Meninggalkan Biak-Numfor [Sebentar lagi...]



2 hari lagi, aku akan pergi meninggalkan Biak Numfor, kembali lagi ke Jawa. Yap… masa tugasku sebagai dokter PTT di kabupaten Biak Numfor sudah hampir berakhir.

Aku turun dari Numfor tanggal 18 April lalu, naik Twin Outer bersama mbak Rani. Senang juga punya kesempatan naik Twin Outer ketika kembali ke Biak, soalnya biasanya dari Numfor ke Biak aku naik kapal Yapwairon.

Sejak dari sebulan lalu, sudah excited untuk pulang. Kasarnya sih “menghitung hari” hehehe. Seusai puskel dari Baruki, paman Simson mengadakan rapat kilat tentang kepulanganku. Disetujui bahwa akan ada acara perpisahan resmi dari Puskesmas, dan acara piknik bersama di pulau Manem.

Minggu, 13 April, aku pergi berkeliling Numfor naik motor bersama Bafith. Wah… my last chance to see all of Numfor. Tujuan pertama ke kepala air Warembi [mata air], kemudian diteruskan ke Teluk Duai-Bruyadori yang indah sekali… dari situ kami pergi ke pantai Manggari, diteruskan ke Mandori!! Wah… akhirnya kesampaian juga untuk pergi ke Mandori, ujungnya Numfor Timur Jauh.



Dari Mandori kami berputar ke Numfor Barat Jauh, ke Pakreki lagi untuk melihat “pulau Numfor” yang asli, terus ke Teluk Kopowi di Namber. Wahh… Teluk Kopowi ini my favourite place… cantik banget!!. Abis dari itu, kembali lagi ke Numfor Barat, pantai Asaibori… hehehe… walau capeknya naudszubillah… tapi puas…



Senin, 14 April, kami sibuk memasak untuk acara perpisahanku. Tidak hanya aku dan petugas Puskesmas saja, tapi juga dibantu oleh masyarakat sekitar. Hidangannya sederhana, ikan saus, “sayur kota” [sayur sop!], sayur singkong, tumis buncis, telur, es kelapa dan… babi kecap!

Jangan terperangah. I’m a moslem… I don’t intend it.

Dan masakan babi kecap ini adalah suatu “keberuntungan” [buat orang-orang sekitar Puskesmas], karena saat paman bersama anak-anak sedang mengambil daun singkong di kebunnya Mbak Rosa, pas ], ada Babi Hutan. Si Gusti [anak tetangga sebelah] bawa parang, langsung dilempar kearah babi itu, kena kepala. Babinya semaput hehehe. Langsung deh dihantam Pak Simson… yah, inilah calon “hidangan utama” acara perpisahanku…

Walaupun yang membantu aku masak mayoritas beragama Kristen Protestan, mereka mengerti kalau babi itu haram buat kaum muslim. Mereka juga mengerti untuk tidak memasak dalam panci yang sama. Jadi kami memasak makanan lainnya di rumah Aho, babi itu dimasak di rumah paman Simson. Mereka berkata padaku bahwa aku sungguh beruntung, karena bisa mendapatkan babi untuk perpisahanku. Gratis pula! [kan babi tuh barang mehel]. Yah… I really-really appreciate it…

Perpisahan itu rencananya diadakan jam 19.00 WIT. Tapi sampai lewat waktu, tamu-tamu belum datang. Aduh… ternyata pak Camat mengadakan acara ibadah keret dirumahnya.

Wah… miskoordinasi nih… Jadi kami terpaksa menunggu sampai pak Hengky [pak camat] menyelesaikan acaranya baru kemudian menghadiri acara kami. Akhirnya kami baru bisa memulai acara pada jam 21.30 WIT, wah… too late… mana hujan pula… Jadi yang datang ke acara ya tidak terlalu banyak, tapi tetap lumayan rame.

Selasa, 15 April, seharusnya kami pergi ke pulau Manem hari ini. Langit cerah, tapi sejak pagi angin menderu-deru tidak berhenti. Acara pergi ke Pulau Manem batal! Namanya menyabung nyawa kalau tetap nekat ke Manem… Agak sedih sih… tapi berdoa biar esoknya cuaca cerah sehingga kami bisa pergi ke Pulau Manem.




Rabu, 16 April, akhirnya pergi ke Manem juga!! Tepat tengah hari, dengan naik Johnson, kami-petugas Puskesmas-dan beberapa masyarakat sekitar pergi ke Pulau Manem. Pulau Manem ini terletak tepat di depan Teluk Kopowi-Namber, bisa dicapai dengan naik perahu atau Johnson. Dari Kameri, kami menempuh 1,5 jam perjalanan naik Johnson.

Well, itu adalah pengalaman pertamaku naik Johnson. Serem juga… soalnya saat itu laut masih agak gelombang… Apalagi aku dan Bafith duduk didepan, goyangnya kapal terasa sekali… Dan so pasti basah kuyup terkena pecahan ombak. Huwahhh… asin!

