Morning Call

Pagi-pagi aku ditelpon Anung [adik kelasku, anak Purwodadi juga], bahwa Bu Umi [neneknya], suhunya naik dan penurunan kesadaran. Aku diminta datang kerumahnya untuk melihat keadaannya.

Bu Umi, 80 th, beberapa waktu lalu dirawat di RS tempatku bekerja. Didiagnosa dengan Stroke + HHD + Pneumonia dengan riwayat DM. Sempat pula masuk ICU 2 hari karena tiba-tiba terjadi penurunan kesadaran. Sebelumnya sempat dirawat hampir 3 minggu di RS Meilia, Jakarta. Tapi dibawa pulang karena Bu Umi menghendaki pulang ke Purwodadi. Dan akhirnya di Purwodadi, Bu Umi opname lagi. Aku sempat memeriksanya, beliau kesulitan bernafas. Nafasnya grok-grok, terdengar Ronki Kasar diseluruh lapangan paru. Harus dipasang O2 masker dan suction rutin.

3 hari yang lalu, Bu Umi diperbolehkan pulang oleh Sp. PD yang merawat beliau. Kata keluarganya, saat itu bu Umi sadar dan nafasnya sudah tidak grok-grok lagi. Waktu pulang, masih terpasang NGT, jadi masih bisa makan-minum via NGT tersebut [keluarganya menyewa perawat untuk merawat beliau]. Tapi kemarin sore, pas kebetulan perawatnya sedang keluar kamar, Bu Umi melepas selang NGT nya sendiri [mungkin risih ya]. Dan sesudah itu, Bu Umi kesulitan untuk makan dan minum [sesak, dan terpasang masker O2], sementara untuk memasang NGT lagi, perawat yang ada juga kesulitan. Jadilah sepanjang malam Bu Umi tidak makan dan minum.


Dan pagi-pagi tadi tubuhnya terasa panas dan kurang sadar, akhirnya Anung meminta aku untuk datang kerumahnya dan melihat keadaan beliau.

Masuk ke kamar beliau, surprise! Bu Umi berbaring di tempat tidur sudah terpasang masker O2, ada tabung O2 portabel disampingnya, tensimeter digital terbalut dilengan kanannya, dan ada alat suction di mejanya. Wow... bisa bikin klinik nih... [maklum... anak beliau termasuk berada].

Kulihat beliau lemas sekali, namun saat kupanggil masih bisa membuka mata [Alert]. Kuraba badannya, panas! Kudengarkan suara parunya, ronki kasar disemua lapang paru, sepertinya banyak dahak. Bu Umi bernafas menggunakan mulut, dan terdengar suara grok-grok, Nafasnya 40x/menit [tachypneu], tensinya 151/75 mmHg dan Nadi 128 x [takikardi]. Padahal tensinya selama di RS, sistoliknya antara 180-200 mmHg. Hmm... nggak bagus nih...

Keluarganya bertanya, bagaimana??
Aku bilang, kondisinya nggak bagus, infeksi paru-paru, dan dehidrasi juga memperparah kondisinya. Beliau butuh asupan cairan, enteral maupun parenteral. Kusarankan untuk membawanya ke RS, masuk ICU. Keluarganya bingung, soalnya si Ibu ini menolak dibawa ke RS [maunya dirumah saja], apalagi dirawat di ICU [tidak bisa ditungguin all day]. Dan mereka bertanya, bisa diinfus dirumah saja tidak? kan sudah ada perawat yang menjaga. Aku bilang aku nggak berani [ini bukan Numfor gitu lhohhh...], dan tetap kusarankan untuk ke RS.

Akhirnya setelah dirundingkan, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa beliau ke RS untuk perawatan lebih lanjut. Aku diminta menyampaikannya ke Bu Umi [perintah dokter gitu, biar Bu Umi mau... soalnya kalau yang bilang anak-anaknya, beliau menolak]. Saat aku meninggalkan rumah beliau, keluarganya sedang bersiap-siap menunggu ambulans. Yahh... aku harap semoga Bu Umi baik-baik saja...

2 Comments:

  1. Andri Kusuma Harmaya said...
    Panasnya itu bisa karena dua hal:infeksi atau pusat pengatur suhunya yg gak beres..Mestinya dicek hitung leukositnya luch..Takutnya kan kena sepsis tuh..Prognosisnya bisa jelek. :(
    Semoga lekas sembuh.
    Luluch The Cinnamon said...
    Ho'oh. Emang sepsis sejak di RS. Ktanya pas pulang da mayan "bagus", tp ternyata gitu lagi. Well, muga-muga sih bisa teratasi dengan baik

Post a Comment