny] pergi ke kantor Merpati di bandara. Awalnya menemui frontliner, Ibu I, yang agak kurang ramah

"Maaf ibu, kami mau booking Twin Otter"
"Sudah penuh, baru ada nanti bulan baru" jawabnya dengan ketus. Kami bertiga slaing pandang, heran. Soalnya Bafith bilang, kami sudah booking untuk tanggal 23.

Kami terdiam, kemudian ada Pak B yang menanyakan pada kami "ada apa mbak?

"Begini pak, kami dokter dari Numfor, hendak kembali ke Numfor. dari kemarin kami batal pulang karena kapal tidak ada. Tapi kami baru dapat booking tanggal 23, sementara sekarang disana tidak ada dokter. Bisa nggak ada kepastian keberangkatan kami tanggal 23. Atau lebih baik lagi bila ada salah satu yang bisa berangkat tanggal 21"

"Sebentar saya lihat dulu" Kemudian Pak Bahar meminta buku Numfor dari Ibu I, dibukalah daftar calon penumpang didepan kami. Ya, kami tercatat dalam daftar penumpang untuk penerbangan tanggal 23.

"Ini pak, nama kami berempat. kalau bisa, kami harap salah satu dari kami bisa berangkat Senin depan"

"oke.. Sebentar saya usahakan", kemudian sambungnya lagi "Oh ya, kalau ada satu seat kosong hari ini, ada yang bersedia berangkat?"

Kami saling pandang, kami belum bersiap-siap. Akhirnya aku berkata "Oke, saya saja pak yang berangkat"

"Baik, silahkan tunggu, saya usahakan ya"

Kami duduk, kemudian berunding. "Gimana nih?aku yang berangkat atau Bafith ya?" tanyaku

"Tanya Bafith aja dulu"

Aku menelpon Bafith "Fith, aku di bandara nih, tadi ngomong ma pak Bahar, kemungkinan bisa ada 1 yang berangkat. Tapi belum pasti sih, so, yang berangkat aku pa kamu?"

"Bisa aja sih aku yang berangkat. Tapi siapa yang mau mengurusi obat [obat-obatan kami yang masih tertinggal di kapal Cendrawasih]. Kamu mau ngurusi obat di Mokmer?nelpon pak Jon Li n ngasi tahu Glaser juga?"

Aku berpikir, wah repot juga, aku nggak ada kendaraan juga "Aduh, aku ga ada kendaraan tuh, repot kalau ngurusin obat. yaudah deh aku aja yang siap-siap berangkat"

Akhirnya aku keluar dan langsung men-stop ojek untuk pulang mengambil barang. Tergesa-gesa aku kemabli lagi ke bandara, menemui teman-temanku yang menunggu disana. "Gimana?"

"Sedang diusahakan, kita disuruh menunggu" jawab Mela.

Kami duduk saja di kursi tamu didepan sales station. Kemudian ada petugas Merpati yang menganjurkan kami berbicara dengan Ibu I, katanya dia yang mengurusi penerbangan ke Numfor.

Kami bertanya lagi ke Ibu I, dia bilang "Untuk hari sudah penuh. Tidak bisa lagi", nadanya ketus. Akhirnya kami duduk kembali sambil menunggu kabar dari Pak Bahar.

Kemudian, tiba-tiba Oom Nano masuk, menyapa kami "gimana, dapat nggak?"

"Sedang nungguin Oom". Ibu I yang melihat kami berbincang akrab dengan Oom Nano, iba-tiba2 berkata "saya sudah bilang kalau pesawat sudah penuh, tapi mereka tidak mau dengar dan ..."

Haiyyyaa... membela diri...

Kemudian Pak Bahar datang "maaf ya, pesawat sudah penuh, load-nya tinggal 23 kg. Tadi sebenanya amsih bias, tapi ada bu camat yang hendak kembali ke Numfor, orangtuanya disana sedang sakit"

Yahhh... kami pulang dengan kecewa. Apalagi tidak ada penerbangan ekstra untuk minggu ini. Jadi kecuali ada kapal berangkat dalam minggu ini, kami baru bisa pulang ke Numfor paling cepat Senin depan.

