Another Day in Numfor

Tanggal 10 maret jam 1 pagi, akhirnya aku sampai di Biak juga... Woww... tak terkira senangnya, sampai di kota lagi...

Ternyata, setelah menjadi orang pulau terpencil selama 2 bulan, kaget juga dengan suasana kota, kerumunan orang, kerlap-kerlip lampu, suara lalu lalang kendaraan bermotor... [padahal ini baru Biak lho, bukan Jawa]. Jetlag gitu... hahaha

Back to January in Numfor...

Setelah kejadian gagal pulang beberapa kali itu, akhirnya kami berhasil kembali ke Numfor dengan naik Twin Otter. Haddduuuuhhh... saat itu lega sekali... Selama beberapa waktu kami tetap di pulau, baru sekarang ini kami turun lagi ke kota. Hmmm... dihitung2, hampir 2 bulan kami di pulau...

Masuk ke rumah pertama-tama kaget, TV-nya ilang. Eh... ternyata rusak... harus dibawa ke Biak... aih aih... akhirnya tra ada hiburan lagi, ga bisa mengikuti perkembangan dunia luar lagi... mana tra ada koran, majalah gitu kan...

Awal-awalnya sih masih bisa menyibukkan diri, pas kebetulan pasien banyak yang dateng setelah tahu dokter sudah kembali ke Numfor... kalau nggak jam kerja, main kartu! [Joker], atau jalan aja ke jembatan, atau ke pantai atau main aja sama anak-anak kecil... Tapi yah namanya juga pulau terpencil... pasti lama-lama bosen juga. Apalagi pas mbak Rosa [perawat yang tinggal bareng aku] dan Ayu [anaknya] turun ke kota... Aih aih... sepi sekali... Dan saat itulah kebosanan kronis benar-benar terasa...

Seharian aku cuma duduk saja, diam tapi gelisah, mencoba menelpon siapa saja untuk diajak bicara. Tahu sih paling kebosanan itu tidak akan bertahan lama, tapi rasanya... saat itu sudah tak sanggup lagi, nggak ada hiburan, nggak ada keramaian, nggak ada Tv, nggak ada koran-majalah, sudah bosan ma pantai... yah intinya saat itu ingin ke kota sih :)

yah, "zero point", aku rasa semua dokter PTT di tempat Sangat terpencil pasti akan mengalaminya. Apalagi yang berasal dari kota-kota besar, walaupun enjoy, pasti ada satu waktu yang terasa ngebosenin dan ngebete-in banget. Tapi keesokan harinya... ya sudahlah... perasaan bosan itu sudah jauh berkurang dan aku mulai enjoy lagi dengan Kameri

Tapi, waktu 2 bulan itu lumayan exciting. Many things happened to me, and i've done lot of things...

Ada waktunya kami kebanjiran pasien, apalagi pasien luar jam kerja. Mulai dari yang malaria [yang biasa saja sampai yang cerebral], kaki-tangan luka entah kena beling, parang atau tertusuk bia [kerang]. Aih aih... inilah kehidupan dokter PTT yang tinggal ditempat :)

Ada juga saat hujan turun dengan deras, cuma datang 2 pasien saja... akhirnya menghabiskan waktu menunggui Puskesmas dengan bengong...

Ada juga pelatihan dokter kecil dan program penjaringan untuk anak SD. Program penjaringan ini lebih mirip dengan pemeriksaan fisik dan kesehatan untuk anak-anak SD.

Sedih juga melihat anak SD disini, tidak seperti di Jawa yang 1 kelas aja muridnya bisa mencapai 50 orang, 1 SD dikumpulkan saja cuma punya siswa 54 orang...

Aku lihat, anak-anak SD disini lebih bervariasi usia masuk SD nya. Jadi ada yang 10 th baru kelas 1 SD... Telat ya?tapi masih untung juga orangtuanya masih memasukkan dia untuk sekolah [padahal sekolahnya gratis lho]. Rata-rata mereka berpakaian seadanya. Ada anak perempuan memakai seragam SD untuk anak laki-laki, entahlah... mungkin tidak ada uang, jadi dia memakai lungsuran kakaknya. Mereka kebanyakan tidak memakai sepatu, entah memakai sandal saja atau benar-benar bertelanjang kaki [cacingan oiy...].