Syukur Alhamdulillah kami sampai di Manem dengan selamat. No doubt, Manem memang indah. Kami langsung berjalan berkeliling mengelilingi Manem, 1 jam an saja. Sehabis itu, mandi-mandi di pantai sepuasnya… Oh ya, saat itu aku juga berkesempatan untuk makan lobster!! Hehehe… pas kebetulan ada yang dapat lobster saat “molo” [mencari ikan]. Tanpa dikasi bumbu apa-apa, lobster itu langsung dibakar saja. Tapi rasanya… wah… lezat luar biasa… senang deh…

Menjelang malam, kami kembali ke darat via Namber. Jadi kami naik Johnson dari Manem ke Namber, kemudian dari Namber kami naik mobil puskesmas ke Kameri. Di mobil kami semua diam saja, kecapekan…

Hari rabu, aku siap-siap packing. Beberapa barang yang kurang berguna buatku, kulungsurkan ke tuan rumahku [mbak Rosa, perawat yang tinggal bersamaku] dan masyarakat sekitar. Baju-baju dan barang lainnya cukup dimasukkan dalam 2 tas sedang saja… Tapi tentu saja aku tidak kembali ke Biak hanya dengan membawa 2 tas, tambahannya banyak!

Apa aja yang kubawa dari Numfor?Ada 2 kardus plus 1 karung anggrek!! Yap… sejak di Numfor kan aku jatuh cinta ma anggrek, maka selama ini aku semangat ngumpulin anggrek. Rata-rata sih dikasih, tapi ada juga beberapa yang beli. Ditotal sih ada sekitar 13 jenis anggrek yang kudapat hehehe. Tapi itupun belum cukup… ada beberapa tanaman yang kutaksir, aku sekalian bawa… jadi bagasiku banyak sekali hehehe

Oh ya saat itu aku dikasih ayam jago oleh mama Oce lho… Aduh… terharu… Niatnya sih mau nyumbang ayam jantan buat acara perpisahanku, tapi karena telat, kata beliau terserah deh mau diapain. Kalau naik kapal sih oke saja bawa ayam, tapi saat itu kan mau naik pesawat. Jadi untuk menjaga perasaan Mama Oce, aku tetap membawa kardus berisi Pyo [nama ayam jago itu hihihi :D ], tapi sesampainya di bandara, aku minta ayam itu dibawa pulang ke Kameri dan dimasak buat orang-orang Puskesmas saja… Terimakasih ya Mama Oce…



Aku pergi ke bandara dilepas oleh Bafith, Paman Simson, Bu Oce, Bu Gery, n Buce. Petugas puskesmas lainnya tidak bisa mengantar karena ada urusan mendesak berkaitan dengan masalah yang menimpa salah satu petugas Pkm kami.

Overall… selain senang, ada perasaan sedih juga. Kehilangan.

Bulan-bulan lalu mungkin aku sangat-sangat menunggu saat-saat ini. Tapi nggak disangka juga, saat menjelang pulang begini aku malah jadi malas-malasan buat pulang. Kalau bukan karena ada urusan-urusan yang harus segera dibereskan di Jawa, mungkin aku menunda waktu kepulanganku.

Waktu pesawat lepas landas, aku sedih… Thinking that maybe I wont see Numfor anymore [although I hope I have chance to visit Numfor again someday later]. Thinking that I left one of beautiful things in my life…

I left Pkm Kameri, I left Numfor, I left its beauties [things that I’ll keep forever in my memory]

I left Bafith, “dear soulmate”-ku di Kameri, yang walaupun kadang-kadang menyebalkan, tapi aku bisa bilang bahwa im so grateful that I was placed in Kameri with him. He helped me so much, kadang-kadang kemalasanku tercover olehnya hehehe. Thanks ya Fith

I left Puskesmas’people ; Paman Simson Kapisa, Pak Yance Sanggenafa, Mbak Rosa Tandana, Mas Aho beserta istri, Mbak Eka Winarsih, Bu Oce Kafiar, Bu Gerarda Noriwari, pak Yoel Krey, Pak Musa Marisan, Pak Klemens Kauyan, Buce Kamer, Hengki Mambraku. Thank you so much for all…

I left people in Numfor, which are very-very kind to me... Elis, Maxsi, Pati, Mama Rema, Mama Gusti, Mama Oce, Ibu Yakomina Manggara, etc…Thanks for everything…

And of course I left JOKER!! Permainan kartu yang sangat-sangat-sangat sering kami mainkan… Di Jawa kayaknya jarang deh yang main kartu Joker

Ahh… 6 bulan yang sangat-sangat-sangat kaya…

Sarat pengalaman dan kenangan, yang aku yakin bahwa ini akan menjadi modal berharga bagi hidupku kedepannya…

Numfor and its people have special place in my heart, they left beautiful memories in my life. And I hope that I left beautiful memories in Numfor too…

1 Comment:

  1. elisa said...
    you rock, girl! ga byk lulusan kedokteran yg mau PTT di tempat terpencil (soalnya aq tau byk yg ga mau :p)

Post a Comment