Louder than Words

Habis baca blognya Dee + komen, jd gatel pgn komentar :P

Tau kan... di infotainment banyak diberitakan ttg perceraiannya Dewi Lestari dengan Marcell. Menariknya...?? karena Dee tuh sosok fenomenal buatku. I like her books, suka dengan cara pandangnya menghadapi sesuatu. Dan ketika akhirnya dia memaparkan tentang perceraiannya di blog-nya [Barusan aku lihat juga di-publish di Mingguan cempaka --> Im not sure if it published with her permission], banyak reaksi bermunculan tentang point of viewnya [150 comments bo... ].

Aku tertarik, karena dia menyebutkan suatu hal yang hampir sama dengan pandanganku. Dia menuliskan bahwa "segala sesuatu itu punya masa berakhirnya, termasuk hubungan", hmmm... "punya masa kadaluarsa" gituuu...

Aku? Well... tidak tepat sama... Aku mempunyai anggapan bahwa "orang yang berjodoh dengan kita mempunyai jatah waktunya sendiri-sendiri". Toh begitu menjadi suami-istri [yang katanya sudah "jodone..." itu] tidak serta merta menjadi benar-benar jodoh.


Menurutku, kita mempunyai jodoh dengan jangka waktunya sendiri-sendiri. Yah, ada yang 1 tahun, 7 tahun, 5 bulan, 40 tahun, bahkan seumur hidup atau cuma 1 minggu. Itu proses. Ada yang beruntung langsung mendapatkan pasangan jiwa seumur hidupnya. Ada yang tidak beruntung, harus menjalani beberapa perpisahan dulu baru mendapatkannya, atau harus "berdarah-darah susah payah" dulu untuk menemukannya. Ya... seperti itulah, mungkin jatah waktunya Dee ma Marcell cuma beberapa tahun saja.

"Sudah waktunya"

Kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. karena kadang-kadang seberapa keras pun kita berusaha, bila memang suatu hal itu bukan "jatah" kita [lagi], kita memang tidak akan mendapatkannya. Begitu pula jodoh.

Hidup, jodoh, mati, ada ditangan Tuhan. Segala sesuatu berjalan sesuai kehendak-Nya. Qui sera sera... Yang terjadi, terjadilah...

Morning Call

Pagi-pagi aku ditelpon Anung [adik kelasku, anak Purwodadi juga], bahwa Bu Umi [neneknya], suhunya naik dan penurunan kesadaran. Aku diminta datang kerumahnya untuk melihat keadaannya.

Bu Umi, 80 th, beberapa waktu lalu dirawat di RS tempatku bekerja. Didiagnosa dengan Stroke + HHD + Pneumonia dengan riwayat DM. Sempat pula masuk ICU 2 hari karena tiba-tiba terjadi penurunan kesadaran. Sebelumnya sempat dirawat hampir 3 minggu di RS Meilia, Jakarta. Tapi dibawa pulang karena Bu Umi menghendaki pulang ke Purwodadi. Dan akhirnya di Purwodadi, Bu Umi opname lagi. Aku sempat memeriksanya, beliau kesulitan bernafas. Nafasnya grok-grok, terdengar Ronki Kasar diseluruh lapangan paru. Harus dipasang O2 masker dan suction rutin.

3 hari yang lalu, Bu Umi diperbolehkan pulang oleh Sp. PD yang merawat beliau. Kata keluarganya, saat itu bu Umi sadar dan nafasnya sudah tidak grok-grok lagi. Waktu pulang, masih terpasang NGT, jadi masih bisa makan-minum via NGT tersebut [keluarganya menyewa perawat untuk merawat beliau]. Tapi kemarin sore, pas kebetulan perawatnya sedang keluar kamar, Bu Umi melepas selang NGT nya sendiri [mungkin risih ya]. Dan sesudah itu, Bu Umi kesulitan untuk makan dan minum [sesak, dan terpasang masker O2], sementara untuk memasang NGT lagi, perawat yang ada juga kesulitan. Jadilah sepanjang malam Bu Umi tidak makan dan minum.


Dan pagi-pagi tadi tubuhnya terasa panas dan kurang sadar, akhirnya Anung meminta aku untuk datang kerumahnya dan melihat keadaan beliau.