Memang, saat aku tanyakan apakah mereka pernah berak cacing, rata-rata mereka menjawab "ya". Aih... langsung saja aku mengobral Pyrantel Pamoat [obat cacing] untuk mereka, dan meminta mereka untuk memakai alas kaki dan menjaga kebersihan pribadi [hope they listen me...].

Ada juga home visite ke rumah pasien. Well, kalau pasiennya benar-benar "buruk: sih oke saja, ikhlas... tapi paling sebal kalau pasiennya malas. Udah minta kami datang, dengan kata-kata bahwa si sakit tuh parah banget, setelah sampai disana, eh cuma demam-demam biasa... Itu tuh... malaria yang masih bisa beraktivitas. Gondok juga sih...

Paling sebel, sesudah home visite di Namber yang lumayan jauh, sesampainya dirumah, kami diminta datang kerumah diujung kampung, ada ibu yang sakit. Kami bertanya-tanya kenapa nggak datang berobat sebelumnya, lha wong jarak rumahnya aja cuma 50 m dari Puskesmas. Kami berpikir, ah mungkin memang parah. Begitu kami datang, ada ibu yang mengangkatkan kursi untuk kami. Kami bertanya "Mana yang sakit bu?". Dia menjawab "saya"

Aih... kebayang nggak jengkelnya? She has legs... she has time... Puskesmas dekat saja... tapi kenapa nggak datang dari tadi... memang kok... kadang-kadang ada saja yang seperti itu, ibaratnya dikasih ampela, minta hati... Pahittt... Nggak sadar kalau kami, dokter dan perawat ini juga manusia, butuh waktu untuk istirahat juga...

Tapi selain hal-hal "pahit" tersebut, ada hal-hal lain yang menyenangkan... Selain bekerja, ada pula waktunya jalan-jalan dan bertualang :)

Waktu ke Saribi, aku iri ma anak-anak yang dengan cueknya melompat ke laut [dalam lho, 4-5 meteran mungkin], trus berenang ke pinggir. Pingin niru, dengan berbekal pelampung aku akhirnya terjun pula.

Aduhhhh... jeburrrr... agak panik sedikit, tapi kemudian... woww... akhirnya aku bisa lompat juga... It feels good... kemudian aku berenang ke tepi.

Nah... saat berenang-renang ditepi inilah, karang-karang yang tajam menggores kakiku. Awalnya aku nggak sadar, waktu mengepakkan kaki cuma terasa perih saja. Kemudian aku lihat kebawah, kakiku berdarah, terus-terusan. Aku angkat kakiku keatas, aku lihat jempol kaki kiriku, Masya Allah... luka robek cukup dalam!

langsung berakhir deh session berenangnya. Waktu membersihkan luka, ada yang komentar "Aih aih... kaki tipis begini jangan coba-coba berenang tanpa alas kaki, karang tajam-tajam, jangan niru orang-orang sini"

Aduh... telat sekali nasihatnya... Tapi Alhamdulillah, memang regenerasi tubuh itu keren, lukaku sembuh sempurna, tanpa "dekok" sedikitpun.

Sehabis kaki luka, aku kena faringitis, parah sekali... mana pula buang ingus tak berhenti. Dan ketika pilek reda, aku demam tak henti-henti, lemas sekali... kepala pusiinggg... mulut terasa pahit. Yup, akhirnya aku terkena malaria! Aduh... orang-orang bilang saya sudah 1/4 Papua [diinisiasi dengan malaria :P ]

Nggak enak banget deh kena malaria, akhirnya aku minum Klorokuin 3 hari, plus Primakuin single dose. Hari berikutnya wah sudah segar bugar...

Tapi rupanya, buat Tanah Papua, itu semua belum lengkap. Entah karena habis amndi-mandi di kali atau ketularan dari pasien, akhirnya aku kena kaskado juga!
Hahaha... penyakit yang kubahas di postingan sebelumnya...

