YAKOMINA MANGGARA



Akhir-akhir ini aku suka mengumpulkan anggrek. Apalagi di Numfor jenisnya cukup beragam, sampai-sampai depan rumahku di sana penuh dengan anggrek. Ada yang didapat dengan mencari sendiri, ada yang minta sama penduduk, ada pula yang diberi pasien, salah satunya Bu Yakomina Manggara

Pertama bertemu dengan ibu ini diakhir Januari. Saat itu kami dipanggil untuk home visite di desa Sup Mander, katanya ada ibu yang batuk darah. Akhirnya kami kesana. Pertama melihat rumahnya, aduuuhhh... rasa-rasanya ini salah satu rumah mengenaskan yang kulihat di Numfor

Rumah panggung kayu, dengan halaman tak terawat, rumputnya tinggi-tinggi. DiHal yang terlihat "modern" dari rumah itu, di sebelah kanan rumah ada bak tandon besar dan kamar mandi dari tembok [sepertinya dari bantuan pemerintah], "dihiasi" dengan berember2 cucian basah [buanyaaakkk sekali]. Ketika mausk ke rumahnya, agak was-was... sepertinya rumahnya sudah tua, takut rubuh.

Begitu masuk, aku lihat rumah itu tidak besar, hanya berukuran 4x6 m, disekat menjadi 3 ruang, berukuran 2x4 m. 1 dibelakang, sebagai dapur terbuka, 1 sebagai kamar [dan juga tempat penyimpanan barang kah?] dan satunya lagi untuk ruang tamu?

Keluarga ini sepertinya sangat miskin... Rumah itu hampir-hampir kosong... tak ada perabotnya, di ruang tamu yang sepertinya juga berfungsi sebagai ruang tidur cuma ada selembar tikar dengan bantal-bantal, selainnya itu? Ada toples penuh berisi obat-obatan. Ada juga puyer-puyer banyak sekali, dan ketika kami membuka toplesnya, sudah banyak obat yang berubah warna. Kami ngomel, sepertinya mereka berobat dan tidak menghabiskan semua obatnya, dan sisa obatnya tetap disimpan. Kadaluwarsa tho ya... Dan karena obat tidak habis... makanya sembuhnya juga tidak total... Pantesan malaria-nya relaps terus-terusan...

Waktu itu, aku melihat ibu itu terkapar dilantai, mengeluhkan batuknya yang berdarah. Kurus kering, awut-awutan, terlihat berumur 45-an [baru kemudian aku tahu kalau dia ternyata baru berumur 30th!]. Dia menujuk ke sala-sela lantai kayu dibawahnya. "Itu budok [panggilan "kesayangan" ku, bu dokter disingkat jadi budok], ludahan saya, tadi ada darahnya". Kami melongok kebawah, iya, ada dahak disertai sedikit darah, merah segar.

Dari anamnesa, dia batuk lama... Kami curiga dia menderita TBC, apalagi melihat profilnya yang kurus kering serta keadaan rumahnya yang jauh dari sehat... Kami periksa, suara parunya fine-fine saja... Selain itu dia juga sering tahan makan [telat makan] dan mengeluhkan nyeri ulu hati dan perut sakit. Mungkinkah ulcus pepticum? Tapi tidak menyingkirkan kecurigaan TB kami. Karena waktu itu dia demam, akhirnya kami beri ACT [Artesdiquine Combined Therapy] dan Primakuin

*Well, pada akhirnya kami membuang idealisme kami setelah melakukan tes RDT ,<Rapid Diagnostic Test untuk Malaria>. Dulu bila pasien datang mengeluh sakit perut ya kami beri obat untuk sakit perutnya saja, belum berani memberi obat malaria. Padahal kami sudah dikasi tahu dengan dokter sebelumnya "kalau ada diare, atau kepala pusing, kasi saja obat malaria. Di Papua gejalanya sudah tidak khas lagi". Setelah ada RDT dan mengadakan pemeriksaan pada pasien ternyata dari kebanyakan pasien, walaupun tidak menunjukkan gejala klinis malaria, setelah di cek RDT, ternyata positif, nggak tanggung-tanggung, sering kami dapatkan mix-infection, artinya terinfeksi Malaria falciparum dan malaria jenis lain, entah ovale maupun vivax. Bahkan pernah kami temui pasien mengeluhkan sakit sendi terus menerus selama 1 bulan, trus Bafith iseng mengecek dengan RDT, eh positif malaria, mix lagi... Akhirnya sejak saat itu setiap pasien yang datang "di-malaria-kan"

