Pawai 17 an di Banjarsari


Posted by ShoZu



Sebenernya ini postingan coba2, buat ngecek kinerja ShoZu yg aku install di Hp. Hmm...it works well... artinya, aku bisa langsung posting foto dr hp ke blogku, DIRECTLY!! Yeyeyeahhhhh!! Acara ngeblog jd lebih asik lagi, coz i can really really mobile blogging.

So, foto diatas aku ambil pas aku lagi di Solo. Lagi di bus kota menuju terminal, eh kehadang pawai Agustusan, yg pawai tuh kecamatan Banjarsari! Yah, walo agak bete karena macet, tapi seru juga ngeliat bapak2 berdandan ajaib, ada yg kayak Gatotkaca!heuheuheu... Makanya photho2 muluw...

Pawainya lumayan panjang, tapi banyakan pake kendaraan, ada yang nongkrong diatas pick up, ada juga yang naek sado (dokar aka delman), ada juga yang naek becak. Narsisnya, pada ber dagdag-ria gitu, padahal udah sepuh2 hihihi :D

Ah... Jadi inget dl pas masih skul suka disuruh ikut karnaval sekolah. Tapi aku males yang dandan2 gitu, jadi ya cukup di pasukan pembawa bendera ato di PMR aja he3 :D

Caiyyoo Indonesia...

Pulau Numfor, Wansra



Kali ini aku pingin cerita tentang daerah Wansra di pulau Numfor.

Foto diatas ialah fotoku [Ya ampun... item banget yah!!] sehabis puskel [puskesmas keliling] di desa Masyara. Desa Masyara ini merupakan desa baru, terletak antara Wansra Baru dan Wansra Lama.

Jadiii... Wansra [Wansra Lama] itu dulunya ada diujung Numfor Barat [sering disebut Barat Jauh]. Dan emanggg... ujung banget dari Numfor, n... its so quiet place...

Dulu pas aku pertama kali muterin Numfor mulai dari Kameri-Yenburwo-Manggari-Duai, trus ada jalan tembus ke Wansra [Wansra Baru]. Nhaaa... aku dulu taunya cuma si Wansra Baru ma Masyara ini... Kampungnya bersebelahan, dan lumayan rame. Trus, aku iseng pengen jalan ke Masyara terus... katanya masih ada kampung lagi...

Sehabis Masyara, jalannya kosong... kecil pula... tapi sebelahan banget ma laut [pantai]. Jadi jalannya ini disebelah kananya pantai, sebelah kiri hutan yang lebat!! Ada sih ketemu orang, tapi cuma beberapa aja. Dan setelah ga nemu2 juga rumah penduduk [or ujung jalannya], akhirnya mutusin buat berhenti sebentar di pantainya. Well... sereeem... soalnya lautnya tuh tenang bangettt... ga ada ombaknya, bahkan ga ada suara burung... So, aku ga mau berlama-lama disitu n decide buat langsung pulang ajah.

Abis itu, aku baru tau, klo ternyata di ujung jalan itu ada kampung Wansra Lama. Jadi ceritanya... Sejak ada wacana pemekaran Kabupaten itu, dibangunlah kampung-kampung baru. Including Wansra... Si Wansra ini dipindah lebih ke Timur, so jadi ada Wansra Baru dan Masyara. Penduduknya pun relokasi-an dari Wansra Lama.

Di Wansra itu, pak Desa-nya [Kepala Desa], ber fam Wamafen [Fam dari Wansra deh kayaknya, selain itu ada Rumaropen, Rumsarwir, dll --> klo ga salah inget].

***
Trus... pas aku mau pulang ke Jawa, aku diajakin pak Kapisa [Kapuskes ku] buat ke Wansra. Sebelumnya orang2 Puskesmas pada nggembar-gemborin "honae" di pantai Wansra. "Asyik dok piknik disana. Bagus!"

Akhirnya sehabis home visite, diajaklah aku n Bafith ke Wansra. Weww... akhirnya aku sampe juga diujung Barat Jauh.

N then... Ternyata Wansra Lama ini udah sepi banget... aku hitung, rumahnya kurang dari 10, ada bangunan SD lama n gereja, tapi katanya si SD nya udah dipindah ke Masyara. Dan memang... pantainya tuh sepi banget, gak ada suara ombak sekeras di Kameri [yang jegarr-jegurrr... setiap saat]. Banyak pohon-pohon besar... KLo di Wansra Lama, kampungnya kan sebelahan banget ma pantai. Tapi di Wansra Baru + Masyara tuh, lautnya lumayan jauh...


Trus... kembali ke tujuan semula, honae. N look above, honae nya masih ada... tapi dah rusak... Kurang perawatan kali ya... Dari ujung Wansra Lama ini kita bisa ngeliat daerah Mandori. Mandori ini dulu termasuk wilayah Numfor Barat [sekarang lupa deh masuk distrik apa], dan dulu merupakan wilayah-nya dr Mela dan dr Heny :D

Klo dari Wansra ke Mandori via darat kan lama, makanya lebih praktisan naek perahu [mendayung!]. Dan dari segi posisi yang lumayan jauh dari Kameri [about 45 minutes by car-motor], makanya penduduknya rata-rata lebih suka periksa ke Mandori. Habis penduduk Numfor kan jarang yang punya motor pribadi, jadi klo naek ojek ke Kameri PP tu 60rb, sementara klo ke Mandori cuma 15 rb!