Setelah gagal pulang ke 3 x nya, kami semua stress, kami sudah merasa sangat tidak enak berada di Biak terlalu lama. Kami semua sudah ingin pulang ke Numfor segera, naik apapun, kapal Bintang 23 yang kecil itu, bahkan naik Johnson pun kami rela.

Hari Kamis kemarin, sore hari tiba2 Pak Aho menelpon Bafith, memberitahu kalau kapal Bintang 23 akan berangkat ke Numfor jam 8 malam. Kami sepakat untuk berangkat naik kapal Bintang 23 akhirnya, yang penting kembali ke Numfor secepatnya.

Sore itu aku dan bafith bersama pak Aho dan mbak Rani berangkat ke Mokmer mengambil cairan infus dan obat di Cendrawasih. Kami sampai di pelabuhan tempat Bintang 23 bersandar sekitar jam 18.00 WIT.

Penumpang sudah cukup banyak, karena ini kapal perintis pertama yang berangkat ke Numfor bulan ini. Kapalnya sendiri kecil, tidak sebesar Yapwairon ataupun Papua Lima. Panjangnya sekitar 18 meter, dan di badan kapal ada tempat duduk seperti "amben" besi yang besar, sebagai tempat duduk dan tempat barang [tidak berupa kursi-kursi seperti kapal feri]. Tempat duduk ini cuma ditutupi terpal diatasnya. Kalau terkena hujan atau ombak besar, basah!

Ada pula kamar-kamar ABK yang disewakan, tapi harganya cukup mahal.

Kami memasukkan barang-barang kami [dibantu pak hans, Kapuskes Mandori], total ada 9 dus berisi cairan, dan barang-barang kami, begitu juga dengan jeriken berisi bensin dan minyak tanah [kata pak Simson, Kapuskes kami, bensin dan minyak tanah di Numfor "hampir punah"].

Dengan bantuan pak Hans, kami mendapat 1 kamar [entah bagaimana, tapi gratis]. Kamar itu sangat sempit. Hanya berukuran 2 x 1,5 meter dengan tempat tidur susun. Kami meletakkkan tas-tas disitu.

Kapal berangkat jam 20.20 WIT. Cuaca teduh. Menurut ABK, Bintang 23 akan sampai di Numfor besok paginya jam 7-8 WIT. Saat itu kami sudah senang, karena bisa kembali ke Numfor. Walaupun harus naik Bintang 23 yang sebelumnya sangat kami hindari [terus terang, sebenarnya sangat ngeri menaiki kapal ini ditengah Samudra Pasifik].

Banyak penumpang yang ikut, antara lain guru SMP 1 Kansai, keluarga Kapolsek Numfor Barat, dll. Pokoknya semua orang yang terpaksa terperangkap di Biak karena tidak ada kapal ke Numfor sebelumnya. Semua senasib.

1 jam pertama, semua lancar-lancar saja. Kapal berjalan sangat pelan, sehingga kami masih bisa mendapat sinyal walau ditengah laut, kerlap-kerlip lampu di pinggir pelabuhan pun masih nampak. Karena kapal kecil, mudah sekali oleng, rasanya seperti terayun-ayun dilaut [beda sekali dengan naik Yapwairon yang besaaaarrrr]

Kami bercanda, kalau kapal tenggelam, kami punya pelampung sendiri [iya, kami jaga-jaga dengan membawa pelampung sendiri]. Pak guru bilang, dia juga sudah siap dengan mebawa 2 jeriken [beliau juga khawatir, karena ini pengalaman pertama-nya naik Bintang 23]

Sekitar jam 11.10 WIT, tiba-tiba angin kencang... Wusss... Wusss... Wuussss... Aku yang saat itu berada di kamar, bisa merasakan ombak dan hujan deras yang menghantam kapal. Mela dan Mbak Heny sudah terdiam. Tiba-tiba Bafith datang ke kamar, "diluar hujan deras, basah"

Kami terdiam didalam kamar. Tiba-tiba ada orang berlari "Kapal kembali ke Biak!"

