"Petualangan Duren Sehari di Manokwari"

Akhirnya kesampaian aku melihat Manokwari. Unexpected,kmrn aku nekat ke Manokwari cuma berdua dengan pak Yance

Seminggu lalu Bafith dipanggil ke kota untuk mengikuti pelatihan Malaria Jayapura... padahal saat itu tinggal kami berlima di Puskesmas. Aku, dr Bafith, Paman Simson, Pak Yance dan Bu Gery. Sementara yang tinggal di kompleks belakang Puskesmas tuh cuma aku, Bafith dan Pak Yance [itupun kadang-kadang Pak yan memeilih tidur di Puskesmas], sementara perawat-perawat yang lain sedang turun ke Biak. Sepi...

Apalagi pas Bafith ke kota, aih... sunyi sekali... Otomatis kalau ada pasien luar jam kerja, yang ngerjain aku, Pak Simson dan Pak Yan. Pedis deh...

Trus hari itu ada kabar rencana kapal Yapwairon masuk, PP Manokwari-Numfor. Ternyata pak Yan berencana untuk pergi ke Manokwari, jenuh...

Awalnya sih tidak berencana untuk pergi, tapi setelah menimbang bahwa kalau pak yance pergi artinya aku sendirian yang ada di kompleks belakang, "Oh No!!", langsung deh packing, ikut pak Yan!And the story began...



Sebelumnya kami pergi ke Duai dulu untuk menghadiri Acara Klasis Numfor, kami memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS. Seusai acara itu, tanpa ba-bi-bu langsung tancap gas ke pelabuhan Saribi.

Hari itu Yapwairon lumayan penuh. Aku mengecek kelas ekonomi di dek bawah. Hahh... crowded... lagipula sumpek sekali. Mau pilih VIP, kok mahal [3 x harga tiket ekonomi, jadinya Rp 90.000,00]. Kalau ke Biak sih, ok naik VIP, soalnya sampai di Biak kan tengah malam [lama perjalanan 9 jam]. Tapi nanggung kalau ke Manokwari, cuman 4-5 jam perjalanan saja soalnya

Akhirnya aku kongkow saja di dek luar, menikmati pemandangan laut [so incredible]. Waktu itu aku mbatin, pengen liat lumba-lumba [katanya sering terlihat di sekitar Samudra Pasifik]. Eh, beberapa saat kemudian, aku melihat lumba-lumba berloncatan dekat Yapwairon. Wahhh.... senang sekali... so cute!

Menjelang sore, mulai terasa dingin di luar. Aku memutuskan untuk turun ke bawah, tapi melihat pengapnya dek bawah, nggak tahan deh, langsung naik lagi ke atas. Akhirnya kongkow didepan ruang VIP, eh pas pak Supriyadi masuk [hmm... beliau nih yang orang tiket, kebetulan tahu kalau aku dokter di Numfor], dia mempersilakan aku untuk masuk ke ruang VIP aja. Wah... kebetulan deh... hehehe... Padahal ruang VIP itu kosong sama sekali, memang kebanyakan penumpang memilih ruang VIP hanya bila ke Biak saja, karena lama perjalanannya.

Kami yang berangkat sekitar jam 16.30 WIT, sampai di Manokwari jam 20.30 WIT. kapal tidak bisa bersandar langsung ke dermaga, tapi bersandar pada 2 kapal lainnya. Aduh repotnya... mau turun dari kapal harus pake acara loncat meloncat yang agak deg-degan [gimana coba kalau kepleset trus jatuh ke laut...].

Manokwari cukup cantik saat malam hari. Geografisnya yang berbukit-bukit, membuat cahaya lampu-lampu tampak menarik [apalagi bila kita datang dari Numfor, yang notabene udik hehehe]. Langsung deh aku dan Pak Yance ke "mall" naik ojek. AKu mengira-ngira bagaimanakah "mall" di Manokwari, setelah sampai di tempat tujuan... Oalah... ini supermarket HADI versi besar... Ya secaranya... jauh banget ma mall di Jawa. Tapi cukuplah... lumayan bisa mendapatkan roti kasur keju kesukaanku hehehe...