Trus yang spesial di Wansra... Ada Tugu Peringatan Masuknya Pekabaran Injil Pertama Kali ke Numfor!! Tugu Salib besar ini dibangun pada tahun 1995, terletak di sekitar honae tadi. Pas aku kesana sih Tugu itu dalam perbaikan. Karena pada bulan Mei akan diadakan peringatan 100 Tahun Injil Masuk Numfor [sayang, pada saat itu aku sudah pulang ke Jawa. Peringatannya dipusatkan di Wansra, dan rame banget!! ]

Oh ya, di Tugu itu ada tulisannya...



Tapi menurutku Tugu ini agak serem... liat tuh... ada patung tengkoraknya segala :( Mana lagi saat itu suasananya yang sepi... So, kami ga lama-lama disana... But finally i already visit all Wansra :D

Oh ya, aku ada kenangan di Wansra, waktu aku puskel, bu Desa Wamafen memberikan beberapa anggreknya buatku. Makasih ya Mama Wamafen :D

NB : Postingan tentang Wansra ini spesial untuk Sdr DS. I hope u can comeback to see Wansra someday later :)

Kasumasa Nabor


Itulah judul email yang aku terima semalam. "Kasumasa Nabor..." Bahasa Biak yang artinya "terimakasih banyak". Email kiriman dari seseorang [Mr X] yang mungkin saja berasal dari Numfor, atau pernah tinggal di Numfor [atau Biak?Papua?]. Isinya singkat saja :

"membaca blog nona dokter ttg PTT di numfor, saya terus menerus menangis..saya senang tapi jg sedih...tdk tau mau mengucapkan apa...tapi cuma satu kata itu..."kasumasa"...Tuhan yang kami sembah akan menolong nona dokter dalam tugas2 selanjutnya dan studi yang lebih tinggi...."

Dan... entah kenapa, seusai aku membacanya, aku jadi ikut-ikutan nangis [cengeng euy...]. Terharu, senang, sedih, campur aduk pokoke... [plus efek PMS kali yaaa].

Semalaman aku jadi inget Numfor [suatu tempat yang bahkan aku enggak tahu setahun yang lalu]. Dan ternyata apa yang sudah aku lakukan disana, sangat dihargai oleh orang lain.

Email Mr X tadi juga mengingatkanku akan email-email serupa yang datang semenjak aku menceritakan pengalaman PTT ku di Biak Numfor, khususnya di pulau Numfor. Dan juga suatu percakapan dengan seorang awak kapal Yapwairon yang kebetulan dulu pernah tinggal di Numfor.

Aku lupa nama Bapak tersebut, tetapi dia menghabiskan masa kecilnya di kampung Namber di distrik Numfor Barat. Kami bercakap-cakap tentang banyak hal, tentang pengalamannya menjelajah Jawa, dan juga tentang apa yang beliau lihat selama menjelajah pelosok Papua, beliau melihat hanya dokter yang tetap bertahan bertugas di pedalaman, bahkan ketika para petugas distrik kebanyakan tidak mau tinggal di tempat tugas. Di akhir cerita beliau berkata [kira-kira ya seperti ini] "Saya doakan Budok selalu sukses seusai PTT dari PTT dan kembali ke Jawa. Orang-orang yang sudah kembali dari Papua biasanya sukses. Kami yakin apa pun yang Budok lakukan akan sukses dan didoakan masyarakat Papua. Kami yakin Papua itu tanah yang terberkati Budok, tanah suci yang dibebaskan dengan darah dan perjuangan. Budok yang sudah rela mengabdikan diri di Papua, saya yakin akan mendapatkan balasannya. Terimakasih"

Waktu itu aku tersenyum dan cuma bisa bilang "terimakasih", terharu banget!

Aku sendiri, pribadi merasa bahwa apa yang udah aku lakukan disana tuh belum cukup banyak. Jadi belum selayaknya aku menerima ucapan terimakasih itu. Tapi terimakasih sekali atas penghargaan masyarakat Papua sedemikian besar yang sudah diberikan kepada kami, dokter-dokter serta paramedis lainnya yang telah bersedia melayani masyarakat Papua.

Dan mungkin terimakasih dan doa tersebut bisa juga disampaikan kepada dokter-dokter yang telah bertugas di Numfor waktu lampau [dr Frans, dr Boksa Edo, dr Fahri, dr Novi, dr Mela, dr Heny, dr Iis, dr Grace, dll], juga kepada paramedis yang telah bekerja-keras [sangat keras sekali, karena Numfor sempat tidak memiliki dokter beberapa lama], dan kepada para dokter yang saat ini bekerja melayani masyarakat Numfor [dr Hendri Ginting, dr Mariska, Dr Albafith, dr Eva, dr Tri Pera].

Dan atas semua tanggapan dan juga doa-doanya, saya hanya bisa mengucapkan "KASUMASA NABOR" kembali...

GADIS JERUK



Jostein Gaarder ialah salah satu pengarang favorit saya. Bukunya yang sangat terkenal, Dunia Sophie ialah karya Jostein Gaarder yang pertama kali saya baca [saat itu saya pinjam dari teman kuliah saya, Ika Maruta]. Semenjak itu saya mulai mengoleksi karya-karya Jostein Gaarder yang terbit di Indonesia, such as ; Misteri Soliter, Gadis Jeruk, Petualangan Ajaib Bibbi Bokken, Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, dan yang terakhir rilis ialah Maya. Dan ternyata sampai sekarang malah saya tidak punya buku Dunia Sophie :D

Gadis Jeruk [Atau judul aslinya The Orange Girl, ditulis Jostein Gaarder pada tahun 2003]. Gadis Jeruk ini diterbitkan di Indonesia pertama kali pada bulan Maret 2005 oleh Penerbit Mizan. Buku ini termasuk tipis dan "ringan" bila dibandingkan dengan Dunia Sophie, Misteri Soliter dan Maya, tapi tetap khas Jostein Gaarder. Make us questioning again about our life. Its very good book indeed!