Aih aih... mulanya cuma bercak kecil saja ditangan kanan, kuberi klotrimazol, tapi mungkin karena selama faringitis dan malaria aku minum Dexametason, ada efek imunosupresan-nya dan kondisi tubuhku juga sedang ga fit banget, entah bagaimana bercak itu menyebar ke tangan sebelah

Mulanya masih rajin mengolesinya dengan salep saja. Tapi ketika bintik-bintik kecil merah itu semakin menyebar, meradang dan sangat gatal,a khirnya aku memutuskan minum Ketokonazol 1x200mg, kulihat seminggu... Alhamdulillah lesi masih terlokalisir ditangan saja, tapi masih tetap merah-merah dan gatal, akhirnya kunaikkan dosis ketokonazol menjadi 1x400mg. Rupanya cukup ampuh... lesi-lesi ini akhirnya kering sendiri dan mengelupas. yak... bentuk kelupasanya konsentris berputar-putar gitu... Inisiasi kedua... kaskado :)

Sekarang aku bisa mengerti kenapa lesi dianak-anak itu bisa menyebar keseluruh tubuh. Karena memang sangat gatal sekali, jadi kemungkinan digaruk terus-terusan, nha... dan tanpa dicuci mereka juga menyentuh bagian tubuh lainnya, nyebar deh... Ini namanya learning by undergoing :)

Selain "berkenalan" dengan penyakit-penyakit itu, hidupku jauh berwarna lagi dengan petualang jalan-jalanku...

Didekat rumahku kan ada kali yang lumayan lebar. Selama ini bila aku berdiri diatas jembatan aku selalu bertanya-tanya seperti apakah ujung kali itu, bagaimana kah rasanya melalui kali ini dengan perahu. Penasaran.

Dan, akhirnya pertanyaanku terjawab, dengan menaiki sebuah perahu kecil [panjang 3 meter, lebar 0.5 meter lengkap dengan satu semang diseblah kanan] bersama Bafith, Sekap dan Maxsi, aku berkesempatan untuk menyusuri Kali Pomdori.

Wowww... benar-benar pengalaman menarik. Perahunya itu terasa sangat kecil sekali... goyang-goyang pula, untung saja ada semang [cadik] yang men-stabilkannya. Walaupun aku mengenakan pelampung terus terang saja aku takut jatuh. Aku membawa kamera [karena nggak water proof, maka aku membungkusnya dengan plastik, maka hasil fotonya tidak maksimal]. Selain itu... takut ular air... Hiii... aku sering melihatnya berenang di kali.

Tapi selain itu... Wah, pemandangannya keren banget. Pernah melihat artikel dan foto di Kompas tentang Frederick Sitaung, guru berdedikasi tinggi di pedalaman Merauke. Waktu itu ada fotonya sedang mendayung perahu di sungai ditengah hutan. Well, persis seperti itu, terkecuali bukan aku sendiri yang mendayung perahu, dan tidak ada buaya di kali [and i dont want it either] :)

Its so wonderful. Pengalaman 1 milyar!-ku :P Pohonnya tinggi-tinggi, dengan akar dibawah air, sementara banyak benalu hidup didahan-dahannya, termasuk pula sarang semut yang terkenal itu dan juga anggrek... Dan tak ketinggalan, biawak berjemur!

Iya, biawak!aku berkesempatan melihat reptil ini menyusuri pepohonan. hampir mirip seperti kadal, tapi jauh lebih besar dan sisiknya terlihat lumayan jelas. Aihhh... kerennn...

Selain menyusuri kali dengan perahu, dilain hari aku masuk menerobos hutan demi ke pantai. Seram juga...

Terus... sehabis home visite [mengunjungi pasien] di desa Namber, aku mampir sebentar ke teluk kecil didesa itu. Wowww... keren banget. Benar-benar cantik... Ini benar-benar area pilihan untuk dijadikan cottage... Lautnya berwarna hijau... dikelilingi pepohonan dna bukit-bukit rendah, semnatara didekatnya ada hunian rumah=-panggung diatas air. Cantik sekali! Aku dan Bafith sepakat, ini ialah salah satu tempat tercantik di Numfor

Selain ke Namber, ada pula "kepala air" Warembi [mata air tawar], yang ternyata muerupakan ujung dari kali Pomdori, ada juga pantai cantik berpasir putih di Ambermasi. Banyak deh jalan-jalan di Numfor-nya...

Aku bersyukur bertugas di Numfor, lebih senang lagi karena ditempatkan di Kameri. Karena Kameri nih letaknya dekat dengan obyek-obyek cantik. Kalau aku ditempatkan di Biak, aku mungkin tidak akan mendapatkan petualangan dan pengalaman yang sebanding dengan Numfor

Rasa bosan?ah tetap saja dikalahkan dengan segala pengalaman-pengalaman baru yang menarik itu...

Lagian masa bakti hampir berakhir... Harus dinikmati sepuas-puasnya...

0 Comments:

Post a Comment