Masuk ke kamar beliau, surprise! Bu Umi berbaring di tempat tidur sudah terpasang masker O2, ada tabung O2 portabel disampingnya, tensimeter digital terbalut dilengan kanannya, dan ada alat suction di mejanya. Wow... bisa bikin klinik nih... [maklum... anak beliau termasuk berada].

Kulihat beliau lemas sekali, namun saat kupanggil masih bisa membuka mata [Alert]. Kuraba badannya, panas! Kudengarkan suara parunya, ronki kasar disemua lapang paru, sepertinya banyak dahak. Bu Umi bernafas menggunakan mulut, dan terdengar suara grok-grok, Nafasnya 40x/menit [tachypneu], tensinya 151/75 mmHg dan Nadi 128 x [takikardi]. Padahal tensinya selama di RS, sistoliknya antara 180-200 mmHg. Hmm... nggak bagus nih...

Keluarganya bertanya, bagaimana??
Aku bilang, kondisinya nggak bagus, infeksi paru-paru, dan dehidrasi juga memperparah kondisinya. Beliau butuh asupan cairan, enteral maupun parenteral. Kusarankan untuk membawanya ke RS, masuk ICU. Keluarganya bingung, soalnya si Ibu ini menolak dibawa ke RS [maunya dirumah saja], apalagi dirawat di ICU [tidak bisa ditungguin all day]. Dan mereka bertanya, bisa diinfus dirumah saja tidak? kan sudah ada perawat yang menjaga. Aku bilang aku nggak berani [ini bukan Numfor gitu lhohhh...], dan tetap kusarankan untuk ke RS.

Akhirnya setelah dirundingkan, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa beliau ke RS untuk perawatan lebih lanjut. Aku diminta menyampaikannya ke Bu Umi [perintah dokter gitu, biar Bu Umi mau... soalnya kalau yang bilang anak-anaknya, beliau menolak]. Saat aku meninggalkan rumah beliau, keluarganya sedang bersiap-siap menunggu ambulans. Yahh... aku harap semoga Bu Umi baik-baik saja...

Join forum-dokter.com


Halo halooow...

Just wanna inform buat sesama TS dokter seluruh Indonesia, sekarang ada forum-dokter.com lhohhh...

Forum Komunikasi Dokter Indonesia

Ini komunitas tempat kumpul-kumpul sesama dokter [hmmm, dentist and veterinary juga bole join, non dokter juga boleh kok]. Bisa tuker-tuker cerita, bagi-bagi info-pengalaman, ada juga e-book gratis [Harrison, Nelson, etc...]. Silakan join [klik disini] and bareng-bareng ngerameinnya yukkk...

Lets join!!

Pulau Numfor; Pomdori - Asaibori



Sudah hampir 3 bulan aku meninggalkan Numfor. Enjoy juga sih, bisa kembali, menikmati kemudahan-kemudahan dan hiburan di Jawa. Tapi tak bisa dipungkiri, there’s something missing… I miss Numfor now…

Apalagi setelah membaca Kompas tentang Ekspedisi Enggano. Pulau Enggano diwilayah Sumatra ini hampir mirip dengan Numfor ku.

Saat ini di Numfor sudah pukul 13.00 WIT, berhubung hampir akhir minggu, biasanya pasien sepi. Bila aku disana sekarang ini, mungkin aku sedang dirumah, tidur siang, atau bermain joker dengan tetangga :D . Bila sore sedikit, anak-anak mulai keluar dan memancing di sepanjang pantai di Pomdori. Wahhh, sangat mudah sekali untuk mendapatkan ikan walaupun cuma di tepian pantai. Walaupun kecil, tapi layak makan lah... :D



Just wonder… apa cuaca di Numfor masih “kacau” seperti ketika kutinggalkan. Entahlah… tapi memang cuaca di Numfor gampang berubah. Bisa seharian panas sekali, lalu besoknya hujan turun seharian penuh. Bila hari sedang panas, sore-sore enak sekali mandi-mandi di laut atau di jembatan [jembatan Pomdori]. Bisa dibilang inilah salah satu tempat bersosialisasi di Pomdori :)

Air laut maupun sungai [kali] di Numfor masih sangat-sangat jernih sekali [beda banget ma kali-kali n laut di Jawa!]. Kita bisa dengan mudah melihat ikan-ikan berenang kesana kemari. Jernih dan sejuk menggoda, terutama di hari-hari yang panas. Apalagi ombaknya berjarak cukup jauh dari pantainya, terhalang reef [gugusan karang], jadi di pantai-pantai Numfor, relatif tenang, nyaman untuk berenang. Cuma harus hati-hati bagi yang tidak terbiasa. Tidak semua pantai-pantai di Numfor berdasar pasir, karena airnya ada pula yang berdasar batu-batu karang. Lumayan sakit lho bila tergores [apalagi bila tidak memakai sepatu khusus].