Saya sudah pernah meresensi-nya di blog ini. Tapi sesudah saya membacanya lagi, saya ingin me-re-post kan lagi pendapat saya tentang buku itu [Dan maaf, bahasanya tetap saya biarkan seperti postingan aslinya dulu].

***

Buku ini nyeritain ttg seorang anak(Georg) umur 15 taun yang tiba2 dapet warisan "surat" dari ayahnya yang udah meninggal dunia 11 tahun yll.

Isi suratnya ini terutama ttg kehidupan ayahnya(Jan Olav), kehidupan cintanya.

Yah, bisa dibilang ni sebuah surat cinta, yang nyeritain pengalaman ayahnya yang ketemu n fallin luv dengan gadis yang baru ditemuinya di trem, the one who he called "Orange Girl", coz saat itu si cewek membawa sekitar 10 kilo buah jeruk bersamanya, yang accidentally-nya dijatuhkan oleh dia (oupss!)

Dia yang saat itu juga fallin luv ma si Gadis Jeruk, mulai mencari2 keberadaan ce itu di Oslo. Tiada hari terlewat tanpa mencarinya atau sekedar memikirkannya. Sampe sering naek trem bolak-balik, pergi nonton bioskop, sampe berkeliaran di kafe2 cuman buat cari tu cewek.

Setelah beberapa kali pertemuan yang ‘kebetulan’ (dia ketemu ce itu pas dia bawa jeruk sekantong besar lagi, tapi mereka ga pernah kenalan, aneh kannnn!!), mereka ketemu juga di katedral pas malam Natal.

Dia akhirnya bilang klo sepertinya dia jatuh cinta ma ce itu. Ce itu bilang, tunggulah aku 6 bulan, sesudah itu kita akan selalu bersama tiap hari. Si Jan Olav ni bingung, why??kenapa musti nunggu sampe 6 bulan?Akhirnya dia setuju, n dia kaget sekali pas ce itu pulang, karena saat bilang pamit ce itu nyebutin namanya ‘Jan Olav’, walo mereka belum pernah kenalan dan dia juga belum tau nama ce itu (dasar orang aneh!)

Dia tetep nyari2 ce itu, tapi kemudian sadar klo dia emang musti nunggu 6 bulan. Tapi ga sampe 6 bulan, dia nerima post card bergambar perkebunan jeruk dari Sevilla, Spanyol, yang bergambarkan wajahnya. Then he knows!it must be her!

Tanpa pikir panjang dia langsung ke Spanyol, disana dia langsung ke perkebunan jeruk itu untuk nyari dia. Klo dinalar sih itu tindakan yang so stupid yah. Tapi.. ya untungnya mereka ketemu… [serendipity banget he2, yeah, namanya juga crita pixi!]

Setelah itu barulah dia tau klo ternyata si Gadis Jeruk itu namanya Veronika, dan tau Jan Olav karena sebenere mereka tu temen masa kecil (poor her, dia ngerasa dilupain ma Jan Olav, karena dia ga inget si Vero niy waktu 1st time ketemu, meanwhile si Vero lgs inget dia). Vero bilang klo sebenernya dia juga nyari2 Jan Olav mulu, tapi dia sengaja ga bilang klo mereka tu sohiban waktu kecil, so agar Jan Olav "menemukannya kembali" (huhuhu… manisss bangettt)

So gitu deh… mereka barengan, hepi ending gitu, sampe akhirnya menikah n punya anak (Georg itu). But then, ketika Georg berumur 4 taun, si Jan Olav didiagnosa hidupnya tinggal bentar. So he spent his time with his fam n pengen nyeritain segalanya pada anaknya. Cuman karena Georgnya ndiri masih so small waktu itu, then he decide to write a future letter buat anaknya, ttg gimana si Jan Olav sangat2 mencintai si Gadis Jeruk alias maminya Georg (Cinta Sejatiku, he called her dat way).

Dia share ttg si Gadis Jeruk, share his thought bout evthing, terutama ttg hidup (ini kan benernya surat cintaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa)

Si Babe juga ngelontarin pertanyaan
Bayangin hidup didunia ini seperti sebuah dongeng. Seandainya kita sebelum ada di dunia ini diawal dikasi kesempatan buat milih, apakah akan dilahirkan didunia [menjalani dongeng] ini or not. But u don’t know when u will get born, tidak juga bagaimana kamu menjalaninya ataupun berapa lama kamu akan hidup.

Yang kamu ketahui hanyalah, jika kamu memilih untuk ada disuatu tempat didunia ini, kamu juga harus meninggalkannya suatu hari nanti dan meninggalkan segalanya. Apakah kamu akan memilih untuk tinggal dibumi pada suatu tempat tertentu, entah untuk waktu yang singkat atau panjang, dalam seratus ribu atau seratus juta tahun?

Akankah manusia akan tetap memilih bila telah mengetahui dengan pasti bahwa akan tiba2 tercabut dari dunia ini, dan barangkali pada saat kita dalam keadaan sangat bahagia?

Atau, bahkan sejak dari awal akan menolak pilihan ini?Karena kita datang ke dunia ini hanya sekali.

Tapi jika enggak milih buat dilahirkan, then we will never taste the life, never taste the world, n never know what will u get?completely a lottery!

