"Petualangan Duren Sehari di Manokwari"

Akhirnya kesampaian aku melihat Manokwari. Unexpected,kmrn aku nekat ke Manokwari cuma berdua dengan pak Yance

Seminggu lalu Bafith dipanggil ke kota untuk mengikuti pelatihan Malaria Jayapura... padahal saat itu tinggal kami berlima di Puskesmas. Aku, dr Bafith, Paman Simson, Pak Yance dan Bu Gery. Sementara yang tinggal di kompleks belakang Puskesmas tuh cuma aku, Bafith dan Pak Yance [itupun kadang-kadang Pak yan memeilih tidur di Puskesmas], sementara perawat-perawat yang lain sedang turun ke Biak. Sepi...

Apalagi pas Bafith ke kota, aih... sunyi sekali... Otomatis kalau ada pasien luar jam kerja, yang ngerjain aku, Pak Simson dan Pak Yan. Pedis deh...

Trus hari itu ada kabar rencana kapal Yapwairon masuk, PP Manokwari-Numfor. Ternyata pak Yan berencana untuk pergi ke Manokwari, jenuh...

Awalnya sih tidak berencana untuk pergi, tapi setelah menimbang bahwa kalau pak yance pergi artinya aku sendirian yang ada di kompleks belakang, "Oh No!!", langsung deh packing, ikut pak Yan!And the story began...



Sebelumnya kami pergi ke Duai dulu untuk menghadiri Acara Klasis Numfor, kami memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS. Seusai acara itu, tanpa ba-bi-bu langsung tancap gas ke pelabuhan Saribi.

Hari itu Yapwairon lumayan penuh. Aku mengecek kelas ekonomi di dek bawah. Hahh... crowded... lagipula sumpek sekali. Mau pilih VIP, kok mahal [3 x harga tiket ekonomi, jadinya Rp 90.000,00]. Kalau ke Biak sih, ok naik VIP, soalnya sampai di Biak kan tengah malam [lama perjalanan 9 jam]. Tapi nanggung kalau ke Manokwari, cuman 4-5 jam perjalanan saja soalnya

Akhirnya aku kongkow saja di dek luar, menikmati pemandangan laut [so incredible]. Waktu itu aku mbatin, pengen liat lumba-lumba [katanya sering terlihat di sekitar Samudra Pasifik]. Eh, beberapa saat kemudian, aku melihat lumba-lumba berloncatan dekat Yapwairon. Wahhh.... senang sekali... so cute!

Menjelang sore, mulai terasa dingin di luar. Aku memutuskan untuk turun ke bawah, tapi melihat pengapnya dek bawah, nggak tahan deh, langsung naik lagi ke atas. Akhirnya kongkow didepan ruang VIP, eh pas pak Supriyadi masuk [hmm... beliau nih yang orang tiket, kebetulan tahu kalau aku dokter di Numfor], dia mempersilakan aku untuk masuk ke ruang VIP aja. Wah... kebetulan deh... hehehe... Padahal ruang VIP itu kosong sama sekali, memang kebanyakan penumpang memilih ruang VIP hanya bila ke Biak saja, karena lama perjalanannya.

Kami yang berangkat sekitar jam 16.30 WIT, sampai di Manokwari jam 20.30 WIT. kapal tidak bisa bersandar langsung ke dermaga, tapi bersandar pada 2 kapal lainnya. Aduh repotnya... mau turun dari kapal harus pake acara loncat meloncat yang agak deg-degan [gimana coba kalau kepleset trus jatuh ke laut...].

Manokwari cukup cantik saat malam hari. Geografisnya yang berbukit-bukit, membuat cahaya lampu-lampu tampak menarik [apalagi bila kita datang dari Numfor, yang notabene udik hehehe]. Langsung deh aku dan Pak Yance ke "mall" naik ojek. AKu mengira-ngira bagaimanakah "mall" di Manokwari, setelah sampai di tempat tujuan... Oalah... ini supermarket HADI versi besar... Ya secaranya... jauh banget ma mall di Jawa. Tapi cukuplah... lumayan bisa mendapatkan roti kasur keju kesukaanku hehehe...

Begitu HADI tutup, kami langsung mencari duren [tujuan utama kami!!walau saat itu katanya durennya sudah tidak mmusim lagi]. Di kompleks pertokoan [entah pertokoan apa, kami hanya minta tukang ojek untuk mengantar kami ke tempat penjual duren], kami menemukan beberapa penjual duren. Wah... langsung ngiler deh... kami langsung membuka 3 duren untuk dimakan ditempat. Padahal saat itu kami belum makan dari siang lho hehehe... nekat aja...

Begitu puas, kami kembali lagi ke kapal. Bukannya apa-apa, karena kami berdua sama-sama tidak punya saudara atau kenalan di Manokwari, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Yapwairon saja. Yah... itulah pengalaman pertamaku tidur diatas kapal hehehe...

Esok harinya, jam 08.00 WIT kami hunting duren lagi, kali ini ke Pasar Sangge. Karena musim duren hampir berakhir, sudah jarang ayng berjualan duren. tapi untungnya saat itu kami masih menemukan penjual duren. Wah... langsung borong deh... kami kembali ke kapal sambil naik ojek dengan terburu-buru... Habis katanya Yapwairon berangkat jam 09.00 WIT. Sesampainya kami di pelabuhan, Yapwairon sudah tidak kelihatan!!

Kami saling berpandangan, wah... ketinggalan kapal... Tapi kemudian kami ingat, hari ini juga ada Delta Mas yang juga akan berangkat ke Biak melewati Numfor. Yah, walaupun kapalnya lebih lambat daripada Yapwairon, gak papa lah...

Kami berjalan mencari Delta Mas, yang katanya bersandar di sebelah kanan pelabuhan. Ketika kami melihatnya, kami langsung gembira, ternyata Yapwairon bersandar didekatnya. Aihh... ternyata Yapwairon pindah tempat... tenang deh...

Aku lagi-lagi memilih kelas Ekonomi, tapi kali ini aku lebih berani, aku langsung masuk ke ruang VIP [jadi PP Numfor-Manokwari tiket Ekonomi tapi naik yang VIP hehehe]. Tampaknya kecuekanku itu diperhatikan beberapa orang kapal, yang kemudian mendekatiku dan bertanya, apakah aku bertugas di Numfor?

Aku jawab kalau aku dokter di Numfor, lalu kami berbincang-bincang. Ternyata ada yang pernah meilhatku sebelumnya [kemungkinan saat aku naik kapal ini ke Biak], dia pikir kalau aku anak tentara [hahahaha... dari Hongkong?!]. Mereka baik-baik. Selain ke 3 bapak itu, ada lagi 2 orang kapal yang mengajakku ngobrol sepanjang perjalanan.

Yang pertama pak Piet Rumangkir, yang ternyata pernah tinggal lama di Jogjakarta. yang kedua aku ga tau namanya [maaf ya pak], tapi beliau berasal dari Numfor juga. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari kesan selama di Numfor, langkahku selanjutnya, tentang Jawa juga [bapak ini juga pernah tinggal lama di Jogja dan Surabaya].

Aku senang, dari pembicaraan mereka aku mendapatkan mereka mengapresiasi baik dokter. Awalnya si bapak bercerita tentang betapa susahnya dahulu unttuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Numfor karena kesulitan tranportasi dan ketiadaan dokter. Kalaus akit dan mau berobat, bisa-bisa seharian mendayung perahu untuk sampai ke Kameri dari Namber. Aih...