Begitu HADI tutup, kami langsung mencari duren [tujuan utama kami!!walau saat itu katanya durennya sudah tidak mmusim lagi]. Di kompleks pertokoan [entah pertokoan apa, kami hanya minta tukang ojek untuk mengantar kami ke tempat penjual duren], kami menemukan beberapa penjual duren. Wah... langsung ngiler deh... kami langsung membuka 3 duren untuk dimakan ditempat. Padahal saat itu kami belum makan dari siang lho hehehe... nekat aja...

Begitu puas, kami kembali lagi ke kapal. Bukannya apa-apa, karena kami berdua sama-sama tidak punya saudara atau kenalan di Manokwari, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Yapwairon saja. Yah... itulah pengalaman pertamaku tidur diatas kapal hehehe...

Esok harinya, jam 08.00 WIT kami hunting duren lagi, kali ini ke Pasar Sangge. Karena musim duren hampir berakhir, sudah jarang ayng berjualan duren. tapi untungnya saat itu kami masih menemukan penjual duren. Wah... langsung borong deh... kami kembali ke kapal sambil naik ojek dengan terburu-buru... Habis katanya Yapwairon berangkat jam 09.00 WIT. Sesampainya kami di pelabuhan, Yapwairon sudah tidak kelihatan!!

Kami saling berpandangan, wah... ketinggalan kapal... Tapi kemudian kami ingat, hari ini juga ada Delta Mas yang juga akan berangkat ke Biak melewati Numfor. Yah, walaupun kapalnya lebih lambat daripada Yapwairon, gak papa lah...

Kami berjalan mencari Delta Mas, yang katanya bersandar di sebelah kanan pelabuhan. Ketika kami melihatnya, kami langsung gembira, ternyata Yapwairon bersandar didekatnya. Aihh... ternyata Yapwairon pindah tempat... tenang deh...

Aku lagi-lagi memilih kelas Ekonomi, tapi kali ini aku lebih berani, aku langsung masuk ke ruang VIP [jadi PP Numfor-Manokwari tiket Ekonomi tapi naik yang VIP hehehe]. Tampaknya kecuekanku itu diperhatikan beberapa orang kapal, yang kemudian mendekatiku dan bertanya, apakah aku bertugas di Numfor?

Aku jawab kalau aku dokter di Numfor, lalu kami berbincang-bincang. Ternyata ada yang pernah meilhatku sebelumnya [kemungkinan saat aku naik kapal ini ke Biak], dia pikir kalau aku anak tentara [hahahaha... dari Hongkong?!]. Mereka baik-baik. Selain ke 3 bapak itu, ada lagi 2 orang kapal yang mengajakku ngobrol sepanjang perjalanan.

Yang pertama pak Piet Rumangkir, yang ternyata pernah tinggal lama di Jogjakarta. yang kedua aku ga tau namanya [maaf ya pak], tapi beliau berasal dari Numfor juga. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari kesan selama di Numfor, langkahku selanjutnya, tentang Jawa juga [bapak ini juga pernah tinggal lama di Jogja dan Surabaya].

Aku senang, dari pembicaraan mereka aku mendapatkan mereka mengapresiasi baik dokter. Awalnya si bapak bercerita tentang betapa susahnya dahulu unttuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Numfor karena kesulitan tranportasi dan ketiadaan dokter. Kalaus akit dan mau berobat, bisa-bisa seharian mendayung perahu untuk sampai ke Kameri dari Namber. Aih...

Dan sebagai orang kapal yang sudah berkeliling sampai pedalaman Papua [sekitar Teluk Cndrawasih], dah juga pernah tinggal di kota besar di Jawa, mereka bisa merasakan bagaimana beratnya untuk hidup di tempat terpencil.