Kadang-kadang lebih terasa menyakitkan bagi manusia untuk kehilangan sesuatu yang disayanginya daripada tak memiliki sama sekali

So, d question is?

Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih?Akankah kamu memilih hidup yang singkat dibumi kemudian dicerabut lagi dari semua itu, tak pernah kembali lagi?Atau, apakah cuman akan bilang No, thank you?

Hoho... nice book
Walopun ini sebuah buku tentang "surat cinta" kepada "Gadis Jeruk" lewat anak lelakinya 11 tahun kemudian, tapi juga membahas tentang keajaiban kehidupan, keajaiban manusia sendiri. Emang manusia itu kerennn... unik!

Jostein Gaarder, iou!

Luluch's opinion ndiri:

Well, Hidup ini cuman sekali. Dan gw sering berpikir kenapa Tuhan nyiptain manusia klo emang takdirnya dah ditentuin dari awal, so kita sekedar menjalankan scenario dunk?

Whateverlah, menurut gw Tuhan dah punya Big Master Plan buat kita. Dalam artian, hidup kita masing2 sebenernya punya jalur sendiri2 yang harus dilalui, it depends on ur choice. If u choose dis way, lo bakal gini, but if u choose dat way, hidup lo bakal gitu. So many options! Dan hidup yang gw jalanin sekarang ialah konsekuensi dari pilihan2 gw sebelumnya

Tapi… gw pikir, mungkin ada beberapa hal yang emang ‘udah harus gitu’, dan ada juga hal yang bisa kita ubah. Dan gw percaya ada dimensi lain (dimensi 2,3,4 etc selain dimensi real kita skr ini (i call it dimensi 1, yang at least real buat kita kan hehe :P), yang mana, mungkin disana ada Luluch yang berbeda dengan Luluch didimensi 1 (yang mungkin saja live happily ever after dengan Zen [!] :P, atau dengan Orlando Bloom [haha!evthing possible kan :P]. If life has so many dimension, bayangkan berapa trilyun sebenernya manusia yang hidup saat bersamaan walo beda dimensi?ada berapa banyak Luluch yang ‘sebenernya’ pada saat ini?

Ada berapa banyak saat ini?
Ada lebih banyak lagi masa depan?
Only God knows…

Manusia nggak tau
‘Karena itulah ada Tuhan yang memahami kita’

Life offer options
U have to choose, choose n choose…

Kenapa memilih?
Segala hal ada resikonya. Just take it or leave it. Just dat simple! :P [cant believe i can say this kinda things hoho!]
Seandainya gw diberi pertanyaan serupa, gw tetep memilih kehidupan di dunia ini.

Gw pernah bete, pernah kesel, pernah marah, pernah sedih.

Tapi gw juga pernah hepi, hepi dan heppy…

Klo gw ga memutuskan untuk ‘hidup’, mungkin gw ga akan pernah tau gimana rasanya patah hati (:P), gimana rasanya hepi, gimana rasanya sedih…

If I choose not to be here, I will never feel all this big & small things, all this nice things in this world. Roller coaster's life.

Mungkin saja ‘dunia Apel’ ini bukanlah dunia yang terindah. Tapi bagaimana aku akan tahu bila aku ga mencobanya?ga nyicipinnya?

Hidup itu karunia

I am here now
I am live!I take ‘the apple’, I eat it
Bahkan bila pun kita ‘terlempar’ dari ‘atas sana’, in fact God still bless us on n on kan.

Even if there’s a chance to reborn n can choose to be someone else, I still want to be a Luluch

Luluch, Luluch and Luluch

Me,me and me!
However, I [still] love this life

Thank You God

Gw [lumayan] suka jeruk, so bisa jadi gw juga Gadis Jeruk [-nya someone else out there] hehe2 :P maksa…

Idiopathic Thrombocytopenic Purpurae or ITP

Kemarin, waktu saya sedang jaga di ICU RS, ada pasien anak S [4 th], yang masuk dengan diagnosa suspect DHF [Dengue Hemorrhagic Fever alias Demam Berdarah]. Anak ini mimisan terus menerus…

Kemudian saya membuka-buka les-nya lagi [lumayan tebal], ternyata ini kali ke 3 nya masuk RS ini karena mimisan terus-menerus. Ketiga-tiga nya pun di diagnosa suspect DHF [dan yang kali ke 2, di Differential Diagnosa dengan suspect ITP]. Menariknya lagi, selang waktunya cuma 1-2 bulan saja.

Jadi si anak S ini mulai mengalami gejala mimisan hebat pada bulan Mei 2008, kemudian masuk RS dengan diagnosa DHF, trombositnya berkisar 30.000-60.000/mm3 tapi Hb 9,9 dan Hct [Hematokrit-nya] 30 %. Sempat mendapatkan tranfusi Trombosit Concentrat [TC]. Setelah mimisannya menghilang dan keadaannya bagus, dia boleh pulang.

Masuk kali ke 2 pada bulan Juni 2008, dengan gejala yang sama, mimisan hebat tanpa disertai demam, kadar trombositnya juga dibawah 50.000/mm3 namun tidak terdapat peningkatan hematokrit. Kali ini dokter jaga men-diagnosa dengan suspect DHF DD suspect ITP.

Kali ke 3, pada hari Minggu kemarin, dia masuk dengan mimisan lagi [jadi cuma berselang 1.5 bulan saja], suhu badan normal, tidak didapatkan pembesaran limpa dan hati, BAB warna hitam, dan dari hasil pemeriksaan laboratorium, trombosit cuma 10.000/mm3, dan Hct 32%. Woghhh… semakin yakin ke ITP nihhh…


Ini kedua kali nya aku mendapatkan kasus ITP. Bulan lalu, seorang anak perempuan berumur 9 tahun, dirawat dirumah sakit sekitar 7 x sejak November 2007 dengan gejala serupa [mimisan hebat sampai muntah darah – buanyaaakkkkk sekaliiiii], dan kadar trombosit yang rendah sekali. Kasihan banget ngelihatnya.