Kembali ke Bu Yakomina, waktu itu kami sudah menyuruhnya untuk datang ke Kameri dan periksa dahak S-P-S [Sewaktu-Pagi-Sewaktu] untuk screening TB. Kami tunggu-tunggu, eh ternyata dia tidak datang. Aku memakluminya sih. Sup Mander itu setengah jam naik kendaraan dari Kameri. Dia tidak ada kendaraan, jadi kalau jalan kaki ya jauh banget, sementara dilihat dari kondisi keluarganya, mereka termasuk miskin, butuh biaya untuk sekedar naik ojek ke Kameri [50rb!]. Aku yakin, itu jumlah yang besar sekali buat mereka, harus mendapatkan 3-5 ikat ikan untuk mendapat uang 50rb...

Selama beberapa waktu, aku sudah hampir lupa padanya, sampai ketika ada orang datang meminta kami untuk pergi ke Sup Mander lagi, mereka bilang "ibu yang dulu batuk darah lagi". Oh i see... pasti Bu Yakomina lagi... Kali ini kami datang kesana malam hari, bersama kami ada pula Paman Simson [Kapuskes-ku], sekalian membawa wadah dahak.

Dimalam hari, rumah itu terlihat mengerikan [dan terlihat lebih tidak aman]. Paman komentar "sepertinya rumah ini akan rubuh". Kali ini kami masuk tidak lewat pintu depan, tangga masuknya dipindahkan via dapur, jadi kami masuk lewat belakang. Aih aih... ngenes deh melihatnya... perapian tungku yang menyala terus... ada anak kecil botak berumur 4 tahunan telanjang dada mengipasi tungku itu, rupanya mereka memasak papeda [makanan khas Papua].

Masuk ke ruang depan, ada orang terkapar! tapi ternyata kali ini yang terkapar Pak Sony Rumbruren (34th). Lelaki kurus yang juga terlihat jauh lebih tua dari umurnya ini demam-demam, panas tinggi, muntah-muntah dan lemas sekali. Wah... malaria nih...

Dan batuk darah? Ah ya... bu Yakomina juga batuk darah lagi. Akhirnya kami mengambil sampel dahaknya untuk diperiksa BTA-nya. Sambil menunggu dahak itu di-fixasi ke deck glass, kami memberikan obat malaria kepada pak Sony, kemudian kami berbincang-bincang dengan Bu Yakomina.

Dia bercerita kalau dia punya 6 anak, 1 meninggal. Yang sulung bernama Papua [laki-laki, 9th], kemudian menunjuk 2 anak kecil disampingnya, ada Ronice [perempuan, 2 tahun], dan Paiki [laki-laki, 9 bulan]. Kedua anak yang terakhir ini cakep2, putih bersih, dan lumayan gendut, cute [seperti Cina Serui, orang Papua yang kulitnya putih]. Kemudian anak yang tadi didapur keluar sambil memakan papeda-nya

Diterang lampu, terlihat jelas anak itu kurus sekali tapi perutnya besar sekali. Bafith menyuruhnya mendekat. Aku bertanya "ini laki-laki?". Ibunya menggeleng "Perempuan, namanya Chrisye". Bafith memeriksa perutnya dengan stetoskop dan menanyakan, pernah kah berak cacing?. Ibunya mengangguk, dan bercerita beberapa hari lalu si Chrisye ini berak cacing, dan banyak sekali sampai bu Yakomina muntah-muntah saat melihatnya [1 mangkuk!].

Saat itu kebetulan kami membawa obat cacing [cuma 1], akhirnya kami memberinya obat cacing. Kami menyuruh bu Yakomina untuk datang ke Kameri lagi hari berikutnya untuk periksa dahak lagi dan meminta obat cacing lagi bagi anaknya yang lain [anaknya 5 orang, dan kami curiga anak-anaknya yang lain juga cacingan].



