When There Is A Will, There Is A Way

Aku barusan baca blog salah seorang kenalan yg judulnya "Nothing to Lose", isinya tentang kenekatan dan keberanian dalam mengambil keputusan.

Klik banget.


My situation now : aku dan suamiku akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang PTT

Bukan dengan sukarela, tapi karena terpaksa. Semula kami berencana untuk memperpanjang masa ptt sampai aku mulai mkdu. Plan yang cukup menarik waktu itu, bisa bekerja berdua 1 puskesmas, sembari menabung untuk biaya PPDS mandiri.

Berhubung masa tugas selesai per akhir September ini, sejak 2 bulan yang lalu pun kami sudah mengajukan surat perpanjangan kami ke Dinas. Dinas blg ok, ga ada masalah, akan diuruskan.

Tapi yang membuat kami kaget, sehari sebelum Lebaran ada teman yang memberitahu bahwa perpanjangan kami ditolak.

Shocked!! Whats up?

Rumornya, ada yang melaporkan kami ke dinas berkaitan dengan jadwal yang kami pasang di depan pintu rumah dokter 3 bulan yll (terlalu panjang untuk diceritakan), yang sebenarnya bermuara pada sentimen pribadi seorang perawat senior di pkm kami, yang mana juga dekat dengan kapus kami.

Intinya sih, sentimen pribadi yang dibesar2kan...

Selain itu, sampai sekarang pun kami tidak pernah menerima surat pemberitahuan pertidakperpanjangan kami, ataupun surat peringatan.

Kami mengajukan perpanjangan sejak 2 bulan sebelumnya, jadi bila memang masalah 3 bulan yang lalu itu yang dijadikan dasar, harusnya sejak awal kami diberitahu tentang adanya penolakan. Atau lebih prosedural lagi, kami seharusnya dipanggil terlebih dahulu untuk dimintai keterangan atau konfirmasi lebih lanjut.

Sama sekali tidak ada pemanggilan atau pemberitahuan sebelumnya. Keputusan langsung dijatuhkan berdasar informasi sepihak tanpa ada pembelaan diri atau keterangan dari kami.

Mengecewakan.

Apalagi saat itu, kadin sedang tidak ada di tempat, dan masih cuti Lebaran. Kami cuma bisa protes via telpon.

Kami berpikir, apakah hendak memperjuangkan perpanjangan kami, atau sekalian pulang saja. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Keadaan sudah terlanjur tidak enak, dan tingkat trust kami ke dinas sangatlah minim seusai kejadian itu.

Rabu, tanggal 30 September pagi, kami menemui kadin sebelum berangkat ke Sorong. Kami menjelaskan panjang lebar tentang permasalahan yang dijadikan dasar pertidakperpanjangan kami. Walaupun beliau mendengarkan dengan baik, tapi responnya tidak seperti yang kami harapkan (kami tidak mengharapkan diperpanjang, tapi at least ada pengakuan bahwa prosedur yang dilakukan dinas itu kurang sesuai, dan sangat tidak menghargai kami sebagai dokter yang telah bertugas disitu selama 6 bulan. Dan juga harusnya permasalahan tersebut diusut dengan memanggil pihak yang terlibat).

Kadin mengatakan, kenapa kami tidak tinggal lebih lama dulu (mungkin give chances buat ngurusin masalahnya ya). Tapi kami sudah bertekad bulat untuk pulang. Ya su... kami pulang...

Dengan adanya kejadian tersebut, otomatis mengubah plan kami untuk PPDS mandiri. Tabungan kami pas-pas an untuk modal spesialis mandiri, apalagi sebentar lagi kami akan mempunyai anak. Another option yang muncul (aku menyebutnya Plan B terpaksa), setidaknya salah satu dari kami mengambil PPDS BK, ato at least one of us...

Kadang sempat terbersit, apakah keputusan untuk tidak memperjuangkan perpanjangan itu salah?? Dengan perpanjangan, kami bisa menabung untuk biaya PPDS kami. Tapi, sebenarnya itu bukanlah satu2nya jalan kan?