Kami saling pandang, mengira itu hanyalah candaan ABK. Tapi kemudian pak Kapolsek lewat dan juga meneriakkan hal sama. Akhirnya pada pukul 11.30 WIT, kapal berputar kembali. Saat kapal berputar, goyangan kapal sangat terasa, begitu pula ombak yang menghantam kapal. Kata Bafith, saat itu, orang-orang yang berada diatas dek berteriak, karena terkena ombak besar. Bintang 23 itu setinggi 6-7 meteran, bila ombak sampai mengenai dek ke 2, paling tidak, ombak itu setinggi 3-4 meter. Cukup mengerikan kan...

Ketika aku berjalan keluar kamar, kulihat penumpang yang bertampang ecewa sekaligus lega. Kecewa karena tidak segera dapat kembali ke Numfor, lega karena kapal tidak jadi mengarungi lautan yang cuacanya sedang ganas.

Diluar angin menderu-deru, hujan, dan sesekali kilat menyambar. Aku melihat ke tumpukan kardus-kardus kami, ada yang basah! rupanya tadi ombak sempat masuk ke kapal dan mengenai beberapa kardus kami.

Ketika kami mendapat sinyal lagi, aku langsung menghubungi pak Simson, memberi tahu bahwa kapal Bintang 23 kembali lagi ke Biak, jadi kami tidak bisa kembali ke Numfor.

Sesampainya di Pelabuhan Biak lagi, sudah ada pak Hans yang menunggu kami. Beliau membantu mengeluarkan barang-barang kami dan berjanji mengurus kardus-kardus obat dan sebagian barang kami untuk dinaikkan ke Papua Lima yang mempunyai jadwal berangkat Sabtu besok.

Sepertinya muka kami terlihat sangat memelas. Karena kami hanya diam saja begitu turun dari kapal. Campur aduk, sangat kesal karena tidak dapat pergi ke Numfor [tambah stress lagi], sebagian pula lega, karena kami terhindar dari ganasnya Samudra Pasifik.

Cuaca saat itu masih cukup cerah, walaupun masih ada sisa hujan. Sesaat setelah kami pulang ke kontrakan, tiba-tiba angin berhembus kencang, hujan turus sangat deras dan kilat menyambar. Kami lega, karena kami sudah berada di darat saat itu. Entah bagaimana nasib kami bila nakhoda tetap nekat mengarungi lautan dalam cuaca seprti itu [yah, mungkin hanya bisa banyak-banyak berdoa saja].

Gagal pulang 4 kali... well, ternyata aku mengalami kejadian yang lebih parah daripada pengalaman saat hendak kembali ke Biak. Kalau di Numfor dulu, kami menunggui Yapwairon yang batal berangkat selama 10 jam, tak ada sinyal pula. Tapi kali ini kami sudah 2 jam dalma perjalanan ditengah laut, tapi harus kembali lagi. Cukup seru... Inilah yang namanya PTT :>

Kami memeutuskan untuk ikut Papua Lima bila jadi berangkat Sabtu ini, dan pesawat sebagai cadangan ke 2. tapi tadi pagi, pak Lodik dari merpati Numfor mengabari kami kalau Sabtu pagi ada pesawat carteran yang hendak ke Numfor, beliau menawarkan untuk mengusahakan kami bsia pulang ke NUmfor dengan menumpang pesawat itu. Aku tadi menghubungi beliau lagi, tapi belum tahu kepastiannya.

yah... hanya bisa berharap, Sabtu ini kami bisa kembali, entah naik pesawat ataupun Papua Lima.

Doakan ya...

2 Comments:

  1. Andri Kusuma Harmaya said...
    Luch,km beli pancing aja...trus mancing di pelabuhan sambil nunggu kapal datang...Kalo dapet ikan kan lumayan,bisa buat lauk sesampainya di Numfor ntar...Hakhakhak.... ^_^
    Luluch The Cinnamon said...
    enak aja... ngapain repot... tinggal beli aja hehe :P

    pilih PTT mana Ndri akhirnya?

Post a Comment