Bahkan pak Yenburwo [abis tinggalnya di Yenburwo] bilang bahwa beliau yang orang asli Papua saja sempat "kaget" ketika kembali ke Papua, karena perbedaannya jauh sekali. Jadi mereka salut kepada dokter-dokter yang notabene berasal dari kota besar, mau ditugaskan di tempat terpencil seperti Numfor ini, jauh dari mana-mana, jauh dari hiburan, susah mendapatkan apa-apa

Apalagi selama mereka berlayar ke pedalaman, mereka mendapati bahwa petugas yang tetap bertahan di pelosok itu dokter, bahkan ketika pegawai-pegawai distrik [kecamatan] tidak pernah datang ke tempat tugas, lari ke kota, tapi dokter tetap ada di tempat kerja. Begitu tutur beliau tentang pengalaman beliau mengunjungi Teluk Wondama

Wahh... senang sekali mendengarnya. Apalagi ketika beliau mendoakanku, terharu deh...

Tapi mereka rata-rata tertawa ketika mendengar aku PP Numfor-Manokwari hanya untuk membeli duren. "Aduh dok... titip kami saja sudah... dokter tinggal telpon, nanti kami carikan... Mudah tho" [Wahhh... sepertinya menyenangkan... Tapi sayangnya masa tugasku sudah hampir brakhir...]

Akhirnya jam 15.30 WIT, kami sampai di Saribi... dan berakhirlah sudah "Petualangan Duren Sehari di Manokwari"...

Incredible...

6 Comments:

  1. Anonymous said...
    Hai, hai Luluch...
    aku Tharie dari majalah CHIC...
    wah, senang sekali baca cerita2 di blog ini. Kebetulan, keluarga besarku dokter semua, cuma aku yang nekat jadi jurnalis,haha....

    Eniwei, aku tertarik mereview blog ini di CHIC, bolehkah?
    kalau diizinkan, aku minta informasi tentang blog ini (kapan dibuat, alasan dibuat blog ini,dll)+personal data tentang Luluch...

    kirim by email di greenstarie@yahoo.com ya...aku tunggu..^_^ oia, kita lahir dibulan yg sama ternyata ^_*
    daniiswara.net said...
    mb luluch..
    mb luluch kan sering ceritain ttg numfor..
    cb cek di google, iseng aja
    'dokter numfor' = mb luluch
    'numfor' = mb luluch ada di 3 halaman awalnya

    jd mb luluch itu termasuk duta duren..eh..numfor :D
    Andri Kusuma Harmaya said...
    Halo dok...Kapan pulang?Hehe...Wah,enaknya kalo dah maw pulang ke Jawa..Lha aku baru mulai je.. :(

    Blog ku yg tentang PTT terinspirasi dari blogmu yg ini..keren boo...Maw direview jg ya?Selamat ya dok.. ^o^
    Luluch The Cinnamon said...
    @ Tharie
    Tenkyuw... :) salam kenal

    @dr dani
    Aih... iseng banget sih. tapi senang juga bisa menceritakan Numfor pada dunia luar :)

    @Andri
    Met PTT ya Ndri!!
    Anonymous said...
    Halo mba lam knal, hobi onepiece n TLOTR juga nih...
    hehehe... sy Arsul mahasiswa UNIPA, Manokwari.
    awalnya lagi nyari tugas buat mkalah, taunya liat blog ini n jadinya senyum2 ampir ketawa. hihihihi...
    blognya bgus deh, sayangnya mba gak lma2 di Manokwari, gak sekedar duren yang ada di Manokwari looochh...
    heehhe...
    Klo mo nanya lagi soal Manokwari, lwat ni email aza, xyz_yunike@yahoo.co.id

    thank's udah diizinin nyoret2 disni...
    hehehehe...
    Luluch The Cinnamon said...
    Wee... Bulan Oktober saya stay di Manokwari 1mg lhoh,sehari2 makan di KFC Hadi ha3. Saya sempet juga main ke kampus UNIPA, jauh juga ya :D

Post a Comment