(Bu Yakomina menggendong Paiki)

3 hari kemudian mereka datang ke Pkm Kameri, kali ini pak Sony dan bu Yakomina sudah nampak segar. Bu Yakomina datang membawa dahak pagi harinya untuk diperiksa. kali ini si bayi kecil Paiki [artinya "bulan" juga sakit, sepertinya bronkopneumonia]. Selain paiki mereka juga membawa anak perempuan mereka yang satunya lagi, Christina [7th]. Anak ini hampir mirip dengan Chrisye, apalagi juga sama-sama dibotakin. Anak ini demam tinggi dan lemas menyandar dibahu ayahnya, its malaria again... Aih aih... akhirnya kami memberinya obat malaria, serta obat cacing untuk dia dan saudara-saudaranya... Dan setelah dahak Bu Yakomina di-cek, ternyata BTA negatif... tapi belum pasti bukan TBC juga [harusnya di-confirm lagi dengan foto rontgen]

Terus, beberapa waktu kemudian, aku ada puskel di Saribi, karena Sup Mander bersebelahan dengan Saribi, bu Yakomina juga datang berobat. Anak-anaknya batuk beringus dan masih berak cacing. Aih aih... cacingnya betah banget... Dan dia juga mengeluhkan kandungan turun [Hah!aku kaget, umurnya kan baru 30th!!]. Dia bilang kandungannya turun terutama sore hari saat pekerjaan berat, terutama mencuci [Ya iyaa... mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian, mana anak-anaknya masih kecil-kecil pula]. Aku juga berpikir, ini juga gara-gara batuk lamanya, sering membuat Tekanan Inta Abdomen-nya meningkat, hingga jadi Prolaps Uteri.

Sedih juga... masih muda, 30th sudah Prolaps Uteri... She just five years older than me! Aku menganjurkannya ke Biak untuk pasang pesarium [cincin penahan} di Biak saja

Seusai puskel, aku jalan-jalan keluar sambil mencari anggrek [biasanya kalau lihat anggrek, aku langsung minta sama yang punya, biasanya sih langsung dikasih :D ]. Waktu itu aku melihat anggrek besaaaaarrr... eh pas ada Bu Yakomina

"cari apa?" tanyanya
"Anggrek"
"dirumah banyak" sambil menunjukkan kearah desa Sup Mander
"Boleh minta?"
"Tentu saja. Kenapa kemarin datang kerumah nggak bilang?Ada banyak dirumah"
"Waktu itu malam, gelap, lagian saya lihat dihalaman nggak ada anggrek"
"Iya, anggreknya dibelakang, banyak. Tiap ke kebun, ada anggrek, ya dibawa. mau diambilkan sekarang"
Aku senang banget tapi aku nggak enak merepotkan dia, tapi waktu itu nggak ada kendaraan juga, akhirnya aku bilang "saya mau ambil, tapi nggak ada kendaraan. nanti ya kalau saya ke dermaga, nanti mampir ke Sup Mander"

Bu Yakomina dan pak Sony mengangguk dan mengiyakan. Kemudian aku ingat kalau hari Minggunya aku mau ke Biak, naik kapal di pelabuhan Saribi. Ah sekalian saja...

"Oh ya, saya ada mau ke Biak hari Minggu, nanti saya ambil ya, sekalian saya bawa surat rujukan ke Biak buat bu Yakomina"
"Ah, itu sudah... nanti saya ke pelabuhan saja, sambil bawa anggrek buat dokter tho..."

Sepakat!

Hari Minggu siang aku ke pelabuhan, sudah ramai sekali. Aku mencari Bu Yakomina sambil membawa surat rujukannya. Kucari-cari nggak ada. Akhirnya aku naik ke kapal, dan menitipkan surat rujukan ke Paman Yance. Kemudian pas keluar, Bafith memanggil "Luch, kamu dicari bu Yakomina tuh, bawa anggrek, buesaarrrr"

Aku langsung turun kapal lagi, mencari Bu Yakomina. Kulihat ibu ini dari jauh, kudatangi. Ternyata dia datangnya bersama anaknya, Papua dan Christina sambil membawakanku 2 anggrek jadi, anggrek daun bulat yang cukup besar dan sudah berbunga. Aih... cantik sekalii...

Mereka membantu membawa anggrek itu masuk kedalam kapal. Kami sempat berbincang-bincang sebentar. Ketika kapal mau berangkat, mereka masih menunggui dipelabuhan, sambil melambai-lambaikan tangannya. Aduhh... terharu...

Terimakasih bu Yakomina...

2 Comments:

  1. daniiswara.net said...
    ceritanya menarik, dok..
    moga mereka mau berobat teratur dan memahami pencegahannya..

    koleksi anggreknya jg pasti dah banyak ya.. :)

    sukses deh dgn PTT-nya..

    salam,
    dani
    Luluch The Cinnamon said...
    Terimakasih :)

    Luluch

Post a Comment