Bila hari Minggu siang, seusai Sekolah Minggu, biasanya anak-anak akan berduyun-duyun dating ke Jembatan Pomdori atau ke Pantai Asaibori untuk bermain-main. Asyiknya main di Jembatan, bisa adu keberanian. "TERJUN"!! "LOMPAT!" . Aku sendiri tidak pernah berani melompat dari jembatan, palingan cuma mandi-mandi di pinggiran Kali :D Habis arusnya kencang dan dasarnya karang-karang tajam sih... Sayang "sol alami"-ku... :D

Pantai Asaibori sendiri dapat ditempuh dengan berjalan kali sejauh 2 km [well, lumayan capek!! Apalagi di tengah hari yang terik!], disana ada sebuah pantai yang cantik, cocok untuk berenang-renang. Asyiknya lagi, sudah disiapkan bangku-bangku sederhana untuk duduk. Nenek Asaibori [nenek yang tinggal didekat situ, habis ga tau namanya sih :P ], sering menemui kita bila kita datang ke pantai Asaibori. Beliau akan membawakan kita buah ketapang yang dikumpulkan dari sekitar hutan di Asaibori. Yahh... snack macam kacang , namun harus pakai acara repot dulu! Buah ketapang harus dipecah dulu kulitnya untuk mendapatkan isinya yang rasanya emang mirip kacang itu [mentah gitu...]

Nenek Asaibori nih hebat lhoo... Beliau dulu tinggal sendirian di dekat pantai Asaibori, benar-benar sendirian! [katanya sih Asaibori punya semacam nilai historis buat beliau], dengan jarak rumah terdekat paling tidak 2-3 km. Secaranya... saat itu Asaibori masih hutan banget dan jalannya cuma jalan setapak. Hebattt...

Tapi sekarang katanya di Asaibori mulai dibangun perkampungan baru, seiring dengan adanya jalan baru yang lebar dan mulus mulai dari Pomdori menuju ke Yenmanu, melintasi Asaibori. Yah... gaung pemekaran Numfor menjadi kabupaten tersendiri [lepas dari Biak] membawa angin pembangunan di Numfor. Semoga kemajuannya bisa dinikmati seluruh warga Numfor :D

Hmmm... tungguin postingan tentang daerah-daerah lain di Numfor yahh... pasti menarik! :)

Women's Health!!

Women, hello! Posting kali ini tentang risiko penyakit yang dihadapi oleh perempuan [cowok juga boleh baca kok :) ]. Perempuan memang berbeda dari pria, tidak hanya dari segi fisik, namun juga dari segi fisiologis tubuh karena ada hormon-hormon yang berbeda.

Dari hasil statistik, usia harapan hidup perempuan di Indonesia ialah 70 tahun (tahun 2000), sedangkan pria "hanya" 65 tahun. So, tidaklah mengherankan jika penyakit atau kondisi yang terkait dengan usia seperti hipertensi, mempunyai pengaruh yang lebih besar pada perempuan.

Apa saja sih risiko penyakit yang dihadapi oleh perempuan???

1. Penyakit Alzheimer ;
Penyakit ini 2 x lebih byk diderita oleh perempuan dibanding pria, terkait dengan usia harapan hidup yang lebih tinggi [risiko Alzheimer meningkat dengan semakin bertambahnya usia], juga adanya perbedaan dalam hal ukuran, struktur, dan organisasi fungsional otak terkait dengan perbedaan jenis kelamin.

2. Penyakit Jantung Koroner [PJK] ;
Dimana rata-rata penyakit ini timbul pada usia 10-15 tahun lebih tua dibandingkan pria, serta berhubungan dengan faktor komorbid lain yakni ; hipertensi, DM, gagal jantung kongestif. Dengan "angina" sebagai gejala awal tersering pada perempuan, dan gejala lainnya atipikal [tidak khas], seperti mual, muntah, dan nyeri punggung bagian atas. Dan semakin muda perempuan mengalami infark miokard, semakin tinggi risiko mortalitasnya dibandingkan pria pada usia yg sama.