Apa sih ITP??

ITP [Idiopathic Thrombocytopenic Purpurae] ialah suatu gangguan autoimun yang ditandai dengan trombositopeni [angka trombosit darah perifer kurang dari 150.000/mm3] akibat destruksi prematur trombosit yang meningkat [akibat autoantibody yang mengikat antigen trombosit]

Didalam tubuh manusia, ada yang namanya sistem hemostasis. Hemostasis ialah suatu fungsi tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan keenceran darah sehingga darah tetap mengalir dalam pembuluh darah dan menutup kerusakan dinding pembuluh darah sehingga mengurangi kehilangan darah pada saat terjadinya ekrusakan pembuluh darah. Faal hemostasis melibatkan 4 sistem, yakni ; sistem vaskkuler, sistem trombosit, sistem koagulasi dan sistem fibrinolisis.

Adanya trombositopenia pada ITP ini akan mengakibatkan gangguan pada sistem hemostasis tersebut.

Kok bisa terjadi trombositopenia sih??

Dalam keadaan normal, umur trombosit sekitar 10 hari, sedangkan pada ITP, umur trombosit memendek menjadi 2-3 hari atau bahkan hanya beberapa menit saja. Memendeknya umur trombosit ini disebabkan karena peningkatan destruksi trombosit di limpa oleh karena proses imunologi, dan umur trombosit berhubungan dengan kadar antibody platelet, sehingga bila kadar antibody platelet meninggi, maka umur trombosit semakin pendek

Yang memegang peran dalam menimbulkan perdarahan pada ITP diduga tidak saja tergantung pada jumlah trombosit, tetapi juga fungsi trombosit dan kelainan vaskuler.

Pusing ya? [saya juga :D ], tapi lanjuuttt ajahhh…

Diperkirakan insidensi ITP ini terjadi pada 100 kasus pada 1 juta penduduk per tahun, dan setengahnya terjad pada anak-anak.

Secara klinis, ITP ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
1. ITP Akut

ITP akut [kurang dari 6 bulan] ini lebih sering terjadi pada anak [usia 2-6 tahun], seringkali terjadi setelah infeksi virus akut [Rubeola, Rubella, Varicella zoozter, Epstein Barr virus] dan penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh virus. Manifestasi perdarahan ITP akut pada anak biasanya ringan, perdarahan intracranial terjadi kurang dari 1% pasien. Biasanya ITP akut pada anak ini self limiting, remisi spontan terjadi pada 90% pasien [dimana 60% sembuh dalam 4-6 minggu, dan lebih dari 90% sembuh dalam 3-6 bulan]. Dan sekitar 5-10% lainnya berkembang menjadi ITP kronik [berlangsung lebih dari 6 bulan]

2. ITP kronik
ITP kronik ini terutama dijumpai pada wanita berumur 15-50 tahun. Episode perdarahan dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu, mungkin intermitten, bahkan terus menerus.

So… kalau menurut klasifikasi ini, maka si anak S masih termasuk dalam kategori ITP akut!

Bila penderita ITP diperiksa secara fisik, maka biasanya keadaan umumnya baik, tidak didapatkan demam, dan tidak ada pembesaran limpa maupun hati.

Gejala klinis bervariasi tergantung jumlah trombosit serta kadar antibodi platelet. Anemia baru didapatkan bila terjadi perdarahan hebat. Gejala ITP sendiri biasanya pelahan-lahan dengan riwayat mudah berdarah dengan trauma maupun tanpa trauma. Pada umumnya bentuk perdarahannya ialah purpura pada kulit dan mukosa [hidung, gusi, saluran makanan dan traktus urogenital].

Perdarahan spontan terjadi bila jumlah trombosit < 50.000/mm3, dan bila jumlah trombosit < 10.000/mm3 akan berisiko terjadi perdarahan intracranial [komplikasi serius, mengenai sekitar 1% dari penderita ITP].

The Next Thing… How to Diagnose?

Diagnosa ITP ditegakkan jika dijumpai :
1. Gambaran klinik berupa perdarahan kulit atau mukosa
2. Ada trombositopenia [jumlah trombosit < 150.000/mm3]
3. Tidak didapatkan pembesaran limpa
4. Pada pemeriksaan sumsum tulang ; megakariosit normal atau meningkat
5. Ada antibody platelet [IgG positif]--> Tapi bukan suatu keharusan
6. Tidak ada penyebab trombositopenia sekunder

Untuk praktisnya [dan juga karena keterbatasan alat] sebagian besar diagnosa ITP ditegakkan dengan cara eksklusi [menyingkirkan faktor-faktor sekunder yang dapat menyebabkan trombositopeni], seperti SLE, obat-obatan, trombositopenia post transfuse, leukemia.

Dan mungkin pada sebagian besar kasus ITP pada anak, awalnya akan didiagnosa dengan DHF dengan manifestasi perdarahan [grade III-IV], tapi seperti yang disebutkan diatas, pada ITP tidak didapatkan demam, pembesaran limpa dan tidak ada peningkatan hematokrit.

