Saribi Harbour



Saribi ialah satu-satunya pelabuhan di pulau Numfor. Pelabuhan [dermaga] Saribi ini berada di dekat desa Saribi, dulunya termasuk dalam wilayah distrik Numfor Barat, sekarang mungkin sudah masuk ke dalam wilayah distrik yang baru diresmikan, Distrik Saribi.

Saribi dapat ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam dari Kameri dengan kendaraan bermotor. Jalan menuju ke Saribi bagus, beraspal namun berkelok-kelok melewati perkampungan dan hutan-hutan. Saribi berada didekat bukit, sehingga pemandangan saat kita akan turun ke dermaga yang panjangnya sekitar 100 meter ini sangatlah indah.

Pelabuhan ini merupakan tempat berlabuh kapal-kapal dari Manokwari maupun dari Biak. Merupakan salah satu tempat akses keluar dan masuk Numfor via kapal. Tapi pelabuhan ini sehari-harinya sepi. Walaupun ada 2 bangunan yang cukup megah disini, tapi bangunan ini sepi, tidak tampak aktivitas kantor [yang mengelola kan harusnya DinHub?]

Jadwal kapal rata-rata tidak pasti. Setahuku jadwal kapal yang pasti [sudah ada jadwal sebulan, untuk Biak-Numfor-Biak] hanyalah kapal Cendrawasih. Untuk kapal-kapal perintis seperti kapal besar Yapwairon [paling terbaru dan terbesar], Papua Lima dan Papua Satu tidak pasti. Kita harus menghubungi Biak atau Manokwari dulu untuk mengetahui kapan kapal tersebut merapat ke Numfor.

Dengan kondisi transportasi di Numfor yang lumayan susah, agak sulit juga bagi penduduk untuk datang ke pelabuhan Bila tidak punya kendaraan pribadi, harus jalan kaki dari desa mereka tinggal, kalau cukup beruntung, bisa mendapat tumpangan di tepi jalan.



Begitu ada kabar kapal datang, mereka akan berbondong-bondong datang ke pelabuhan. Dan bukan hanya penduduk yang hendak bepergian ke kota. Tapi juga para nelayan dan mama-mama yang hendak berjualan. Akan nampak aktivitas ekonomi di pelabuhan ini pada saat itu.

Para nelayan akan melaut sejak pagi hari. Begitu kapal datang, mereka akan segera pergi ke darat dengan membawa ikan-ikan segar hasil tangkapan mereka [kadang juga gurita dan lobster], kemudian dijajakan di pinggir dermaga. Cara berjualan mereka sangatlah sederhana. Ikan-ikan itu dikelompokkan dalam ikatan-ikatan [1 ikatan terdiri dari 5-7 ikan ukuran sedang, atau 2 ikan ukuran besar, atau campuran], per ikat dijual seharga 10.000 Rp, pas! Tidak boleh ditawar.

Harga ikan itu murah! Karena di Biak, ikan dijual dengan hitungan per-ekor atau per kilogram, dan harganya jauh lebih mahal daripada di Numfor. Ikannya segar-segar, fresh from the sea, menyenangkan untuk dipandang [apalagi jenis ikan kakatua yang berwarna-warni], dan juga sangatlah sedap bisa dimasak [favoritku ialah ikan samandar, dagingnya sangat kenyal dan lezat].

Selain membawa ikan, kadang-kadang nelayan ini membawa bunga-bunga anggrek yang ditemukan di pinggir pantai. Anggrek-anggrek liar ini dapat ditemukan hampir diseluruh Numfor, terutama di hutan-hutannya. Semuanya indah-indah, macamnya ialah anggrek kuning, anggrek macan, anggrek daun bulat, anggrek daun kelinci. Cantik-cantik!

Sedangkan mama-mama berjualan berbagai jenis makanan, minuman dan tentu saja… pinang!. Mereka menggelar meja-meja dengan dagangan mereka. Rata-rata berjualan 1 paket ketupat-ikan.