Dan sebagai orang kapal yang sudah berkeliling sampai pedalaman Papua [sekitar Teluk Cndrawasih], dah juga pernah tinggal di kota besar di Jawa, mereka bisa merasakan bagaimana beratnya untuk hidup di tempat terpencil.

Bahkan pak Yenburwo [abis tinggalnya di Yenburwo] bilang bahwa beliau yang orang asli Papua saja sempat "kaget" ketika kembali ke Papua, karena perbedaannya jauh sekali. Jadi mereka salut kepada dokter-dokter yang notabene berasal dari kota besar, mau ditugaskan di tempat terpencil seperti Numfor ini, jauh dari mana-mana, jauh dari hiburan, susah mendapatkan apa-apa

Apalagi selama mereka berlayar ke pedalaman, mereka mendapati bahwa petugas yang tetap bertahan di pelosok itu dokter, bahkan ketika pegawai-pegawai distrik [kecamatan] tidak pernah datang ke tempat tugas, lari ke kota, tapi dokter tetap ada di tempat kerja. Begitu tutur beliau tentang pengalaman beliau mengunjungi Teluk Wondama

Wahh... senang sekali mendengarnya. Apalagi ketika beliau mendoakanku, terharu deh...

Tapi mereka rata-rata tertawa ketika mendengar aku PP Numfor-Manokwari hanya untuk membeli duren. "Aduh dok... titip kami saja sudah... dokter tinggal telpon, nanti kami carikan... Mudah tho" [Wahhh... sepertinya menyenangkan... Tapi sayangnya masa tugasku sudah hampir brakhir...]

Akhirnya jam 15.30 WIT, kami sampai di Saribi... dan berakhirlah sudah "Petualangan Duren Sehari di Manokwari"...

Incredible...

ANAK PULAU

Minggu jam 7.30 WIT,setelah menempuh 12 jam perjalanan melintasi lautan,kami tiba di Numfor dgn selamat.

Kembali ke Numfor berarti menjadi anak pulau dan kehilangan kenyamanan kehidupan kota.Nimba dan ngangkut air sdr,ngliwet nasi,listrik cuma 4jam,tak ada TV,koran,majalah etc

A bit deprivated,untung saja masih ada sinyal dan GPRS jalan...

Ya namanya juga PTT ST hehehe :D Selamat menikmati Numfor Luch!

Back to Numfor



Nanti sore aku kembali ke Numfor, naik kapal feri Cendrawasih [maunya sih naik kapal patroli ini aja... heheh]. Ya, aku cuma turun di Biak selama 6 hari saja. Inginnya sih lebih lama, namun mengingat susahnya transportasi ke Numfor sekarang, lebih baik ambil kesempatan yang ada. Soalnya tanggal 19 kami sudah harus ada di Numfor

Pada tanggal 19 Maret, di Numfor Barat akan ada kegiatan KKR [Kegiatan Kebangunan Rohani], kami diharapkan ada sebagai bantuan kesehatan. Maunya sih tanggal 19 tuh lengkap, karena Bupati Biak akan menghadiri pembukaan acara itu

Dulu pesawat Twin Otter terbang 2 x seminggu ke Foo [Numfor], sekarang jadwalnya berubah, menjadi 1x seminggu saja. Itupun jadwalnya nggak jelas hari dan jam terbangnya, karena pesawatnya dipakai ke beberapa rute lainnya dan sering "something wrong", masalah teknis gitu... jadi, walaupun aku sudah booking seat untuk penerbangan Senin depan, karena penerbangannya sendiri belum bisa dipastikan, aku nggak mau ambil risiko pesawat batal.



Dan Cendrawasih merupakan satu-satunya kapal yang berlayar ke Numfor minggu ini. Dulu-dulu kami masih bisa mengandalkan kapal putih [kapal besar] macam papua Lima, Papua Satu untuk ke Numfor. Namun sekarang ini, Papua Satu masuk dok, sedangkan Papua Lima mengalami perubahan rute berlayar, sehingg jadwal rute Biak-Numfor jadi sebulan sekali. Pusing...

Jadinya untuk mencapai Numfor via laut ya naik feri Cendrawasih atau kapal Bintang 23. Sama-sama horrible... Kalau nggak kepaksa dan keburu aja... gak mau deh. Dua-duanya punya track record buruk. Si Cendrawasih nih pernah dihantam ombak hingga terbalik di pelabuhan [bayangkan, kapal feri segede itu terbalik!]. Sedangkan dengan si Bintang 23... aku pernah punya pengalaman pahit. Naik kapal ini menuju Numfor, baru 2 jam perjalanan tiba-tiba kapal ini putar balik ke Biak, takut badai!

Setelah pikir-pikir... akhirnya kami [aku dan Bafith] memutuskan untuk kembali ke Numfor naik kapal feri saja. Lagian masa kerjaku tinggal 1 bulan saja, jadi lebih baik aku menikmati waktu di Numfor lebih lama :) [aduh, sudah mulai senang bercampur sedih bila memikirkan akan meninggalkan Numfor...]

Wish me :)

Pasien-Pasien Aneh?

Akhir Februari kemarin, Puskesmas kami mengadakan minilok [mini lokakarya], dengan berbagai agenda, salah satunya menentukan jadwal kegiatan luar gedung, contohnya Puskel dan Posyandu.

Puskel terutama dilaksanakan pada desa-desa di Numfor Barat Jauh yang penduduknya mengalami kesulitan transportasi untuk berobat ke Puskesmas. Ada 6 desa yang kami anggap memerlukan Puskel, yakni Desa Wansra, Pakreki, Saribi, Yenbeba, Sup Manggunsi dan Namber. Sedangkan Posyandu harus dilakukan untuk 17 desa yang masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Numfor Barat.

Akhirnya diputuskan, bahwa pelaksanaan Puskel yang digabungkan, dan dilaksanakan di minggu pertama awal bulan, hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Sedangkan pelaksanaan Posyandu ada yang digabungkan dengan Puskel [karena personil yang dibutuhkan lebih sedikit], agar lebih efisien dan tidak bolak-balik.

Ya, akhirnya minggu pertama bulan Maret kami lumayan kerja keras, 3 hari untuk pelayanan di Pkm, 3 hari lainnya berkeliling untuk puskel dan posyandu. Kadang-kadang pasiennya banyak sekali [diatas 50 orang], tapi kadang juga biasa saja [30-40 an orang]. Sakitnya apa saja sih? Yah…tentu saja malaria, batuk-beringus, sakit kepala, kecacingan, penyakit kulit, etc

Teman-temanku sering bertanya, selama aku PTT di Papua, sering mendapat kasus-kasus aneh kah? Apa saja?

Hmm… macam-macam deh…





Contohnya anak ini, anak laki-laki umur 5 tahun ini mempunyai kelainan pada matanya. Tepat di depan iris matanya, tumbuh jaringan lunak dari conjunctiva bulbi. Ibunya berkata matanya mulai begitu sejak tahun 2005, seminggu setelah terkena cacar air, tiba-tiba di matanya mulai tumbuh jaringan lunak itu.

