Pasien-Pasien Aneh?

Akhir Februari kemarin, Puskesmas kami mengadakan minilok [mini lokakarya], dengan berbagai agenda, salah satunya menentukan jadwal kegiatan luar gedung, contohnya Puskel dan Posyandu.

Puskel terutama dilaksanakan pada desa-desa di Numfor Barat Jauh yang penduduknya mengalami kesulitan transportasi untuk berobat ke Puskesmas. Ada 6 desa yang kami anggap memerlukan Puskel, yakni Desa Wansra, Pakreki, Saribi, Yenbeba, Sup Manggunsi dan Namber. Sedangkan Posyandu harus dilakukan untuk 17 desa yang masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Numfor Barat.

Akhirnya diputuskan, bahwa pelaksanaan Puskel yang digabungkan, dan dilaksanakan di minggu pertama awal bulan, hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Sedangkan pelaksanaan Posyandu ada yang digabungkan dengan Puskel [karena personil yang dibutuhkan lebih sedikit], agar lebih efisien dan tidak bolak-balik.

Ya, akhirnya minggu pertama bulan Maret kami lumayan kerja keras, 3 hari untuk pelayanan di Pkm, 3 hari lainnya berkeliling untuk puskel dan posyandu. Kadang-kadang pasiennya banyak sekali [diatas 50 orang], tapi kadang juga biasa saja [30-40 an orang]. Sakitnya apa saja sih? Yah…tentu saja malaria, batuk-beringus, sakit kepala, kecacingan, penyakit kulit, etc

Teman-temanku sering bertanya, selama aku PTT di Papua, sering mendapat kasus-kasus aneh kah? Apa saja?

Hmm… macam-macam deh…





Contohnya anak ini, anak laki-laki umur 5 tahun ini mempunyai kelainan pada matanya. Tepat di depan iris matanya, tumbuh jaringan lunak dari conjunctiva bulbi. Ibunya berkata matanya mulai begitu sejak tahun 2005, seminggu setelah terkena cacar air, tiba-tiba di matanya mulai tumbuh jaringan lunak itu.

Awalnya anak ini masih bisa melihat, namun karena jaringan itu menutupi pupil, lama kelamaan penglihatannya terganggu dan dia mulai tidak bisa melihat lagi. Karena di Biak tidak ada DSM [dokter spesialis mata], anak ini dibawa ke DSM di Jayapura , kata dokter tersebut, anak ini baru bisa dioperasi sesudah umur 10 th. Dalam hati kami juga bingung, mau diapain? Ini diluar kemampuan kami. Akhirnya Bafith memberikan penjelasan tentang penyakit tersebut, dan menyarankannya untuk tetap rutin memeriksakannya ke Jayapura.

Selain itu, pernah juga aku menemukan anak laki-laki berusia 10 tahun dengan osteomyelitis kronis di pinggul kirinya sehingga terjadi deformitas pada kaki kirinya. Awal mulanya anak ini jatuh saat berusia 5-6 tahun. Mungkin lukanya termasuk luka terbuka, namun saat itu dirawat sendiri, dan perawatannya tidak bersih [ibunya mengaku, mereka tidak membawanya ke Puskesmas untuk medikasi luka], akhirnya lama-lama lukanya menjadi borok.




Karena berlangsung bertahun-tahun dan tidak dirawat dengan baik [dibiarkan terbuka terus], lukanya semakin dalam dan mengenai tulang, terjadi deformitas [kelainan] pada tulang femur dan cruris, dan kaki kirinya tidak berkembang sesuai pertumbuhan badannya, jadinya kakinya pincang sebelah.

Aku hanya bisa mengurut dada, jengkel juga sama orang tuanya, kenapa dari dulu tidak dibawa ke puskesmas, atau sekalian dibawa ke Rumah Sakit. Padahal luka akibat jatuh itu bisa dicegah agar tidak berkembang sampai mengakibatkan kelainan seperti sekarang ini. Kasihan sekali… Akhirnya aku rujuk anak ini untuk ditangani Ahli Bedah di Biak.

Ada juga waktu home visite, ada pasien, Richard Mansumber [34tahun] yang mengeluhkan kaki kirinya sangat sakit bila digerakkan, sehingga dia tidak bisa berjalan. Sudah sebulan dia merasakan sakit saat pada kaki kirinya saat berjalan, namun tiba-tiba hari itu sakitnya semakin menghebat dan sampai akhirnya dia tidak kuat menahan rasa sakit itu, akhirnya hanya bisa berbaring di tempat tidur saja.

Kami melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologist padanya, hanya kami dapatkan hiperestesi di bagian belakang paha. Well, kami tidak bisa menentukan diagnosa pastinya, tapi untuk meredakan rasa sakitnya kami memberikan injeksi Bcomp serta obat minum Tramadol. Keesokan harinya di pelabuhan kami bertemu dengan Pak Richard lagi, dan wow… dia sudah berjalan dengan normal lagi. Malah dia mendatangi kami dan meminta untuk disuntik lagi hahahaha :D

Salah satu kasus unik, ada anak laki-laki berumur 7 tahun datang dengan jari kaki luka-luka, sampai kuku jarinya itu terkelupas. Tebak deh kenapa?