3. Diabetes Mellitus [DM] ;
Prevalensi [angka kejadian] DM tipe 2 lebih tinggi, salah satunya karena tingginya juga prevalensi obesitas pada perempuan. Sindrom Ovarium polikistik dan DM pada kehamilan pada saat premenopause juga menjadi faktor risiko timbulnya DM tipe 2 pada perempuan pascamenopause. Terus... Perempuan pramenopause dengan DM, akan mengalami gangguan fungsi endotel dan penurunan respons vasodilatasi koroner --> predisposisi terjadinya komplikasi kardiovaskular.

3. Hipertensi ;
Lebih banyak ditemukan pada perempuan, terutama setelah usia 60 tahun. Efektivitas berbagai obat antihipertensi sama antara perempuan dan pria, namun perempuan cenderung mengalami efek samping [misal ; batuk karena ACE Inhibitor].

4. Penyakit Autoimun ;
Sebagian besar menyerang perempuan, misalnya SLE, ITP, Multipel sklerosis, Artritis Reumatoid, Skleroderma, Peny. Hati dan Tiroid autoimun. Secara umum, terdapat perbedaan jenis kelamin dalam infeksi virus, karena adanya perbedaan terhadap pajanan dan imunisasi yang diperoleh. Mekanismenya belum jelas, mungkin karena efek estrogen ya?? [disebutkan kemungkinan karena stimulasi oleh estrogen dan penghambatan oleh androgen thdp imunitas selular], WALAU... Mayoritas penelitian menunjukkan bahwa pemberian estrogen dan progestin eksogen dalam TSH atau kontrasepsi oral tidak mengubah insidens maupun aktivitas penyakit autoimun.

5. Penyakit Menular Seksual ;
Such as... Infeksi Klamidia dan Gonore [salah satu penyebab infertilitas pada perempuan], HIV [Perempuan beresiko 2 : 1], dimana perempuan yang terinfeksi HIV lebih cepat mengalami penurunan jumlah sel CD4 dan lebih sering mengalami kandidiasis.

6. Osteoporosis ;
Sering terjadi terutama pada perempuan pascamenopause, karena adanya defisiensi estrogen --> peningkatan aktivitas osteoklas dan penurunan jumlah unit pembentuk tulang --> kehilangan massa tulang.

7. Gangguan Psikologis ;
Dimana depresi, anxietas [kecemasan], serta ganguan afektif dan makan [bulimia dan anorexia nervosa] lebih sering terjadi pada perempuan. Faktor biologis dan sosial berperan ; dimana pria memiliki kadar neurotransmiter serotonin yang lebih tinggi. Steroid gonadal juga mempengaruhi mood, n fluktuasinya selama siklus menstruasi berkaitan dengan gejala PMS [Its all about hormon, girls...].

Selain hal-hal diatas, ada pula risiko farmakologi dimana perempuan cenderung mengalami reaksi efek samping obat dibandinkan pria ; disebabkan kecenderungan mengkonsumsi obat-obatan termasuk obat bebas dan suplemen, serta pengaruh hormon yang mengubah pengikatan dan metabolisme sejumlah obat [siklus menstruasi dan kehamilan dapat mengubah kerja obat]. Another facts ; perempuan membutuhkan dosis neuroleptik yang lebih rendah untuk mengontrol skizofrenia, dan lebih cepat terbangun setelah pemberian obat anestesi pada dosis yang sama dibandingkan pria.

Dan juga, merokok pada perempuan, meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular pada perempuan pramenopause dan juga berkaitan dengan terjadinya menopause dini. Perempuan perokok juga cenderung menderita PPOK [Penyakit Paru Obstruksi Kronis] dan kanker paru-paru dibandingkan pria meskipun pada tingkat pajanan terhadap rokok yang lebih rendah.