Awalnya anak ini masih bisa melihat, namun karena jaringan itu menutupi pupil, lama kelamaan penglihatannya terganggu dan dia mulai tidak bisa melihat lagi. Karena di Biak tidak ada DSM [dokter spesialis mata], anak ini dibawa ke DSM di Jayapura , kata dokter tersebut, anak ini baru bisa dioperasi sesudah umur 10 th. Dalam hati kami juga bingung, mau diapain? Ini diluar kemampuan kami. Akhirnya Bafith memberikan penjelasan tentang penyakit tersebut, dan menyarankannya untuk tetap rutin memeriksakannya ke Jayapura.

Selain itu, pernah juga aku menemukan anak laki-laki berusia 10 tahun dengan osteomyelitis kronis di pinggul kirinya sehingga terjadi deformitas pada kaki kirinya. Awal mulanya anak ini jatuh saat berusia 5-6 tahun. Mungkin lukanya termasuk luka terbuka, namun saat itu dirawat sendiri, dan perawatannya tidak bersih [ibunya mengaku, mereka tidak membawanya ke Puskesmas untuk medikasi luka], akhirnya lama-lama lukanya menjadi borok.




Karena berlangsung bertahun-tahun dan tidak dirawat dengan baik [dibiarkan terbuka terus], lukanya semakin dalam dan mengenai tulang, terjadi deformitas [kelainan] pada tulang femur dan cruris, dan kaki kirinya tidak berkembang sesuai pertumbuhan badannya, jadinya kakinya pincang sebelah.

Aku hanya bisa mengurut dada, jengkel juga sama orang tuanya, kenapa dari dulu tidak dibawa ke puskesmas, atau sekalian dibawa ke Rumah Sakit. Padahal luka akibat jatuh itu bisa dicegah agar tidak berkembang sampai mengakibatkan kelainan seperti sekarang ini. Kasihan sekali… Akhirnya aku rujuk anak ini untuk ditangani Ahli Bedah di Biak.

Ada juga waktu home visite, ada pasien, Richard Mansumber [34tahun] yang mengeluhkan kaki kirinya sangat sakit bila digerakkan, sehingga dia tidak bisa berjalan. Sudah sebulan dia merasakan sakit saat pada kaki kirinya saat berjalan, namun tiba-tiba hari itu sakitnya semakin menghebat dan sampai akhirnya dia tidak kuat menahan rasa sakit itu, akhirnya hanya bisa berbaring di tempat tidur saja.

Kami melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologist padanya, hanya kami dapatkan hiperestesi di bagian belakang paha. Well, kami tidak bisa menentukan diagnosa pastinya, tapi untuk meredakan rasa sakitnya kami memberikan injeksi Bcomp serta obat minum Tramadol. Keesokan harinya di pelabuhan kami bertemu dengan Pak Richard lagi, dan wow… dia sudah berjalan dengan normal lagi. Malah dia mendatangi kami dan meminta untuk disuntik lagi hahahaha :D

Salah satu kasus unik, ada anak laki-laki berumur 7 tahun datang dengan jari kaki luka-luka, sampai kuku jarinya itu terkelupas. Tebak deh kenapa?



Digigitin tikus!! Oh My God... Dia bilang waktu digigitin tikus dia sama sekali tidak merasa. Tak percaya deh... lha wong digigitin sampai habis gitu kok ndak kerasa... Kasihan bercampur geli...

Selain itu, kami di Pkm sering membuka “usaha konveksi” :) Sering datang pasien diluar jam kerja, dengan luka-luka akibat terjatuh, terkena batu, karang, dan parang. Aduh aduh…




Paling sebel kalau pasiennya rewel deh. Sudah dianestesi, masih teriak-teriak saja. Pernah tuh ada anak tetangga, Willem [9 tahun] yang jari kakinya terkena mata kail, masuknya cukup dalam. Sudah diinjeksi lidocain saja masih jerit-jerit, trus aku coba ulang lagi injeksi lidocain, malah nangis keras-keras…

Akhirnya karena tetap kesulitan untuk mengeluarkan mata kailnya, dan dikasi lidocain pun masih berteriak kesakitan, aku nekat saja. Dengan keringat berjatuhan, susah payah kukeluarkan mata kail itu dengan paksa tanpa memedulikan jeritan si Willem. Alhamdulillah mata kail itu bisa keluar, si Willem menangis sesengukan… Rasanya sehabis itu dia agak trauma dengan aku :P

Selain Willem, ada pula Maikel [10 tahun] yang tiba-tiba tangan kanannya membesar. Waktu aku tanya apakah tangannya habis tertusuk pakukah, duri ikan kah, atau duri babi? Dia hanya menggeleng. Dia bilang tidak tertusuk apa-apa, sejak tiba-tiba saja tangan kanannya [punggung tangan] membesar.

Kupegang tangannya, aih… keras sekali, dan hangat. Dia menjerit waktu tangannya kutekan, sakit sekali katanya. Kuperiksa, tidak ada bekas tertusuk di tangannya. Bingung deh… causanya apa… Karena kami lihat nanah belum terbentuk, kami tidak bisa “membukanya”, akhirnya memberinya obat antibiotic, analgetik dan antiinflamasi. Kami suruh dia kembali 3 hari lagi.

Ketika dia datang untuk ke 3 x nya, tangannya sudah teraba lunak, tapi jaringan sekitarnya masih tegang. Kuperintahkan untuk melakukan cross incision [insisi silang] padanya. Mas Aho, perawat Pkm yang melakukannya. Ketika diinjeksi lidocain, Maikel sudah menjerit-jerit, lebih karena ketakutan bukan karena kesakitan. Ketika dibuka, tidak langsung keluar nanah seperti biasanya. Akhirnya seperti melakukan punksi, kami mencoba menyedot nanah dengan jarum spuit [suntikan].

Wah… usaha yang lumayan sulit karena Maikel berontak terus. Butuh 3 orang untuk memeganginya. Setelah setengah jam berkutat dengan spuit, akhirnya nanahnya bisa dikeluarkan. Tapi tangannya masih bengkak. Akhirnya kami memasang semacam “drain” dari handschoen (sarung tangan), agar nanah dan darahnya mengalir. Kami menyuruhnya kembali keesokan harinya.

Keesokan harinya Maikel kembali ditemani ayahnya, kulihat bengkak ditangannya sudah mulai berkurang. Waktu kutanyakan apakah masih terasa sakit seperti sebelumnya, dia menggeleng. Kata ayahnya, akhirnya semalam Maikel bisa tidur nyenyak, tidak mengeluh kesakitan.

Hari itu, kami mengulangi proses serupa, kali nanah keluar dengan lancar dan mulai keluar bercampur darah segar, Maikel masih terus menjerit-jerit. Dia menangis terisak-isak ketika kami membalut lukanya, kami memberinya obat dan memintanya dating keesokan harinya lagi untuk medikasi luka. Namun mungkin Maikel sudah kapok dan ketakutan, keesokan harinya sampai terakhir kemarin aku di Numfor, dia tidak kembali untuk kontrol. Aih… tak tahulah itu bagaimana kelanjutannya… Semoga saja tangannya sembuh seperti sediakala…

Yah itulah salah satu kesulitan kami dalam menangani pasien, kalau disuruh datang kembali untuk control, susahnya minta ampun… Padahal sudah kami jelaskan pentingnya memeriksakan kembali penyakit dan luka-luka mereka. Walaupun belum sembuh benar atau kadang ada jahitan yang belum dibuka, mereka tidak datang kembali ke Puskesmas untuk control… Benar- benar deh… Perlu diedukasi terus-terusan...