Apa sih paket ketupat-ikan?? Well, “paket makan” ini terdiri dari 3 ketupat [ketupat nasi kuning] dengan lauk ikan bakar atau ikan goreng, kadang ada pula yang menjual ketupat + sayur daun papaya, atau ketupat + masakan gurita, atau ketupat + masakan bia-bia [kerang]. Sama dengan harga ikan, untuk menikmati 1 paket ketupat ini kita harus merogoh kocek sebesar 10.000 rupiah. Sangat murah dan mengenyangkan!

Aku sudah pernah mencoba, walau tentu saja 3 ketupat itu terlalu banyak bila dimakan sendiri. Ikannya sangat enak, sepertinya dimasak dengan bumbu yang cukup banyak. Lumayan deh buat pengganjal perut saat menunggu di kapal maupun dalam perjalanan di kapal. Tapi soal kebersihan, waduh… tanggung sendiri ya  U should try this…



Pemandangan di dermaga Saribi sendiri sangatlah indah. Ada gradasi warna air laut mulai dari hijau, tosca, biru terang sampai biru yang sangaaaaattttt biru. Terus disekitarnya banyak terdapat pulau-pulau karang kecil. Sangat cantik dan eksotis.

Dari Saribi kita dapat memandang pulau-pulau dikejauhan. Pulau Meosnum dan kawan-kawan yang masuk daerah kabupaten Yapen-Waropen. Very pretty!!

Trus ada daerah tak berpenduduk disebelah kanan dermaga Saribi. Tapi ada semacam tempat landasan untuk menurunkan muatan drum-drum aspal atau peralatan berat. Katanya ini dulu merupakan bekas pangkalan tentara Jepang. Banyak sekali terdapat goa-goa karang disekitarnya. Aku sempat menyusuri pantai yang ga, sebelah sin. Seru sekali, naik perahu ber-semang 1 [cadik], yang sangat keciiiilllll, cukup bikin deg-deg an deh.

Air lautnya sangat jernih sekali, sehingga kita dapat langsung melihat ke dasar laut, melihat terumbu karang yang cantik-cantik, berbagai jenis ikan, mulai dari yang besar sampai yang kecil, bintang laut, dll. Puas dehhh… Terus menyusuri pinggiran Saribi ini, yang masih berupa hutan-hutan dan goa-goa karang. Katanya dulu tentara-tentara Jepang ini banyak yang bersembunyi di goa-goa ini. Dan ketika diserbu Sekutu, mereka meninggal dalam goa-goa ini dan sampai sekarang pun sisa-sisa jasadnya masih ada disana. Suasananya cukup menyeramkan…



Oh ya. Sebagai dermaga, tentu saja paling tidak kedalaman airnya cukup memungkinkan sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal besar, at least 20-30 meteran. Woww… Bila kita berdiri di dermaga dan melihat kebawah, akan banyak melihat ikan-ikan berseliweran. Karena itu, Saribi juga terkenal sebagai tempat untuk memancing. Wuihhh… Cuma berbekal gulungan benang [Cuma diikat dibekas botol minuman], dengan mata kail plus umpan, udah deh… bisa mancing sepuasnya!!

Orang-orang pun sering main di Saribi untuk sekedar mandi-mandi dan berenang. Karena memang tempatnya sangat asyik dan nyaman. Aku sih belum berani mandi-mandi. Secaranya… Saribi kan cukup dalam, sementara skill berenangku cukup mengkhawatirkan. Jadi ya… nunggu pelampung dulu hehehe

Jadi, kalau mau main ke Numfor... main juga ke Saribi... terlalu menarik untuk dilewatkan :)

1 Comment:

  1. Andri Kusuma Harmaya said...
    Ho oh luch...Pengalaman itu penting og.Aku aj kalo misalnya diijinin ama ortu maw keliling nusantara...Taw sendiri,aku kan petualang sejati..Hehe...
    Weh luch...Married??Ama cp??Jangan lupa undang2 aku lho yak?Wakakakaka.... =)

Post a Comment