Anggrek dari Numfor



Papua sebagai salah satu pulau besar di Indonesia yang masih alami, memiliki kekayaan dan keanekaragaman hayati yang sangat berlimpah.

Hal ini saya saksikan sendiri ketika saya bertugas di pulau Numfor di wilayah Teluk Cendrawasih, Papua. Pulau dengan luas 331.26 Km2 ini bisa dibilang perawan. Hutan-hutannya didominasi pepohononan yang sangat tinggi dan rapat, dan belum terjamah [and I hope will not]. Banyak sekali saya jumpai tanaman-tanaman yang belum pernah saya saksikan sebelumnya, atau yang dulu hanya saya tahu dari ‘dengar-dengar” saja. Contohnya, “Buah Merah”, “Sarang semut”, “Keris papua”, dll




Selain itu, disini saya sering menjumpai anggrek. Ya, anggrek Papua dengan bermacam jenis. Mulai dari anggrek yang umum dikenal orang ; Anggrek Macan [Grammatophyllum speciosum], Anggrek daun bulat, Anggrek kelinci,dll. Hingga ke jenis-jenis lain yang saya tidak ketahui namanya.

Awalnya saya kurang begitu suka dengan tanaman, tapi berhubung teman perawat yang tinggal bersama dengan saya sangat menyukai bunga, akhirnya saya pun mulai menyukainya. Sampai-sampai halaman depan rumah kami penuh dengan berbagai jenis anggrek!

Sebenarnya tidaklah sulit untuk mencari anggrek di Numfor, selain penduduk rata-rata memeliharanya, kita juga dapat mendapatkannya sendiri dengan hunting di hutan. Karena hutan di Numfor masih sangat bagus dan belum dieksplorasi, cukup gampang untuk menemukan anggrek-anggrek liar tersebut.

Anggrek yang paling sering ditemui di Numfor ialah jenis Anggrek Macan dan Anggrek Daun Bulat. Anggrek Macan ini sangat cantik sekali, bunganya berwarna dasar kuning atau hijau dengan bintik-bintik coklat, mirip dengan totol macan!! Anggrek ini bila berbunga, tahan lumayan lama, dan tingginya bisa mencapai 1 meter lebih.



Anggrek daun bulat ini daunnya mirip daun anggrek ungu yang sering kita jumpai di Jawa. Namun anggrek daun bulat ini bunganya berwarna kuning. Bila sudah tua, dia tinggi sekali. Saya pernah menemukan anggrek daun bulat ini dengan tinggi hampir 2 meter!! Sangat besarrr… Pastilah umurnya sudah berpuluh-puluh tahun…



Anggrek daun kelinci [ Saya tidak tahu apakah benar ini anggrek kelinci, ini hanya berdasarkan penyebutan dari masyarakat Numfor] itu daunnya kecil-kecil, bunganya mirip dengan anggrek macan namun lebih kecil, berwarna dasar kuning dengan bintik-bintik jingga!! Sangat cantik.




Ada juga anggrek-anggrek lainnya seperti anggrek cendrawasih, anggrek rumput, dan anggrek-anggrek yang tidak saya ketahui namanya. Mulanya saya tidak percaya bahwa tanaman-tanaman itu anggrek [benar-benar seperti rumput biasa], namun ketika mereka berbunga. Wah, memang benar! cantik sekali…




Bila kita datang ke pelabuhan pada saat ada kapal perintis, maka kita akan melihat banyak anggrek yang hendak dibawa ke Biak ataupun Manokwari. Kebanyakan sih hendak dijual di kota, karena harganya lumayan mahal, apalagi yang sedang berbunga. Yang sering dibawa ya anggrek macan dan anggrek daun bulat yang sudah besar

Saya mendapatkan anggrek dengan meminta anak tetangga saya [Elis dan Maxsi]untuk mencarikan anggrek, selain itu bila saya puskel ke desa-desa, kadang saya meminta kepada mereka, kadang juga ada pasien-pasien saya yang membawakan saya anggrek [Seperti Bu Yakomina Manggara dan Bu Sarah], tapi saya juga pernah hunting ke hutan [tetap saja yang mengambil si Elis :D ]

Anggrek yang saya kumpulkan waktu itu lumayan banyak, apalagi ditambah dengan yang diberi oleh pak Yoel Krey [terima kasih pak]. Bapa nya Eta Krey ini rela keluar amsuk hutan demi mencarikan anggrek untuk saya [“sebagai kenang-kenangan dok!”]. kaget juga waktu dating dengan membawa 2 karung anggrek [Oh My God…]. Saya bingung juga untuk membawanya. Akhirnya saya bawa ke Biak dan setelah dipilah-pilah, sebagian saya bagikan kepada teman-teman dokter PTT saya.

Saya lebih memilih membawa yang kecil-kecil, yang jarang didapat, serta yang mempunyai nilai historis bagi saya [anggrek yang diberikan oleh Elis, Maxsi, Bu Yakomina dan Bu Sarah]

Ayah saya [yang penggemar bunga] senang sekali ketika saya membawakan beliau anggrek. Anggrek-anggrek itu ditanam di belakang rumah, and so far so good… Mungkin tumbuh dengan bagus karena iklim di Purwodadi yang hampir sama dengan Numfor [sama panasnya]. Beberapa waktu lalu pun anggreknya sudah sempat ada yang berbunga. Wah… senang!! Selalu mengingatkan saya akan rumah tempat tinggal saya di Numfor yang halaman depannya dipenuhi dengan anggrek

3 Comments:

  1. fisha17 said...
    wesss. foto2ne keren, cakep2. ini cuman ada di Papua ajah ya??
    tina said...
    blogwalking....
    Sunshine said...
    ^_^ senang sekali melihat ada begitu banyak orang yang Tuhan kirim untuk Papua...kangen rasanya ketika melihat banyak sekali yang membahas ttg Papua dan keindahan, kesulitan, keanekaragaman hal yang terjadi..saya sungguh2 diberkati di perantauan..kangen sekali pengen pulang krn udah 5 tahun belajar di luar Papua T_T..terima kasih untuk blognya..saya tau dari majalah CHIC teman saya...kalau sempat mampir ke blog saya osmondtouch.blogspot.com..terima kasih..Gbu!

Post a Comment