YAKOMINA MANGGARA



Akhir-akhir ini aku suka mengumpulkan anggrek. Apalagi di Numfor jenisnya cukup beragam, sampai-sampai depan rumahku di sana penuh dengan anggrek. Ada yang didapat dengan mencari sendiri, ada yang minta sama penduduk, ada pula yang diberi pasien, salah satunya Bu Yakomina Manggara

Pertama bertemu dengan ibu ini diakhir Januari. Saat itu kami dipanggil untuk home visite di desa Sup Mander, katanya ada ibu yang batuk darah. Akhirnya kami kesana. Pertama melihat rumahnya, aduuuhhh... rasa-rasanya ini salah satu rumah mengenaskan yang kulihat di Numfor

Rumah panggung kayu, dengan halaman tak terawat, rumputnya tinggi-tinggi. DiHal yang terlihat "modern" dari rumah itu, di sebelah kanan rumah ada bak tandon besar dan kamar mandi dari tembok [sepertinya dari bantuan pemerintah], "dihiasi" dengan berember2 cucian basah [buanyaaakkk sekali]. Ketika mausk ke rumahnya, agak was-was... sepertinya rumahnya sudah tua, takut rubuh.

Begitu masuk, aku lihat rumah itu tidak besar, hanya berukuran 4x6 m, disekat menjadi 3 ruang, berukuran 2x4 m. 1 dibelakang, sebagai dapur terbuka, 1 sebagai kamar [dan juga tempat penyimpanan barang kah?] dan satunya lagi untuk ruang tamu?

Keluarga ini sepertinya sangat miskin... Rumah itu hampir-hampir kosong... tak ada perabotnya, di ruang tamu yang sepertinya juga berfungsi sebagai ruang tidur cuma ada selembar tikar dengan bantal-bantal, selainnya itu? Ada toples penuh berisi obat-obatan. Ada juga puyer-puyer banyak sekali, dan ketika kami membuka toplesnya, sudah banyak obat yang berubah warna. Kami ngomel, sepertinya mereka berobat dan tidak menghabiskan semua obatnya, dan sisa obatnya tetap disimpan. Kadaluwarsa tho ya... Dan karena obat tidak habis... makanya sembuhnya juga tidak total... Pantesan malaria-nya relaps terus-terusan...

Waktu itu, aku melihat ibu itu terkapar dilantai, mengeluhkan batuknya yang berdarah. Kurus kering, awut-awutan, terlihat berumur 45-an [baru kemudian aku tahu kalau dia ternyata baru berumur 30th!]. Dia menujuk ke sala-sela lantai kayu dibawahnya. "Itu budok [panggilan "kesayangan" ku, bu dokter disingkat jadi budok], ludahan saya, tadi ada darahnya". Kami melongok kebawah, iya, ada dahak disertai sedikit darah, merah segar.

Dari anamnesa, dia batuk lama... Kami curiga dia menderita TBC, apalagi melihat profilnya yang kurus kering serta keadaan rumahnya yang jauh dari sehat... Kami periksa, suara parunya fine-fine saja... Selain itu dia juga sering tahan makan [telat makan] dan mengeluhkan nyeri ulu hati dan perut sakit. Mungkinkah ulcus pepticum? Tapi tidak menyingkirkan kecurigaan TB kami. Karena waktu itu dia demam, akhirnya kami beri ACT [Artesdiquine Combined Therapy] dan Primakuin

*Well, pada akhirnya kami membuang idealisme kami setelah melakukan tes RDT ,<Rapid Diagnostic Test untuk Malaria>. Dulu bila pasien datang mengeluh sakit perut ya kami beri obat untuk sakit perutnya saja, belum berani memberi obat malaria. Padahal kami sudah dikasi tahu dengan dokter sebelumnya "kalau ada diare, atau kepala pusing, kasi saja obat malaria. Di Papua gejalanya sudah tidak khas lagi". Setelah ada RDT dan mengadakan pemeriksaan pada pasien ternyata dari kebanyakan pasien, walaupun tidak menunjukkan gejala klinis malaria, setelah di cek RDT, ternyata positif, nggak tanggung-tanggung, sering kami dapatkan mix-infection, artinya terinfeksi Malaria falciparum dan malaria jenis lain, entah ovale maupun vivax. Bahkan pernah kami temui pasien mengeluhkan sakit sendi terus menerus selama 1 bulan, trus Bafith iseng mengecek dengan RDT, eh positif malaria, mix lagi... Akhirnya sejak saat itu setiap pasien yang datang "di-malaria-kan"

Kembali ke Bu Yakomina, waktu itu kami sudah menyuruhnya untuk datang ke Kameri dan periksa dahak S-P-S [Sewaktu-Pagi-Sewaktu] untuk screening TB. Kami tunggu-tunggu, eh ternyata dia tidak datang. Aku memakluminya sih. Sup Mander itu setengah jam naik kendaraan dari Kameri. Dia tidak ada kendaraan, jadi kalau jalan kaki ya jauh banget, sementara dilihat dari kondisi keluarganya, mereka termasuk miskin, butuh biaya untuk sekedar naik ojek ke Kameri [50rb!]. Aku yakin, itu jumlah yang besar sekali buat mereka, harus mendapatkan 3-5 ikat ikan untuk mendapat uang 50rb...

Selama beberapa waktu, aku sudah hampir lupa padanya, sampai ketika ada orang datang meminta kami untuk pergi ke Sup Mander lagi, mereka bilang "ibu yang dulu batuk darah lagi". Oh i see... pasti Bu Yakomina lagi... Kali ini kami datang kesana malam hari, bersama kami ada pula Paman Simson [Kapuskes-ku], sekalian membawa wadah dahak.

Dimalam hari, rumah itu terlihat mengerikan [dan terlihat lebih tidak aman]. Paman komentar "sepertinya rumah ini akan rubuh". Kali ini kami masuk tidak lewat pintu depan, tangga masuknya dipindahkan via dapur, jadi kami masuk lewat belakang. Aih aih... ngenes deh melihatnya... perapian tungku yang menyala terus... ada anak kecil botak berumur 4 tahunan telanjang dada mengipasi tungku itu, rupanya mereka memasak papeda [makanan khas Papua].

Masuk ke ruang depan, ada orang terkapar! tapi ternyata kali ini yang terkapar Pak Sony Rumbruren (34th). Lelaki kurus yang juga terlihat jauh lebih tua dari umurnya ini demam-demam, panas tinggi, muntah-muntah dan lemas sekali. Wah... malaria nih...

Dan batuk darah? Ah ya... bu Yakomina juga batuk darah lagi. Akhirnya kami mengambil sampel dahaknya untuk diperiksa BTA-nya. Sambil menunggu dahak itu di-fixasi ke deck glass, kami memberikan obat malaria kepada pak Sony, kemudian kami berbincang-bincang dengan Bu Yakomina.