Aku berpikir, its meant to be like that. Sepertinya situasi kami memang di-desain sedemikian rupa sehingga kami harus pulang. Perpanjangan mungkin bukan jalan terbaik buat kami berdua.

Tapi dari setiap permasalahan, pasti ada sisi positifnya (walopun bisa aja baru keliatan ntar2). Sisi bagusnya : akhirnya Bafit bisa memutuskan tentang prodi PPDS apa yang akan diambil, juga ada kesempatan baginya untuk menyaksikan kelahiran anak pertama kami, n...??? Aku bisa menikmati "civilization" sebentar lagi (hahaha :D )

Yahh... Aku sih percaya, when there is a will, there is a way. Saat satu pintu tertutup, pintu yang lain akan terbuka. Who knows if its a better chance, better opportunity, better life??

Life is like a box of chocolate. U wont know what you will get...

Now, we just can pray and hope for the best, do our best too...

Bismillah...



Ke Raja Ampat Tapi Ga ke Raja Ampat



(Pemandangan pualu Saonek dari kejauhan)

Ke Raja Ampat Tapi Ga ke Raja Ampat
Kok bisa???

Hehehe...

Iya, judulnya kemarin kita emang pergi ke Raja Ampat, but kita bener2 kunjungan superfisial, bukan explore kayak yang lainnya.

So... critanya... kita kan akhirnya ke Raja Ampat naek Geovani, turun di Waisai, ibukotanya Kab. Raja Ampat di pulau Waigeo.

Pertama kali datang, bengong abis. In our mind, Raja Ampat tuh dah rame, kan namanya udah banyak kesebar ke penjuru dunia. But ternyata... sepiii... Sampai celingukan n akhirnya nanya tukang ojek, "bener ga nih Waisai?". Si tukang ojek mengiyakan, gubrak!! jauh dari bayangan. Mana lagi Waisai sendiri pemandangannya ga seindah yang ada di foto2 Raja Ampat itu.Waisai tuh pantainya berpasir hitam... mana kota Waisai-nya kecil, masih baru banget.


Nyeselnya... pas kami berangkat naek Geovani itu, ternyata si kapal cepat Marina Express juga berangkat ke Raja Ampat, cuma dia berlabuh di Saonek, pulau di sebelah Waisai. Nhaaa... si Saonek ini walo kecil, tapi lebih bagusan daripada Waigeo. Pantai di Saonek berpasir putih...

So akhirnya kami putuskan nginep di Penginapan Waisai Indah (yang ada di iklan koran hehe). Letaknya di dekat Pantai WTC, di "downtown" Waisai. Penginapannya kecil, cuma 10 kamar. cuma ada 2 tipe, tipe 1 pake AC plus kamar mandi dalam seharga 225k klo sendiri, 275k klo berdua. Sementara yang tipe 2, sangat "ekonomis", cuma fasilitas fan aja, kamar mandi luar, harga 200k klo sendiri, 225k klo berdua.

Selain Waisai Indah ini, ada penginapan lain tak jauh dari situ, Penginapan Marci, tampilan luarnya sih lebih oke daripada si Waisai Indah...

Oleh teman, kami disarankan untuk menyewa ketinting pergi putar2 pulau lainnya, seperti Saonek etc. Setelah ngobrol ma pegawai penginapan, dia bilang lebih oke an pantai Waiwo, bisa dijangkau naek motor, sewa motor per hari 100k. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa motor dan pergi ke Waiwo keesokan harinya. Mikirnya, nanti klo pengen ke Saonek, besoknya bisa nyewa ketinting lagi buat ke Saonek.

Esoknya kami melihat sunset di pantai WTC (Tak tau apa tuh kepanjangannya). Pantainya lumayan deket dari penginapan, cuma jalan kaki 5 menitan. Pantai ini sudah dibangun lumayan ok. Tampilannya agak mirip dengan pantai Losari di Makassar, cuma sayangnya dibeberapa tempat bangunannya sudah mulai retak.

jam 9 pagi kami mulai jalan ke Waiwo. Si mas nya bilang, Waiwo deket, sekitar setengah jam an naek motor. Jalanannya sih udah lumayan ok, cukup rata walopun naek turun melewati perbukitan. Banyak tanjakan tinggi, sampai-sampai aku terpaksa turun n jalan kaki saking takut jatuh. Bafit malah sempet jatuh pas nurunin tanjakan! hihihi

Setengah jam terlewati, kok ga nemu pantai Waiwo ya?? mana ga ada panunjuk jalan lagi... Ga ada juga rumah penduduk... Kesasar nihhh???