Thats it... Perempuan dengan risiko penyakitnya. No wonder ya, setoran asuransinya lebih besar :D karena usia perempuan lebih panjang, dan faktor risiko juga banyak. So... Girls, biar hidupnya lebih berkualitas, lebih baik kita aware dengan kesehatan diri kita sendiri. Investasi akan hidup yang berkualitas di kemudian hari :D

# mostly taken from Buku Ajar Interna PAPDI

Short Story tentang PTT-ku di Biak-Numfor



Pada akhir Oktober 2007, aku mendapat pengumuman bahwa aku keterima PTT untuk periode November 2007-April 2008 di kabupaten Biak-Numfor, Papua kategori Sangat Terpencil. Selain rasa senang, ada juga rasa dag dig dug, penasaran dan agak sedikit takut, bagaimana rasanya bertugas di daerah baru yang sangat-sangat-sangat jauh dari rumah. Saat itu, alumni FK UNS yang keterima PTT hanya sedikit, dan aku lah satu-satunya yang berangkat ke Papua.

Harusnya aku berangkat ke Jayapura bersama alumni Unissula, tapi karena suatu hal, beliau tidak dapat mengusahakan untuk berangkat bersamaku. Ya sudah, mau gimana lagi, akhirnya aku nekat berangkat ke Jayapura sendirian, walaupun sedikit takut karena benar-benar know nothing about Jayapura. Tapi Alhamdulillah, sesampainya bandara Sentani, ada seseorang yang baik hati ,mengantarkanku sampai ke DinKes Kab. Jayapura.



Disanalah untuk pertamakalinya aku bertemu dengan rekan-rekan PTT yang juga ditempatkan di Biak Numfor. Kami semua berjumlah 13 orang. Dan aku ditempatkan di pulau Numfor, tepatnya di Puskesmas Kameri, distrik Numfor Barat bersama dr Albafith, alumni FK UNPAD.

Numfor? Kameri? Wah… daerah mana tuh??

Baru kali itulah aku mendengarnya. Setelah mencari-cari info, akhirnya aku baru tahu, bahwa Numfor itu sebuah pulau yang terletak di teluk Cendrawasih, di bagian kepala burung dari Papua. Saat itu, disana terdapat 2 distrik yakni distrik Numfor Timur dan distrik Numfor Barat, dengan 3 Puskesmas yakni Pkm Yenburwo, Pkm Kameri, dan Pkm Mandori.

Karena satu dan berbagai hal, keberangkatan kami ke Numfor tertunda sampai awal Desember. Kita dapat menjangkau Numfor melalui 2 macam transportasi, yakni dengan kapal [waktu tempuh bervariasi antara 12-24 jam], atau dengan pesawat perintis Twin Otter [30 menit saja!]. Dan itulah pertamakalinya aku mencicipi bagaimana rasanya menaiki pesawat kecil berpenumpang 16 orang itu. Mendebarkan!

Sampai di bandara FOO di Yenburwo [“ibu kota” nya Numfor], kami dijemput oleh kepala Pkm kami, yakni Bapak Simson Kapisa, yang akrab juga dipanggil Paman [ini akronim dari “Pak Mantri” hehe :D ]. Dari Yenburwo ke Kameri dapat ditempuh dalam 15 menit perjalanan dengan mobil. Waktu itu aku agak sedikit ngeri, karena perjalanan kami melintasi hutan yang lebat dan sepi…

Sekilas pandang, saat itu aku merasa Numfor cukup oke. Pemandangan yang indah [Numfor tuh eksotis banget], ada jalan beraspal, rumah-rumahnya sudah berdinding tembok, ada satu-dua kendaraan bermotor yang lewat, dan penduduknya sudah berpakaian lengkap! [well… penduduk Numfor tidak ber-koteka lagi :D ]. Apalagi saat melihat layar HP, masih ada sinyal Telkomsel. Waahh… benar-benar satu karunia bahwa hp ku bisa aktif di Numfor. Dan aku melihat ada 1 masjid di Yenburwo, waahhh… hebat juga, soalnya mayoritas penduduk Numfor kan Kristen Protestan.

***
Di Numfor, kami menempati rumah dinas yang terletak di kompleks Puskesmas. Pkm Kameri sendiri terletak di desa Pomdori, distrik Numfor Barat. Suasananya cukup lumayan, tidak sepi-sepi amat. Tapi yang lebih keren lagi, Pkm kami berada ditepi pantai. Menyenangkan!