Dia bercerita kalau dia punya 6 anak, 1 meninggal. Yang sulung bernama Papua [laki-laki, 9th], kemudian menunjuk 2 anak kecil disampingnya, ada Ronice [perempuan, 2 tahun], dan Paiki [laki-laki, 9 bulan]. Kedua anak yang terakhir ini cakep2, putih bersih, dan lumayan gendut, cute [seperti Cina Serui, orang Papua yang kulitnya putih]. Kemudian anak yang tadi didapur keluar sambil memakan papeda-nya

Diterang lampu, terlihat jelas anak itu kurus sekali tapi perutnya besar sekali. Bafith menyuruhnya mendekat. Aku bertanya "ini laki-laki?". Ibunya menggeleng "Perempuan, namanya Chrisye". Bafith memeriksa perutnya dengan stetoskop dan menanyakan, pernah kah berak cacing?. Ibunya mengangguk, dan bercerita beberapa hari lalu si Chrisye ini berak cacing, dan banyak sekali sampai bu Yakomina muntah-muntah saat melihatnya [1 mangkuk!].

Saat itu kebetulan kami membawa obat cacing [cuma 1], akhirnya kami memberinya obat cacing. Kami menyuruh bu Yakomina untuk datang ke Kameri lagi hari berikutnya untuk periksa dahak lagi dan meminta obat cacing lagi bagi anaknya yang lain [anaknya 5 orang, dan kami curiga anak-anaknya yang lain juga cacingan].



(Bu Yakomina menggendong Paiki)

3 hari kemudian mereka datang ke Pkm Kameri, kali ini pak Sony dan bu Yakomina sudah nampak segar. Bu Yakomina datang membawa dahak pagi harinya untuk diperiksa. kali ini si bayi kecil Paiki [artinya "bulan" juga sakit, sepertinya bronkopneumonia]. Selain paiki mereka juga membawa anak perempuan mereka yang satunya lagi, Christina [7th]. Anak ini hampir mirip dengan Chrisye, apalagi juga sama-sama dibotakin. Anak ini demam tinggi dan lemas menyandar dibahu ayahnya, its malaria again... Aih aih... akhirnya kami memberinya obat malaria, serta obat cacing untuk dia dan saudara-saudaranya... Dan setelah dahak Bu Yakomina di-cek, ternyata BTA negatif... tapi belum pasti bukan TBC juga [harusnya di-confirm lagi dengan foto rontgen]

Terus, beberapa waktu kemudian, aku ada puskel di Saribi, karena Sup Mander bersebelahan dengan Saribi, bu Yakomina juga datang berobat. Anak-anaknya batuk beringus dan masih berak cacing. Aih aih... cacingnya betah banget... Dan dia juga mengeluhkan kandungan turun [Hah!aku kaget, umurnya kan baru 30th!!]. Dia bilang kandungannya turun terutama sore hari saat pekerjaan berat, terutama mencuci [Ya iyaa... mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian, mana anak-anaknya masih kecil-kecil pula]. Aku juga berpikir, ini juga gara-gara batuk lamanya, sering membuat Tekanan Inta Abdomen-nya meningkat, hingga jadi Prolaps Uteri.

Sedih juga... masih muda, 30th sudah Prolaps Uteri... She just five years older than me! Aku menganjurkannya ke Biak untuk pasang pesarium [cincin penahan} di Biak saja

Seusai puskel, aku jalan-jalan keluar sambil mencari anggrek [biasanya kalau lihat anggrek, aku langsung minta sama yang punya, biasanya sih langsung dikasih :D ]. Waktu itu aku melihat anggrek besaaaaarrr... eh pas ada Bu Yakomina

"cari apa?" tanyanya
"Anggrek"
"dirumah banyak" sambil menunjukkan kearah desa Sup Mander
"Boleh minta?"
"Tentu saja. Kenapa kemarin datang kerumah nggak bilang?Ada banyak dirumah"
"Waktu itu malam, gelap, lagian saya lihat dihalaman nggak ada anggrek"
"Iya, anggreknya dibelakang, banyak. Tiap ke kebun, ada anggrek, ya dibawa. mau diambilkan sekarang"
Aku senang banget tapi aku nggak enak merepotkan dia, tapi waktu itu nggak ada kendaraan juga, akhirnya aku bilang "saya mau ambil, tapi nggak ada kendaraan. nanti ya kalau saya ke dermaga, nanti mampir ke Sup Mander"

Bu Yakomina dan pak Sony mengangguk dan mengiyakan. Kemudian aku ingat kalau hari Minggunya aku mau ke Biak, naik kapal di pelabuhan Saribi. Ah sekalian saja...

"Oh ya, saya ada mau ke Biak hari Minggu, nanti saya ambil ya, sekalian saya bawa surat rujukan ke Biak buat bu Yakomina"
"Ah, itu sudah... nanti saya ke pelabuhan saja, sambil bawa anggrek buat dokter tho..."

Sepakat!

Hari Minggu siang aku ke pelabuhan, sudah ramai sekali. Aku mencari Bu Yakomina sambil membawa surat rujukannya. Kucari-cari nggak ada. Akhirnya aku naik ke kapal, dan menitipkan surat rujukan ke Paman Yance. Kemudian pas keluar, Bafith memanggil "Luch, kamu dicari bu Yakomina tuh, bawa anggrek, buesaarrrr"

Aku langsung turun kapal lagi, mencari Bu Yakomina. Kulihat ibu ini dari jauh, kudatangi. Ternyata dia datangnya bersama anaknya, Papua dan Christina sambil membawakanku 2 anggrek jadi, anggrek daun bulat yang cukup besar dan sudah berbunga. Aih... cantik sekalii...

Mereka membantu membawa anggrek itu masuk kedalam kapal. Kami sempat berbincang-bincang sebentar. Ketika kapal mau berangkat, mereka masih menunggui dipelabuhan, sambil melambai-lambaikan tangannya. Aduhh... terharu...

Terimakasih bu Yakomina...

DURIAN

Kemarin aku "pesta durian" dengan Betty. Well, sebenarnya tidka layak untuk disebut pesta sih, lha wong kita cuma makan durian 2 hehe, tapi mantappp dan puaaasss...

Di Biak sedang musim durian, dimana-mana ada yang jual durian. Tapi kulihat pusatnya disini di dekat Wisma Awan Jingga, sebelum bank Mandiri. Orang-orang menyebutnya "Pasar Durian". Ada 10-an kios yang menjual durian, tumpukan durian dimana-mana... Haruuummm... menggoda selera.

Sebelumnya, waktu di Numfor aku sudah diberitahu perawatku kalau di Biak sedang musim durian, wahh... langsung dehh... mata ijo...

Sesampainya di Biak, sore hari aku niatkan untuk membeli durian, 50rb dapat 4 buah. Dengan susah payah aku membawanya sampai tempat pemberhentian taksi, sampai kakiku tergores-gores terkena durinya. Ah, pengorbanan... Sesampainya dirumah, karena tak ada orang, aku memakan durian itu sendirian... Aduuuhh... nikmatnya... Tapi... karena im not so expert about how to choose durian, dari 4 buah itu, hanya 1 saja yang benar-benar masak... Hahaha...

Kemudian Betty datang, melihat durian-ku dia ketawa "Wah, aku tak akan membiarkanmu memilih durian lagi"

Akhirnya kemarin sore, kami jalan lagi. Betty membeli 6 durian seharga 100rb. 2 diberikan kepada dr Helena, yang 4 buat kami. Malam kemarin kami makan 2 buah, wah... masak sekali!! sampai mabok deh... enak sekali...