And then the Next Step… Therapy…

Terapi ITP lebih ditujukan untuk menjaga jumlah trombosit dalam kisaran aman, sehingga mencegah terjadinya perdarahan mayor. Terapi umum meliputi aktivitas fisik berlebihan untuk mencegah trauma [terutama trauma kepala], dan menghindari pemakaian obat-obatan yang mempengaruhi fungsi trombosit [seperti Aspirin dan obat Aspirin-like lainnya]

Pada prinsipnya, pengobatan pada ITP ialah untuk menurunkan kadar PA IgG, dan terapi utama yang dianjurkan ialah steroid. Pada penderita yang responsif terhadap terapi steroid, akan terjadi penurunan kadar autoantibodi dan peningkatan trombosit. Efek steroid umumnya terlihat setelah terapi selama 24-48 hari.

Steroid yang biasa digunakan ialah prednison, dosis 1mg/kg BB/ hari [pada orang dewasa sekitar 60-mg/hari], dievaluasi setelah pengobatan 2-4 minggu. Bila responsif --> dosis diturunkan pelahan-lahan sampai kadar trombosit stabil atau dipertahankan sekitar 50.000/mm3. Dosis pemeliharaan prednison ini sebaiknya < 15mg/hari

Bila terapi steroid ini dianggap gagal [unresponsive] atau perlu dosis pemeliharaan yang tinggi, maka diperlukan splenektomi [sebagian besar berespon baik]atau diberikan obat-obatan imunosupresif lainnya seperti Vincristine, Cyclophosphamide, Azathioprin, atau Danazol. Pemakaian high dose Immunoglobulin juga dilaporkan bermanfaat. Dan pemberian transfuse TC dipertimbangkan pada penderita dengan perdarahan mayor.

And now.. The Prognose…

Ada beberapa factor yang mempengaruhi prognosa yaitu usia penderita, jumlah trombosit, kadar antibody platelet dan lama timbulnya keluhan. Respon terapi dapat mencapai 50-70% dengan pemberian steroid.

Pada penderita muda, umumnya prognosa baik Sedangkan ITP yang refrakter terhadap pengobatan steroid, splenektomi, maupun imunosupresif lainnya biasanya prognosa jelek [mortalitas sekitar 16%]. Dan penyebab kematian pada ITP biasanya disebabkan oleh perdarahan intrkranial, sepsis post splenektomi atau post terapi imunosupresif.

That’s it…

So… sesudah mendapat terapi, saya harap pada anak S ini akan mengalami remisi spontan – sempurna. Kasihan juga melihat ibunya yang terus menerus menangis menungguinya [yah… bayangkanlah bila anda mempunyai anak yang mimisan hebat dan masuk rumah sakit 3x dalam jangka 3 bulan].

Good luck boy!

From a Doctor to be an Artist?

Beberapa waktu lalu aku mendapat email dari temanku Gwen. Isi emailnya membuatku kaget, dia bilang kalau dia sekarang memutuskan untuk berhenti menjadi dokter, "stop practicing for a while, at least not here, and now" and decide to be an artist and now she's working in small hotel.

Hahhhh??? Shock juga dengernya

Si Gwen ini bule Swiss, alumni Universitèit de Geneve. Kukenal saat student exchange di Bagian Bedah Moewardi selama 2 bulan. Kami cukup dekat. She's so funny and witty, menyenangkan dan sedikit "pokil". She even taught me how to swim [thanks Gwendy!] :D

She already finished her study last year and become a doctor. Beberapa bulan lalu dia memberitahuku bahwa dia sedang magang di bagian Anak di RS di sono dan tertarik pada sub bagian Pediatric Infectiology, dan berniat datang ke Indonesia pada bulan Juli kemarin untuk mengikuti Summer School di UMY yang kebetulan topiknya tentang "New Emerging Tropical Disease".


Trus, bulan kemarin aku menanyakan apakah dia jadi datang ke Indo, eh ternyata jawabannya seperti itu...

Dia bilang, "I finished studies and worked in a hospital, but it just kills me and I don't believe in what we are doing here anymore. Of course it helps people, but really cure them? have big doubts. You have no idea of people's lifestyle here, it just doesn't make any sense! And Doctors don't have any life at all, so it's even worse..."

Wowww...

Yapp... doesn't need to explain, i know that feeling. Ketika ketika merawat pasien-pasien, kadang kita sudah tahu "prognosa" nya bakal enggak bagus. Sometimes we just can "help" not really "cure" [i always said, we do our best, but it depends on God...]. Havent deal with that feeling, tapi juga aku gak bakal sedrastis tindakan Gwen :D

Dan tentang working time nya, walaupun hidupku belum terlalu dikuasai oleh pekerjaanku, i know i will undergo things like that someday later, moreover after i become specialist... Hidup yang tersita oleh pekerjaan...

So, aku kagum dengan keberaniannya untuk "change direction"... She wants to become an artist and play in good movies! Dan untuk itu dia rela meninggalkan pekerjaan dokter-nya dan bekerja di hotel kecil di pegunungan. Gosh!

Kalau aku melakukan hal itu, pasti aku langsung diusir dari rumah :D Mungkin ortu ku bakal bilang "Buat apa disekolahin mahal-mahal, tapi begitu jadi dokter malah kayak gitu". Hoahhh...

Dulu aku pernah iseng bertanya sama temen-temen ku di FK, kenapa pilih masuk ke Kedokteran, rata-rata mereka bilang "disuruh ortu"[i did it also] :D Masuk Kedokteran dulu tuh = prestise [kayaknya sekarang juga masih deh, sampai-sampai ada yang rela bayar ratusan juta demi masuk ke FK]. Aku sendiri, yang awalnya nggak suka masuk ke Kedokteran, lama-lama enjoy juga. I like it. Semakin lama aku ingin tahu lebih banyak, n of course... Wanna help people better more...