Berhubung aku cewek, aku tinggal di rumah dinas bersama mbak Rosa, perawat PKm. Sedangkan Bafith tinggal bersama mas Aho dan istrinya di rumah didepanku. Hampir semua peralatan rumah tangga sudah lengkap di rumah dinas. Ternyata Paman berpikiran jauh, agar petugas Pkm betah, maka rumah dinas telah dilengkapi terlebih dahulu. Well, tidak semua kepala Puskesmas berpikir seperti itu lho… Makanya dari awal aku sudah salut dengan Paman.

Selama tinggal di Numfor, untuk makan sehari-hari, tidak ada kesulitan. Di Numfor juga tersedia toko yang menjual bahan pangan pokok seperti beras. Tapi kesulitan utama disana ialah susah mendapatkan sayuran dan buah-buahan. Paling-paling ya makan dengan ikan, mie instant atau dengan sayuran yang umum disana, yakni daun katok, daun pepaya dan daun singkong.

Petugas Pkm Kameri terdiri dari orang asli dan pendatang. Tapi pendatang disini dalam arti mereka keturunan transmigran yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun di Papua. Yang benar-benar pendatang ya aku dan Bafith. Tidak ada kesulitan dalam bekerja dengan mereka. Mereka semua baik-baik. Dan yang lebih mengesankan lagi, “skill” nya tinggi. Jadinya… malah kami [aku dan Bafith] yang belajar banyak dari mereka.



Di Pkm Kameri, sehari-harinya kami menangani pasien yang berobat ke Pkm. Selain itu, Pkm juga mengadakan Puskesmas keliling [Puskel] sebulan sekali, demi memberikan pelayanan pengobatan bagi desa-desa di ujung Barat Jauh yang susah untuk mendapatkan pengobatan di PKm karena kesulitan akses transportasi [hampir-hampir tidak ada transportasi umum yang melayani masyarakat Numfor].

Ada juga home visite, bagi pasien yang tidak mampu datang ke Pkm. Cuma, berdasar pengalaman, tidak semua pasien yang minta home visite itu “gawat” atau jelek”. Kadang-kadang mereka hanya malas untuk pergi ke Pkm. Kalau sudah gini ya hanya bisa mengurut dada… Kadang-kadang juga ada pasien yang datang malam-malam, juga tetap dilayani. Well, untuk kunjungan ke rumah atau pengobatan di luar jam kerja, kami tidak menarik biaya, Cuma kadang-kadang mereka dengan suka rela memberi, ya diterima saja. Walaupun Pkm kami bukan Pkm DTP [Dengan Tempat Perawatan], tapi bila ada pasien yang memerlukan rawat inap, kami tetap merawat mereka di Pkm walau dengan fasilitas seadanya.

Rata-rata pasien datang kepada kami dengan malaria dan ISPA. Malahan penyakit umum yang ada di Jawa, yakni Hipertensi, jarang kami temui di Kameri. Ada juga penyakit kulit yang umum di Papua, yakni Kaskado [Tinea Imbrikata]. Penyakit kulit ini disebabkan oleh jamur, namun uniknya, mempunyai pola khusus di kulit, yakni skuama konsentris melingkar-lingkar di kulit. Seperti tato gitu...

Malaria... Berhubung tidak ada konfirmasi laboratories untuk plasmodium maupun kesulitan pengadaan RDT [Rapid Diagnostic Test] untuk malaria, sebagian besar penderita kami diagnosa dengan malaria klinis [malklin]. Jadi, didiagnosa hanya dengan adanya gejala klinis malaria seperti panas tinggi sampai berkeringat, sakit kepala, diare, muntah dan pembesaran limpa.

Tapi berhubung di Papua, rata-rata gejala malaria sudah tidak spesifik lagi. Kadang-kadang ada penderita datang hanya dengan mengeluh pusing saja, atau sakit tulang belakang atau muntah-muntah saja. Mulanya kami tidak percaya kalau gejala-gejala tunggal tersebut merupakan malaria, tapi setelah kami adakan pemeriksaan RDT, rata-rata hasilnya positif malaria, dan yang lebih mengerikan, biasanya positif mixed infection, artinya terkena infeksi baik plasmodium falsiparum bersamaan dengan plasmodium jenis lain. Hebatnya, walau kadang-kadang sudah positif 3-4, kondisi mereka masih bagus, dalam artian masih bisa berjalan, beraktivitas, dan datang hanya dengan keluhan sakit kepala, atau sakit belakang saja.