Well, sebenarnya di Numfor juga aku sempat makan durian. Benar-benar durian kampung, dan jatuh masak dari pohon. Di desa Rawar di Numfor Barat Jauh, terdapat 5 batang pohon duren. Tinggi-tinggi sekali... tapi yang berbuah hanya 1 pohon.

Waktu kami puskel di Saribi, Paman Simson ternyata telah memesan durian kepada orang Rawar. Waktu itu Paman hanya menunjukkan 4 buah durian di mobil, yah not bad...

Kemudian sehabis pulang dari Puskel, kami berhenti di jalan, untuk makan durian. Satu persatu durian dikeluarkan... 0_o ternyata ada 12 durian!! Kami ada bertujuh waktu itu, semua kebagian satu persatu. Wahhh... hepi banget... apalagi duriannya benar-benar enak sekali... Seneng deh waktu itu

Tapi malamnya... aku tidak bisa tidur, perutku terasa panas... Aku berpikir, wah ini mungkin gara-gara makan durian tadi... Kutahan-tahan, tapi tetap terasa panas... akhirnya aku minum Ranitidin...

Keesokan harinya, Bafith bercerita hal sama, dia juga tidak bisa tidur karena perutnya terasa panas setelah makan durian... Sementara Paman Simson tidak makan seharian, katanya sehabis makan durian itu tetap merasa kenyang [kenyang lama, begitu katanya]

Namun cerita serunya datang keesokan harinya. Pak Kauyan datang, kemudian bercerita "wah Budok, kemarin pulang, sepanjang jalan saya mulas, begitu saya turun dari motor , saya langsung muntah-muntah. Durian nih...". Ternyata biasanya Pak Kauyan tidak pernah makan lebih dari 2 biji durian... hmm... pantas saja...

Namun yang lebih tragis, selain Pak Kauyan, rupanya Pak Musa yang rupanya tidak terlalu suka makan durian, sesampainya dirumah jatuh sakit, muntah-muntah juga dan lemas selama 2 hari... Walaupun kasihan, tak urung juga kami menertawakan hal itu

Aduh-aduh... Intoksikasi durian... :D

Tinea Imbrikata alias Kaskado



Ini salah satu pasienku saat puskel di Wansra

Selama di puskesmas atau saat puskel, aku sering menemukan penyakit kulit yang sangat menarik dan khas di Papua, yakni :

"Kaskado" [bahasa Biak], nama kerennya "Tinea Imbrikata"

Menurut text book, Tinea imbrikata adalah dermatofitosis kronik rekuren disebabkan Trichophyton concentricum. Di indonesia penyakit ini ditemukan endemis di wilayah tertentu, antara lain Papua, Sulawesi, Sumatra dan pulau-pulau bagian tengah Indonesia Timur, terutama pada masyarakat terasing.

Di Numfor sendiri, rata-rata penyakit ini kutemukan pada penduduk yang tinggal ditepi pantai, dan juga terpusat pada desa-desa tertentu. Misal di Namber dan Pakreki jarang terdapat kaskado, tapi di Serbin, Wansra dan Masyara, banyak sekali yang penduduknya terkena kaskado.

Rata-rata yang terkena masih satu keluarga. Bila ada 1 anggota keluarga yang terkena, biasanya ada anggota keluarga lain yang terkena. Menurut penduduk asli, kaskado biasanya terjadi sesudah mandi di laut, kemudian tidak dibersihkan lagi dengan mandi air bersih. Memang melihat rumah-rumah mereka yang sempit namun padat penghuni, pemakaan baju-handuk-selimut yang bergantian, salah satu faktornya ialah kebersihan pribadi.

Well, selain "malhygiene" tersebut, kemungkinan juga ada faktor genetik yang turut berperan. Karena ada anggota keluarga juga yang tidak terkena walaupun terpapar dengan kaskado tiap hari. Ada faktor genetik indidvidu yang membuat individu tertentu rentan terhadap paparan penyakit ini. Kerentanan terhadap penyakit ini diduga diturunkan secara genetik dengan pola penurunan autosomal resesif.



Kelainan kulit ini sendiri mempunyai gambaran klinik berupa makula yang eritematous dengan skuama yang melingkar [lesi berupa lingkaran sisik konsentri melingkar yang bersusunan], seperti pola "tato", yang sebenarnya cukup cantik [aku baca di Thailand, pola tato konsentris dari kaskado ini menjadi lambang kecantikan]

Apabila diraba terasa jelas skuamanya [ sisik] menghadap ke dalam. Pada umumnya pada
bagian tengah dari lesi tidak menunjukkan daerah yang lebih tenang, tetapi seluruh
makula ditutupi oleh skuama yang melingkar. Penyakit ini sering menyerang seluruh
permukaan tubuh



Seperti pada anak perempuan ini, dia baru berusia 9 tahun. Penyakit kulit ini menyerang hampir seluruh tubuhnya. Seluruh badan, tangan, kaki dan separuh muka. Ayahnya bercerita kalau si anak ini terkena penyakit kulit ini sudah lama, dan semua saudaranya juga terkena penyakit yang sama. Herannya, aku lihat kedua orangnya tidak terkena kaskado, mungkin ini salah satu pembuktian pola penurunan faktor genetik yang autosomal resesif.

Biasanya, aku kasih edukasi ke mereka, terutama orang tua, untuk menjaga kebersihan pribadi. Mandi dengan sabun dan air bersih. Barang-barang pribadi sebaiknya tidak dipakai bergantian, punya handuk sendiri-sendiri. Sering merendam baju-baju, sarung, handuk, selimut dalam air panas mendidih selama kurang lebih 10 menit agar tidak terjadi re-infeksi.

Sementara untuk pengobatannya sendiri, bila lesi masih kecil, cukup diberikan pengobatan topikal dari golongan azol, seperti mikonazol 2% atau ketokonazol 2% zalf 2 x sehari selama 1-3 minggu. Tapi kadang-kadang di puskesmas obat ini tidak ada, jadi kuberi keratolitik topikal berisi asam salisilat dan asam benzoat untuk membantu pengelupasan kulit.

Sedangkan bila lesinya luas sekali, biasanya diberika antifungal sistemik seperti Griseofulvin. Sebenarnya menurut terapi terbaru, obat yang poten berasal dari golongan alilamin [Terbinafin], dengan dosis 250 mg/hari PO [per oral] untuk 1-2 minggu. Sedangkan dosis pediatriknya : anak dengan BB 10-20 kg: 62.5 mg/hari PO, BB 20-40 kg: 125 mg/hari PO,BB >40 kg: 250 mg/hari PO

Selain itu bisa diberikan pula obat sistemik dari golongan azol yakni [Flukonazol, Itrakonazol, Ketokonazol]. Obat golongan azol yang ada di Puskesmas ialah Ketokonazol, dapat diberikan dengan dosis 200-400 mg PO sekali sehari, selama 4 minggu, sedangkan dosis pediatrik 3.3-6.6 m/kg/hari PO , tidak melebihi 400 mg/dosis.

Cuma, ketokonazol ini sendiri persediaanya dalam jumlah terbatas di Puskesmas Kameri. Obat ini pun ada setelah kami anfrah ke Dinkes. Jadi biasanya kami memakai obat sistemik yang ada, yakni Griseofulvin. Griseofulvin ini cukup efektif, namun memmpunyai angka rekurensi [kekambuhan] yang cukup tinggi.