Thats why i wont stop to be a doctor... I dont know with others...

Tapi aku rasa walaupun mereka tidak suka menjadi seorang dokter, mereka tidak akan serta merta memutuskan berhenti menjadi dokter dan berusaha menjadi artis! Mungkin karena kultur, keluarga, malas memulai dari awal lagi, serta pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Setelah memikirkan hal itu, aku menjadi semakin salut dengan Gwen. She's taking piano lessons now, want to go to New York to study drama, want to play in good movies!

Good luck dear...

A Cup of Coffee



Jika bertanya ke sahabat-sahabatku atau orang terdekatku, sesuatu yang akan dikaitkan dengan Luluch?? maka mereka rata-rata akan menjawab "buku, kopi dan internet".

Thats it. Books-coffee-net freaks

Ritual pagiku kumulai dengan secangkir kopi. I love coffee very much... I am a coffee lover... malah mungkin udah bisa dibilang "coffee addict" kali yah... Habis kadang one single cup in the morning is not enough... Seringnya minum kopi 2 kali sehari, katanya sih udah addict klo kayak gitu. Kopi?? Adiksi?? Yah, wajar aja sih... kopi kan mengandung kafein, yang mana merupakan substansi psikoaktif [yang paling banyak dikonsumsi di dunia, dan LEGAL!].

Tapi emang sih, kopi tuh emang mendunia banget!!

Coffee alias kopi nih pertama kali dikonsumsi pada sekitar abad 9, bermula daratan Ethiopia [dikenal dengan nama "Kaffa"]. Dan pada abad 15, kopi mulai menyebar ke Armenia, Persia, Turki, dan Afrika Utara [menjadi "kahve" di Turki]. Kemudian dari sana kopi dikenal luas ke Italia dengan nama "caffè" dan kemudian Eropa [di Inggris disebut "coffee"] dan Amerika, dan akhirnya... menyebarlah kopi ke seluruh dunia.


Oh ya, kopi ini juga disebut "Arabian wine" lhoh. Karena konsumsi anggur dilarang untuk muslim, maka kopi dijadikan "substitusinya". Dan kopi ini sendiri juga pernah dinyatakan "haraam" pada awal abad 16, karena dianggap sebagai "substansi heretik". Tapi kemudian larangan untuk mengonsumsi kopi dicabut! Tapi pada saat ini pun ada sejumlah ajaran agama yang masih melarang konsumsi kopi, seperti Mormons dan Christian Scientists karena efek adiksi-nya.

Kopi sering dikonsumsi karena efek menghilangkan kantuk dan "segar" di badan, selain juga karena aromanya yang menggoda [hmmm...]

How???

Secara luas diketahui bahwa kopi [karena kandungan kafein-nya] merupakan stimulan metabolik dan sistem saraf pusat, dan seringkali digunakan untuk mendapatkan efek mengurangi kelelahan fisik dan mengembalikan "mental alertness".

Kafein menstimulasi saraf pusat yang efeknya akan meningkatkan kewaspadaan dan "sadar", aliran pikiran yang lebih jernih dan cepat, lebih fokus dan koordinasi tubuh yang lebih bagus. So, actually consumption of caffeine does not eliminate the need for sleep: it only temporarily reduces the sensation of being tired.

Selain itu, dari beberapa penelitian, juga didapatkan efek lain dari kopi, yakni ; mengurangi risiko penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, Penyakit Jantung, DM tipe 2, Sirosis Hepatis, dan Gout. Tapi selain itu juga meningkatkan resiko acid reflux di lambung. Lagi-lagi... efek ini dikarenakan kandungan kafein dalam kopi.

Tapi juga musti hati-hati dalam mengkonsumsi kopi, karena bisa terjadi efek withdrawal [bagi yang udah kecanduan], juga coffee intoxication karena over konsumsi [Hmmm... jadi inget Ai, yang dulu sempat masuk MRS gara-gara sinkop sehabis minum kopi demi ujian :P]. Dan buat wanita pengkonsumsi kopi [like me!], juga harus hati-hati saat berkopi-ria pada keadaan hamil, konsumsi harus dibatasi kurang dari empat cangkir per hari [maksimal 300mg/hari] karena bisa ngakibatin keguguran. So dianjurkan max 2 cangkir kopi sehari saja kali yaa...

Hmmm... it seems that i should be more careful :D

Awal mula aku minum kopi?? i dont know... Kayaknya sejak dari kecil aku sudah minum kopi deh. Awalnya sih curi-curi minum dari gelasnya kakek. Manis dan enakkkk... Terus jadi kebiasaan deh...

Waktu aku kecil dulu, berhubung belum ada Nescafe etc, kopi yang kuminum tuh kopi bubuk [bungkusnya cap Nanas deh klo gak salah :D ], tapi kadang juga kopi hasil tumbukan sendiri. Nenekku sering membeli biji kopi mentah yang kemudian digongso di kuali sampai kering sekali, baru kemudian dihaluskan secara manual [ditumbuk pakai alu], dan hasilnya... kopi buatan sendiri yang sedap dan harum sekali baunya...



Sewaktu SMU, aku tergila-gila dengan kopi Indocafe [ga cuma aku deh, sekeluarga juga :P ]. Tau kan kopi Indocafe yang dalam toples, kadang paketan ma creamer-nya... Wooww... sehari bisa bikin kopi 2-3 gelas besar. Hot and cold, i love it both! Bisa diduga... jadinya boros banget... habis sekeluarga pada hobi minum kopi... Biasanya 1 toples cuma bertahan 1-2 minggu saja.

