Tinea Imbrikata alias Kaskado



Ini salah satu pasienku saat puskel di Wansra

Selama di puskesmas atau saat puskel, aku sering menemukan penyakit kulit yang sangat menarik dan khas di Papua, yakni :

"Kaskado" [bahasa Biak], nama kerennya "Tinea Imbrikata"

Menurut text book, Tinea imbrikata adalah dermatofitosis kronik rekuren disebabkan Trichophyton concentricum. Di indonesia penyakit ini ditemukan endemis di wilayah tertentu, antara lain Papua, Sulawesi, Sumatra dan pulau-pulau bagian tengah Indonesia Timur, terutama pada masyarakat terasing.

Di Numfor sendiri, rata-rata penyakit ini kutemukan pada penduduk yang tinggal ditepi pantai, dan juga terpusat pada desa-desa tertentu. Misal di Namber dan Pakreki jarang terdapat kaskado, tapi di Serbin, Wansra dan Masyara, banyak sekali yang penduduknya terkena kaskado.

Rata-rata yang terkena masih satu keluarga. Bila ada 1 anggota keluarga yang terkena, biasanya ada anggota keluarga lain yang terkena. Menurut penduduk asli, kaskado biasanya terjadi sesudah mandi di laut, kemudian tidak dibersihkan lagi dengan mandi air bersih. Memang melihat rumah-rumah mereka yang sempit namun padat penghuni, pemakaan baju-handuk-selimut yang bergantian, salah satu faktornya ialah kebersihan pribadi.

Well, selain "malhygiene" tersebut, kemungkinan juga ada faktor genetik yang turut berperan. Karena ada anggota keluarga juga yang tidak terkena walaupun terpapar dengan kaskado tiap hari. Ada faktor genetik indidvidu yang membuat individu tertentu rentan terhadap paparan penyakit ini. Kerentanan terhadap penyakit ini diduga diturunkan secara genetik dengan pola penurunan autosomal resesif.



Kelainan kulit ini sendiri mempunyai gambaran klinik berupa makula yang eritematous dengan skuama yang melingkar [lesi berupa lingkaran sisik konsentri melingkar yang bersusunan], seperti pola "tato", yang sebenarnya cukup cantik [aku baca di Thailand, pola tato konsentris dari kaskado ini menjadi lambang kecantikan]

Apabila diraba terasa jelas skuamanya [ sisik] menghadap ke dalam. Pada umumnya pada
bagian tengah dari lesi tidak menunjukkan daerah yang lebih tenang, tetapi seluruh
makula ditutupi oleh skuama yang melingkar. Penyakit ini sering menyerang seluruh
permukaan tubuh



Seperti pada anak perempuan ini, dia baru berusia 9 tahun. Penyakit kulit ini menyerang hampir seluruh tubuhnya. Seluruh badan, tangan, kaki dan separuh muka. Ayahnya bercerita kalau si anak ini terkena penyakit kulit ini sudah lama, dan semua saudaranya juga terkena penyakit yang sama. Herannya, aku lihat kedua orangnya tidak terkena kaskado, mungkin ini salah satu pembuktian pola penurunan faktor genetik yang autosomal resesif.

Biasanya, aku kasih edukasi ke mereka, terutama orang tua, untuk menjaga kebersihan pribadi. Mandi dengan sabun dan air bersih. Barang-barang pribadi sebaiknya tidak dipakai bergantian, punya handuk sendiri-sendiri. Sering merendam baju-baju, sarung, handuk, selimut dalam air panas mendidih selama kurang lebih 10 menit agar tidak terjadi re-infeksi.

Sementara untuk pengobatannya sendiri, bila lesi masih kecil, cukup diberikan pengobatan topikal dari golongan azol, seperti mikonazol 2% atau ketokonazol 2% zalf 2 x sehari selama 1-3 minggu. Tapi kadang-kadang di puskesmas obat ini tidak ada, jadi kuberi keratolitik topikal berisi asam salisilat dan asam benzoat untuk membantu pengelupasan kulit.

