Pulau Numfor; Pomdori - Asaibori



Sudah hampir 3 bulan aku meninggalkan Numfor. Enjoy juga sih, bisa kembali, menikmati kemudahan-kemudahan dan hiburan di Jawa. Tapi tak bisa dipungkiri, there’s something missing… I miss Numfor now…

Apalagi setelah membaca Kompas tentang Ekspedisi Enggano. Pulau Enggano diwilayah Sumatra ini hampir mirip dengan Numfor ku.

Saat ini di Numfor sudah pukul 13.00 WIT, berhubung hampir akhir minggu, biasanya pasien sepi. Bila aku disana sekarang ini, mungkin aku sedang dirumah, tidur siang, atau bermain joker dengan tetangga :D . Bila sore sedikit, anak-anak mulai keluar dan memancing di sepanjang pantai di Pomdori. Wahhh, sangat mudah sekali untuk mendapatkan ikan walaupun cuma di tepian pantai. Walaupun kecil, tapi layak makan lah... :D



Just wonder… apa cuaca di Numfor masih “kacau” seperti ketika kutinggalkan. Entahlah… tapi memang cuaca di Numfor gampang berubah. Bisa seharian panas sekali, lalu besoknya hujan turun seharian penuh. Bila hari sedang panas, sore-sore enak sekali mandi-mandi di laut atau di jembatan [jembatan Pomdori]. Bisa dibilang inilah salah satu tempat bersosialisasi di Pomdori :)

Air laut maupun sungai [kali] di Numfor masih sangat-sangat jernih sekali [beda banget ma kali-kali n laut di Jawa!]. Kita bisa dengan mudah melihat ikan-ikan berenang kesana kemari. Jernih dan sejuk menggoda, terutama di hari-hari yang panas. Apalagi ombaknya berjarak cukup jauh dari pantainya, terhalang reef [gugusan karang], jadi di pantai-pantai Numfor, relatif tenang, nyaman untuk berenang. Cuma harus hati-hati bagi yang tidak terbiasa. Tidak semua pantai-pantai di Numfor berdasar pasir, karena airnya ada pula yang berdasar batu-batu karang. Lumayan sakit lho bila tergores [apalagi bila tidak memakai sepatu khusus].



Bila hari Minggu siang, seusai Sekolah Minggu, biasanya anak-anak akan berduyun-duyun dating ke Jembatan Pomdori atau ke Pantai Asaibori untuk bermain-main. Asyiknya main di Jembatan, bisa adu keberanian. "TERJUN"!! "LOMPAT!" . Aku sendiri tidak pernah berani melompat dari jembatan, palingan cuma mandi-mandi di pinggiran Kali :D Habis arusnya kencang dan dasarnya karang-karang tajam sih... Sayang "sol alami"-ku... :D

Pantai Asaibori sendiri dapat ditempuh dengan berjalan kali sejauh 2 km [well, lumayan capek!! Apalagi di tengah hari yang terik!], disana ada sebuah pantai yang cantik, cocok untuk berenang-renang. Asyiknya lagi, sudah disiapkan bangku-bangku sederhana untuk duduk. Nenek Asaibori [nenek yang tinggal didekat situ, habis ga tau namanya sih :P ], sering menemui kita bila kita datang ke pantai Asaibori. Beliau akan membawakan kita buah ketapang yang dikumpulkan dari sekitar hutan di Asaibori. Yahh... snack macam kacang , namun harus pakai acara repot dulu! Buah ketapang harus dipecah dulu kulitnya untuk mendapatkan isinya yang rasanya emang mirip kacang itu [mentah gitu...]

Nenek Asaibori nih hebat lhoo... Beliau dulu tinggal sendirian di dekat pantai Asaibori, benar-benar sendirian! [katanya sih Asaibori punya semacam nilai historis buat beliau], dengan jarak rumah terdekat paling tidak 2-3 km. Secaranya... saat itu Asaibori masih hutan banget dan jalannya cuma jalan setapak. Hebattt...

Tapi sekarang katanya di Asaibori mulai dibangun perkampungan baru, seiring dengan adanya jalan baru yang lebar dan mulus mulai dari Pomdori menuju ke Yenmanu, melintasi Asaibori. Yah... gaung pemekaran Numfor menjadi kabupaten tersendiri [lepas dari Biak] membawa angin pembangunan di Numfor. Semoga kemajuannya bisa dinikmati seluruh warga Numfor :D

Hmmm... tungguin postingan tentang daerah-daerah lain di Numfor yahh... pasti menarik! :)

5 Comments:

  1. halfian said...
    wow, menarik sekali cerita tentang Biak Numfornya Dok, makin mupeng deh daku pengen nginjak daerah timur nusantara itu :-)
    Btw, senior aku yg 98 itu daku kurang begitu kenal, tapi kalau ketemu pasti kenal deh hehehe soalnya angkatan beliau itulah yg ngospekin angkatanku.
    Ditunggu kelanjutan kisah pengalaman di Biaknyanya yah dok ..
    Anonymous said...
    Pulau numfor memang pulau yg luar biasa. Apalagi lompat di jempatan Pomdori. Sambil temanin tante Rematobi, tante oce &ll. Senang ya...tugas sekalian jalan2 di pulau numfor kenangan yg tak pernah dilupakan. Slm dari Emy Kurni( pernah tgl di numfor, Kameri)
    faiDa said...
    Nice blog jeung....
    setelah membuka halaman2 di blog mbak luluch ini jadi pengen berkunjung ke tanah numfor, hehehe. tapi kapan ya??!!!hopefully suatu saat bisa sampai sana*ngayal mode on*
    oiya, ada titipin salam dari kawan saya yang dulu pernah melakukan studi ttg Numfor, namanya mba ika.
    Anonymous said...
    emang benar.Numfor mulai banyak pengunjung, mulai dari yang berkepentingan meneliti, refreshing, sampai yang mau nikmati ikan segr dengan cr membeli di dermaga Numfor (derah kampung Saribi).Numfor juga cukup menarik untuk dijadikan tempat wista pantai...tapi yang perlu diketahui bahwa nama Numfor itu sebenarnya berasal dari nama pulau kecil yang terletak tepat di depan kampung Pakreki Distrik Orkeri. mau tulis sejarah Numfor, tapi sumbernya belum lengkap...hehehehe
    meimosaki said...
    mantapz, saya jadi punya gambaran dikit tentang Numfoor, rencananya mo jalan dengan teman2 ke Numfoor, padahal pulau ini dekat dari Manokwari, sayangnya saya belum pernah ke sana. Mohon info tentang Amberparem di Numfoor Timur donk ... rencananya ingin napas tilas ke sana. Skalian mungkin tau info cottage atau penginapan getho plus kalo backpacking pake acara camping getho, di daerah mana yang aman :)

Post a Comment