Mulai kuliah... jadi doyan ma Indocafe Coffeemix, tapi kemudian mulai bermunculan lah kopi-kopi instant sachetan yang lain, apalagi dengan variant rasa yang beragam. Jadi mulai ganti-ganti deh antara Good Day - Nescafe - Good Day - Nescafe, tapi masih kopi yang tak berampas gitu... Terus pas nyoba-nyoba Torabika, kena deh!! Jadi jatuh cinta banget ma Torabika :D Favoritku sampai sekarang tuh Torabika Duo Susu, mantap bangett!! Torabika Capucchino juga enak siy...

Selain Torabika, pernah juga nyobain Kapal Api, ABC, dan beberapa lainnya, tapi ga begitu sreg. Kopi-kopi non instan nya juga pernah kucobain, tapi ga tau ya, kenapa rasanya ga pas mulu [even Torabika or Nescafe], ga bisa seenak yang udah di mix ma creamer atau susu, belum ahli hehehe :D Karena emang udah addict, jadi persediaan kopi tuh harus ada dirumah, lagi bepergian pun biasanya aku bawa stok kopi :D hehehe

Kalau pas jalan-jalan gitu, juga suka nyobain booth-booth coffee, kayak Starbucks, Expresso, Kopi Luwak, J. Co, Nescafe. Suka dehhh... kagumm... ngeraciknya bisa enak gitu... Apalagi seperti Kopi Luwak atau Expresso, mereka kan punya kopi yang ada di pasaran, tapi taste-nya bisa beda banget. Curious... masak karena mesin coffee-maker nya sih :P

Tapi sebelnya kalau pas pergi ke cafe atau food court, kopinya jarang yang enak. Habiss... kayaknya pake kopi sachet trus langsung dibikin gitu deh, ga sesuai pula, jadi rasanya suka seadanya...

Weww... ngomongin tentang kopi malah jadi ngiler sendiri... masih punya keinginan buat njajalin kopi di booth-nya Dome, Ily, Coffee Bean, Kapal Api, etc... Hoahhh... i think i should have my own coffee booth hehehe :D

Another PTT-tictac

Mulai tgl 29 Juli ada bukaan PTT Pusat lagi. Walau aku tidak berniat mendaftar, aku tetap iseng-iseng liat web nya [ropeg]. Eh... Setelah kulihat-lihat, ternyata Papua cuma buka sedikit. Bahkan Biak dan Supiori tidak ada bukaan. Berhubung aku masih tetap kontak-kontak dengan dokter-dokter PTT di Biak, jadi dapet gosip...

Biak ga buka lowongan PTT, coz... Ada yang perpanjang [7 dokter], trus... alasan lainnya, lg ga ada budget [aneh juga,soalnya periode sekarang ada 19 dokter PTT :P], tapi mungkin maksudnya ga ada budget buat insenda kalee... Yang kosong sih Pkm Mandori, Pkm Pasi, Pkm Wundi, Pkm Amponbukor. Padahal selama ini 1 pkm diisi 2 dokter. Ga tau deh nasib pkm2 ini ntar... Masak dibiarin kosong :? Padahal bukaan lagi kan masih April tahun depan [dugaan seh]

Some of my friends contact me. Tanya2 daerah bukaan PTT mana yang enak. Haiyyyaaah... Yah, namanya juga PTT... So so lah... Menurutku tergantung orangnya. Walau tempatnya terpencil, susah dijangkau, ga ada hiburan, dibikin enjoy ajah! [iklan banget!]. Yah, anggep aja lg jd host Jejak Petualang merangkap medis :P

Ada juga yang nanya, apa sih untungnya PTT?


Hmmm... Apa yah... Kalau aku sih "ayem" saja. Emang sih PTT udah ga diwajibkan lagi, tapi in fact, PTT Completion tuh kadang jadi syarat untuk melamar pekerjaan atau untuk daftar PPDS. Dan konon kabarnya sih, uang masuk ato uang SPP buat yang Pasca PTT tu lebih murah [katanya...]

Alasan bodong lainnya lagi, sistim birokrasi di Indonesia kan mudah berubah. Dekat-dekat pilpres yang pasti diikuti pergantian kabinet, ganti Menkes jg isa berarti ganti kebijakan. Ntar jangan-jangan PTT diwajibkan lagi... He3 :D Kelabakan rak an... [ni alasan dibuat-buat :P ]

Makanya dulu aku ambil PTT, mumpung cuma 6 bulan, n dapet insentif pusat pula :D Yah, selain itu, lokasi PTT kan jadi salah satu nilai tambah buat pendaftaran PPDS pilihanku :)

Selain itu, buat aku sendiri sih menambah pengalaman menghadapi pasien [karakteristik penduduk yang berbeda dengan Jawa] dan juga pengalaman lain [jalan-jalan he3], plus nambah relasi. So... So many things i got from PTT. I enjoy that, entah dokter-dokter lain ya [walau aku pernah juga merasakan bosan tak tertahankan saat berada di daerah sangat terpencil].

Intinya... Jangan takut berada di daerah terpencil. Tidak semua sesusah yang dibayangkan [yah walau tidak semua orang bisa bilang masa PTT nya menyenangkan :P ]. Kalau bisa nglewatin 6 tahun kuliah di FK, harusnya sih bisa nglewatin 6 bulan [atau setahun] praktek dunia nyata :D


So...yang berniat daptar PTT periode ini, Gud Luck! n selamat ber-PTT ria...