Griseofulvin adalah suatu antibiotika fungisidal yang dibuat dari biakan spesies penisillium. Griseofulvin diserap lebih cepat oleh saluran pencernaan apabila diberi bersama-sama dengan makanan yang banyak mengandung lemak, tetapi absorpsi total setelah 24 jam tetap dan tidak dipengaruhi apakah griseofulvin diminum bersamaan waktu makan atau diantara waktu makan.

Dosis rata-rata orang dewasa 500 mg [Griseofulvin microsized] per hari. Pemberian pengobatan dilakukan 4 x
sehari , 2 x sehari atau sekali sehari [sediaan yang ada di Puskesmas ialah Griseofulvin tablet 125 mg]. Untuk anak-anak dianjurkan 5 mg/kg BB. Biasanya pengobatan dilakukan 2-4 minggu, rutin.

Karena rata-rata pada pasien yang kami temui, lesi kaskado biasanya tersebar diseluruh tubuh, kami biasanya memberikan pengobatan sistemik. Dalam memberikan obat, biasanya aku melihat asal desa pasien, karena ada faktor susah transportasi [mempengaruhi kemauan untuk datang ke puskesmas], biasanya aku berikan obat untuk 2 minggu. Well, kalau untuk dewasa saja, Grivin 125 mg/tab padahal sehari dosisnya harus 500mg [4 tablet], jadi bila diberikan untuk 2 minggu, aku resepkan 56 tablet. Benar-benar menghabiskan stok obat puskesmas :) karena banyak sekali pasien kaskado

Menarik juga menemukan penyakit ini disini, karena penyakit ini tidak ada di Jawa, benar-benar pengalaman baru.

Another Day in Numfor

Tanggal 10 maret jam 1 pagi, akhirnya aku sampai di Biak juga... Woww... tak terkira senangnya, sampai di kota lagi...

Ternyata, setelah menjadi orang pulau terpencil selama 2 bulan, kaget juga dengan suasana kota, kerumunan orang, kerlap-kerlip lampu, suara lalu lalang kendaraan bermotor... [padahal ini baru Biak lho, bukan Jawa]. Jetlag gitu... hahaha

Back to January in Numfor...

Setelah kejadian gagal pulang beberapa kali itu, akhirnya kami berhasil kembali ke Numfor dengan naik Twin Otter. Haddduuuuhhh... saat itu lega sekali... Selama beberapa waktu kami tetap di pulau, baru sekarang ini kami turun lagi ke kota. Hmmm... dihitung2, hampir 2 bulan kami di pulau...

Masuk ke rumah pertama-tama kaget, TV-nya ilang. Eh... ternyata rusak... harus dibawa ke Biak... aih aih... akhirnya tra ada hiburan lagi, ga bisa mengikuti perkembangan dunia luar lagi... mana tra ada koran, majalah gitu kan...

Awal-awalnya sih masih bisa menyibukkan diri, pas kebetulan pasien banyak yang dateng setelah tahu dokter sudah kembali ke Numfor... kalau nggak jam kerja, main kartu! [Joker], atau jalan aja ke jembatan, atau ke pantai atau main aja sama anak-anak kecil... Tapi yah namanya juga pulau terpencil... pasti lama-lama bosen juga. Apalagi pas mbak Rosa [perawat yang tinggal bareng aku] dan Ayu [anaknya] turun ke kota... Aih aih... sepi sekali... Dan saat itulah kebosanan kronis benar-benar terasa...

Seharian aku cuma duduk saja, diam tapi gelisah, mencoba menelpon siapa saja untuk diajak bicara. Tahu sih paling kebosanan itu tidak akan bertahan lama, tapi rasanya... saat itu sudah tak sanggup lagi, nggak ada hiburan, nggak ada keramaian, nggak ada Tv, nggak ada koran-majalah, sudah bosan ma pantai... yah intinya saat itu ingin ke kota sih :)

yah, "zero point", aku rasa semua dokter PTT di tempat Sangat terpencil pasti akan mengalaminya. Apalagi yang berasal dari kota-kota besar, walaupun enjoy, pasti ada satu waktu yang terasa ngebosenin dan ngebete-in banget. Tapi keesokan harinya... ya sudahlah... perasaan bosan itu sudah jauh berkurang dan aku mulai enjoy lagi dengan Kameri

Tapi, waktu 2 bulan itu lumayan exciting. Many things happened to me, and i've done lot of things...

Ada waktunya kami kebanjiran pasien, apalagi pasien luar jam kerja. Mulai dari yang malaria [yang biasa saja sampai yang cerebral], kaki-tangan luka entah kena beling, parang atau tertusuk bia [kerang]. Aih aih... inilah kehidupan dokter PTT yang tinggal ditempat :)

Ada juga saat hujan turun dengan deras, cuma datang 2 pasien saja... akhirnya menghabiskan waktu menunggui Puskesmas dengan bengong...

Ada juga pelatihan dokter kecil dan program penjaringan untuk anak SD. Program penjaringan ini lebih mirip dengan pemeriksaan fisik dan kesehatan untuk anak-anak SD.

Sedih juga melihat anak SD disini, tidak seperti di Jawa yang 1 kelas aja muridnya bisa mencapai 50 orang, 1 SD dikumpulkan saja cuma punya siswa 54 orang...

Aku lihat, anak-anak SD disini lebih bervariasi usia masuk SD nya. Jadi ada yang 10 th baru kelas 1 SD... Telat ya?tapi masih untung juga orangtuanya masih memasukkan dia untuk sekolah [padahal sekolahnya gratis lho]. Rata-rata mereka berpakaian seadanya. Ada anak perempuan memakai seragam SD untuk anak laki-laki, entahlah... mungkin tidak ada uang, jadi dia memakai lungsuran kakaknya. Mereka kebanyakan tidak memakai sepatu, entah memakai sandal saja atau benar-benar bertelanjang kaki [cacingan oiy...].

Memang, saat aku tanyakan apakah mereka pernah berak cacing, rata-rata mereka menjawab "ya". Aih... langsung saja aku mengobral Pyrantel Pamoat [obat cacing] untuk mereka, dan meminta mereka untuk memakai alas kaki dan menjaga kebersihan pribadi [hope they listen me...].

Ada juga home visite ke rumah pasien. Well, kalau pasiennya benar-benar "buruk: sih oke saja, ikhlas... tapi paling sebal kalau pasiennya malas. Udah minta kami datang, dengan kata-kata bahwa si sakit tuh parah banget, setelah sampai disana, eh cuma demam-demam biasa... Itu tuh... malaria yang masih bisa beraktivitas. Gondok juga sih...

Paling sebel, sesudah home visite di Namber yang lumayan jauh, sesampainya dirumah, kami diminta datang kerumah diujung kampung, ada ibu yang sakit. Kami bertanya-tanya kenapa nggak datang berobat sebelumnya, lha wong jarak rumahnya aja cuma 50 m dari Puskesmas. Kami berpikir, ah mungkin memang parah. Begitu kami datang, ada ibu yang mengangkatkan kursi untuk kami. Kami bertanya "Mana yang sakit bu?". Dia menjawab "saya"

Aih... kebayang nggak jengkelnya? She has legs... she has time... Puskesmas dekat saja... tapi kenapa nggak datang dari tadi... memang kok... kadang-kadang ada saja yang seperti itu, ibaratnya dikasih ampela, minta hati... Pahittt... Nggak sadar kalau kami, dokter dan perawat ini juga manusia, butuh waktu untuk istirahat juga...