Sedangkan bila lesinya luas sekali, biasanya diberika antifungal sistemik seperti Griseofulvin. Sebenarnya menurut terapi terbaru, obat yang poten berasal dari golongan alilamin [Terbinafin], dengan dosis 250 mg/hari PO [per oral] untuk 1-2 minggu. Sedangkan dosis pediatriknya : anak dengan BB 10-20 kg: 62.5 mg/hari PO, BB 20-40 kg: 125 mg/hari PO,BB >40 kg: 250 mg/hari PO

Selain itu bisa diberikan pula obat sistemik dari golongan azol yakni [Flukonazol, Itrakonazol, Ketokonazol]. Obat golongan azol yang ada di Puskesmas ialah Ketokonazol, dapat diberikan dengan dosis 200-400 mg PO sekali sehari, selama 4 minggu, sedangkan dosis pediatrik 3.3-6.6 m/kg/hari PO , tidak melebihi 400 mg/dosis.

Cuma, ketokonazol ini sendiri persediaanya dalam jumlah terbatas di Puskesmas Kameri. Obat ini pun ada setelah kami anfrah ke Dinkes. Jadi biasanya kami memakai obat sistemik yang ada, yakni Griseofulvin. Griseofulvin ini cukup efektif, namun memmpunyai angka rekurensi [kekambuhan] yang cukup tinggi.

Griseofulvin adalah suatu antibiotika fungisidal yang dibuat dari biakan spesies penisillium. Griseofulvin diserap lebih cepat oleh saluran pencernaan apabila diberi bersama-sama dengan makanan yang banyak mengandung lemak, tetapi absorpsi total setelah 24 jam tetap dan tidak dipengaruhi apakah griseofulvin diminum bersamaan waktu makan atau diantara waktu makan.

Dosis rata-rata orang dewasa 500 mg [Griseofulvin microsized] per hari. Pemberian pengobatan dilakukan 4 x
sehari , 2 x sehari atau sekali sehari [sediaan yang ada di Puskesmas ialah Griseofulvin tablet 125 mg]. Untuk anak-anak dianjurkan 5 mg/kg BB. Biasanya pengobatan dilakukan 2-4 minggu, rutin.

Karena rata-rata pada pasien yang kami temui, lesi kaskado biasanya tersebar diseluruh tubuh, kami biasanya memberikan pengobatan sistemik. Dalam memberikan obat, biasanya aku melihat asal desa pasien, karena ada faktor susah transportasi [mempengaruhi kemauan untuk datang ke puskesmas], biasanya aku berikan obat untuk 2 minggu. Well, kalau untuk dewasa saja, Grivin 125 mg/tab padahal sehari dosisnya harus 500mg [4 tablet], jadi bila diberikan untuk 2 minggu, aku resepkan 56 tablet. Benar-benar menghabiskan stok obat puskesmas :) karena banyak sekali pasien kaskado

Menarik juga menemukan penyakit ini disini, karena penyakit ini tidak ada di Jawa, benar-benar pengalaman baru.

4 Comments:

  1. karina_undip said...
    wah, beruntung banget ya bisa liat langsung tinea imbrikata. mungkin saya nanti harus nekat PTT ke pelosok juga supaya bisa ketemu kasus jarang kaya gitu. i'm really curious to do inspection and palpation on mw own. okay, sukses ya mbak! nice blog.
    aksal achmad said...
    Jenis dan nama penyakit ini pun banyak dijumpai di Propinsi MaLuku Utara...ini menurut sumber BAVOYA POST!!!!!
    Anonymous said...
    Halo...

    Just sharing,di Kab. Melawi Prov. Kalimantan Barat juga ada daerah tertentu yang seluruh penduduknya terserang penyakit ini. Bahasa setempat menyebutnya : Lusung. Penderita menderita gatal yang luar biasa,dan menggaruknya sampai berdarah-darah. Umumnya penyakit ini diderita sampai puluhan tahun. Saya bukan Dokter,jadi tahu berita ini dari koran. Obat sudah diberikan,namun mungkin tindak lanjutnya yang kurang.

    Terima kasih atas info dari Mbak.

    Salam

    Endang
    Anonymous said...
    Halo...

    Just sharing. Di Kab. Melawi, Prov. Kalimantan Barat, juga ada daerah yg penduduknya menderita penyakit ini. Bahasa setempat menyebutnya : Lusung. Penderitanya menderita penyakit ini selama puluhan tahun,gatal dan digaruk sampai berdarah. Obat telah diberikan,namun perlu tindak lanjut dari Dokter. (Sumber Pontianak Post)

    Salam

    Endang-Pontianak Kalbar

Post a Comment