Digigitin tikus!! Oh My God... Dia bilang waktu digigitin tikus dia sama sekali tidak merasa. Tak percaya deh... lha wong digigitin sampai habis gitu kok ndak kerasa... Kasihan bercampur geli...

Selain itu, kami di Pkm sering membuka “usaha konveksi” :) Sering datang pasien diluar jam kerja, dengan luka-luka akibat terjatuh, terkena batu, karang, dan parang. Aduh aduh…




Paling sebel kalau pasiennya rewel deh. Sudah dianestesi, masih teriak-teriak saja. Pernah tuh ada anak tetangga, Willem [9 tahun] yang jari kakinya terkena mata kail, masuknya cukup dalam. Sudah diinjeksi lidocain saja masih jerit-jerit, trus aku coba ulang lagi injeksi lidocain, malah nangis keras-keras…

Akhirnya karena tetap kesulitan untuk mengeluarkan mata kailnya, dan dikasi lidocain pun masih berteriak kesakitan, aku nekat saja. Dengan keringat berjatuhan, susah payah kukeluarkan mata kail itu dengan paksa tanpa memedulikan jeritan si Willem. Alhamdulillah mata kail itu bisa keluar, si Willem menangis sesengukan… Rasanya sehabis itu dia agak trauma dengan aku :P

Selain Willem, ada pula Maikel [10 tahun] yang tiba-tiba tangan kanannya membesar. Waktu aku tanya apakah tangannya habis tertusuk pakukah, duri ikan kah, atau duri babi? Dia hanya menggeleng. Dia bilang tidak tertusuk apa-apa, sejak tiba-tiba saja tangan kanannya [punggung tangan] membesar.

Kupegang tangannya, aih… keras sekali, dan hangat. Dia menjerit waktu tangannya kutekan, sakit sekali katanya. Kuperiksa, tidak ada bekas tertusuk di tangannya. Bingung deh… causanya apa… Karena kami lihat nanah belum terbentuk, kami tidak bisa “membukanya”, akhirnya memberinya obat antibiotic, analgetik dan antiinflamasi. Kami suruh dia kembali 3 hari lagi.

Ketika dia datang untuk ke 3 x nya, tangannya sudah teraba lunak, tapi jaringan sekitarnya masih tegang. Kuperintahkan untuk melakukan cross incision [insisi silang] padanya. Mas Aho, perawat Pkm yang melakukannya. Ketika diinjeksi lidocain, Maikel sudah menjerit-jerit, lebih karena ketakutan bukan karena kesakitan. Ketika dibuka, tidak langsung keluar nanah seperti biasanya. Akhirnya seperti melakukan punksi, kami mencoba menyedot nanah dengan jarum spuit [suntikan].

Wah… usaha yang lumayan sulit karena Maikel berontak terus. Butuh 3 orang untuk memeganginya. Setelah setengah jam berkutat dengan spuit, akhirnya nanahnya bisa dikeluarkan. Tapi tangannya masih bengkak. Akhirnya kami memasang semacam “drain” dari handschoen (sarung tangan), agar nanah dan darahnya mengalir. Kami menyuruhnya kembali keesokan harinya.

Keesokan harinya Maikel kembali ditemani ayahnya, kulihat bengkak ditangannya sudah mulai berkurang. Waktu kutanyakan apakah masih terasa sakit seperti sebelumnya, dia menggeleng. Kata ayahnya, akhirnya semalam Maikel bisa tidur nyenyak, tidak mengeluh kesakitan.

Hari itu, kami mengulangi proses serupa, kali nanah keluar dengan lancar dan mulai keluar bercampur darah segar, Maikel masih terus menjerit-jerit. Dia menangis terisak-isak ketika kami membalut lukanya, kami memberinya obat dan memintanya dating keesokan harinya lagi untuk medikasi luka. Namun mungkin Maikel sudah kapok dan ketakutan, keesokan harinya sampai terakhir kemarin aku di Numfor, dia tidak kembali untuk kontrol. Aih… tak tahulah itu bagaimana kelanjutannya… Semoga saja tangannya sembuh seperti sediakala…

Yah itulah salah satu kesulitan kami dalam menangani pasien, kalau disuruh datang kembali untuk control, susahnya minta ampun… Padahal sudah kami jelaskan pentingnya memeriksakan kembali penyakit dan luka-luka mereka. Walaupun belum sembuh benar atau kadang ada jahitan yang belum dibuka, mereka tidak datang kembali ke Puskesmas untuk control… Benar- benar deh… Perlu diedukasi terus-terusan...

0 Comments:

Post a Comment