Tapi selain hal-hal "pahit" tersebut, ada hal-hal lain yang menyenangkan... Selain bekerja, ada pula waktunya jalan-jalan dan bertualang :)

Waktu ke Saribi, aku iri ma anak-anak yang dengan cueknya melompat ke laut [dalam lho, 4-5 meteran mungkin], trus berenang ke pinggir. Pingin niru, dengan berbekal pelampung aku akhirnya terjun pula.

Aduhhhh... jeburrrr... agak panik sedikit, tapi kemudian... woww... akhirnya aku bisa lompat juga... It feels good... kemudian aku berenang ke tepi.

Nah... saat berenang-renang ditepi inilah, karang-karang yang tajam menggores kakiku. Awalnya aku nggak sadar, waktu mengepakkan kaki cuma terasa perih saja. Kemudian aku lihat kebawah, kakiku berdarah, terus-terusan. Aku angkat kakiku keatas, aku lihat jempol kaki kiriku, Masya Allah... luka robek cukup dalam!

langsung berakhir deh session berenangnya. Waktu membersihkan luka, ada yang komentar "Aih aih... kaki tipis begini jangan coba-coba berenang tanpa alas kaki, karang tajam-tajam, jangan niru orang-orang sini"

Aduh... telat sekali nasihatnya... Tapi Alhamdulillah, memang regenerasi tubuh itu keren, lukaku sembuh sempurna, tanpa "dekok" sedikitpun.

Sehabis kaki luka, aku kena faringitis, parah sekali... mana pula buang ingus tak berhenti. Dan ketika pilek reda, aku demam tak henti-henti, lemas sekali... kepala pusiinggg... mulut terasa pahit. Yup, akhirnya aku terkena malaria! Aduh... orang-orang bilang saya sudah 1/4 Papua [diinisiasi dengan malaria :P ]

Nggak enak banget deh kena malaria, akhirnya aku minum Klorokuin 3 hari, plus Primakuin single dose. Hari berikutnya wah sudah segar bugar...

Tapi rupanya, buat Tanah Papua, itu semua belum lengkap. Entah karena habis amndi-mandi di kali atau ketularan dari pasien, akhirnya aku kena kaskado juga!
Hahaha... penyakit yang kubahas di postingan sebelumnya...

Aih aih... mulanya cuma bercak kecil saja ditangan kanan, kuberi klotrimazol, tapi mungkin karena selama faringitis dan malaria aku minum Dexametason, ada efek imunosupresan-nya dan kondisi tubuhku juga sedang ga fit banget, entah bagaimana bercak itu menyebar ke tangan sebelah

Mulanya masih rajin mengolesinya dengan salep saja. Tapi ketika bintik-bintik kecil merah itu semakin menyebar, meradang dan sangat gatal,a khirnya aku memutuskan minum Ketokonazol 1x200mg, kulihat seminggu... Alhamdulillah lesi masih terlokalisir ditangan saja, tapi masih tetap merah-merah dan gatal, akhirnya kunaikkan dosis ketokonazol menjadi 1x400mg. Rupanya cukup ampuh... lesi-lesi ini akhirnya kering sendiri dan mengelupas. yak... bentuk kelupasanya konsentris berputar-putar gitu... Inisiasi kedua... kaskado :)

Sekarang aku bisa mengerti kenapa lesi dianak-anak itu bisa menyebar keseluruh tubuh. Karena memang sangat gatal sekali, jadi kemungkinan digaruk terus-terusan, nha... dan tanpa dicuci mereka juga menyentuh bagian tubuh lainnya, nyebar deh... Ini namanya learning by undergoing :)

Selain "berkenalan" dengan penyakit-penyakit itu, hidupku jauh berwarna lagi dengan petualang jalan-jalanku...

Didekat rumahku kan ada kali yang lumayan lebar. Selama ini bila aku berdiri diatas jembatan aku selalu bertanya-tanya seperti apakah ujung kali itu, bagaimana kah rasanya melalui kali ini dengan perahu. Penasaran.

Dan, akhirnya pertanyaanku terjawab, dengan menaiki sebuah perahu kecil [panjang 3 meter, lebar 0.5 meter lengkap dengan satu semang diseblah kanan] bersama Bafith, Sekap dan Maxsi, aku berkesempatan untuk menyusuri Kali Pomdori.

Wowww... benar-benar pengalaman menarik. Perahunya itu terasa sangat kecil sekali... goyang-goyang pula, untung saja ada semang [cadik] yang men-stabilkannya. Walaupun aku mengenakan pelampung terus terang saja aku takut jatuh. Aku membawa kamera [karena nggak water proof, maka aku membungkusnya dengan plastik, maka hasil fotonya tidak maksimal]. Selain itu... takut ular air... Hiii... aku sering melihatnya berenang di kali.

Tapi selain itu... Wah, pemandangannya keren banget. Pernah melihat artikel dan foto di Kompas tentang Frederick Sitaung, guru berdedikasi tinggi di pedalaman Merauke. Waktu itu ada fotonya sedang mendayung perahu di sungai ditengah hutan. Well, persis seperti itu, terkecuali bukan aku sendiri yang mendayung perahu, dan tidak ada buaya di kali [and i dont want it either] :)

Its so wonderful. Pengalaman 1 milyar!-ku :P Pohonnya tinggi-tinggi, dengan akar dibawah air, sementara banyak benalu hidup didahan-dahannya, termasuk pula sarang semut yang terkenal itu dan juga anggrek... Dan tak ketinggalan, biawak berjemur!

Iya, biawak!aku berkesempatan melihat reptil ini menyusuri pepohonan. hampir mirip seperti kadal, tapi jauh lebih besar dan sisiknya terlihat lumayan jelas. Aihhh... kerennn...

Selain menyusuri kali dengan perahu, dilain hari aku masuk menerobos hutan demi ke pantai. Seram juga...

Terus... sehabis home visite [mengunjungi pasien] di desa Namber, aku mampir sebentar ke teluk kecil didesa itu. Wowww... keren banget. Benar-benar cantik... Ini benar-benar area pilihan untuk dijadikan cottage... Lautnya berwarna hijau... dikelilingi pepohonan dna bukit-bukit rendah, semnatara didekatnya ada hunian rumah=-panggung diatas air. Cantik sekali! Aku dan Bafith sepakat, ini ialah salah satu tempat tercantik di Numfor

Selain ke Namber, ada pula "kepala air" Warembi [mata air tawar], yang ternyata muerupakan ujung dari kali Pomdori, ada juga pantai cantik berpasir putih di Ambermasi. Banyak deh jalan-jalan di Numfor-nya...

Aku bersyukur bertugas di Numfor, lebih senang lagi karena ditempatkan di Kameri. Karena Kameri nih letaknya dekat dengan obyek-obyek cantik. Kalau aku ditempatkan di Biak, aku mungkin tidak akan mendapatkan petualangan dan pengalaman yang sebanding dengan Numfor

Rasa bosan?ah tetap saja dikalahkan dengan segala pengalaman-pengalaman baru yang menarik itu...

Lagian masa bakti hampir berakhir... Harus dinikmati sepuas-puasnya...

PTT 2008

Announcement ; pendaftaran PTT 2008 sudah dibuka
For further information,please check out www.ropeg-depkes.or.id