Rata-rata penduduk Numfor nih anemis, mulai dari slight, sampai yang berat. Aku pikir, ini disebabkan oleh malaria kronis yang mereka derita, selain itu, pada anak-anak, bisa juga disebabkan karena kecacingan. Naudzubillah deh… Well, secara tidak langsung kedua penyakit inilah yang mempengaruhi kecerdasan dari generasi-generasi muda Numfor.

Malaria ini terutama “meledak” dalam waktu-waktu tertentu dan desa tertentu. Biasanya kasus malaria meningkat pada saat bulan-bulan pergantian musim, serta banyak menyerang pada penduduk yang tinggal didekat rawa-rawa.

Kami memandang bahwa problem kesehatan utama di Numfor Barat ialah malaria dan kurangnya kesadaran hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, pada saat kami Puskel, kami juga menyisipkan suatu penyuluhan tentang pentingnya kebersihan pribadi dan lingkungan, serta tentang malaria. Cuma ya… memang sulit ya bila dasar pemahaman penduduknya sendiri juga rendah. Karena itu harus terus menerus mengulangnya.

Kendala di Numfor? Tentu saja masalah kurangnya persediaan obat dan masalah transportasi rujukan. Bila ada pasien gawat dan perlu dirujuk, pilihannya ialah merujuk ke Biak atau ke Manokwari. Tapi kedua kota ini sama jauhnya, dan tidak setiap hari ada transportasi menuju kesana. Kadang-kadang bila memang “harus” dan keluarganya juga “bersedia”, kami merujuk pasien dengan naik perahu Johnson, yakni sejenis perahu kayu bermotor dengan panjang 8-10 meter. Woww… bayangkan bila harus menempuh 6 jam perjalanan dengan menggunakan Johnson melintasi Samudera Pasifik ini? Harus kuakui, cukup mengerikan [dan beberapa temanku pernah mengalaminya].

***

Bulan April 2008, tak terasa sudah 5 bulan lebih aku bertugas di Papua, its time for back home! Beberapa temanku memilih memperpanjang masa PTT mereka di Biak-Numfor, sedangkan aku memilih untuk pulang.

Banyak hal yang sudah kudapat selama PTT di Numfor. Teman-teman baru, serta pengalaman medis dan non medis yang berharga. Ada beberapa hal yang berkesan buatku, salah satunya ialah saat aku Puskel sendirian di desa Pakreki. Saat itu pasien membludak banyak sekali, dari pagi sampai sore hari tak berhenti, mana pula yang menangani pasien cuma aku dan mbak Rosa [bagian pemberian obat]. Setelah selesai, baru aku sadar, sehari itu aku sudah menangani 110 pasien!! Sendirian! Woww… seumur-umur, itu jumlah pasien terbanyak yang pernah kutangani dalam sehari.

Selain itu, aku pernah harus tinggal di kompleks Pkm sendirian karena saat itu Bafith ada pelatihan Malaria di Jayapura, dan perawat-perawat Pkm sedang turun ke Biak. Hanya ada Pak Yance dan Paman saja di Pkm. Aduuuhhh… sepi sekaliiiii dan membosankan. Akhirnya aku memutuskan untuk “melarikan diri” sehari pergi ke Manokwari bersama Pak Yance. Kami menaiki Yapwairon PP [sampai rela tidur diatas kapal!], hanya untuk menikmati duren di Manokwari :D Seruuu…

Ada juga hal yang membuatku terharu saat itu, saat aku hendak ke Bandara FOO, ada seorang ibu [mama Oce] yang keukeuh memberi kenang-kenangan berupa ayam jago [bernama Pyo!] kepadaku, “terserah dok, mau dimasak atau dibawa ke Jawa”. “Haa???”. Wah… tidak mungkin kan aku menolaknya… akhirnya ayam itu dibungkus kardus dan kubawa sampai ke Bandara, namun begitu sampai di Bandara, kardus berisi ayam itu kuberikan kembali ke Paman agar “dinikmati” orang-orang Pkm [Maaf ya mama Oce…].

Saat pesawat Twin Otter mulai terbang meninggalkan Numfor, sedih juga… Bagaimanapun banyak kenangan berharga yang telah kujalani disana. Pemandangan eksotisnya yang sangat indah dan penduduknya yang ramah-ramah, benar-benar sudah mengguratkan kenangan yang dalam bagiku. I wish I can come back there some day later…