Akhirnya setelah hampir 1 jam an, ada warga lagi jalan kaki, waktu kita tanya, ternyata kita sudah nglewati Waiwo! katanya, jalan ke Waiwo emang agak tersembunyi, sehabis tanjakan tinggi tempat Bafit jatuh.

Akhirnya sampai juga di Waiwo. N... not as magnificent as Sinaga said. Biasa ajahhh... Habis... aku kan sempet tinggal 5 bulan didaerah pantai. N i can say, pantai di Numfor jauh lebih bagus dari Waiwo!

Dari Waiwo kita bisa lihat Saonek dari kejauhan. Not so big... paling segede pulau Manem di Numfor, bisa dikitarin dengan 1-2 jam jalan kaki. Tampak pula perkampungan di Saonek.

Kita sempet bimbang, mau stay lagi 1 hari n besoknya ke Saonek dkk ato langsung pulang ke Sorong aja hari itu. Akhirnya dengan pertimbangan bahwa kami ke Saonek dkk paling-paling cuman buat foto2 aja, yang mana pantainya juga ga jauh beda dengan pantai2 lain yang kami kunjungi, akhirnya kami putuskan buat kembali saja.

Mengecewakan ya? Rugi besar?? karena udah ke Raja Ampat tapi ga explore furthermore?

A bit... tapi mu gimana lagi... aku ga bisa renang, diving, juga keadaanku lagi hamil 7 bulan. Bafit juga ga terlalu interest buat renang n diving. Mana untuk explore tu kita harus naek ketinting or speed, ah malas.... repottt... Ntar ntar aja lah... another family vacation ketika infrastruktur di Raja Ampat sudah jauh lebih mudah :)

But at least... we can say that we've visited Raja Ampat!!

Heading to Raja Ampat

Akhirnya kesampaian juga cita2ku buat pergi ke Raja Ampat!

Right now, im on Geovani Ship, heading to Raja Ampat.

Dulu rencananya ke Raja Ampat Oktober tahun depan. But something unexpected happened... I must go back to Java, so ya... Ke Raja Ampat nya sekarang ajah! Jalan2 dulu sebelum meninggalkan Papua Barat tho...

Aku dan suami berangkat dari Bintuni hari Rabu pagi dengan kapal Elizabeth II, nyampe Sorong pagi2, trus nyari info tentang kapal ke Raja Ampat.

Sempet search di Google, katanya dulu transport ke Raja Ampat susah, transport publik kapalnya Pemda tuw cuma 2x sebulan, klo ga, musti sewa speed ato longboat. Tapi sekarang transport dari Sorong ke Raja Ampat gampang, tiap hari ada kapal cepat dari Pelabuhan Rakyat, Sorong ke Raja Ampat (macamnya Geovani ini), it takes 3 hours, ongkosnya 100rb.

Liburan ke Raja Ampat tuw tergolong liburan mahal, palagi klo dari Jawa. Udah tiket pesawat rata2 1,7jt an, udah gt untuk menikmati Raja Ampat jg butuh biaya ga dikit.

Temenku, Herdi n Tammy jg pergi ke Raja Ampat (few days ago), cuma mereka "niat", mau ngeluarin expense lebih buat menikmati Raja Ampat. Mereka sempet maen n nginep ke Kri Resort di pulau Kri. Waktu aku tanya permalam berapa, Herdi bilang "100".
"Wah, murah dung"
"100 euro! Itu yg plg murah"
"WHATTT?? Hampir 1,5 jt!! Buat semalem aja. Nggak deh, makasih"

Klo aku sih yang penting pernah ke Raja Ampat aja he3, ga pake diving-snorkeling etc. Cukup nginep di Waigo nya aja he3

Hmmm...ya su... Nanti disambung lg crita tentang Raja Ampat nya